You are here : Home Renungan

Jangan takut, Aku besertamu


Mengapa bebanku berat sekali?" aku berpikir sambil membanting pintu kamarku dan bersender.

"Tidak adakah istirahat dari hidup ini? "

Aku menghempaskan badanku ke ranjang, menutupi telingaku dengan bantal.

"Ya Tuhan, " aku menangis, "Biarkan aku tidur...Biarkan aku tidur dan tidak pernah bangun kembali!" Dengan tersedu-sedu, aku mencoba untuk meyakinkan diriku untuk melupakan.

Tiba-tiba gelap mulai menguasai pandanganku, Lalu, suatu cahaya yang sangat bersinar mengelilingiku ketika aku mulai sadar. Aku memusatkan perhatianku pada sumber cahaya itu. Sesosok pria berdiri di depan salib.
Add a comment
Readmore

Monolog: Ketika Yesus Berjalan-Jalan di Bumi Saat Ini


Hmmm... sudah ribuan tahun Aku tidak menjejakkan kaki ke Bumi. Aku mau lihat, seperti apa keadaannya sekarang, setelah Aku naik ke Surga..

Ada apa di sana? Koq anak-anak pada menangis?

Ah, aku sungguh prihatin melihat kesulitan hidup yang dialami kaum papa di Bumi ini. Anak-anak menderita kekurangan gizi. Di kota besar seperti ini saja sudah demikian, apalagi di pedalaman-pedalaman. Tentu lebih banyak lagi anak yang terbaring lemah dengan tangan dan kaki tinggal tulang berbalut kulit. Pedih.... pedih sekali hatiKu, seperti mau mati rasanya.

Add a comment
Readmore

Jarak dan Hati

Suatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya, "Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?"

Seorang murid setelah berpikir cukup lama menangkat tangan dan menjawab, "Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak."

"Tapi...", sang guru balik bertanya, "Lawan bicaranya justru berada di sampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?"

Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawaban yang memuaskan. Sang guru lalu berkata, "Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak. Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi."

Add a comment
Readmore

Humility

"Takut akan Tuhan adalah didikan yang mendatangkan hikmat dan kerendahan hati mendahului kehormatan." Amsal 15:33

Buku klasik yang berjudul "Humility" karya Andrew Murray memberi definisi rendah hati sebagai berikut. "Humility is the sense of entire nothingness, which comes when we see how truly God is all, and in which we make way for God to be all." Manusia itu pada dasarnya "nothing", lalu dalam kondisi "nothing" tersebut, manusia diubah dari "nothing" menjadi "something" oleh Tuhan yang adalah "everything". Saat manusia mulai berani mencoba sendiri untuk menjadi "something", Tuhan tidak lagi dapat bekerja melaluinya. Karena Tuhan tidak mungkin mengubahnya dari "something" menjadi "everything".

Add a comment
Readmore

Tetap Bersemangat

Waktu orang itu mendengar orang banyak lewat, dia bertanya : "Apa itu?" Lukas 18:36

Bacaan : Lukas 18:35-43

Suatu kali, saya mengunjungi seorang ibu yang terkena stroke. Dalam percakapan yang berlangsung saat itu, terlihat dengan sangat jelas, tidak ada lagi semangat hidup. Mintanya mau mati saja. Tapi, aneh bin ajaib, kematian tidak segera menghampirinya. Walau sudah ingin mati, namun Tuhan belum memperkenankannya meninggalkan dunia ini. Meski tubuhnya masih hidup, tapi semangatnya sudah mati. Sangat berbeda dengan Proklamator negeri ini, Ir. Soekarno. Pada saat penjajahan, dia pernah berujar, "engkau boleh memenjarakan aku namun semangatku tidak bisa engkau penjarakan". Tampak dengan jelas, semangat yang tinggi membuatnya tidak cepat berputus asa.

Dalam renungan kita hari ini, dikisahkan tentang seorang yang bernama Bartimeus. Orang ini buta dan profesi hariannya adalah pengemis. Bermodalkan cacat fisik yang dia miliki, dia selalu duduk di pinggir jalan untuk menantikan belas kasihan orang lewat (ayat 35). Suatu kali Yesus bersama para murid berkunjung ke Yerikho. Apa yang diperbuat di sana, Alkitab tidak menjelaskannya secara detail. Selesai kunjungan, merekapun meninggalkan Yerikho. Rupanya, Yesus dan para murid diikuti oleh orang banyak (Mat 10:46). Bartimeus tahu kalau banyak orang yang lewat di depannya. Namun sayang, dia tidak tahu siapa sajakah yang lewat itu. Maklum dia buta. Karena itu, dia memutuskan untuk menanyakan siapakah yang lewat itu (ayat 36). Lagi-lagi, Alkitab tidak memberitahukan siapakah orang yang ditanyai itu. Yang dikisahkan hanyalah reaksinya tatkala mengetahui siapa yang lewat. Responnya sungguh luar biasa. Ia berseru, "Yesus Anak Daud, kasihanilah aku!" (Mark 10:48). Seruannya itu rupanya mengganggu mereka yang "normal" yang sedang bersama Yesus. Bagaimana respon mereka? Membantu pun tidak, justru menegur dan memintanya diam (ayat 39). Bahkan dalam terjemahan lain mengatakan dia dimarahi. Gawat! Bukannya ditolong tetapi justru dihambat.

Menarik dicermati, rupanya dia tidak patah arang. Ia berusaha sekuat tenaga memohon pertolongan Yesus. Walau buta, tapi imannya menembus hati Yesus. Yesus berkata, "Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau." Dia melihat! Pertolongan itu diawali tatkala semangat hidupnya berkobar. Bagaimana dengan anda? Teruslah bersemangat! Walau usia lanjut, sukacita Tuhan memampukan kita untuk bersemangat.

Dalam Yesus selalu tersedia pertolongan.

Sumber : Cakrawala Inner Healing - September 2008

Add a comment
Page 27 of 28