You are here : Home Renungan Mari Merenung Monolog: Ketika Yesus Berjalan-Jalan di Bumi Saat Ini

Monolog: Ketika Yesus Berjalan-Jalan di Bumi Saat Ini


Hmmm... sudah ribuan tahun Aku tidak menjejakkan kaki ke Bumi. Aku mau lihat, seperti apa keadaannya sekarang, setelah Aku naik ke Surga…..

Ada apa di sana? Koq anak-anak pada menangis?

Ah, aku sungguh prihatin melihat kesulitan hidup yang dialami kaum papa di Bumi ini. Anak-anak menderita kekurangan gizi. Di kota besar seperti ini saja sudah demikian, apalagi di pedalaman-pedalaman. Tentu lebih banyak lagi anak yang terbaring lemah dengan tangan dan kaki tinggal tulang berbalut kulit. Pedih.... pedih sekali hatiKu, seperti mau mati rasanya.



Masih adakah sukacita di Bumi ini? Aku ingin menyaksikannya….   Lho, ini ada manusia yang menyepi sendirian.   Aku mau tahu apa yang sedang dikerjakannya. Kalau dilihat dari penampilan, sepertinya seorang eksekutif perusahaan – berdandan rapi pakai dasi, sepatu mengkilat, membawa notebook computer…. Tetapi kenapa wajahnya begitu murung?

Hm... rupanya dia sedang pusing....

Perusahaan tempatnya bekerja mengalami kebangkrutan akibat krisis ekonomi. Dia khawatir bakal di-PHK, kehilangan gaji besar yang selama ini diperolehnya. Oh.... anak muda, mengapa engkau begitu cemas dan melekat pada harta duniawi? Tidak ingatkah engkau akan SabdaKu: Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu?

Apa gunanya mengumpulkan harta di Bumi yang dapat dirusak ngengat dan karat serta dibongkar pencuri? Tidak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada mamon. Lebih baik engkau menyerahkan segala kekhawatiranmu kepada Tuhan, karena Ia yang memeliharamu.

***

“Tolong.... tolong... Tuhan, mengapa Engkau diam saja? Lihat, umatMu di sini hidup dalam ketakutan. Mereka mengancam membakar rumahMu, ya Tuhan. Kami dikepung dari segala penjuru.... Segeralah menolong kami....”

Ada apa lagi ini?

Setiap hari di Surga Aku mendengar rintihan dan doa semacam ini dari berbagai belahan Bumi. Ke mana perginya damai sejahtera yang Kutinggalkan bagi umatKu? Memang, damai sejahtera yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan dunia kepadamu.

Janganlah gelisah dan gentar hatimu, hai kamu kawanan kecil, akan tiba masanya kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman.   Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit.     

***

Suasana di sini begitu panas, padahal di sini tak ada kerusuhan, tetapi kenapa panas juga, ya? Astaga.... pantas saja panas, hutan-hutan gundul, lalu itu.... wah... banyak sekali gas buangan dari industri di Bumi sehingga menimbulkan pemanasan global. Tentu ini bukan yang dimaksudkan BapaKu ketika mengatakan kepada manusia pertama: Beranak-cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan takhlukkanlah.

Menakhlukkan Bumi berarti memelihara alam dan memanfaatkannya secara bijak demi kepentingan kehidupan manusia, bukannya menjarah alam dan merusakkannya dengan semena-mena. Sudah saatnya umat manusia berupaya keras melestarikan alam. Ingatlah, alam ini adalah titipan Tuhan untuk para anak-cucu kalian.  

***

Aku kepanasan, mau numpang ngadem dulu, ah. Hei… kebetulan ada gedung bertingkat di depanKu… ada AC-nya lagi.   Aku mau masuk sebentar….

Hei, lagi apa orang-orang di ruangan ini? Sibuk sekali…. mereka lagi mencetak sesuatu. Coba aku lihat…. surat suara….    Pemilihan Umum 2009.

Oh, rupanya di sini sebentar lagi akan ada Pemilu. Lho.. aneh juga, sedang mencetak surat suara, koq mereka malah memperbincangkan Golput? Sayang sekali kalau surat-surat suara itu tidak digunakan sebagaimana mestinya.

Ketika masih berada di Bumi, aku sempat mengatakan kepada murid-murid orang Farisi yang menanyakanku tentang membayar pajak kepada kaisar. Hal yang sama aku sampaikan saat ini: Berikanlah kepada pemerintah apa yang wajib kamu berikan kepada pemerintah dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.

Pewarta SabdaKu yang ulung, Rasul Paulus, pernah menyampaikan hal yang sama kepada jemaat di Roma. Katanya: tiap-tiap orang harus takhluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian daripadanya.

Karena itu, gunakan hak suara sebaik-baiknya, agar terpilih pejabat-pejabat pemerintahan yang baik.

***

Hm…. keringat sudah hilang dari tubuhKu. Badan terasa nyaman kembali. Sekarang Aku mau menjenguk salah satu komunitas pengikutKu. Wah… sedang ada pertemuan Lingkungan.

Mengapa sedikit sekali umat yang hadir? Kebanyakan dari mereka adalah para pengikutKu yang telah lanjut usia.   Ke mana yang lain?   Bagaimana pula dengan kaum mudanya? Apakah SabdaKu tidak menarik bagi mereka? Ah, betapa Aku rindu mengumpulkan anak-anakKu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, mengapa kamu tidak mau?

***

Ternyata, wajah Bumi dan isinya sekarang sudah banyak berubah. Aku mengerti, seperti pernah Aku alami dahulu, dalam diri setiap manusia selalu ada pertempuran antara keinginan daging dan gerakan batin untuk melakukan kehendak Tuhan. Tetapi, janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau. Janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu. Aku akan meneguhkan, bahkan menolong engkau. Aku akan memegang engkau dengan tangan kananKu yang membawa kemenangan. Selamat berjuang, wahai umat manusia!
 
(Patricia Cendrawati S., Umat Paroki Sta. Anna)