You are here : Home Artikel Keluarga Uang Sumber Kebahagiaan?

Uang Sumber Kebahagiaan?

 

Orang bilang, dengan banyak uang kita bisa hidup bahagia. Benarkah demikian?

Hidup Perlu Uang

Mari kita lihat kegiatan kita setiap hari: bangun pagi, mandi, sedikit sarapan, minum teh atau kopi, lalu segera bergegas pergi bekerja. Seharian disibukkan dengan pekerjaan, lalu pulang. Makan malam, bersantai sejenak (atau lembur melanjutkan pekerjaan), lantas pergi tidur. Bangun pagi di keesokan harinya dan kemudian menjalani ritual yang sama.

Setiap hari, kita disibukkan dengan berbagai macam kegiatan, akan tetapi yang paling banyak menyita waktu tentunya adalah pekerjaan kita. Sebagian besar waktu kita dihabiskan untuk bekerja dan melakukan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan. Memang tak heran jika kegiatan ini yang paling menyita banyak waktu, karena sadar atau tidak, sebagian besar waktu dalam hidup kita memang dihabiskan untuk bekerja.
 
Mengapa manusia harus bekerja? Selain untuk aktualisasi diri, alasan yang tak kalah penting (bahkan bisa jadi alasan utama) adalah tentu karena kita butuh penghasilan. Kita perlu uang untuk memenuhi kebutuhan hidup kita sehari-hari. Kita perlu uang untuk sandang, pangan, dan papan, dan juga untuk kebutuhan lain seperti rekreasi, hobi, dan sebagainya. Di kota besar seperti Jakarta, uang semakin terasa penting. Beragam aktivitas yang kita lakukan sehari-hari di Jakarta sepertinya selalu menuntut kita untuk mengeluarkan uang. Mulai dari membayar parkir, memberi tip pada pelayan restoran, membeli tiket nonton film bioskop, membeli makanan dan pakaian, membayar berbagai tagihan, dsb. Bagi keluarga muda yang sudah memiliki anak, kebutuhan terasa makin banyak karena tentunya harus ada biaya ekstra untuk membeli makanan, pakaian, dan mainan anak, membayar uang sekolah anak, sampai membayar jasa pengasuh anak.
 
Pihak produsen serta penyedia barang dan jasa juga semakin pandai dan gencar mempromosikan barang dan jasa mereka sehingga seolah-olah semuanya tampak penting untuk dibeli dan dimiliki. Berbagai macam iklan di radio, billboard, koran, majalah, televisi, dan berbagai media lainnya seakan membombardir indera kita setiap saat. Kita pun terpacu untuk bekerja lebih keras dan lebih keras lagi untuk bisa memenuhi semua kebutuhan (dan keinginan) kita.
 
Di sisi lain, semakin banyak tenaga yang terkuras untuk bekerja, semakin banyak pula anggaran kita untuk kebutuhan hiburan. Ditambah lagi, generasi pekerja sekarang masuk dalam era “work hard, play hard”. Dalam salah satu majalah internal sebuah pusat perbelanjaan ternama di Jakarta Barat dilampirkan hasil survei perilaku dan gaya hidup para eksekutif muda di Jakarta yang berasal dari kelas menengah ke atas. Survei yang melibatkan 400 orang responden tersebut memperlihatkan bahwa pengeluaran untuk gaya hidup mereka cukup besar karena mereka ingin menunjukkan kemapanan mereka. Mereka mengeluarkan uang cukup banyak untuk sarana transportasi (rata-rata menggunakan mobil), berbagai gadget (televisi, DVD player, dan notebook), produk-produk fashion (pakaian, tas, arloji, sepatu, parfum, dan kosmetik), hangouts (pergi ke mal, nongkrong di kafe, menonton film di bioskop, fitness, dsb). Pemilihan barang-barang dan kebutuhan ini tidak hanya didasarkan pada fungsinya saja, namun juga mempertimbangkan faktor image dan status. Karena itulah para produsen melihat kelompok ini sebagai target pasar yang menggiurkan.  
Banyak Uang, Berkah atau Musibah?
 
Melihat kenyataan tersebut, wajar bila kemudian timbul rasa iri pada mereka yang berasal dari kalangan menengah ke atas ini. Di saat orang lain bekerja keras membanting tulang dan mengencangkan ikat pinggang, mereka bisa dengan mudahnya membeli segala sesuatu yang mereka inginkan tanpa harus berpikir panjang. Di saat orang lain berdesak-desakan dalam bus yang rawan pencopetan dan risau memikirkan tarif angkot yang terus naik, mereka duduk dengan nyaman di dalam mobil pribadi nan mewah. Di saat orang lain pusing memikirkan apakah masih ada cukup uang untuk makan hari ini, mereka justru menikmati makanan di restoran mahal dengan memanfaatkan potongan harga dari sejumlah kartu kredit yang mereka miliki. Hidup terasa lebih mudah dan nyaman bila kita memiliki banyak uang.
 
Menjadi kaya adalah hak setiap orang. Banyak orang yang bisa menjadi kaya dan hidup berkelimpahan dari hasil kerja keras mereka. Namun sayangnya, menjadi seorang kaya juga berarti siap untuk “dibenci” dan dianggap sebagai sinterklas yang akan mengabulkan permintaan orang-orang sekitarnya. Ketika orang mengetahui bahwa kita kaya, tak jarang orang-orang menjadi banyak berharap pada kita. Ketika kita tidak mampu memenuhi harapan mereka, maka cap “pelit”, “sombong”, dan sebagainya bisa melekat pada kita.
 
Lebih jauh lagi, perasaan tidak puas dan takut miskin juga kerap menghantui orang-orang kaya. Tentunya tidak semua orang kaya seperti itu, hanya saja biasanya lebih sulit bagi orang kaya untuk bisa merasa puas dan bersyukur dengan apa yang sudah mereka miliki. Dengan berbagai upaya, mereka selalu berusaha untuk menambah penghasilan mereka dan tentunya mudah bagi mereka untuk menanamkan modal usaha. Jika kita punya waktu luang, coba cari dan baca kembali komik-komik garapan Walt Disney. Kita akan menemukan sesosok tokoh yang sudah lama kita kenal, yakni Gober Bebek. Kita semua tahu bahwa Paman Gober adalah bebek terkaya di Kota Bebek.  Ia memiliki gudang uang dan setiap hari berenang di tumpukan uangnya itu. Hampir seluruh jenis usaha dan jasa di Kota Bebek dimilikinya, mulai dari perusahaan transportasi (darat, laut, dan udara), alat-alat elektronik, makanan, pertambangan, dan sebagainya. Ia memiliki mobil pribadi dan juga pesawat jet pribadi. Kegemarannya adalah mendengarkan suara mesin hitung yang setiap hari menunjukkan bahwa kekayaannya semakin bertambah. Akan tetapi, meskipun kaya, Paman Gober ini kikirnya bukan main. Ia hampir tidak pernah mau membelanjakan uangnya sepeser pun. Mengeluarkan uang untuk membeli koran pun ia merasa sayang, apalagi untuk sekedar membelikan es krim bagi keponakan-keponakannya. Bahkan ia memasang jebakan di sekitar gudang uang dan kantornya untuk mengusir orang-orang yang datang untuk meminjam uang. Ia memasang pelindung dan pengaman untuk melindungi hartanya dari Gerombolan Si Berat yang bisa datang merampok kapan saja. Pokoknya, baginya uang lebih penting dari apapun juga. Keadaan ini berbanding terbalik dengan Donal Bebek, keponakan sekaligus ahli warisnya, yang tinggal sangat sederhana di rumah yang hampir ambruk. Donal hampir tidak memiliki uang apalagi tabungan. Ia dikisahkan sebagai tokoh yang jujur dan mau bekerja keras, akan tetapi entah mengapa segala sesuatu yang dikerjakannya selalu salah dan ia selalu sial. Mobilnya yang butut hampir tiap hari mogok, ia hampir tidak pernah berhasil membahagiakan Desi Bebek, kekasihnya, dan terkadang menjadi sasaran kejahilan keponakan-keponakannya yang cerdas tapi suka iseng. Paman Gober kerap memanfaatkan tenaga Donal untuk memenuhi keinginan-keinginannya dan tentu saja Donal tidak mendapatkan bayaran untuk itu. Meskipun demikian, Donal bisa menerima keadaannya itu, bahkan ia lebih senang hidup sederhana daripada banyak uang. Ia tetap mau membantu Paman Gober meskipun ia tahu ia hanya dimanfaatkan dan tidak pernah mendapatkan bayaran yang pantas. Ia menyayangi Desi dan ketiga keponakannya dengan tulus, dan tentu saja hal ini lebih penting daripada uang.
 
Memang tidak semua orang kaya kikir dan licik seperti Paman Gober. Ilustrasi di atas hanya mau menunjukkan bahwa betapa orang kaya rentan terhadap nikmat duniawi sehingga bisa saja lupa akan hakikat dan makna hidup yang sesungguhnya. Kalau sudah begini, kebahagiaan yang sejati akan sulit diraih karena kita tidak akan pernah merasa puas.

Uang

Sebenarnya, uang adalah alat yang diciptakan manusia untuk mempermudah proses perdagangan. Seandainya tidak ada uang pun pasti ada benda-benda lain dengan nama lain yang mungkin fungsinya kurang-lebih sama seperti uang. Uang tentunya lebih praktis daripada harus membawa-bawa kambing untuk ditukarkan dengan babi. Seiring perkembangan zaman, uang mengalami perubahan bentuk sehingga akhirnya menjadi seperti bentuk uang yang sekarang, bahkan yang lebih canggih lagi adalah “uang plastik” alias  kartu debit atau kartu kredit.
 
Kita sering lupa bahwa uang itu sendiri tidak memiliki kekuatan apapun. Kita (baca: manusia)-lah yang meng-asosiasi-kan uang dengan perasaan, keyakinan, dan sikap tertentu, kemudian kita menganggap bahwa uanglah yang menciptakan perasaan dan sikap-sikap tersebut. Uang tidak dapat berbuat apa-apa. Kitalah yang bertanggungjawab terhadap keyakinan, perasaan, sikap, serta mengatasi masalah kita dengan uang.
 
Banyak orang – bahkan mungkin kita sendiri – merasa bahwa dengan uang kita bisa membeli kebahagiaan. Dengan memiliki uang berarti kita dapat membeli cinta, kebebasan, sukses, dan kegembiraan. Mencari semakin banyak uang bisa jadi merupakan fokus hidup kita, namun jika demikian, kita tidak akan pernah merasa puas karena nafsu dan keinginan manusia memang tidak pernah dapat dipuaskan. Bila kita yakin bahwa uanglah sumber kebahagiaan, sepertinya hidup kita tidak akan pernah bahagia, sebab sebagian besar dari kita tidak kaya. Jumlah orang kaya sangat sedikit sekali jika dibandingkan dengan jumlah orang miskin dan menengah, apalagi di Indonesia. Bisa-bisa seluruh tenaga dan daya upaya kita habis hanya untuk berusaha menjadi kaya, merasa iri pada orang-orang yang kita anggap lebih kaya daripada kita, dan bertanya kepada Tuhan kenapa kita tidak dilahirkan dalam kelimpahan. Atau, jika kita termasuk orang kaya, kita selalu dihantui ketakutan kehilangan harta dan merasa bahwa orang lain mengincar apa yang kita miliki.
 
Mengapa uang menjadi sangat penting? Menarik untuk direnungkan. Ray dalam bukunya Choosing Happiness: Panduan Hidup Tanpa Syarat, menyebutkan salah satunya adalah karena tanpa kita sadari, di masyarakat telah tumbuh pandangan bahwa orang baik adalah orang kaya dan orang jahat adalah orang miskin. Keyakinan ini muncul dari keluarga dan orang-orang di sekitar kita, atau bahkan kita sadari sendiri. Kesuksesan selalu diartikan sebagai pencapaian dari segi keuangan. Orang-orang kaya dan sukses selalu berhasil mengatasi masalah dan bisa hidup lebih baik, bahkan ketika keprihatinan dan kesengsaraan melanda.
 
Ketika kita kecil pun, dongeng-dongeng dan cerita-cerita mengajarkan kita bahwa kebaikan akan diganjar dengan kekayaan, kemewahan, dan kebahagiaan. Kisah Cinderella, Putri Salju, Aladdin, Little Mermaid, dan beragam kisah lainnya, menggambarkan orang-orang miskin atau tertindas yang kemudian hidup bahagia selamanya karena mereka bersikap baik, tabah, dan berani. Dalam dongeng sering kita dapati gadis yang akhirnya menjadi putri dan tinggal di istana, atau gadis yang diselamatkan pangeran tampan, atau seorang pemuda heroik yang akhirnya bisa hidup berkelimpahan didampingi wanita cantik. Tidak ada tokoh baik yang tetap hidup miskin atau melarat. Kemiskinan dan penderitaan adalah ganjaran bagi si jahat. Kita memandang orang miskin sebagai orang yang pemalas, kotor, dan jahat. Kita berpikir bahwa kemiskinan membuat mereka menjadi pencuri, pencopet, pembunuh, atau pelaku tindak kriminal lainnya. Karena mereka miskin, mereka tidak memperoleh pendidikan yang layak sehingga menjadi bodoh dan tidak bermoral. Sedari kecil kita belajar menyalahkan dan menghakimi orang miskin atas keadaan yang mereka alami. Mungkin karena pandangan-pandangan inilah kita merasa bahwa kesuksesan dan kekayaan merupakan bukti bahwa kita adalah orang baik.
 
Tanpa kita sadari, pandangan yang menekankan bahwa uang identik dengan kebahagiaan telah tertanam dalam benak kita sejak kita kecil. Di masa kecil kita, bahkan mungkin sampai sekarang, kita tidak akan pernah mau membayangkan akan tumbuh menjadi seorang yang melarat. Angan-angan masa kecil kita membuat kita berharap suatu hari akan datang seorang pangeran kaya yang akan menyelamatkan kita sehingga kita hidup bahagia selamanya. Mungkin pula kita berharap bahwa kerja keras dan pengorbanan kita selama ini akan dibalas dengan kekayaan dan kegembiraan di kemudian hari. Akan tetapi, pada kenyataannya tidaklah selalu demikian. Akibatnya, kita menjadi marah, mengeluh, dan menghabiskan hari-hari kita dengan menunggu saat impian-impian itu dapat terwujud.
        
Tergantung Pemikiran Kita
 
Melihat dan menyadari “kekejaman” uang, apakah lantas kita membenci uang? Tentu saja tidak bisa demikian, karena pada dasarnya uang hanyalah alat tukar yang diciptakan manusia untuk mempermudah perdagangan. Persepsi, perasaan, dan asosiasi kita mengenai uanglah yang mempengaruhi kita.
 
Ada orang yang setengah mati memeras keringat dan membanting tulang mencari uang meskipun sudah berkecukupan, namun ada pula yang dapat tetap tenang menjalani hidup meski serba pas-pasan. Mengapa bisa demikian? Seperti yang telah disebutkan di atas, hal-hal ini kembali berpulang pada persepsi kita. Ada yang sudah merasa cukup dengan makan tempe, tahu, dan telur, namun ada pula yang tidak merasa puas meski sudah makan steak.
 
Menurut Dalai Lama, perasaan puas kita  sangat dipengaruhi oleh kecenderungan untuk melakukan pembandingan. Kita cenderung melihat dan merasa orang lain lebih beruntung dari diri kita, padahal kita pun sebenarnya beruntung. Seorang Pastor lulusan University of Poona, India, Alexander Dirjosusanto, memandang wajar bila kita selalu memiliki keinginan. Sayangnya, kecenderungan umum dari kita adalah selalu tidak puas dengan apa yang sudah kita capai. Manusia cenderung tamak. Ketika keinginan yang satu terpenuhi, keinginan yang lain akan muncul, begitu seterusnya. Menurut Sr. Seraphine, OSF, kalaupun semua keinginan itu terpenuhi, yang datang hanyalah kebahagiaan semu karena pada dasarnya keinginan manusia tidak ada habisnya. Kita akan terus memacu diri kita untuk mencari lebih banyak uang lagi dan lama-kelamaan kita akan semakin tertekan. Yang lebih parah, waktu dan seluruh tenaga kita habis dicurahkan untuk mencari uang tanpa bisa menikmati apa yang telah kita miliki.
 
Baik Pastor Alex maupun Sang Dalai Lama menyebutkan bahwa kebahagiaan ditentukan oleh pikiran orang itu sendiri ketimbang oleh peristiwa-peristiwa luar dan hal-hal material. Semua hal yang kita miliki – entah itu kekayaan, kesehatan, persahabatan, jabatan – tidak akan memberi dampak membahagiakan yang berkepanjangan tanpa sikap mental yang benar. Kita bisa bahagia karena kita punya persepsi bahwa keadaan kita saat ini sudah membahagiakan kita.
 
Yang menarik adalah sebuah eksperimen di State University of New York, Buffalo, AS.  Para responden diminta untuk menyelesaikan kalimat “Saya bersyukur karena saya bukan...…”. Sehabis lima kali mengulang latihan ini, para responden menyatakan mengalami peningkatan nyata dalam rasa puas mereka terhadap hidup. Kelompok responden lain diminta menyelesaikan kalimat “Andaikata saya menjadi...…”. Hasilnya, para mereka merasa kurang puas dengan hidup mereka  masing-masing.  Dari sini dapat kita simpulkan bahwa pemikiran optimis akhirnya membuat kita bersyukur dan menyadari bahwa kita masih beruntung.
Bersyukur dan Berbagi
 
Seperti yang telah disinggung di atas, cara yang efektif untuk menghindari ketamakan adalah dengan bersyukur, karena banyaknya uang dan harta benda ternyata tidak menjamin bahwa kita akan hidup bahagia. Menurut Dalai Lama, jika kita mau bersyukur dan puas dengan apa yang telah kita kerjakan dan kita capai, kita akan merasa bahagia. Bahwa kita bekerja untuk bisa membeli rumah, pakaian, dan kebutuhan-kebutuhan kita adalah hal yang wajar, tetapi menjadi tidak wajar ketika begitu ambisius dan terobsesi, seolah-olah hidup ini hanya untuk mengejar seluruh keinginan itu. Terkadang, kita membeli barang tidak hanya didasarkan faktor kegunaannya saja, melainkan juga faktor gengsi. Kalau sudah begini, kita perlu meninjau kembali motivasi kita.
 
Aronson, Wilson, & Akert menyebutkan, banyak orang beranggapan bahwa kebahagiaan adalah bisa mengumpulkan kekayaan, membeli banyak barang, dan menggunakan sumber-sumber kekayaan alam dengan bebas. Akan tetapi, kemudian ditemukan bahwa tidak terdapat hubungan yang kuat antara jumlah uang yang dimiliki dengan kebahagiaan seseorang. Orang yang hidup dalam kemelaratan, yang sulit mencari makanan dan tempat tinggal, memang kurang bahagia dibandingkan dengan yang lain. Namun demikian, orang yang sudah dapat memenuhi kebutuhan dasar menyatakan bahwa bertambahnya uang tidak akan terlalu banyak menambah kebahagiaan mereka. Sementara itu, orang-orang yang materialistis – yang mementingkan uang dan harta benda – justru malah kurang bahagia dibandingkan dengan orang-orang yang kurang mementingkan uang dan harta benda. Salah satu alasannya adalah karena orang-orang yang materialistis kurang memiliki hubungan yang baik dengan lingkungan sosialnya.
 
Selain dengan bersyukur, cara lain untuk menghadirkan kebahagiaan adalah dengan berbagi. Suatu penelitian menyebutkan bahwa hal-hal yang dapat membuat orang bahagia antara lain adalah memiliki hubungan yang menyenangkan dengan orang lain; dapat berpartisipasi, dan mencapai sesuatu yang kita sukai; dan bisa menolong orang lain. Sr. Seraphine, OSF pun menyarankan agar kita mengatur waktu dengan baik agar semua aspek kehidupan kita mendapat proporsi yang seimbang. Misalnya, dalam satu hari, berapakah waktu yang kita luangkan untuk keluarga, teman, kegiatan sosial, bahkan untuk diri kita sendiri? Perhatian pada proporsi yang tepat dan seimbang pada seluruh aspek kehidupan menandakan dapat menyadarkan kita bahwa hidup ini tidak hanya untuk mengejar satu hal saja, misalnya uang.
 
(ditulis oleh: Vickie Rosaline, Mahasiswi Fakultas Psikologi, Universitas Atmajaya)
 
 
Pustaka Acuan:
Aronson, E.,Wilson, T.D., Akert, R.M.. (2007). Social Psychology (6th ed.). New Jersey: Pearson.
Kebahagiaan, Ada Dimana?. Retrieved 21 Januari 2009, dari http:// www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/05/05/17500187/kebahagiaan.ada.dimana
Metropolis Lifestyle. (2009, Januari). PuriMagz Free Magazine, p. 40.
Ray, V. (2000). Choosing Happiness: Panduan Hidup Tanpa Syarat – Mekarlah Dimanapun Anda Ditanam. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.