You are here : Home Artikel

Pelayanan Perdamaian

Apa tugas perutusan kita sebagai anak-anak Allah dan sahabat-sahabat Yesus di dunia ini? Tugas kita ialah memberikan pelayanan pendamaian. Kemana pun kita pergi, kita melihat perpecahan seperti di dalam keluarga, dalam komunitas, dalam kota, dalam negara dan antar negara. Perpecahan ini adalah tanda yang amat menyedihkan dari keadaan umat manusia yang jauh dari Allah. Kebenaran bahwa semua orang adalah warga satu keluarga Allah, amat jarang dapat dilihat dan dirasakan. Tugas perutusan kita yang suci ialah menyatakan kebenaran itu dalam kehidupan kita sehari-hari.

Mengapa itu menjadi tugas perutusan kita? Karena Allah mengutus Yesus untuk mendamaikan kita dengan Allah dan mengutus kita untuk menjadi pelayan pendamaian. Sebagai umat yang sudah didamaikan dengan Allah oleh Yesus, kepada kita dipercayakan pelayanan pendamaian. Oleh karena itu, apapun yang kita kerjakan, pertanyaan dasar ialah, “Apakah itu semua mendatangkan pendamaian?”

Add a comment
Readmore

Kiat Bekerja Bagi Tuhan

Dalam bekerja bagi Tuhan, seseorang terlebih dahulu menempuh beberapa tahap. Adapun tahap-tahap itu adalah:

Tahap pertama, adalah bertumbuh
. Pohon yang sedang bertumbuh itu perlu disiram, diberi pupuk, dan dirawat supaya tidak layu. Orang yang sedang bertumbuh dalam kehidupan menggereja itu bagaikan umat yang sedang panas-panasnya aktif. Mungkin, dia belum lama dibaptis, sehingga masih perlu dituntun, disapa supaya imannya bertumbuh dengan baik. Kalau dalam bertumbuh kemudian mendapatkan kritikan, maka orang tersebut akan menciut atau merajuk karena merasa disindir.

Tahap kedua, adalah berkembang. Pohon yang sudah berkembang itu pasti mengeluarkan keindahan dan harum mewangi. Dalam tahap ini, seseorang menjadi simpatik dan orang tersebut sangat aktif dalam kegiatan menggereja. Ia rajin latihan koor untuk menyumbangkan suara emasnya. Ia ikut kegiatan kharismatik dan berani untuk memberikan kesaksian iman dan tentu ia pun ikut kegiatan-kegiatan lainnya. Tetapi perlu diingat bahwa keaktifannya mungkin ada tindakan yang terselubung, “semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang” ( Mat 23:5 ). Ia berkarya agar dilihat orang. Dan mereka bertindak  berdasarkan keinginan: supaya didengar, supaya dipuji dan dilihat orang lain. Bagi mereka pujian, pengakuan,dan penghargaan merupakan tujuan. Dan jika ternyata dalam bekerja untuk Gereja itu mendapatkan kritik dan bukan pujian, mendapat teguran dan bukan penghargaan, maka dirinya akan mundur teratur  atau bunganya layu.

Add a comment
Readmore

Leave Nothing Undared

Menyambut Pesta Pelindung Utama Tarekat Oblat Maria Imakulata (OMI)

Kata-kata ini mungkin masih terasa asing di telinga kita. Leave nothing undared - Apakah itu? Semboyan ini digemakan ke dalam diri orang muda yang hadir pada International Oblate Youth Encounter/IOYE, sebuah pertemuan orang muda yang hadir pada International Oblate Youth Encounter/IOYE, sebuah pertemuan orang muda dari paroki-paroki yang digembalakan oleh OMI di seluruh dunia, yang berlangsung di Melbourne, Australia, di bulan Juli 2008 yang lalu. Kata-kata ini sebenarnya adalah semboyan para Misionaris OMI yang ingin diwariskan secara khusus kepada kaum muda, dan kita semua pada umumnya, untuk menjadi sebuah kekayaan batin. "Tak akan pernah ciut nyali pada apapun juga" - mungkin itulah terjemahan bebas yang mudah kita pahami bersama untuk "Leave Nothing Undared." Kita semua perlu selalu mengingat, betapa berkat Sakramen Babtis yang kita terima, kita semua dijadikan Misionaris, yang berarti "orang yang diutus oleh Allah." Diutus untuk apa? Untuk menjadi saksi cinta kasih Allah kepada dunia! Tentu saja, untuk bisa bersaksi dengan baik kita memerlukan totalitas dan kebesaran jiwa. Tidak mungkin kita bersaksi dengan setengah hati, karena itu hanya akan membuat diri kita mandul.

Add a comment
Readmore

Jangan Meragukan Kekuatan Doa

 

Sulung dari 4 bersaudara yang lahir di Muntilan, 08 Februari 1975 ini menerima tahbisan imamatnya di Gereja Dahor, Balikpapan pada 07 Desember 2003.  Adalah keinginan dan harapan  Romo Widi – begitu sapaan biasanya -  untuk dapat melayani umat Katolik di pedalaman Kalimantan yang cukup sulit dijangkau dan yang hanya merayakan Ekaristi 3 bulan sekali.  Maka dengan gembira Romo Widi menerima tugas pertamanya sebagai imam di Paroki St. Fidelis, Sejiram, Kalimantan Barat.  Di bulan Juli 2005, Romo Widi berkarya di Paroki St. Petrus & Andreas, Sepauk, Kalimantan Barat hingga turunnya surat penugasannya ke Paroki Cengkareng pada 15 September 2008. Bagaimana Romo Widi menanggapi medan tugasnya yang baru ini?

Add a comment
Readmore

Marah Sepanjang Hari

Bangun tidur marah, karena air panasnya belum dimasak
Mau pakai baju marah, karena pembantu tidak gosok dengan rapih
Mau sarapan marah, karena rotinya belum dibeli
Mau pergi kerja marah, karena mobilnya belum dicuci sopir
Di dalam perjalanan marah, karena mobil diserempet gerobak
Sampai di kantor marah, karena kerjaan menumpuk dari boss
Makan siang marah, karena pelayanannya lama
Balik kantor marah, karena janji ketemu klien besar batal
Mau pulang marah, karena disuruh lembur sama boss
Di dalam perjalanan pulang marah, karena macetnya luar biasa
Sampai di rumah marah, karena anak mengajak jalan-jalan
Mau makan malam marah, karena sayurnya tidak enak
Mau tidur marah, karena tetangga sebelah berisik
Di dalam tidur, lagi mimpi marah-marah
Add a comment
Readmore
Page 65 of 66