You are here : Home Renungan

Intisari Homili Minggu Biasa XXVI, 27 September 2009

STOP SEMANGAT EKSKLUSIF
Oleh: Romo Antonius Widiatmoko, OMI

Salah satu godaan terbesar zaman ini adalah semangat eksklusif - yaitu semangat yang membuat seseorang merasa dirinya paling istimewa, paling khusus, dibandingkan dari orang lainnya. Yang penting adalah "aku" - diri sendiri. Urusanmu bukan urusanku, singkatnya berlaku hukum "elu-elu - gue-gue". Dalam bidang rohani, misalnya, semangat eksklusif ini membawa orang untuk merasa hanya dirinya yang pantas menerima berkat Tuhan, orang lain dirasakan tak pantas untuk mendapat berkat yang sama karena satu dan lain hal. Maka muncullah "saudara-saudara dari semangat eksklusif" yaitu rasa sombong dan iri hati jika seseorang ternyata mendapatkan yang lebih baik atau lebih banyak darinya.

Add a comment
Readmore

Intisari Homili Minggu Biasa XXV, 20 September 2009

Oleh: Romo F.X. Sudirman, OMI

Pada dasarnya, dalam setiap manusia ada suatu gerakan untuk menjadi semakin besar. Manusia dilahirkan dalam keadaan kecil (bayi) lalu bertumbuh menjadi besar dan semakin besar. Demikian juga dalam kehidupan manusia dewasa, saat memasuki jenjang kerja, misalnya, manusia cenderung untuk menggapai kedudukan yang semakin tinggi atau semakin diakui. Keinginan untuk menjadi besar, diakui, dihormati, bermartabat tinggi, selalu ada menempel pada manusia sepanjang waktu.

Add a comment
Readmore

Intisari Homili Minggu Biasa XXIV, 13 September 2009

Berserah Total Pada Tuhan
Oleh: Romo Vincentius Watun, OMI


Dalam Kitab Yesaya yang dibacakan hari ini, kita mendengarkan tentang Yesus Kristus yang mempercayakan dan menyerahkan diri sepenuhnya pada Allah. Ia pun merendahkan diriNya sampai sehabis-habisnya, menyerahkan nyawa untuk memperolehnya kembali, sehingga kita yang telah dibaptis dalam nama Yesus Kristus, akan memperoleh hal yang sama. Itulah yang dinamakan penyerahan diri total, dan itu pula yang membuka jalan bagi kita sebagai hambaNya untuk mengikuti semua yang dikehendaki Allah bagi kita.

Add a comment
Readmore

Mbah Surip : I Love You Full

Mbah Surip telah pergi. Namun orang-orang masih terus mengenangnya tanpa henti. Dan diliputi sedih karena kepergiannya yang begitu dini. Mbah Surip telah tiada. Tapi lagunya "Tak Gendong Ke Mana-Mana" masih senantiasa mengiang di banyak telinga. Seakan ia masih ada, dan terus tertawa, "Ha, ha, ha." Mbah Surip memang selalu gembira. Dan ingin membuat orang lain gembira. Dan kegembiraan yang diberikannya bukan kegembiraan yang mewah, mahal dan penuh polesan dan kosmetika, tapi memberikan kegembiraan yang sederhana, murah dan apa adanya. Lagunya, "Tak Gendong", bukan lagu yang tinggi mutunya atau indah aransemennya. Lagu itu sangat sederhana, malah minim dengan aransemen yang indah. Namun lagu itu mengalir dari kesederhanaannya, membual dari kegembiraan hatinya yang terdalam. Karena itu "Tak Gendong" juga bisa membuat orang gembira dan tertawa bersamanya, "Ha, ha, ha."

Add a comment
Readmore

Intisari Homili Minggu Biasa XXIII, 06 September 2009

Tuli dan Gagap akan Tuhan
Oleh: Romo Petrus J. McLaughlin, OMI

Engkau selalu menantikan kami membuka hati padaMu. Sadarkanlah kami selalu... demikian cuplikan Doa Pembukaan pada Misa Kudus Minggu ini. Membuka hati seringkali dialami oleh umat yang mengikuti Kursus Evangelisasi Pribadi, para Katekis dan Pembina Iman, tetapi juga di dalam keluarga.


Diceritakan dalam Kitab Suci bahwa Yesus masuk ke kampung berpenduduk bukan orang Yahudi, mengusir roh-roh jahat yang masuk ke seorang bapak dan lalu roh-roh jahat itu meminta izin kepada Yesus untuk masuk ke sekawanan babi. Setelah kejadian itu, orang-orang desa dengan hormat meminta Yesus untuk meninggalkan tempat mereka dan berharap Yesus tidak kembali lagi ke sana.
Add a comment
Readmore
Page 23 of 28