You are here : Home Artikel Romo Menyapa Oleh-Oleh Dari Dunia Misteri

Oleh-Oleh Dari Dunia Misteri


Penjelajahan dunia misteri sudah seusia sejarah umat manusia sendiri. Semuanya berawal dari hasrat manusia untuk mencari damai dan ketenangan abadi yang konon berada dalam dunia misteri atau dunia rohani. Selain itu, manusia terus ditantang oleh pelbagai gejolak, bencana dan malapetaka di dunia nyata ini, sehingga ia ingin menjauhi dan membebaskan diri dari padanya, dengn memasuki dan menjelajah dunia rohani.

Pelbagai cara dan sarana digunakan di pelbagai tempat, dan oleh pelbagai orang atu kelompok masyarakat, untuk memasuki dan menjelajahi dunia misteri tersebut. Meditasi adalah cara paling tepat dan ampuh untuk mengakses dunia rohani dan misteri. Karena itu pula, meditasi menjadi bagian dari kehidupan dan sarana keagamaan. Lewat meditasi, orang mengakses pula pelbagai realita, kebenaran, dan nilai-nilai rohani yang terkadang melampaui daya inderawi dan insani, bahkan di atas daya nalar manusia.

Patut dicatat pula bahwa ada banyak tradisi meditasi yang berkembang dalam agama atau budaya-budaya besar, seperti Hindu, Buddha, Romawi, Yunani, Islam, Kristen, dan sebagainya. Hal ini sangat dipengaruhi unsur-unsur kepercayaan, kebiasaan, dan cara-cara tradisional yang menekankan pertemuan dan persatuan pribadi secara langsung dan sadar dengan Sang Maha Tinggi, Sang Asal-Muasal, atau Tuhan Pencipta. Maka karena adanya perbedaan-perbedaan di atas, apalagi tujuan dan obyeknya berbeda, hasilnya pun agak berbeda dalam arti tertentu.

Sarana dan prasarana meditasi pun sangat ditentukan dan dipengaruhi sejarah dan budaya asal-usulnya. Banyak sekali digunakan benda-benda, ucapan-ucapan, istilah-istilah, dan sebagainya, yang sangat khas atau pun bernuansa lokal. Hal-hal seperti itu biasanya digunakan untuk visualisasi ataupun mengarahkan pikiran, tetapi dapat mengganggu konsentrasi ataupun simpati untuk bermeditasi. Pada umumnya, sarana-sarana dan prasarana-prasarana tersebut dapat diabaikan saja, asal digantikan dengan sesuatu yang lebih lazim atau akrab dengan diri kita, kendati tidak selalu mudah.

Kesulitan dan tantangan seperti di atas dapat dialami bilamana suatu sistim meditasi sangat tergantung pada tradisi dan pribadi pendiri dalam mencapai suatu hasil tertentu. Dalam sistim Reiki, misalnya, para murid sangat tergantung pada masternya, yang akan menemukan dan menyadap energi-penergi penyembuh dari alam, lalu mencurahkannya kepada murid-muridnya. Mereka terikat mengikutinya, langkah demi langkah, termasuk turut mengakomodir semua sarana, prasana, atau pun visualisasi yang dimilikinya. Tetapi sekali lagi, sarana dan prasarana tersebut sebenarnya hanya bersifat relatif dan dapat digantikan pula.

Tantangan yang lebih gawat ialah cara-cara trans, kesurupan, halusinasi, dan menjadi medium. Cara-caranya terkadang sangat provokatif dan mengerikan. Ada ritual tertentu dengan segala pernak-perniknya, disertai kegaduhan, musik dan ritme tertentu, dan kalau perlu disertai zat-zat pembawa halusinasi. Tujuannya, perjumpaan dengan iblis dan roh-roh jahat lainnya. Kelompok seperti ini masih marak di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Kontak dengan roh-roh, terutama roh-roh jahat untuk maksud santet dan perdukunan, termasuk pula jenis tersebut di atas.

Kendati ada perbedaan-perbedaan tradisi, namun ada pula kesamaan-kesamaan yang mendasar, antara lain: (1) Tujuannya pengembangan dan penyempurnaan diri. Hal itu tampak dalam etika hidup secara lahir dan batin: teladan dan bersih dari kejahatan; (2) Indera dikendalikan dan fisik diatur supaya roh bebas; (3) Pikiran fokus; (4) Pernafasan sebagai sarana utama; (5) memasuki kontemplasi; (6) pengalaman mistik bersama Tuhan atau Sang Maha Tinggi yang tak berwujud dan berpribadi.

Tidak semua orang mencapai puncak ini, karena cara, jalan, dan tujuan yang berbeda. Tujuan rohani tak sama dengan tujuan profan. Masing-masing punya agenda tersendiri, yang sering keliru bahkan jahat dan menyesatkan.

Orang juga semakin sensitif dan intuitif, dan dengan demikian mengalami kondisi paranormal, misalnya berada di beberapa tempat serentak, roh berada di luar badan, melihat sesuatu dari jarak sangat jauh, dan seterusnya. Dan lebih daripada itu, orang dapat melihat pelbagai energi dan kemampuan dalam diri sendiri, sesama, alam raya, dan roh-roh termasuk melihat manfaatnnya. Energi-energi tersebut membantu pelbagai bentuk komunikasi jarak jauh, pengalihan-pengalihan energi dekat dan jauh khususnya untuk penyembuhan-penyembuhan dan hal-hal baik lainnya. Sekali pun demikian, semua ini dapat disalahgunakan pula oleh orang orang yang jahat.

Keuntungan terbesar dialami oleh pikiran manusia. Kemampuan rohaninya semakin meningkat dan kuat. Orang dapat melakukan apa saja bagi dirinya dan sesamanya hampir tanpa batas, sebab seluruh energi otak ikut digerakkan dan difungsikan seefisiennya. Ia bisa melakukan scanning dirinya atau orang lain, dapat dihalau begitu saja tanpa susah apa pun. Dengan meditasi singkat secara pribadi maupun terpimpin secara teratur, orang akan semakin mampu melakukan semua itu dengan mudah. Pokoknya, yang kau minta, kau dapat. Tetapi harus pula ditambahkan bahwa orang sombong dan serakah dapat gagal, bahkan akan sampai kehilangan kemampuan-kemampuan luas biasanya itu, hanya karena tidak lagi fokus.

Meditasi sangat berguna bagi kehidupan manusia pada umumnya, secara fisik maupun psikis. Secara fisiologis denyut jantung dan tekanan darah menurun, mengurangi rasa cemas, nyeri, dan stress, meningkatkan kemampuan melawan penyakit, kemampuan mendengar dan berpikir, rasa sehat, segar, puas, bahagia, dan sebagainya. Secara psikologis meningkatkan daya konsentrasi dan perhatian, memperbaiki fungsi daya nalar; meningkatkan kejernihan berpikir dan kecerdasan, ingatan dan kreatifitas, percaya diri dan disiplin, dan sebagainya. Akhirnya, meditasi itu adalah seni belajar dan memberi perhatian pada sesuatu, dengan mengendalikan pikiran. Justru inilah yang diabaikan orang, sehingga otak tidak bekerja efektif dan efisien. Itu sebabnya dalam pendidikan modern, meditasi untuk anak sangat dianjurkan.

Bila jiwa, raga, dan pikiran bekerja sama dan berkoordinasi untuk menciptakan suasana cinta, pastilah hal-hal luar biasa akan terjadi dalam kehidupan pribadi dan sesama. Perasaan cinta merupakan akumulasi dan arus energi yang paling tinggi dalam kehidupan manusia. Dasarnya ialah iman. Bahwa manusia lahir/dicipta karena cinta, dalam cinta dan untuk cinta. Itulah energi awal dan sentral dalam setiap insan. Karena itu, hidup manusia selalu akan mengejawantahkan atau mengekspresikan cintanya, baik dalam bentuk positif maupun negatif. Emosinya menjadi cermin adanya aliran energi cinta dan kehidupan diri seseorang. Tubuhnya akan menjadi cermin dari semuanya itu. Yang baik dibina dan ditingkatkan, sedang yang buruk dihalau pergi. Keputusannya ada di tangan sendiri. Berpikir, identifikasi, dan bertindaklah. Tetapi kita perlu waspada atas ekses-ekses yang terjadi oleh keserakahan manusia.

Bukan saja makhluk hidup yang memiliki energi, tetapi seluruh alam ciptaan juga memiliki energi. Getaran-getarannya menimbulkan aura atu pelangi cahaya. Ada yang kuat, ada pula yang lemah. Kegunaannya amat besar. Ada orang, paling sedikit perilaku paranormal yang tahu kegunaannya masing-masing. Ada kalanya dimistifikasi atau disalahgunakan dalam bentuk jimat, guna-guna, barang sakral, dan sebagainya. Sebenarnya pada dasarnya semua itu biasa-biasa saja. Kita pantas waspada.

Akhirnya, pantas kita ingat bahwa peranan penting pernafasan: menghirup dan melepas nafas. Tarik (nafas) yang baik, hembuskan yang buruk, sambil membayangkan dan fokus pada obyek yang dimaksud, dan mohonkan berkat-berkat dari Tuhan. Saat ini, kelompok-kelompok meditasi menjamur di mana-mana di seluruh dunia, termasuk di sekitar kita, baik untuk tujuan-tujuan religius, maupun tujuan-tujuan profan lainnya seperti kebugaran, kesehatan, dan gaya hidup. (Romo Lambertus Somar, MSC)

Sumber: Majalah Hati Baru, No. 3/Tahun XII, Maret 2009