You are here : Home Tahun Imam/Seputar Panggilan Surat Cinta Untuk Anakku

Surat Cinta Untuk Anakku

Romoku Terkasih – Anakku,

Hari ini dengan segala sukacitaku sebagai ibumu, aku menghantarmu menuju Altar Tuhan untuk menerima tahbisanmu menjadi Imam Kristus. Rasa haru dan bangga sekaligus takut terus bermain silih berganti dalam hatiku. Haru, karena engkau dengan segala tekadmu dapat mewujudkan impianmu untuk menjadi seorang Pastor.  Bangga, karena engkau berani mengambil keputusan penting yang tidak main-main yang akan engkau jalani sampai akhir hidupmu mulai dari sekarang.  Takut, karena aku sangat amat tahu bahwa engkau akan masuk ke dalam dunia serba modern yang penuh dengan godaan dan tantangan berimamat.

Anakku, aku mengenalmu sejak engkau masih kukandung. Aku masih ingat gerakan-gerakan nakalmu di dalam rahimku.  Aku masih ingat segala pola tingkahmu yang lucu saat engkau merangkak, mulai berjalan, dan akhirnya pandai berlari. Aku masih ingat tawa ceriamu saat engkau mulai masuk sekolah.  Aku masih ingat juga saat engkau malam-malam meminta Ayahmu dan aku supaya duduk tenang guna mendengarkan suaramu memohon izin dari kami – orangtuamu- untuk masuk ke Seminari.

Sepuluh tahun kau gunakan untuk mengasah dan membentuk diri, mempertajam dan meyakinkan diri akan panggilan kudusmu. Begitu banyak persiapan yang engkau jalani supaya layak menjadi sepekerja dengan Yesus Kristus, untuk mampu memaklumkan Dia yang tersalib kepada lebih banyak lagi umat manusia, untuk dapat membawa penderitaan-penderitaan Kristus dalam tubuhmu sendiri.

Anakku, sebagai seorang Oblat, engkau dituntut secara radikal untuk selalu mengikuti teladan Kristus yang telah hidup murni dan miskin, yang telah menebus dunia dengan ketaatanNya.  Engkau dituntut untuk selalu hidup dengan cara hidup menurut nasihat-nasihat Injil.  Engkau harus mampu hidup dalam Komunitas Oblat - bersama orang-orang lain yang kini kau sebut “saudara-saudara sekomunitas” - yang memiliki cara pandang dan pilihan hidup yang sama seperti dirimu.  Engkau mengikat dirimu dalam kaul-kaul yang menawan: Kemurnian, Kemiskinan, Ketaatan, dan Kemantapan.

Dunia sekarang ini sungguh amat maju dalam segala hal. Kemajuan ini pun tak menutup kemungkinan akan memberikan dampak yang tak sedikit pada cara engkau menerapkan Kaul-Kaul Imamat yang telah kau ucapkan di hadapan Yesus Kristus. Seberapa engkau memahami dan mengambil sikap radikal pada penerapan Kaul-Kaul Imamat itu?

Apakah engkau memahami sepenuhnya arti sebuah Kemurnian, Kekudusan, dan Kesucian diri?  Bukan saja tubuhmu yang harus terus kau jaga untuk tetap murni, kudus, dan suci, tetapi juga hati, akal budi, dan pikiranmu perlu senantiasa kau arahkan untuk hal-hal demikian.  Begitu juga dengan Kemiskinan yang engkau jalani. Miskin yang bagaimana?  Karena aku memiliki pandangan bahwa Kemiskinan yang dituntut darimu adalah bukan saja kemiskinan harta benda, tetapi juga engkau harus miskin dalam penampilanmu, miskin dalam mengasihani dirimu sendiri, miskin dalam ketakutan untuk memerangi ketidak-adilan, miskin dalam ketidak-beranian mengatakan yang benar di atas ketidak-benaran, miskin hawa nafsu, miskin dalam bermegah dan berbangga diri.  Ketaatan yang engkau emban di pundakmu bukan saja taat kepada Pemimpin-mu, melainkan justru yang utama adalah taat pada suara Roh Kudus yang bersemayam hatimu.  Apakah engkau selalu mendengarkan Dia?  Bagaimana engkau bisa mendengarkan Dia kalau engkau tidak selalu mengusahakan keadaan suci, murni dan kudus setiap saat?  Kemantapan membawamu pada kesetiaan yang tak mudah goyah pada persatuan dengan saudara-saudaramu sekomunitas.  Saling mendukung dan menopang dalam karya-karya kalian semua, saling menabur cinta dan belas kasih dalam hidup kalian.  Saling mencintai dan menghormati, saling memberi dan mencontoh teladan ketaatan.  Kekuatan persatuan kalian yang erat dan mantap akan membawa masing-masing dari kalian untuk mampu hidup setia walau banyak godaan dan masalah yang menerpa di perjalanan Imamat kalian.

Anakku, rendahkanlah dirimu selalu di hadapan Tuhan Yesus Kristus yang telah memilihmu untuk menjadi Kristus-Kristus yang lain.  Kejarlah kesempurnaan sebagai seorang Oblat.  Jangan pernah lupa untuk menemui Dia di setiap hari,  seberapa pun sibuknya engkau. Usahakan untuk selalu duduk diam bersama Dia, mencari dan mengerti kehendakNya, menimba kekuatan dariNya, memohon ampun padaNya atas segala kekurangan dan kesalahan yang telah engkau perbuat, memohon kekuatan untuk lebih lagi dapat mengabdi Dia dengan baik.  Ambil juga waktu untuk mau selalu masuk dalam rekoleksi dan kontemplasi batin, menyerahkan hatimu dan dirimu seutuhnya kepada Dia.

Salib Kristus yang besar tergantung megah di lehermu, terselip gagah di sabuk hitam pinggangmu, menjadi surat kepercayaan perutusanmu ke mana pun engkau ditugaskan pergi menjadi duta Tuhan Yesus Kristus.  Jadilah laskar Kristus yang tangguh.  Pandanglah dunia dengan mata Kristus yang tersalib, karena engkau pun telah menyalibkan dirimu bagi Dia yang telah menebusmu.  Dengan semangat yang menyala-nyala, bergiatlah dalam menyelamatkan jiwa-jiwa, membawa mereka semua kepada kepenuhan penebusan Yesus Kristus.  Jadilah nabi-nabi dunia baru, yang terus memberikan kesaksian keadilan dan kesucian Allah dengan menghadirkan Tuhan Yesus Kristus yang membebaskan karena kebangkitanNya di tengah-tengah mereka yang paling terlantar, miskin, dan tak terlayani. Tanggalkan dirimu, berikanlah hatimu seutuhnya demi kemuliaan Allah dan kebaikan Gereja.

Anakku, ibu hanya mampu mendampingimu dengan doa-doa yang lahir dari segala ketulusan dan kerendah-hatian ibumu, yang ibu bawa dan persembahkan di kaki Tuhan Yesus Kristus setiap harinya. Ibu hanya mampu berseru kepada Bunda Maria Imakulata untuk terus mendoakanmu, mendampingimu, memelukmu dalam rengkuhan kasihnya yang suci murni untukmu. Ibu selalu berharap agar engkau tak pernah habis-habisnya memiliki kemauan keras untuk terus setia dan taat kepada Konstitusi dan Aturan-Aturan Hidup komunitasmu. Jadilah seorang Oblat sejati hingga akhir hayatmu.

Teriring doaku selalu,

Ibumu

(Kontribusi: S. Phanie Martino, Pecinta OMI Provinsi Indonesia)

Dikutip dari: Majalah Caraka, Media Komunikasi Skolastikat OMI, Edisi November 2011 - Januari 2012 (www.omi-indonesia.org)


blog comments powered by Disqus