You are here : Home Renungan Mari Merenung Manajemen Sakit Hati

Manajemen Sakit Hati

Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan. Mazmur 37:8

Bacaan : 1 Samuel 1:1-28

Hampir setiap orang tentu pernah mengalami sakit hati dalam hidupnya. Baik dalam keluarga, berteman, maupun bermasyarakat. Sebagaimana sifat sedih dan gembira, rasa yang satu ini adalah suatu kewajaran dalam hidup manusia. Apalagi, mengingat manusia adalah makhluk sosial, yang dalam setiap interaksinya tidak lepas dari kekhilafan.

Sebab-sebab datangnya perasaan ini pun bermacam-macam. Dari masalah sepele hingga masalah besar, dapat menjadi pemicunya. Misalnya berawal dari perbedaan pendapat, adanya konflik atau ketidakcocoka, hingga iri dan dengki. Bila perasaan ini dibiarkan terlalu lama bercokol dalam hati, maka tidak sehatlah hati itu. Pemiliknya pun akan stress dan jauh dari keceriaan. Lebih jauh lagi, hal itu bisa menjauhkan manusia dari Allah. Karl Marx, Adolf Hitler, Mao Tse Tung adalah contoh produk dari orang yang sakit hati. Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berpotensi luar biasa. Namun karena membiarkan "sakit hati" menguasai diri mereka, akhirnya mengantar kepada jurang kehancuran dan membinasakan banyak orang.

Berkaitan dengan sakit hati, dalam alkitab ada satu contoh yang positif. Hana yang mandul selalu direndahkan oleh Penina sehingga ia menjadi sakit hati. Namun dalam kepedihan hatinya, Hana berdoa dan terus berdoa, karena demikian susah hatinya sehingga hampir-hampir ia tak bersuara dan hanya bibirnya yang bergerak-gerak. Sampai-sampai Imam Eli menyangka ia mabuk. Hana menumpahkan seluruh isi hatinya kepada Tuhan, sehingga akhirnya ia dapat terlepas dari sakit hati itu dan mukanya tidak lagi muram. Bahkan Tuhan mengabulkan doanya, sehingga setahun kemudian mengandunglah ia dan melahirkan seorang anak laki-laki. Hana telah mengubah sakit hatinya menjadi motivasi untuk memperoleh kemenangan. Kita pun turut senang, kisah itu berakhir dengan indah.

Bagaimana kita "me-manage" sakit hati? Sebagai orang percaya, hal pertama adalah menyerahkan masalah itu kepada Tuhan dalam doa. Selanjutnya kita harus selalu koreksi diri, menjauhkan diri dari sifat iri, dengki, dan ambisi. Hindari sifat pemarah dan keras hati, namun tumbuhkan sifat pemaaf, berprasangka baik, dan selalu ikhlas. Setiap orang bisa sakit hati, namun itu bukan alasan untuk menjadi kalah.

Sakit hati dapat menimpa semua orang, namun kita berkuasa untuk mengubahnya menjadi kebaikan.