You are here : Home Renungan Mari Merenung Catatan Sepi

Catatan Sepi

 

Kumasuki relung-relung hatiku malam ini.
Sepi. Sunyi. Sendiri.
Entah mengapa, dia datang lagi.
Dia datang diam-diam,
Terkadang menusuk tajam dan mengoyakkan dinding-dinding pertahanan hatiku.
Lalu hatiku bobol, rubuh diam-diam dan terbawa arusnya.

Sepi itu memang tidak enak.
Sepi itu memang membuat frustrasi.
Sepi itu memang membuat orang bisa berpikir macam-macam.

Di antara derai tawa dan senyum ceria yang kujumpai, rasa sepi itu tetap ada.
Diam dan konstan tinggal di hatiku.
Di antara keriuhan pesta dan keramaiannya, rasa sepi itu juga tidak jua pergi.
Entahlah, mengapa dia begitu betah berlama-lama kali ini?
Aku sudah sering mengusirnya pergi.
Namun, dengan penuh percaya diri, dia kembali lagi.
Lagi dan lagi.


Tidak cukup sekali. Rasanya sudah kulakukan puluhan bahkan ratusan kali.
Setiap kali dia datang, aku selalu menyuruhnya pergi.
Namun, dia malah tinggal lebih lama.

Akhirnya, kutemukan cara baru.
Berteman sepi.
Aku berteman dengan rasa sepi itu.
Kudalami relung hatiku dan bertanya, Wahai sepi, ada apa gerangan? Apa yang membuatmu betah berdiam di sana?
Rasa kosong dan hampa yang berada di diri ini kuakui dan kubawa lari
Kepada sang Pencipta.
Hanya Dia yang bisa mengusir kesepianku.
Hanya Dia yang bisa memberikan embun kesejukan penawar sepi.

Berteman sepi.
Sepi tak terhindarkan.
Dia datang dan pergi. Dan terkadang tinggal beberapa waktu lamanya.
Dan bila dia kembali, aku sudah tidak kuatir lagi.
Kucari Dia dan kubawa dia - sang sepi - kepadaNya.
Dia akan cairkan kesepian itu dan ubahkan hal itu jadi suatu kebahagiaan.

Sepi. Sunyi. Sendiri.
Hampa. Lara. Nestapa.
Adakah penawar sepi abadi???
Dia. Dia. Dia.
Pencipta. Sang Khalik.

(karya Fonny Jodikin, tinggal di Singapura, 2009)

Hiruk pikuk ibukota Jakarta melahirkan kebisingan dan keramaian di mana-mana. Pernahkah kita merasa sepi padahal kita sedang berada di keramaian? Pernahkah kita merasa begitu sendirian, begitu tak berdaya, padahal kita sedang berada di tengah-tengah orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita? Mungkin kita merasakan sepi saat sebenarnya kita sedang duduk berbagi cerita dengan orangtua kita? Mungkin kita merasa sepi padahal kita sedang bercanda ria dengan anak-anak, kekasih, atau pasangan hidup kita? Tapi, rasanya hati ini kosong dan hampa, hati ini sepi dan gersang.

Kesepian mudah hinggap di hati kita. Rasanya kita ingin menjerit, kita ingin menangis, kita ingin berteriak keras-keras dengan berkata: Tahukah kalian, aku merasa kesepian...., aku merasa tidak ada seorang pun yang memperhatikanku....., aku merasa tidak ada yang mengerti aku....., aku merasa tak berguna.....

Mengapa kita bisa merasakan sepi, padahal kita punya segalanya? Kita punya keluarga, punya orang-orang yang memperhatikan kita, punya orang-orang yang kita sebut sahabat, saudara, ayah, ibu, kakak, adik, anak, suami, istri.....? Pada siapa akhirnya kita berharap? Pada siapa akhirnya kita berpaling?

Jangan salah pilih, hanya kepada Tuhan kita Yesus Kristus ada ditawarkan segalanya! (tis)