You are here : Home Tahun Imam/Seputar Panggilan Dikobarkan dan Dimantapkan oleh KasihNya

Dikobarkan dan Dimantapkan oleh KasihNya

Mau jadi imam/biarawan/biarawati tapi merasa umur sudah melampaui usia para Seminaris?  Jangan takut dan serta-merta mengubur dalam-dalam keinginan hati yang timbul.  Apalagi jika keinginan ini telah pula dimantapkan dengan serangkaian bisikan panggilan dari Tuhan.
 
Mau contoh? 
Silahkan baca perjalanan Imamat Romo Hadrian Handy Lenggawa, SJ, yang ditahbiskan pada 29 Juli 2009, di Kotabaru, Yogyakarta.  Saat menerima Tahbisan Imamatnya, Romo Hadrian berusia 51 tahun.  Proficiat kepada Romo Hadrian yang berani menjawab panggilanNya tanpa ragu!  Selamat berkarya demi kemuliaan nama Tuhan!
 
 
*****

Saya, Hadrian Handy Lenggawa, lahir tanggal 12 Oktober 1958 di kota kecamatan Tanjung, kabupaten Brebes – Jawa Tengah. Saya dibesarkan dalam lingkungan yang cukup kuat dengan tradisi Cina - Jawanya. Di kota itu saya menjalani pendidikan awal di SDN III, yang bisa saya selesaikan di Desember 1970. Lalu, saya melanjutkan ke SMPN di kota itu juga dan lulus pada tahun 1973. Karena di kota saya waktu itu belum ada SMA, maka saya hijrah ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan saya di SMA St. Aloysius dari tahun 1974 sampai dengan 1976.
 
Di SMA inilah, melalui pelajaran agama dan seorang teman yang rajin mengajak saya ke Gereja, saya mulai mengenal agama Katolik, tetapi saya belum berani masuk lebih jauh. Saya baru bisa mengagumi biarawan dari Asisi, yang rela meninggalkan segalanya, hanya untuk mengabdi pada Sang tokoh dari Nazaret, yang memang luar biasa menurut saya.
 
Di tahun 1977, setelah lulus SMA, saya kuliah Teknik Sipil di Universitas Parahyangan. Namun, keinginan yang begitu kuat untuk mempelajari ilmu elektro-telekomunikasi mendorong saya meninggalkan kota Bandung. Akhirnya di tahun 1978, saya pun mendarat di Negara Jerman dan tinggal di kota Aachen selama 10 tahun. Di kota ini lah, pada bulan November 1981, saya memberanikan diri untuk menjadi orang Katolik, setelah 3 tahun terlibat aktif dalam sebuah organisasi mahasiswa Katolik, yang bernama Keluarga Mahasiswa Katolik Indonesia. Lulus dari FH – Aachen di bulan Maret 1988, saya mengungsi ke kota Amberg – Jerman untuk bekerja selama 1 tahun di Siemens AG. Setelah itu, di bulan April 1989, karena perjanjian saya dengan CDG (Carl Duisberg Stiftung) – yayasan yang memberi saya beasiswa selama 3 tahun pada masa akhir studi saya – saya pun kembali ke Indonesia.
 
Di Tanah Air tercinta ini, saya kemudian merintis karir kerja, yang saya awali dengan menjadi programmer di perusahaan Software House bernama PT. Sigma Cipta Caraka. Sekitar 2 tahun bekerja di situ, saya terjangkit penyakit kutu loncat. Lalu, saya pun hinggap di PT. Lakop Raya – Holding Company dari Bank Mashill. Di situ, saya hanya bertahan 2 ½ tahun sebagai wakil kepala EDP – Electronic Data Processing. Kemudian saya melompat lagi ke Bank Tiara Asia dan bertengger di situ selama 5 tahun sebagai kepala IT – Information Technology.
 
Saya jatuh cinta pada perusahaan ini. Saya merasakan bahwa di situ hidup saya menjadi seimbang. Saya memang masih meluangkan banyak waktu bagi perusahaan, namun saya masih bisa mempunyai waktu bagi diri saya sendiri. Saya punya waktu untuk berdialog dengan Tuhan terutama tentang arah dan makna hidup saya. Saya juga pernah berencana menikahi seorang putri yang telah menjadi pacar saya selama 2 tahun. Namun, beberapa hari sebelum orang tua saya melamarnya, saya membatalkan rencana itu, karena berkat doa novena saya menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak saya temukan di dalam diri mantan pacar saya.
 
Entah kata-kata mana yang boleh saya gunakan, ”Sayang sekali” atau ”Penyelengaraan Ilahi” bahwa peristiwa itu boleh terjadi dan bahwa 2 tahun kemudian Bank Tiara terkena imbas dari krisis ekonomi yang terjadi di tahun 1997. Sebab, kedua peristiwa itu, ditambah dengan derita para korban kerusuhan Mei 1998, menyalakan api dalam diri saya. Api yang memberanikan saya untuk memilih panggilan hidup sebagai seorang Jesuit.
 
Akhirnya di bulan Mei 1999, setelah hampir 1 tahun bersama beberapa teman dan pemilik PT. Sigma Cipta Caraka membangun perusahaan, yang dinamai Data Center, mendaratlah saya di sebuah perusahaan milik Tuhan, yang bernama SERIKAT YESUS. Selama menjalani masa pendidikan sebagai frater Jesuit, terlebih di masa pelatihan pelayanan di beberapa tempat, saya merasakan kasih dan karya Allah, yang Ia berikan begitu luar biasa pada saya. Ini mengobarkan nyala api dalam diri saya. Langkah kaki saya pun semakin mantap mengikuti panggilan-Nya.
 
Jakarta, 5 Juli 2009
Hadrian Handy Lenggawa, SJ
 
Sumber: Situs Serikat Yesus Provinsi Indonesia

blog comments powered by Disqus