You are here : Home Tahun Imam/Seputar Panggilan Para Imam Perlu Belajar Terus-Menerus

Para Imam Perlu Belajar Terus-Menerus


(Jakarta 25/6/09) 
Para imam di Indonesia mengatakan bahwa Tahun Imam yang diluncurkan baru-baru ini merupakan sebuah kesempatan bagi mereka untuk memperoleh pengetahuan yang lebih luas guna membantu mereka dalam pelayanan pastoral.  Tugas imam tidak hanya berhenti pada ritual-ritual tapi harus meng-umat, menjawab kebutuhan umat, dan update teologi dan ilmu lain yang berhubungan dengan pelayanan seorang imam," kata Pastor Yohanes Nikolaus Haryanto SJ, Sekretaris jJnderal Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP).

Pastor Haryanto, yang juga mengetuai pelayanan pastoral mahasiswa di Keuskupan Agung Jakarta, mengatakan: "Jangan merasa bahwa saya sudah menyelesaikan filsafat dan teologi maka saya tidak perlu membaca atau berefleksi lagi. Kita harus ingat bahwa banyak orang awam juga sudah mulai belajar teologi."
Seraya menyebut bahwa umat paroki sering memberi hadiah kepada para imam di hari ulang tahun mereka, ia menyarankan: "Umat jangan menghadiahkan baju, tapi buku bacaan apa saja karena zaman sekarang menuntut seorang pastor untuk banyak membaca supaya ada variasi dan inovasi di setiap pelayanan kepada umat."
 
Pastor Bonifasius Rampung, Rektor Seminari Menengah Pius XII di Kisol, Flores bagian barat, sependapat. "Kebiasaan membaca menjadi hal yang utama. Apalagi sekarang perkembangan sarana komunikasi sangat maju. Kita harus memanfaatkannya," katanya.
 
Pastor Heribertus Samuel, OFMCap dari Paroki St. Fransiskus Asisi di Tebet, Jakarta Selatan, mengatakan bahwa Tahun Imam adalah "sebuah kesempatan istimewa bagi kami untuk mereflesikan pelayanan kami."  Ia menceritakan bahwa sebagai seorang imam yang berkarya di Kota Jakarta, ia kadang-kadang mengalami kesalahpahaman. "Ketika saya melayani terlalu dekat dengan kelompok atau orang tertentu, (saya) dinilai pilih kasih, diskriminasi, atau affair dengan orang tertentu. Padahal ini tugas saya sebagai pastor harus melayani umat," katanya.  Namun, ia mengatakan bahwa ia terinspirasi oleh teladan St. Yohanes Maria Vianney, Santo Pelindung Para Pastor Paroki, yang melayani umat awam secara sederhana dan setia. Paus Benediktus XVI, saat mengumumkan secara resmi Tahun Imam, menulis surat khusus kepada semua imam, seraya mengutip panjang lebar kehidupan Santo asal Prancis itu.
 
Sementara itu, Keuskupan Agung Jakarta membuka Tahun Imam dengan sebuah Misa pada 22 Juni di Katedral St. Perawan Maria Diangkat ke Surga di Jakarta. Sekitar 200 imam dan lebih dari 500 umat awam menghadiri Misa yang dipersembahkan secara konselebrasi oleh Julius Kardinal Darmaatmadja SJ dan pensiunan Uskup Fransiskus Xaverius Hadisumarta, O.Carm.
 
Dalam surat gembala tertanggal 12 Juni untuk para imam di Jakarta, Kardinal mengatakan bahwa keuskupan agung telah menetapkan tema-tema khusus untuk berbagai Misa dan doa-doa khusus untuk para imam yang akan dipersembahkan selama tahun khusus tersebut.  Paus meluncurkan Tahun Imam pada 19 Juni, pesta Hati Yesus Maha Kudus.(ucanews)
 
Sumber:  Situs Mirifica, Komisi Komsos, KWI

blog comments powered by Disqus