You are here : Home Artikel Umat Berbagi Ketika Harus Mengakhiri.....

Ketika Harus Mengakhiri.....

Roh Moo-Hyun (mantan Presiden Korea Selatan):
I can't imagine the countless agonies down the road. The rest of my life would only be a burden for others. I can't do anything because I'm not healthy. I can't read books, nor can I write.  Don't be too sad. Isn't life and death all part of nature? Don't be sorry. Don't blame anybody. It's fate. Please cremate me. And please leave a small tombstone near home. I've long thought about that. (catatan bunuh diri yang ditemukan di computer mantan Presiden Korea Selatan Roh Moo-Hyun – sumber:  BBC News).

Akhir-akhir ini, berita meninggalnya beberapa orang ternama dengan jalan bunuh diri, membuat penulis prihatin. Di Korea, bahkan mantan presidennya, Roh Moo-Hyun, memilih jalan ini, karena pada awalnya Roh adalah Presiden yang terkenal bersih, bahkan berjanji untuk memberantas korupsi, malah ketahuan istrinya dan keluarganya menerima suap sebesar $ 6 Mn (6 juta). Dengan perasaan malu dan bersalah yang mendominasi, Roh akhirnya memilih bunuh diri dengan cara menjatuhkan dirinya ketika mendaki gunung di belakang rumahnya. Tragis dan ‘shocking’.

Jang Ja Yeon (Jang Ja Yun) - aktris Korea Selatan:
The shock suicide of “Boys Over Flowers” actress Jang Ja Yun (26) is still causing shockwaves all over Korea and the industry with many speculating over the actual reasons behind her doing so. Theories ranged from contractual woes with her management, lack of appearances (airtime) in “Boys Before Flowers”, bashing by antis, etc but close friends have revealed that the main reason was probably depression. Jang Ja Yun had hanged herself in her home yesterday with police ruling out any forms of foul play after initial investigations.(Sumber:  asiauniverse.net)


“Boys Over Flowers”, film Korea  semacam F4 yang sudah dikenal di Indonesia lewat para aktor Taiwan dari serial Meteor Garden, memiliki kisah sedih.  Salah satu artis pendukungnya Jang Ja Yeon, meninggal dunia dalam usia muda.  Dan meninggalnya lagi-lagi dikarenakan bunuh diri.  Apakah memang kehidupan di Korea Selatan begitu stress-nya, sehingga apabila orang melakukan kesalahan, sepertinya tidak ada jalan keluar?

Mantan Presiden Roh yang terkenal jujur dan pernah melakukan kesalahan, meninggal dengan meloncat dari gunung.  Ja Yeon, terakhir saya baca melalui harian The Straits Times, menuliskan surat sebelum ia meninggal. Surat itu membuka banyak rahasia di balik kematiannya, seperti adanya konspirasi dari pihak-pihak yang berpengaruh dalam pertelevisian di Korea Selatan dan adanya paksaan dari menejemen-nya agar dia melakukan hubungan seksual dengan orang-orang berpengaruh tersebut.  Hal yang menyedihkan sekaligus juga amat menyakitkan, membuat si artis muda yang cantik itu tak mampu bertahan.  Hidup memang keras bagi mereka. Tetapi apakah sungguh tiada jalan lain?

Lucy Gordon - aktris Hollywood:
Young British actress Lucy Gordon has been found dead in her Paris flat after apparently committing suicide.  The Spider-Man 3 actress was found dead at the 10th arrondissement apartment on Wednesday, two days before her 29th birthday.  A police spokesman said an autopsy had been ordered to determine the cause of death, adding that it appeared to be a suicide.  The Oxford-born actress appeared in a dozen films including as reporter Jennifer Dugan in the third instalment of Spider-Man. (Sumber: msn.com)

Tidak di Korea Selatan, tidak di Paris, berita yang sama masih mewarnai kematian artis cantik, salah satu pemeran film Spider Man, Lucy Gordon juga meninggal dunia karena bunuh diri.

Ada apa gerangan di balik semua tindakan orang-orang ternama ini? Bagaimana dengan orang-orang biasa di Indonesia misalnya, yang kelaparan, tak bisa makan, dan akhirnya memutuskan untuk bunuh diri?

Dari keprihatinan akan masalah ini, penulis ingin mengajak kita bersama melihat mengapa seseorang sampai berniat mengakhiri hidupnya.

Mengapa Sampai Bunuh Diri?

Bunuh diri atau “suicide” dalam Bahasa Inggris - kata yang sebenarnya berasal dari bahasa Latin “sui caedere” yang berarti membunuh diri sendiri - adalah tindakan yang ditujukan untuk mengakhiri hidup sang pelaku sendiri. 

Secara garis besar, bunuh diri terjadi karena dua hal: (1) Bunuh diri irasional: terjadi karena pengaruh obat (misalnya obat -obatan yang memiliki efek paranoia), atau karena penyakit organik (misalnya schizophrenia yang diikuti oleh waham nihilistik). (2) Bunuh diri rasional: terjadi melalui pertimbangan akal, misalnya bunuh diri karena kesulitan ekonomi .

Di sisi lain, ada banyak hal yang melatarbelakangi mengapa seseorang atau sekelompok orang melakukan perbuatan bunuh diri ini, yaitu : (1) Permasalahan Psikologis, seperti depresi, rasa malu (bedakan antara malu dan dilecehkan), rasa takut terhadap sesuatu (sampai dengan tahap phobia). Secara umum bunuh diri karena permasalahan psikologis adalah kegagalan seseorang melakukan coping (penyesuaian diri) dari permasalahan yang dihadapinya; (2) Belief System atau sistem kepercayaan di mana orang menafsirkan arti kematian akibat perbuatan bunuh diri dilihat dari sudut pandang keyakinan yang mereka miliki; (3) Kehormatan Sosial yaitu pandangan bahwa bunuh diri adalah perbuatan mulia rupanya dipegang teguh oleh bangsa Jepang dengan melihat bahwa bunuh diri adalah cara yang lebih terhormat untuk “hidup” daripada hidup dengan rasa malu; (4) Bunuh Diri Medis (Euthanasia):  bunuh diri yang satu ini sampai sekarang menjadi kontroversial mengenai legalitasnya. Euthanasia biasanya dilakukan pada pasien yang secara medis tidak mungkin sembuh, atau pasien yang karena sakitnya menderita sakit yang tak tertahankan. Pengorbanan diri untuk tidak menjadi beban bagi orang lain seringkali dijadikan alasan orang melakukan tindakan ini . (Sumber: id.shvoong.com)

Mungkin terlalu kompleks sepertinya hal yang dialami seseorang dan dia hanya melihat kebuntuan tak berujung, tanpa jalan keluar, sehingga dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Sedangkan dalam ajaran agama mana pun, bunuh diri/tindakan mengakhiri hidupnya sendiri tidak pernah mendapatkan persetujuan karena itu bertentangan dengan kehendakNya.

Memang, zaman sepertinya semakin sulit, permasalahan semakin luas dan sukar dipikir dengan keterbatasan akal manusia, namun, dengan berpegang pada iman, hendaknya (moga-moga) hal demikian dapat di-minimalkan, karena dengan kepercayaan bahwa Tuhan sudah mengatur segalanya, mudah-mudahan kita kembali percaya dan mendapatkan pegangan di dalam Dia untuk menapaki hari-hari yang berbatu sekali pun di depan kita.


**  Ditulis di  tengah simpati penulis terhadap korban bunuh diri yang semakin meningkat, serta rasa putus asa dalam menghadapi hidup yang juga bertambah. Jujur, hidup memang tidak mudah, namun bukan berarti tidak ada jalan keluar. Mencoba berserah kepadaNya senantiasa…

(Penulis: Fonny Jodikin, tinggal di Singapura)