You are here : Home Renungan

Minggu Prapaskah III, 03 Maret 2013

MgPrapaskah III: Kel 3:1-8a.13-15; 1Kor 10:1-6.10-12; Lk 13:1-9

“Biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya,  mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!"

Rasanya apa yang di dunia ini, manusia, binatang maupun tumbuh-tumbuhan tidak ada yang sempurna, dan tentu saja hal itu disebabkan oleh kelemahan dan keterbatasan manusia sebagai ciptaan terluhur dan termulia di dunia ini. Karena pola hidup yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, maka apa yang dilakukan oleh manusia ada kemungkinan membuat manusianya sendiri menderita sakit. Dan memang kita semua sebagai manusia memiliki kecenderungan kuat untuk hidup seenaknya, yang berdampak pada diri kita sendiri menjadi semakin lemah dan harus bekerja keras untuk mencapai sukses atau keberhasilan yang memadai. Agar semuanya dapat tumbuh berkembang dengan baik dan benar, entah manusia, binatang maupun tumbuh-tumbuhan, memang dibutuhkan orang yang ‘mencangkul dan memberi pupuk’ dan tentu saja dalam ‘mencangkul dan memberi pupuk’ juga harus memadai. Sabda hari ini mengajak dan mengingatkan kita semua, bahwa jika kita tidak bertobat alias memperbaiki cara ‘mencangkul dan memupuk’ kita akan mengalami kebinasaan, maka marilah dengan rendah hati kita renungkan pesan sabda hari ini.

"Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya.Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma!  Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!"(Luk 13:6-9)

Yang dimaksudkan dengan pemilik kebun anggur di sini bagi  kita adalah Allah, yang telah menciptakan kita, manusia, dan diberi tugas untuk mengurus atau mengelola bumi seisinya demi kebahagiaan dan keselamatan manusia, sebagaimana disabdakan: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” (Kej 1:28). Kita, manusia dipanggil untuk meneruskan karya penciptaan Allah maupun mengelola ciptaan-ciptaanNya di permukaan bumi ini.

Pertama-tama marilah kita renungkan panggilan “Beranakcuculah dan bertambah banyak”, yang kiranya hal ini lebih kena bagi mereka yang terpanggil hidup berkeluarga, sebagai suami-isteri. Ada kekuatiran terjadi ledakan jumlah penduduk di bumi ini, sehingga di sana-sini diberlakukan pembatasan kelahiran, sebagaimana di Indonesia ‘dua anak cukup’. Rasanya yang mendasari atau menjiwai kebijakan ini adalah materi atau ekonomi, dan kurang memperhatikan sisi atau hal spiritual. Pengalaman menunjukkan bahwa generasi muda masa kini, yang notabene menjadi korban pembatasan kelahiran, dimana mereka berasal dari keluarga kecil, ada kecenderungan kurang peka terhadap orang lain, hidup manja, tidak rela menderita atau berkorban bagi orang lain, enggan berjuang dan bekerja keras, dst… Maka sungguh merupakan tantangan berat dan mulia bagai para guru atau pendidik yang membantu orangtua dalam mendidik anak-anak mereka, sebagaimana juga kami alami di Seminari Menengah Mertoyudan. Motivasi ekonomis, cari enak sendiri dalam pembatasan kelahiran berdampak pada anak-anak untuk bersikap mental materialistis dan hedonis.

Akibat keserakahan beberapa orang dalam rangka mengeruk dan mengambil kekayaan alam demi bisnis atau alasan ekonomi, maka manusia tidak menguasai atau menaklukkan ikan, burung dan binatang-binatang, melainkan terbalik: manusia dikusai olehnya. Dengan kata lain ‘ikan, burung, tanaman atau binatang’ menjadi ‘tuan’ mereka. Kerusakan hutan dan ekosistem telah mengancam kehidupan umat manusia, sebagaimana terjadi saat ini dengan ‘pemanasan global’, yang berdampak pada banjir, tanah longsor dst..

Sabda hari ini mengajak dan mengingatkan kita semua bahwa dalam berpartisipasi dalam karya penciptaan dan penyelenggaraan Allah diharapkan mengikuti proses sebagaimana dikehendaki oleh Allah. Marilah kita ‘mencangkul dan memupuk’ sesuai dengan kehendak Allah. Bagi mereka yang sedang tugas belajar kami harapkan sungguh belajar sesuai dengan tuntunan dan bimbingan guru/pendidik, bagi para pekerja kami harapkan bekerja sesuai dengan aturan dan tata tertib kerja terkait. “Memupuk” juga dapat diartikan merawat atau mengurus, maka marilah kita rawat atau urus segala sesuatu yang kita miliki dan kuasai dengan baik dan benar, antara lain dengan tekun, rendah hati, teliti, cermat, sabar dan penuh kasih. Semoga dengan belajar maupun bekerja sesuai dengan tuntunan dan tatanan serta merawat dengan baik akan menghasilkan buah yang membahagiakan dan menyelamatkan, terutama kebahagiaan dan keselamatan jiwa manusia.

“Aku mau, supaya kamu mengetahui, saudara-saudara, bahwa nenek moyang kita semua berada di bawah perlindungan awan dan bahwa mereka semua telah melintasi laut. Untuk menjadi pengikut Musa mereka semua telah dibaptis dalam awan dan dalam laut. Mereka semua makan makanan rohani yang sama dan mereka semua minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus.” (1Kor 10:1-4)

Kutipan di atas ini mengajak dan mengingatkan kita semua agar ‘mengenangkan’ para leluhur kita. Kami percaya bahwa para leluhur kita mewariskan nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup yang handal dan sampai kini pun tetap memadai dan up to date untuk dihayati dan disebarluaskan. Atau jika kita sungguh mengenangkan leluhur kita kiranya kita mengetahui bahwa mereka yang mengasihi kita melalui aneka cara dan bentuk. Leluhur kita semua kiranya bapa Abraham, bapa umat beriman, maka marilah kita kenangkan keutamaan-keutamaan hidup yang telah dihayati bapa Abraham.

“Batu karang rohani” tidak lain adalah ‘iman, harapan dan cinta’, maka marilah di Tahun Iman ini kita memperdalam dan memperkembangkan iman, harapan dan cinta dalam dan melalui hidup sehari-hari, khususnya selama masa Prapaskah ini dalam aneka kegiatan yang kita ikuti. Sebagai orang yang telah dibaptis marilah kita perdalam dan perkembangkan penghayatan janji baptis “hanya mengabdi Allah saja serta menolak semua godaan setan”, sebagai anggota lembaga hidup bakti, imam, bruder atau suster, marilah kita perdalam dan perkembangkan penghayatan spiritualitas pendiri atau charisma Lembaga, sedangkan sebagai suami-isteri marilah kita perkembangkan dan perdalam hidup saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tubuh/kekuatan sampai mati.

"Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun” (Kel 3:15), demikian firman Allah kepada Musa. Firman ini kiranya dapat menjadi bahan refleksi atau permenungan kita, maka marilah kita renungkan atau refleksikan. Sebagai umat beriman kita semua diingatkan untuk senantiasa membaktikan diri sepenuhnya kepada Allah melalui cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimana pun dan kapan pun, sehingga kita semua layak disebut sebagai ‘anak Allah’, yaitu orang yang senantiasa menjadi pelaksana firman Allah.

“Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu,Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat,” (Mzm 103:1-4)

Add a comment

Sabtu, 02 Maret 2013

“Bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat”

(Mi 7:14-15.18-20; Luk 15:1-3.11-32)

“ Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka." Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka” (Luk 15:1-3), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

  • Perempuan perihal ‘anak hilang’ hari ini kiranya lebih terarah kepada ‘orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat’ yang bersungut-sungut karena Yesus menerima orang-orang berdosa dan makan bersama –sama dengan mereka. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat memang dikenal sebagai orang-orang sombong, yang memamerkan keunggulan diri serta melecehkan atau merendahkan orang lain; mereka juga tidak rela bahwa orang berdosa bertobat, orang bodoh menjadi pandai, dst.., dan ada kemungkinan karena mereka takut tersaingi. Salah satu cirikkas kekurangan atau kelemahan mereka adalah ‘menyendiri’ dan tak mau bergabung dengan sesamanya atau dengan siapapun tanpa pandang bulu. Dalam bergaul mereka senantiasa pilih-pilih sesuai dengan selera pribadi mereka. Sikap mental orang Farisi yang hidup dalam diri orang-orang masa kini antara lain tak mau berkumpul, bercurhat dan omong-omong, tukar pengalaman iman dan kehidupan dengan sesamanya atau rekan-rekan seiman, sepanggilan, sekampung dst.. Dalam warta gembira hari ini mereka digambarkan bagaikan ‘anak sulung’, yang kelihatan setia kepada bapanya, namun ketika ia didekati untuk bergabung dengan orang lain yang sedang bergembira karena anaknya yang hilang telah kembali, tidak mau masuk, tetap tinggal di luar saja. Dalam kehidupan biasa sehari-hari orang-orang yang suka menyendiri pada umumnya sedang mengalami krisis panggilan dan jika tetap demikian adanya dalam waktu singkat ia akan meninggalkan panggilannya. Sikap Farisi masa kini juga dapat berupa mudah mengeluh dan menggerutu terhadap situasi dan kondisi yang ada, yang pada umumnya memang kurang atau tidak sesuai dengan selera pribadi. Kepada mereka atau kita yang masih bersikap mental Farisi kami harapkan untuk bertobat atau memperbaharui diri, dan menjadi rendah hati seperti anak bungsu, yang berkata kepada bapanya: ” Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa” (Luk 15:18-19).
  • “Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia? Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut. Kiranya Engkau menunjukkan setia-Mu kepada Yakub dan kasih-Mu kepada Abraham seperti yang telah Kaujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang kami sejak zaman purbakala” (Mi 7:18-20). Kutipan ini kiranya menggambar-kan Allah yang Maha Kasih dan Maha Pengampun, yang dalam Injil atau Warta Gembira hari ini digambarkan sebagai bapa yang baik. Kasih pengampunan Allah tak terbatas, dan kiranya dalam hidup sehari-hari sejak kita dilahirkan kita telah menerima kasih pengampunan Allah secara melimpah ruah melalui sekian banyak orang yang telah memperhatikan dan mengasihi kita melalui aneka bentuk. Maka kita semua sebagai orang beriman dipanggil untuk meneladan bapa yang baik, dengan rendah hati dan kasih pengampunan mendatangi orang lain yang berdosa atau kurang memperoleh kasih dan perhatian dari saudara-saudarinya. Dengan kata lain kita semua diharapkan memiliki keutamaan kepekaan social yang unggul dan handal, yang menurut pengalaman dan pengamatan saya pada masa kini sungguh memprihatinkan, karena orang kurang peka pada orang lain maupun lingkungan hidupnya. Kami berharap anak-anak di dalam keluarga dididik dan dibiasakan sedini mungkin dalam hal kepekaan terhadap orang lain, serta kemudian diperdalam di sekolah-sekolah. Cara untuk mendidik anak-anak agar peka terhadap orang lain serta lingkungan hidupnya antara lain dengan mengajak mereka berjalan-jalan, misalnya anak diharapkan sungguh mengenali dengan baik sesamanya beserta lingkungan hidupnya dalam radius satu kilometer dari tempat tinggalnya atau sekolahnya atau tempat belajarnya. Salah satu program kegiatan ko kurikuler di sekolah yang mendukung hal itu adalah ‘Pramuka’, maka semoga di sekolah-sekolah dasar maupun lanjutan pertama (SD dan SMP) semua peserta didik diwajibkan menjadi anggota Pramuka di sekolahnya.

“Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu, Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat,” (Mzm 103:1-4)

Add a comment

Jumat, 01 Maret 2013

“Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu”

(Kej 37:3-4.12-13a.17b-28; Mat 21:33-43.44-45)

"Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain pula dengan batu. Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih banyak dari pada yang semula, tetapi mereka pun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka. Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita.Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya. Maka apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?" Kata mereka kepada-Nya: "Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktunya." Kata Yesus kepada mereka: "Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.” (Mat 21:33-43), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

  • Beaya untuk penelitian memang tidak murah, maka usaha atau kegiatan penelitian kurang memperoleh perhatian, sehingga para peneliti sering harus mencari beaya atau dana sendiri, antara lain ke aneka sponsor di luar negeri. Seorang peneliti dengan bekerja keras dan sungguh-sungguh berusaha untuk menemukan sesuatu yang baru, yang sangat berguna demi kemajuan, kesejahteraan dan kebahagiaan maupun kesuksesan suatu usaha. Suatu usaha tidak memberi perhatian pada penelitian pasti akan ketinggalan zaman, atau bahkan segera gulung tikar. Penelitian dalam hidup sehari-hari bagi kita yang sungguh beriman adalah pemeriksaan batin atau refleksi, maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk tidak melupakan pemeriksaan batin atau refleksi setiap hari. Dalam refleksi atau pemeriksaan batin kiranya kita dapat bercermin pada charisma atau spiritualitas kita masing-masing atau visi-misi organisasi/lembaga. Dalam Tahun Iman ini kita semua diajak untuk memperteguh iman kita, atau bagi para anggota lembaga hidup bakti berarti semakin hidup dan bertindak sesuai dengan spiritualitas lembaga, sebagai orang yang telah dibaptis hidup dan bertindak sesuai dengan janji baptis. Semoga kita semua yang beriman kepada Allah semakin dikuasai dan dirajai oleh Allah sehingga dalam situasi dan kondisi apapun dan dimana pun senantiasa melaksanakan kehendak atau perintah Allah.
  • “Kata Yehuda kepada saudara-saudaranya itu: "Apakah untungnya kalau kita membunuh adik kita itu dan menyembunyikan darahnya? Marilah kita jual dia kepada orang Ismael ini, tetapi janganlah kita apa-apakan dia, karena ia saudara kita, darah daging kita." Dan saudara-saudaranya mendengarkan perkataannya itu” (Kej 37:26-27). Apa yang dikatakan Yehuda ini perihal usaha ‘menyelamatkan Yusuf’ , anak terkasih dari bapanya. Yang terkasih dan terbaik mau disingkirkan oleh saudara-saudaranya, itulah yang terjadi, dan memang yang disingkirkan kelak menjadi penyelamat mereka, saudara-saudarinya. Pengalaman ini kiranya dapat menjadi pelajaran bagi kita semua: jika kita baik adanya dan mengalami tekanan atau tantangan maupun hambatan, hendaknya tetap setia pada kebaikan yang telah diimaninya dan percayalah bahwa apa yang baik pasti mampu mengalahkan atau mengatasi aneka bentuk kejahatan, seperti egoisme, keserakahan dan kesombongan. Dengan kata lain jika kita setia pada panggilan dan tugas pengutusan ketika harus menghadapi masalah, tantangan dan hambatan hendaknya tidak melarikan diri, melainkan hadapi dengan rendah hati serta dengan bantuan rahmat Tuhan. Bersama dan bersatu dengan Tuhan kita pasti akan mampu mengatasi dan mengalahkan aneka tantangan, masalah dan hambatan. Penderitaan yang muncul dari kesetiaan dan ketaatan pada panggilan dan tugas pengutusan adalah jalan keselamatan atau kebahagiaan sejati.

“Ketika Ia mendatangkan kelaparan ke atas negeri itu, dan menghancurkan seluruh persediaan makanan, diutus-Nyalah seorang mendahului mereka: Yusuf, yang dijual menjadi budak.Mereka mengimpit kakinya dengan belenggu, lehernya masuk ke dalam besi,9 sampai saat firman-Nya sudah genap, dan janji TUHAN membenarkannya” (Mzm 105:16-19)

Add a comment

Kamis, 28 Februari 2013

“Engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu”

(Yer 17:5-10; Luk 16:19-31)

"Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya.Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini. Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu. Jawab orang itu: Tidak, Bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.” (Luk 16:19-31), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

  • Hari ini secara resmi Paus Benediktus XVI mengakhiri pelayanannya sebagai Paus, setelah beberapa waktu yang lalu mengumumkan perihal pengunduran diri. Warta Gembira hari ini mengkisahkan orang kaya telah meninggal dunia, menderita selamanya di neraka, irihati terhadap Lazarus, yang hidup mulia dan berbahagia selamanya di sorga. Ia menyampaikan irihati dengan mengeluh kepada bapa Abraham, bapa umat beriman. Menanggapi irihati dan keluh kesahnya bapa Abraham antara lain menjawab:   “Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita”. Jawaban bapa Abraham ini kiranya dapat menjadi bahan refleksi atau permenungan bagi kita semua. Apa yang telah kita nikmati selama hidup di dunia ini tidak akan kita nikmati lagi ketika kita meninggal dunia alias hidup di dalam baka, tetapi apa yang belum kita nikmati dunia ini di dalam baka kita dengan bebas dapat menikmatinya. Jika di dunia ini orang tidak disiplin dan tidak jujur, maka di alam baka nanti harus berlatih jujur dan disiplin terus-menerus, jika di dunia ini orang tidak berdoa, maka di alam baka nanti harus berdoa terus-menerus, dst… Maka dengan ini kami mengajak anda sekalian agar selama di dunia ini kita senantiasa melakukan apa yang baik, meskipun untuk itu harus menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan serta menderita, karena dengan demikian di alam baka nanti kita akan diperbolehkan hidup seenaknya.
  • “Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk. Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.” (Yer 17:5-8). Sebagai orang beriman kita semua diharapkan senantiasa menjadi “orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan”. Dengan kata lain kita semua diharapkan senantiasa melaksanakan atau menghayati perintah atau sabda Tuhan dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimana pun dan kapan pun alias hidup baik dan berbudi pekerti luhur. Pertama-tama dan terutama kami berharap kepada para orangtua untuk sungguh hidup baik, berbudi pekerti luhur atau bermoral, sehingga dapat menjadi teladan atau inspirator bagi anak-anaknya untuk hidup baik, bermoral atau berbudi pekerti luhur. Kami percaya ketika semua orangtua demikian adanya, maka hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara akan damai sejahtera, aman dan tenteram, dan kita semua kelak ketika dipanggil Tuhan akan mulia dan berbahagia selamanya, bersama bapa Abraham, bapa semua umat beriman.

“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” (Mzm 1:1-3)

Add a comment

Rabu, 27 Februari 2013

“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu hendaklah ia menjadi pelayanmu”

(Yer 18:18-20; Mat 20:17-28)

“ Ketika Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas murid-Nya tersendiri dan berkata kepada mereka di tengah jalan: "Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan." Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Kata Yesus: "Apa yang kaukehendaki?" Jawabnya: "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu." Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: "Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?" Kata mereka kepada-Nya: "Kami dapat." Yesus berkata kepada mereka: "Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya."Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mat 20:17-28), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

  • Para pejabat pemerintahan memang sering menghayati panggilan atau melaksanakan tugas pengutusan-nya dengan kekerasan, dan belum tentu kekerasan fisik, tetapi dapat berupa kekerasan psikologis atau spiritual. Mereka sering cari enaknya sendiri, berfoya-foya di atas penderitaan dan perjuangan orang lain, dan suka memberi perintah tetapi ia sendiri tidak berbuat apa-apa alias hanya ngomong atau bicara saja. Demikian juga orang-orang kaya pada umumnya suka memberi perintah seenaknya. Sabda hari ini mengajak dan mengingatkan kita semua, umat beriman, agar dalam hidup dan kerja kita saling melayani secara konkret. “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang”, demikian sabda Yesus, yang Ia sendiri juga melaksanakan dengan menderita dan wafat di kayu salib demi keselamatan umat manusia seluruh dunia. Maka dengan ini kami berharap kepada para pemimpin atau atasan untuk sungguh-sungguh membaktikan diri bagi kesejahteraan umum atau rakyat. Tanda keberhasilan karya pemimpin atau atasan adalah bahwa yang dipimpin atau bawahan hidup sejahtera, damai dan selamat baik fisik maupun spiritual. Kebahagiaan atau kesejahteraan umum atau bersama hendaknya menjadi cita-cita dan dambaan pemimpin, serta kemudian dengan rendah hati dan kerja keras mewujudkannya.
  • “Berkatalah mereka: "Marilah kita mengadakan persepakatan terhadap Yeremia, sebab imam tidak akan kehabisan pengajaran, orang bijaksana tidak akan kehabisan nasihat dan nabi tidak akan kehabisan firman. Marilah kita memukul dia dengan bahasanya sendiri dan jangan memperhatikan setiap perkataannya!" Perhatikanlah aku, ya TUHAN, dan dengarkanlah suara pengaduanku! Akan dibalaskah kebaikan dengan kejahatan? Namun mereka telah menggali pelubang untuk aku! Ingatlah bahwa aku telah berdiri di hadapan-Mu, dan telah berbicara membela mereka, supaya amarah-Mu disurutkan dari mereka.” (Yer 18:18-20). Kutipan ini kiranya dapat menjadi inspirasi bagi kita semua umat beriman dalam rangka menghayati rahmat kenabian kita. Menghayati rahmat kenabian memang tak akan terlepas dari aneka macam ancaman, tantangan dan hambatan, namun sebagaimana dikatakan banyak orang terhadap Yeremia bahwa “nabi tidak akan kehabisan firman”, hendaknya kita tetap tabah dan setia dalam ancaman, tantangan dan hambatan. Biarlah Allah membisikan firmanNya kepada kita dalam rangka menghadapi ancaman, tantangan dan hambatan. Hadapilah aneka ancaman, tantangan dan hambatan dengan rendah hati atau semangat pelayanan, sebagaimana seorang pelayan di dalam rumah tangga senantiasa siap sedia melaksanakan segala sesuatu yang diperintahkan oleh tuannya tanpa mengeluh atau menggerutu sedikitpun. Dengan kata lain hendaknya tetap ceria, dinamis dan bergairah ketika harus menghadapi ancaman, tantangan atau hambatan.

“Engkau akan mengeluarkan aku dari jaring yang dipasang orang terhadap aku, sebab Engkaulah tempat perlindunganku.Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; Engkau membebaskan aku, ya TUHAN, Allah yang setia.” (Mzm 31:5-6

Add a comment
Page 8 of 26