You are here : Home Artikel

Membongkar Misteri Kebangkitan

Berbicara tentang kebangkitan menyisakan sebuah pertanyaan apakah rahasia kebangkita bisa terkuak padahla kita belum emngalami kematian. Masuk dalam dunia kebangkita tidak harus mengalami kematian fisik. Bangkit mempunyai arti: perubahan dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Kurang bersemangat menjadi bersemangat. Kurang peduli menjadi lebih peduli. Mengapa Tuhan mengijinkan manusia berada dalam keadaan yang kurang baik? Mari kita simak injil Yohanes.

Yohanes bab 11:14 Karena itu Yesus berkata dengan terus terang : "Lazarus sudah mati; tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu supaya kamu dapat belajar percaya." 39 Kata Yesus, "Angkat batu itu!" Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepadaNya : "Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati." 40 Jawab Yesus, "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu : Jikalau engkau percaya, engkau akan melihat kemuliaan Allah?" 43 Dan sesudah berkata demikian berserulah Ia dengan suara keras, "Lazarus, marilah keluar!" 44 Orang yang telah mati itu datang keluar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kafan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka, "Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi."

Add a comment
Readmore

Untuk Kita Renungkan

Banyak dari kita yang pasti mengenal penyanyi kondang Nusantara, Ebiet G. Ade.  Di era 1980-an, Ebiet begitu dikenal luas dengan lagu-lagu buah penanya sendiri.  Penampilannya yang sederhana dan selalu ditemani gitar, serta lirik-lirik lagunya yang tidak biasa semakin membuat Ebiet menjadi seorang penyanyi yang ‘lain daripada yang ada’ pada masanya.


Apa hubungannya dengan tulisan ini?

“Untuk Kita Renungkan” adalah salah satu lagu hasil tulisan Ebiet G. Ade.  Lagu ini begitu berkesan buat penulis.  Dari sejak penulis kenal lagu ini hingga sekarang, seringkali kata-kata dalam lagu ini bergema dan bergema lagi, seiring dengan kejadian-kejadian yang penulis alami sendiri atau yang terjadi di sekitar penulis.  Untuk itu, penulis ingin sekali berbagi cerita dengan para Pembaca semua. Add a comment
Readmore

Karya Terbesar

Ku lihat pemandangan alam…
Sungguh terasa indah…
Nyaman, ku berada di dalamnya…
Terlihat berbagai tanaman indah…

Ku ingin seperti Dia…
Yang bisa membuat segalanya…
Namun ku tak pantas…
Karena aku sering merusaknya…

Aku hidup di bumi…
Bukan untuk merusak…
Melainkan untuk memelihara…
Karya terbesar, ciptaan-Nya…

(Carla Cornelia Alfons, siswi SMPK Seraphine Bakti Utama, kelas VII) Add a comment

Berpikir Positif? Kenapa Tidak?!?

Nama saya Robert Wowor.  Orang Indonesia mengenal saya sebagai Robby Wowor.  Pada tanggal 19 Februari 1959, saya memulai perjalanan kehidupan saya di sebuah negara yang kini dikenal sebagai Singapura.  Saat ini, saya terbilang ke dalam barisan Imam-Imam Ordo Fratum Minorum atau OFM.

Tidak mudah bagi saya untuk memulai perjalanan hidup panggilan saya.  Keinginan saya untuk menjadi seorang biarawan, awalnya mendapat pertentangan dari keluarga saya.  Bahkan, saat menjelang kaul kekal pun, keluarga saya tetap menentang keputusan saya untuk tetap bertahan hidup sebagai seorang Imam.  Tidak ringan rasanya manakala saya berhadapan dengan pertentangan-pertentangan dari keluarga.  Namun, saya bersyukur karena keluarga besar Ordo Fransiskan yang merupakan keluarga baru saya memberikan dukungan yang begitu menguatkan saya.

Kalau boleh menarik mundur ke belakang sejenak, saya merasa tertarik untuk menjadi seorang imam karena saya ingin melayani orang-orang sederhana.  Kala itu, saya ingin sekali menjadi seorang misionaris yang melayani umat di Papua.  Mengapa Papua?  Ya.  Bagi saya, Papua adalah daerah yang dapat membuat saya dapat mewujudkan motivasi imamat saya, yaitu hidup bersama dengan orang-orang sederhana.  lagipula, Papua juga merupakan daerah di ujung Indonesia yang memiliki pesona alam dan budaya yang begitu memikat hati saya.

Add a comment
Readmore

Bagi Pengalaman Minggu Panggilan, 03 Mei 2009

Mengisi Minggu Panggilan tahun ini, Seksi Panggilan Paroki Trinitas, Cengkareng, mengundang sejumlah Romo, Suster, Bruder, dan Frater untuk membagikan pengalaman mereka sebagai 'yang terpanggil' atau 'yang mendapat panggilan khusus' kepada seluruh umat.  Berikut adalah bagi pengalaman dari Sr. Theresia Ika Damayanti, DD dari Tarekat Donum Dei, Perancis beserta orangtua Beliau, Bapak Markus Husein dan Ibu T.A. Murbawati:

"Nilai yang paling penting dan berharga yang saya rasakan dalam menjalani panggilan ini adalah nilai cinta kasih.  Memang ada pergulatan batin setiap hari, karena komunitas kami adalah komunitas internasional.  Anggotanya berasal dari mancanegara seperti dari Indonesia, Singapura, Filipina, hingga Burkina Faso di Afrika.  Inilah tantangan yang kami hadapi, yaitu bagaimana kami harus dapat hidup bersatu dan berdampingan dengan orang-orang yang berbeda bangsa, kebudayaan, dan bahasa.  Sehari penuh kami dipersatukan untuk berdoa bersama, bekerja bersama.  Tidak mudah untuk dapat menyesuaikan diri setiap waktu, tetapi kunci untuk mengatasi hal ini adalah dengan selalu berpikir bahwa saya berada dalam komunitas ini bukan karena kehendak saya sendiri, melainkan karena kehendak Tuhan.  Dia yang memanggil saya dan tujuan saya adalah melayani Yesus Kristus.  Dengan demikian, saya dapat semakin merasa bisa melihat dengan jelas semua karya Tuhan dalam hidup saya.  Saya pun diberi rahmat olehNya untuk dapat mengerti bahwa kita semua selalu dicintai oleh Tuhan, dan kita harus membalasnya dengan mencintai sesama kita.  Harapan saya bagi Paroki ini: Setiap anggota keluarga perlu selalu merasa penting akan keberadaan keluarganya.  Tidak ada keluarga yang sempurna, ada masa sedih, senang, susah, dan lainnya.  Tetapi keluarga perlu selalu dipersatukan dengan cinta kasih.  Inilah yang akan terus dikenang dan akan memunculkan bibit-bibit panggilan baru. Perlu sejak dini - sejak kecil - ditanamkan betapa pentingnya saling mengasihi itu. Satu hal yang saya ingin tidak terjadi di Paroki ini adalah rasa individualistis umat.  Saat saya baru tiba di Perancis, hal ini sungguh sangat saya rasakan dan membuat saya kaget.  Sedangkan yang paling saya rasakan saat saya berada di Indonesia adalah rasa kebersamaan, ikatan yang kuat dalam keluarga," demikian Sr. Ika berbagi pengalaman.

Add a comment
Readmore
Page 67 of 76