You are here : Home Artikel

Apakah Yesus Lahir dalam Keluarga Kita?

Kiranya saat ini adalah waktu yang sangat tepat untuk merefleksikan secara lebih serius bagaimana Yusuf dan Maria sebagai keluarga yang dipilih Allah menjadi tempat lahirnya Yesus. Disini Allah menunjukkan bahwa keluarga diberi peran yang amat penting bagi terselenggaranya rencana Allah. Refleksi ini menjadi semakin penting mengingat keluarga zaman sekarang cenderung direduksi menjadi sebuah lembaga sosial yang kehilangan makna Ilahi. Keluarga seolah tidak lebih dari sekedar wadah untuk memfasilitasi manusia memuaskan nafsu, tempat tindak kekerasan fisik, psikologis dan emosi. Keterasingan dan kerapuhan masyarakat bersumber dari dalam keluarga.  Natal adalah momen yang paling tepat untuk mengembalikan keluarga kita kepada makna terdalam maksud Allah dengan keberadaan setiap keluarga, yaitu keluarga yang mau, dan mampu melahirkan Yesus seperti keluarga Yusuf–Maria.
 
Keluarga yang memungkinkan Yesus lahir, tumbuh besar dan menjadi bagian dari terlaksananya Karya Keselamatan Allah. Tulisan ini merefleksikan kondisi yang menjadi syarat lahirnya Yesus dalam sebuah keluarga kendati tidak mungkin memberi gambaran lengkap. Paling tidak beberapa pointer berikut layak untuk kita hidupi, dan perjuangkan demi proses mejadi keluarga kristiani.
 

Tim Karya Sejahtera

Dalam  menanggapi  himbauan Bapa Uskup  Agung  Jakarta, Julius Kardinal  Darmaatmadja, SJ agar  Gereja  turut serta  dalam mambantu umat  yang mengalami  pemutusan  hubungan kerja (PHK) dan  agar  jangan  sampai  ada  umat  yang  tidak makan, maka dibentuklah suatu wadah yang dinamai “Tim Karya  Sejahtera”.  Kepengurusan  Tim  Karya  Sejahtera  terdiri  dari   para Pengurus Seksi dan Kelompok Kategorial yang  ada di Paroki  Trinitas - Cengkareng,  yaitu antara lain Seksi PSE – Seksi Kerasulan Awam – WKRI – Koperasi Kredit Usaha Sejahtera, dll.

Add a comment
Readmore

Yesus Andalanku

Dua hari sebelum pindah dari Singapura ke Saigon…Seorang teman baik, memberikan saya salib. Bentuknya kecil, cukup mungil sehingga memudahkan saya untuk membawanya. Dia bilang, maksudnya untuk tetap mengingatkan saya agar tetap berdoa. Namun, saya memandangnya sebagai hal yang lain. Saya merasa diingatkan agar selalu setia pada salib yang saya pikul. Kesetiaan yang setidaknya mengacu kepada kesetiaan Yesus yang tetap setia sampai mati di kayu salib.

Add a comment
Readmore

Kasih Allah Yang Tanpa Syarat Telah Membebaskan Saya

Saya, Romo Ignatius Yulianto, OMI, putra Indonesia angkatan ke-5 yang ditahbiskan sebagai Imam Oblat Maria Immaculata (OMI) pada 24 Juli 1991.   Saya pernah berkarya di Paroki Banyumas, Cilacap, dan Kaliori.  Saat ini saya bertugas sebagai Tim Formator di Novisiat OMI Beato Joseph Gerard, Ngemplak-Sleman, Yogyakarta.  Pengalaman iman yang akan saya bagikan ini semoga dapat menjadi sumber kekuatan dan inspirasi bagi  kita bersama.

Aksi Peduli Sesama Menyambut Idul Fitri

 
Setiap tahunnya, dalam rangka Hari Pangan Sedunia (HPS) yang berdekatan waktunya dengan Hari Raya Idul Fitri, Seksi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) selalu membentuk Panitia Aksi Peduli Sesama (APS) yang dikenal dengan nama Panitia HPS/APS.  Dalam kepanitiaan ini, PSE bekerjasama dengan Ibu-Ibu WKRI Cabang Trinitas.

Kegiatan HPS/APS di Paroki Trinitas – Cengkareng telah mulai diadakan sejak tahun 2004 sesuai dengan arahan dari Komisi PSE Keuskupan Agung Jakarta.  Tujuannya adalah untuk meringankan beban saudara-saudara kita yang pra-sejahtera dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, khususnya menjelang Hari Raya Lebaran.
Page 61 of 79