You are here : Home Artikel

Ketika Harus Mengakhiri.....

Roh Moo-Hyun (mantan Presiden Korea Selatan):
I can't imagine the countless agonies down the road. The rest of my life would only be a burden for others. I can't do anything because I'm not healthy. I can't read books, nor can I write.  Don't be too sad. Isn't life and death all part of nature? Don't be sorry. Don't blame anybody. It's fate. Please cremate me. And please leave a small tombstone near home. I've long thought about that. (catatan bunuh diri yang ditemukan di computer mantan Presiden Korea Selatan Roh Moo-Hyun – sumber:  BBC News).

Akhir-akhir ini, berita meninggalnya beberapa orang ternama dengan jalan bunuh diri, membuat penulis prihatin. Di Korea, bahkan mantan presidennya, Roh Moo-Hyun, memilih jalan ini, karena pada awalnya Roh adalah Presiden yang terkenal bersih, bahkan berjanji untuk memberantas korupsi, malah ketahuan istrinya dan keluarganya menerima suap sebesar $ 6 Mn (6 juta). Dengan perasaan malu dan bersalah yang mendominasi, Roh akhirnya memilih bunuh diri dengan cara menjatuhkan dirinya ketika mendaki gunung di belakang rumahnya. Tragis dan ‘shocking’.

Add a comment
Readmore

Membongkar Misteri Kebangkitan

Berbicara tentang kebangkitan menyisakan sebuah pertanyaan apakah rahasia kebangkita bisa terkuak padahla kita belum emngalami kematian. Masuk dalam dunia kebangkita tidak harus mengalami kematian fisik. Bangkit mempunyai arti: perubahan dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Kurang bersemangat menjadi bersemangat. Kurang peduli menjadi lebih peduli. Mengapa Tuhan mengijinkan manusia berada dalam keadaan yang kurang baik? Mari kita simak injil Yohanes.

Yohanes bab 11:14 Karena itu Yesus berkata dengan terus terang : "Lazarus sudah mati; tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu supaya kamu dapat belajar percaya." 39 Kata Yesus, "Angkat batu itu!" Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepadaNya : "Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati." 40 Jawab Yesus, "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu : Jikalau engkau percaya, engkau akan melihat kemuliaan Allah?" 43 Dan sesudah berkata demikian berserulah Ia dengan suara keras, "Lazarus, marilah keluar!" 44 Orang yang telah mati itu datang keluar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kafan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka, "Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi."

Add a comment
Readmore

Untuk Kita Renungkan

Banyak dari kita yang pasti mengenal penyanyi kondang Nusantara, Ebiet G. Ade.  Di era 1980-an, Ebiet begitu dikenal luas dengan lagu-lagu buah penanya sendiri.  Penampilannya yang sederhana dan selalu ditemani gitar, serta lirik-lirik lagunya yang tidak biasa semakin membuat Ebiet menjadi seorang penyanyi yang ‘lain daripada yang ada’ pada masanya.


Apa hubungannya dengan tulisan ini?

“Untuk Kita Renungkan” adalah salah satu lagu hasil tulisan Ebiet G. Ade.  Lagu ini begitu berkesan buat penulis.  Dari sejak penulis kenal lagu ini hingga sekarang, seringkali kata-kata dalam lagu ini bergema dan bergema lagi, seiring dengan kejadian-kejadian yang penulis alami sendiri atau yang terjadi di sekitar penulis.  Untuk itu, penulis ingin sekali berbagi cerita dengan para Pembaca semua. Add a comment
Readmore

Karya Terbesar

Ku lihat pemandangan alam…
Sungguh terasa indah…
Nyaman, ku berada di dalamnya…
Terlihat berbagai tanaman indah…

Ku ingin seperti Dia…
Yang bisa membuat segalanya…
Namun ku tak pantas…
Karena aku sering merusaknya…

Aku hidup di bumi…
Bukan untuk merusak…
Melainkan untuk memelihara…
Karya terbesar, ciptaan-Nya…

(Carla Cornelia Alfons, siswi SMPK Seraphine Bakti Utama, kelas VII) Add a comment

Berpikir Positif? Kenapa Tidak?!?

Nama saya Robert Wowor.  Orang Indonesia mengenal saya sebagai Robby Wowor.  Pada tanggal 19 Februari 1959, saya memulai perjalanan kehidupan saya di sebuah negara yang kini dikenal sebagai Singapura.  Saat ini, saya terbilang ke dalam barisan Imam-Imam Ordo Fratum Minorum atau OFM.

Tidak mudah bagi saya untuk memulai perjalanan hidup panggilan saya.  Keinginan saya untuk menjadi seorang biarawan, awalnya mendapat pertentangan dari keluarga saya.  Bahkan, saat menjelang kaul kekal pun, keluarga saya tetap menentang keputusan saya untuk tetap bertahan hidup sebagai seorang Imam.  Tidak ringan rasanya manakala saya berhadapan dengan pertentangan-pertentangan dari keluarga.  Namun, saya bersyukur karena keluarga besar Ordo Fransiskan yang merupakan keluarga baru saya memberikan dukungan yang begitu menguatkan saya.

Kalau boleh menarik mundur ke belakang sejenak, saya merasa tertarik untuk menjadi seorang imam karena saya ingin melayani orang-orang sederhana.  Kala itu, saya ingin sekali menjadi seorang misionaris yang melayani umat di Papua.  Mengapa Papua?  Ya.  Bagi saya, Papua adalah daerah yang dapat membuat saya dapat mewujudkan motivasi imamat saya, yaitu hidup bersama dengan orang-orang sederhana.  lagipula, Papua juga merupakan daerah di ujung Indonesia yang memiliki pesona alam dan budaya yang begitu memikat hati saya.

Add a comment
Readmore
Page 70 of 79