You are here : Home Renungan

Pesta Perak Perkawinan

Dalam sebuah pesta perak HUT perkawinan...

Seorang MC (= Pembawa Acara) mengundang pasutri Andy dan Diane untuk tampil ke podium. Sang MC kemudian bertanya jawab dengan mereka di hadapan para tamu undangan. Sang MC kemudian bertanya jawab dengan mereka di hadapan para tamu undangan.

Sang MC mulai bertanya, “Pak Andy dan Ibu Diane yang terkasih, kalau kami boleh tahu, apakah hal yang paling tidak anda sukai dalam hidup perkawinan Anda selama 25 tahun ini?” “Keluar rumah pada waktu malam sementara musim dingin atau hujan salju di luar rumah,” jawab Bu Diane dengan serius.

“Kalau saya, hal yang sebenarnya tidak saya sukai adalah (sejenak Pak Andy melirik istrinya) menghabiskan 3 jam pada hari Sabtu hanya untuk shopping,” jawab Pak Andi seraya  tersenyum penuh arti. (Para tamu undangan spontan tertawa.)

Sang MC melanjutkan dengan pertanyaan kedua, “Selama 25 tahun perkawinan, apakah hal yang paling Anda syukuri mengenai pasangan Anda?” Bu Diane menjawab dengan senyum tersipu-sipu, “Selama 25 tahun, suami saya selalu menemani saya pergi shopping pada hari Sabtu.” (Beberapa tamu spontan bertepuk tangan.)

Berikutnya Pak Andy dengan suara keras bernada bangga berkata, “Selama 25 tahun, istri saya ini selalu menemani saya pergi membeli bensin, pada waktu malam, sekalipun di luar dingin atau salju sedang turun.”

Mendengar jawaban Pak Andy, setiap orang yang berada dalam ruangan itu bukan hanya spontan tertawa, tetapi juga bertepuk tangan sambil bangkit berdiri.

Anonim

Add a comment

Sebuah Surat Pembaca

Pada suatu hari, surat kabar Berita Pagi Dallas (Dallas Morning News) memuat sebuah foto kegiatan sosial beberapa narapidana menjelang selesainya masa tahanan mereka. Foto itu memperlihatkan mereka sedang memperbaiki sebuah rumah reot di salah satu pinggiran kota. Beberapa hari kemudian, salah seorang tahanan itu menulis surat kepada editor koran itu : “Terima kasih karena memuat berita itu. Saat terakhir nama dan foto saya dimuat di koran adalah hari di mana saya dijatuhi hukuman oleh pengadilan.

Maka sungguh menggembirakan melihat di koran anda, foto saya yang sedang melakukan suatu karya yang baik. Ketika saya masuk penjara 18 bulan yang lalu, diri saya ini amat mirip dengan rumah itu sebelum kami renovasi. Tetapi sekarang Allah telah menebus hidup saya dan  telah membuat saya menjadi ciptaan baru di dalam Kristus.”

Mark Link

Add a comment

Karena Kau Pergi, maka Aku Tetap di Sini

Ada seorang rahib tua. Selama bertahun-tahun dia rajin berdoa agar mendapatkan suatu penglihatan dari Tuhan, untuk menguatkan imannya. Ia hampir saja putus asa ketika pada suatu hari menerima suatu penglihatan. Ia menjadi sangat bahagia. Tetapi apa yang terjadi kemudian? Belum lama ia mengalami penglihatan itu, lonceng biara berbunyi. Lonceng itu menjadi tanda saatnya para rahib memberi makan orang-orang miskin yang menanti di depan pintu biara. Hari itu adalah giliran rahib tersebut untuk membagikan makanan. Bila dia tidak keluar, orang-orang miskin itu akan pergi karena menyangka pada hari itu biara tidak mempunyai makanan yang cukup. Tetapi bila dia keluar, maka penglihatan yang indah itu mungkin tidak akan pernah dialaminya lagi. Dia harus membuat pilihan yang sama-sama pentingnya, yaitu melayani orang miskin atau mengalami penglihatan itu.

Dengan berat hati, rahib itu meninggalkan penglihatan dan keluar untuk membagikan makanan. Sekitar satu jam kemudian, rahib itu kembail ke kamarnya. Ketika dia membuka pintu kamarnya, hampir dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ternyata Tuhan masih ada di sana. Serta merta ia segera berlutut untuk mengucap syukur. Tuhan tersenyum kepadanya.

“AnakKu,” kata Tuhan, “Seandainya saja engkau tidak keluar untuk memberi makan orang-orang tadi, tentu saja Aku telah pergi meninggalkanmu.”

 

Lawrence Le Shan

Add a comment

Minggu Adven C2 / 2015

Dahulu kala...

Seorang raja ingin mengetahui seberapa besar kualitas rakyatnya dalam hal memperhatikan kepentingan bersama. Maka pada suatu malam ia meletakkan sebongkah batu besar di sebuah jalan raya. Kemudian dia bersembunyi di balik pakaian samaran untuk melihat apakah ada orang yang mau menyingkirkan batu itu.

Add a comment
Readmore

"Jangan Takut, Hari Ini Telah Lahir Bagimu Juruselamat"

Maranatha

Tuhan datanglah adalah seruan permohonan agar Tuhan berkenan mendatangi umatNya. Tuhan kini sudah datang dalam rupa seorang bayi seperti yang diwartakan oleh malaikat kepada para gembala dan kawanannya: Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitahukan kepadamu kesukaan yang besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus Tuhan di kota Daud. (Luk 2:10) Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah bala tentara surga memuji Allah: Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadaNya. (Luk 2:14) Ia datang untuk menyelamatkan setiap orang, membawa damai sejahtera dan kebahagiaan sejati kepada setiap orang yang percaya dan berharap kepadaNya. Maka kedatanganNya adalah sebuah Kabar Gembira karena Dia adalah Immanuel - Allah beserta kita. Sejalan dengan kehendak dan rencana ilahi ini, kita pun mengharapkan dan merindukan hal yang sama, yaitu keselamatan, damai sejahtera dan kebahagiaan sejati yang datang dari Tuhan. Kita ingin hidup bahagia, mengalami damai sejahtera dan keselamatan.

Untuk Direnungkan

Apakah kita yang mengharapkan keselamatan, damai sejahtera dan kebahagiaan sejati, kini telah mengalamiNya? Kalau ternyata belum - Apakah ada yang salah? Salahnya di mana? Apa yang mesti kita lakukan untuk menjadi bahagia, damai dan sejahtera, sebagaimana yang dirancangkan dan dikehendaki oleh Allah sendiri? Untuk menemukan jawabannya marilah kita menimba inspirasi rohani dari seorang mistikus, yaitu Anthony de Mello, SJ.

Add a comment
Readmore
Page 1 of 26