You are here : Home Artikel Yang Terkini Tritunggal Mahakudus mengubahkan cara hidup kita

Tritunggal Mahakudus mengubahkan cara hidup kita

Paus Fransiskus pada Hari Raya Tritunggal Mahakudus ini, mengingatkan kepada kita bahwa Tritunggal bukanlah suatu "latihan teologis", namun "sebuah perubahan dalam cara hidup kita."

 

Paus menekankan hal tersebut pada sapaannya ketika Doa Malaikat Tuhan pada hari Minggu ini di Lapangan Santo Petrus, pada Hari Raya Tritunggal Mahakudus.

 

Bapa Suci memulai dengan merefleksikan Hari Raya pada hari ini, mengingat perikop Injil hari ini di mana Yesus menghadirkan Bapa dan Roh Kudus.

Roh, Yesus menjelaskan, “Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.”

Paus menunjukkan bahwa Roh Kudus berbicara, tetapi bukan tentang diri-Nya, melainkan Dia mengumumkan dan berbicara tentang Yesus dan mengungkapkan Bapa. Demikian juga, Bapa, "yang memiliki segalanya, karena Dia adalah asal dari segala sesuatu," memberikan kepada Putra segala yang Dia miliki dan tidak menyimpan apa pun untuk diri-Nya sendiri.

 

Bagaimana dengan diri kita sendiri?

Bapa Suci mendorong umat beriman untuk melihat diri mereka sendiri dan tentang apa yang kita ucapkan dan miliki. Beliau mengamati bagaimana biasanya, ketika kita berbicara, kita cenderung berbicara tentang diri kita sendiri dan apa yang kita lakukan.

“Betapa berbedanya ini dengan Roh Kudus, yang berbicara dengan mewartakan orang lain!”

Selain itu, Paus menyesali kecenderungan kita untuk memegang erat-erat milik kita, tidak membagikan apa yang kita miliki kepada orang lain, "bahkan kepada mereka yang kekurangan kebutuhan dasar!"

 

Hidup adalah untuk orang lain, dan ditunjukkan melalui tindakan kita

Bapa Suci menekankan bahwa kata-kata kita harus diterjemahkan ke dalam tindakan.

"Inilah sebabnya," kata Paus Fransiskus, "merayakan Tritunggal Mahakudus bukanlah latihan teologis, namun sebuah perubahan dalam cara hidup kita."

Tuhan, di mana setiap Pribadi hidup untuk orang lain, bukan untuk diri-Nya sendiri, namun untuk menggugah kita untuk hidup bersama orang lain dan untuk orang lain.

“Hari ini kita dapat bertanya pada diri sendiri apakah hidup kita mencerminkan Tuhan yang kita percayai: apakah saya, yang mengaku beriman kepada Allah Bapa dan Anak dan Roh Kudus, benar-benar percaya bahwa untuk hidup saya membutuhkan orang lain, saya perlu memberikan diri saya sendiri kepada orang lain, saya perlu melayani orang lain? Apakah saya menegaskan ini dengan kata-kata atau dengan hidup saya?”

Tuhan, Yang Satu dan Tritunggal, Paus menggarisbawahi, harus ditunjukkan dengan perbuatan daripada kata-kata. Tuhan, lanjut Paus, "ditransmisikan tidak begitu banyak melalui kitab, melainkan melalui kesaksian hidup."

“Pikirkan tentang orang-orang baik, murah hati, lemah lembut yang pernah kita temui; mengingat cara berpikir dan bertindak mereka, kita dapat memiliki refleksi kecil dari Cinta-Tuhan. Dan apa artinya mengasihi? Tidak hanya berharap mereka baik dan berbuat baik , tetapi pertama dan terutama, pada dasarnya, untuk menyambut orang lain, memberi ruang bagi orang lain, memberi ruang kepada orang lain. Inilah artinya mengasihi..."

 

Kita bukanlah sebuah pulau

Trinitas, kata Paus, mengajarkan kita bahwa yang satu tidak akan pernah bisa tanpa yang lain.

“Tanda Salib yang saya buat setiap hari, tetap menjadi tanda untuk kepentingannya sendiri, atau apakah itu mengilhami cara saya berbicara, menghadapi, menanggapi, menilai, mengampuni?”

Paus Fransiskus mengakhiri dengan berdoa: "Semoga Bunda Maria, putri Bapa, ibu Putra dan mempelai Roh, membantu kita untuk menyambut dan memberikan kesaksian dalam hidup akan misteri Kasih Tuhan."