You are here : Home Artikel Romo Menyapa Kiat Bekerja Bagi Tuhan

Kiat Bekerja Bagi Tuhan

Dalam bekerja bagi Tuhan, seseorang terlebih dahulu menempuh beberapa tahap. Adapun tahap-tahap itu adalah:

Tahap pertama, adalah bertumbuh
. Pohon yang sedang bertumbuh itu perlu disiram, diberi pupuk, dan dirawat supaya tidak layu. Orang yang sedang bertumbuh dalam kehidupan menggereja itu bagaikan umat yang sedang panas-panasnya aktif. Mungkin, dia belum lama dibaptis, sehingga masih perlu dituntun, disapa supaya imannya bertumbuh dengan baik. Kalau dalam bertumbuh kemudian mendapatkan kritikan, maka orang tersebut akan menciut atau merajuk karena merasa disindir.

Tahap kedua, adalah berkembang. Pohon yang sudah berkembang itu pasti mengeluarkan keindahan dan harum mewangi. Dalam tahap ini, seseorang menjadi simpatik dan orang tersebut sangat aktif dalam kegiatan menggereja. Ia rajin latihan koor untuk menyumbangkan suara emasnya. Ia ikut kegiatan kharismatik dan berani untuk memberikan kesaksian iman dan tentu ia pun ikut kegiatan-kegiatan lainnya. Tetapi perlu diingat bahwa keaktifannya mungkin ada tindakan yang terselubung, “semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang” ( Mat 23:5 ). Ia berkarya agar dilihat orang. Dan mereka bertindak  berdasarkan keinginan: supaya didengar, supaya dipuji dan dilihat orang lain. Bagi mereka pujian, pengakuan,dan penghargaan merupakan tujuan. Dan jika ternyata dalam bekerja untuk Gereja itu mendapatkan kritik dan bukan pujian, mendapat teguran dan bukan penghargaan, maka dirinya akan mundur teratur  atau bunganya layu.


Tahap ketiga, adalah berbuah. Pohon mangga yang sudah berbuah tidak akan memilih siapa yang hendak memakannya. Ia berbuah karena dirinya ingin memberi. Dalam lingkungan Gereja, orang yang bekerja bagi Gereja ini ibaratnya tidak perlu pujian, tidak perlu penghargaan, karena imannya sudah dewasa. Bahkan sengaja kalau menyumbangkan tenaga atau harta, banyak dari antara mereka tidak mau menyebutkan namanya.

Bukankan Santo Paulus pernah berkata, “kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku  tidak mempergunakan hakku pemberita Injil.” ( 1 Kor 9:8 ) Dengan amat jelas, Paulus mengajarkan kepada kita, betapa pentingnya bekerja bagi Tuhan, tanpa pamrih.   (Sumber: Majalah Utusan N0.11 Tahun ke 58, Nov 2008)