You are here : Home Tahun Imam/Seputar Panggilan Hidup Bersama, Bukan Sama-Sama Hidup

Hidup Bersama, Bukan Sama-Sama Hidup

Hakekat hidup membiara memberi tempat yang paling dasar pada Hidup Bersama (HB). Hidup bersama dalam membiara bukanlah sekedar hidup bersama sama dalam satu tempat, atau cuma sama sama hidup. Hidup bersama menyang-kut kesadaran akan suatu hidup yang dijalani bersama, demi satu tujuan bersama dan demi kebersamaan yang saling menghidupkan.

Banyak hal yang telah kita bicarakan sehubungan dengan HB ini. Akan tetapi, rumusan yang kita kenal itu seringkali kandas dalam prakteknya. Kita tetap mempunyai masalah dalam HB yang kita hidupi setiap hari. Kita bahkan kehilangan akal untuk mewujudkan suatu HB yang sungguh menyenangkan dan memberi semangat dalam membiara kita.

HB menjadi kekuatan, semangat, gairah, motivasi, alasan bersyukur dan sekaligus penerapan dari apa yang kita kejar dalam hidup nan suci yang kita kejar. HB adalah pengungkapan paling awal dari segala rumusan suci yang kita perjuangkan. HB bukanlah rumusan, melainkan praktek, latihan dan akhirnya penghayatan. Kegagalan dalam HB berarti juga kegagalan di tingkat yang paling dasar dalam Hidup Membiara kita.

Menangani HB berarti juga menangani Hidup membiara kita. Membenahi HB berarti memperbaiki kualitas hidup kita sebagai biarawan baik secara pribadi maupun secara komunal. Kesulitan dalam menangani HB biasanya juga menjadi kesulitan dasar dalam Hidup Membiara, karena keduanya sangat erat berkaitan. Menangani HB berarti juga menangani persoalan psikologis dan social di antara kita. Kita mesti mengetahui apa yang tesembunyi di dalam batin kita yang menjadi kekuatan dan kadang menjadi kelemahan kita dalam mewujudkan HB yang baik di antara saudara setarekat maupun di mana kita kita ditempatkan.

MENJADI BIARAWAN YANG SIAP HIDUP BERSAMA

Hidup dalam komunio merupakan jalan pertobatan yang memerlukan pilihan terus menerus untuk berpegang pada identitas kita sebagai biarawan, anggota Gereja. Dengan itu kita belajar saling mengampuni, mengasihi, seperti Kristus mengasihi kita. Membangun persaudaraan, persahabatan, menuntut banyak perjuangan. Latihan (askese) persahabatan pelan pelan, jika ditekuni, akan membebaskan orang dari kekhawatiran akan diri sendiri, hidup rohani sendiri, membawa kita pada kepenuhan sebagai anak-anak Bapa.

 

Kita hidup untuk suatu cita-cita luhur menemukan kehendak Allah dalam hidup kita. Kehendak Allah itu terjadi dalam pencarian bersama, dalam ketekunan bersama dan dalam cara hidup tertentu yang dihayati bersama. Dalam itu semua, saya menyediakan diri untuk dibentuk oleh pengalaman sehari-hari bersama semua anggota yang lain yang menjadi anggota setarekat dengan kita. Penemuan kehendak Allah bukanlah sesuatu yang lain dari hidup senyatanya sehari-hari. Kita dibentuk Allah ketika kita mempunyai masalah hubungan/relasi dengan saudari serumah. Kita mesti membuat gerakan memperbaiki HB kita.
Meskipun HB yang baik merupakan keharusan, tetapi memang harus diakui sungguh amat tidak mudah menciptakannya. Kita tersandung pada kepribadian kita masing-masing dan kepribadian teman-teman komunitas kita. Sangat tidak mudah mengubah orang, tetapi mengubah diri sendiri selalu mungkin.

Maka, mulailah usaha memperbaiki HB dari diri sendiri. Ada hukum emas yang dikatakan Yesus mengenai hal ini.”Kasihilah sesamamu seperti kamu mengasihi dirimu sendiri..”(Mat.19:19). Kita harus menggunakan hukum emas ini untuk mengatasi kelemahan dalam hidup bersama. Tuntutan yang berlebihan pada orang lain sekomunitas seringkali bukanlah cara yang tepat untuk memperbaiki hubungan.
Mat.18:15-17

18:15 "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.

18:16 Jika ia tidak mende-ngarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.

18:17 Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.

Rupa-rupanya, memberitahu, menasihati, memperingatkan juga menjadi pemikiran Tuhan Yesus dan bahkan Ia memberikan juga caranya. Jangan mempermalukan orang, berusahalah mengambil hatinya sampai ia menyadari kesalahan dan memperbaiki sikapnya. Jika menemui kesulitan, mintalah bantuan orang lain untuk menjadi penengah atau bahkan membantu menyelesaikan masalah di antara kalian. Kalau tidak bisa diatasi, maka kita perlu menyerahkannya kepada Tuhan, agar Ia sendiri yang mengatasi kelemahan orang itu.

Sebagai awal pertemuan, kita perlu melihat apakah yang dapat kita lakukan untuk memperbaiki HB kita. Pertanyaannya harus dimulai dari diri kita sendiri. Kita mesti insyaf bahwa kita juga pencipta masalah, betapa pun kecilnya, dan harus mau memperbaiki diri. Beberapa pertanyaan ini mungkin membantu kita:

1. Apa persoalan pokok di dalam komunitas ku?

2. Apakah aku sendiri menjadi penyebab kesulitan itu? Apa yang kulakukan atau kubuat sehingga menjadi masalah?

3. Apakah aku merasa perlu memperbaiki diri, atau aku lebih sering menyalahkan orang lain?

4. Siapa saja yang paling kurugikan dari sikap burukku itu?

KONSEKUENSI YANG TIDAK MUDAH

Yoh.13:10-11
Kata Yesus kepadanya: "Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua."Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata: "Tidak semua kamu bersih."

Pernyataan Yesus mendekati kisah sengsara-Nya amat penting bagi kita. “Tidak semua kamu bersih”. Ini suatu pernyataan yang manusiawi dan amat mendasar terjadi di antara kita semua. Tidak semua kita bersih, begitu juga kita secara pribadi tidak seluruhnya baik. Teman-teman kita juga tidak semua sudah jadi dan baik. Selalu ada kekurangan dalam satu komunitas besar, seperti juga di dalam setiap pribadi ada kekurangan itu.

Yesus tahu bahwa Yudas orang yang akan mengkhianati-Nya. Ia bukanlah murid yang baik bagi-Nya. Yudas adalah wakil dari semua orang yang mengingkari komunitasnya. Ia bukanlah orang yang setia dan menjadi musuh dalam selimut bagi persatuan di antara mereka. Akan tetapi Yudas bukanlah satu-satunya. Petrus juga mempunyai kelemahan yang cukup fatal: Tidak berani mengakui keterlibatannya dengan Yesus di depan publik, padahal hal itu penting bagi identitasnya. Yohanes juga mungkin sebagai murid yang paling dikasihi Tuhan merupakan orang yang terlalu melankolis, yang tidak cukup berani berkonflik dengan orang lain demi imannya. Murid-murid yang lain pun pasti mempunyai kepentingan yang bisa saling bertentangan satu sama lain.

Akan tetapi Yesus membiarkan komunitas-Nya tidak ideal. Ia tetap memberikan teladan penerimaan luar biasa atas keadaan itu. Ia tahu bahwa hal terpenting adalah membaiarkan para murid-Nya hidup dalam kelebihan dan kekurangan sementara mereka belajar hidup baik dari-Nya yang sempurna. Teladan kesempurnaan itu diawali dengan menerima para murid dalam kasih dan pelayanan. Yesus membiarkan diri-Nya menjadi contoh pelayan yang baik, tanpa pamrih, yang mengampuni, dan yang tanpa syarat mengasihi.

Dan para murid belajar itu dari Yesus. Dalam kekurangan mereka belajar untuk hidup seperti Yesus. Mereka belajar menerapkan kebaikan Yesus kendati mereka menemui kesulitan berkaitan dengan diri mereka masing-masing. Yesus tidak meninggalkan dendam atau penilaian atas para murid-Nya. Ia meninggalkan kenangan akan Guru yang Mahatahu, tetapi Mahapengampun juga. Seorang yang tahu bagaimana membalas kejahatan atau kelemahan dengan kasih tanpa syarat yang menyembuhkan.

Mampukah kita menerapkan teladan ini? Berhadapan dengan para anggota yang lain, mungkin semangat kita melulu mengubah orang lain agar semakin seperti yang kita impikan. Kita ingin membangun komunitas ideal, seperti yang kita idealkan, seperti yang kita impikan, tetapi tidak mau tahu apakah orang lain siap untuk mengikuti semangat kita. Atau apakah yang kita anggap baik itu sungguh-sungguh baik menurut kebanyakan orang. Kelemahan pertama dari seorang anggota komunitas adalah merasa diri paling benar dan menuntut kebanyakan orang untuk bertindak dan bersikap seperti yang dia inginkan.
Seorang biarawati mengeluh tentang komunitasnya yang tidak pernah bersahabat dengan dia. Setiap kali ia mengeluh bahwa teman-temannya tidak pernah mendukungnya. Mereka menginginkannya keluar dari panggilan dan mereka menjelek-jelekkan namanya di belakangnya. Ia sangat sedih dan merasa ditolak, padahal ia sudah selalu berusaha untuk menerima banyak pekerjaan yang diberikan kepadanya. Ia tak habis mengerti mengapa orang membencinya.

Berhadapan dengan orang seperti ini, kita mesti melihat bagaimana sikap hidupnya sendiri. Penting melihat bagaimana orang ini berbicara, memutuskan, berpikir, menganalisa masalah, sampai mencari tahu mengapa banyak orang tidak suka padanya. Biasanya kalau kebanyakan orang tidak suka menunjukkan bahwa seseorang harus lebih dulu menganalisa dirinya. Ia harus lebih dulu melakukan introspeksi diri. Hal yang pertama ini wajib dilakukan sebelum menganalisa kesalahan komunitas atas diri orang itu.

Kita berhadapan dengan konsekuensi hidup dalam biara. Hidup kita dicampur dengan orang lain yang semula tidak kita inginkan, tidak kita impikan, tidak kita pilih, berlatar belakang lain, tetapi harus dapat bekerjasama dengan kita. Kita menghadapi konsekuensi membuat harmonisasi diri dengan orang lain yang baru kita jumpai dalam keadaan “sudah jadi” atau telah dewasa, bukan anak-anak yang bisa kita kuasai, pengaruhi atau kendalikan.

Sikap kerdil yang mau menang sendiri; mau mendahulukan kepentingan sendiri; mau dimengerti, tetapi kurang mau mengerti orang lain; suka merajuk; pendendam; suka menyendiri adalah tanda-tanda awal kekurangan dalam kecakapan HB. Ingatlah, salah satu bentuk pertobatan kita yang mahapenting adalah menjadi semakin cakap dalam bergaul dan bekerja sama. Kita mesti berubah, mengenal dan mau bermatiraga untuk meraih kesuksesan hidup membiara kita.

MENGUSAHAKANNYA SECARA PRIBADI

Usaha secara pribadi hanya akan berhasil bila komunitas pun mau membantu seseorang untuk berkembang dan mengolah hidupnya. Hidup membiara selalu menuntut siapapun yang berada di dalamnya untuk mau berubah dan mengolah hidupnya. Dan untuk mengolah itu kita tidak hanya membutuhkan usaha, dan kemauan pribadi saja. Kita membutuhkan orang lain.

Hidup kita selalu sedang berubah dan dibentuk oleh Allah. Allah membentuk lewat banyak hal, salah satu dan terbaik adalah melalui para pendamping, pembimbing dan pemimpin kita. Kita selalu sedang belajar untuk hidup lebih baik sebagai seorang religius, maka kebutuhan akan bimbingan menjadi selalu “up to date” bagi kita, tanpa memperhatikan posisi dan status kita. Pada dasarnya kita selalu membutuhkan orang lain bukan hanya untuk bekerja sama dalam karya, melainkan juga dalam pembentukan pribadi kita agar semakin sesuai dengan kehendak Allah.

Kesulitan kita mempunyai dasar pada kebutuhan yang tanpa sadar selalu ingin kita penuhi dan selalu kita usahakan seperti:

• Menuntut perhatian dan cinta dari orang lain
• Perfeksionis pada diri sendiri (menuntut terlalu banyak diri sendiri)
• Takut gagal (segala usaha diarahkan pada keberhasilan)
• Dihantui sukses orang lain (semangat berkompetisi)
• Menghindari tanggung jawab (tidak PD atau meremehkan)
• Terlalu sensitive (peka berlebihan)

Untuk mengatasinya, kita perlu mengadakan usaha:
• Secara langsung berusaha mengadakan “agere contra” (mengatasi diri sendiri)
• Substitusi, mengganti kebutuhan yang kurang sehat dengan yang lebih sehat
• Menerima kekurangan diri dan mau dibentuk (membangun keterbukaan)
• Mengingat sukses diri jika kita mengalami keputusasaan atau rendah diri berlebihan.

Pengenalan diri dan pengolahan secara berkala menjadi keharusan untuk usaha menjadi anggota komunitas yang baik. Kelemahan kita masing-masing berbeda seperti juga kekayaan kita. Maka perlulah mengenali keduanya, supaya kita dapat memberikan yang terbaik bagi saudari serumah dan kemudian sesama yang kita layani. Ingatlah kembali kemampuan kita bergaul dan hidup bersama saudari serumah adalah miniatur yang akan mengajar kita hidup baik juga di tengah umat yang kita layani.

• Beberapa hal yang perlu juga kita perhatikan adalah penghalang-penghalang pergaulan kita. Penghalang-penghalang itu adalah:

1. Kurang tanggung jawab
2. Pembantah atau pendebat
3. Over – egois
4. Omong kasar
5. Sok dan sombong
6. Selalu ingin tahu dan turut campur urusan orang lain
7. Agresif

• Dan beberapa sifat di bawah ini membantu kita untuk menjadi anggota komunitas yang lebih baik, yaitu:

1. Berpikir yang baik akan orang lain (positive thinking)
2. Berbicara yang baik
3. Rela mengulurkan tangan
4. Memperkaya diri dengan macam-macam minat bersama dengan orang lain
5. Pandai menyesuaikan diri
6. Bersikap wajar
7. Membangun ekspresi segar
8. Ramah dan peka pada kebutuhan orang lain.

• Refleksi:

1. Apa yang menjadi masalahku yang utama dalam HB?

2. Kemungkinan apa yang dapat aku capai untuk merubah cara hidupku agar semakin mendukung HB?

3. Siapa yang dapat ku mintai tolong mengatasi kesulitan HB ku?

MENGUSAHAKANNYA BERSAMA-SAMA

HB yang baik diusahakan bersama-sama. HB yang baik adalah buah dari kesungguhan setiap anggotanya untuk menciptakan suatu hidup yang menyenangkan yang saling mengerti, menerima dan mengasihi. Kita adalah saudara se-Bapa, bahkan sebelum kita berada dalam satu komunitas. Persaudaraan hanya mungkin kalau pemahaman akan persaudaraan bersama ini dimengerti bersama-sama. Persaudaraan hanya mungkin kalau kita masing-masing dekat dengan Allah dalam hidup rohani yang terpelihara.

Orang bisa mengalami kesulitan dalam hidup komunitasnya. Akan tetapi, kalau hidup rohaninya baik dan terpelihara, orang itu akan lebih mudah dibentuk, diarahkan dan diubah menjadi lebih baik sebagai anggota komunitasnya, atau secara lebih luas, sebagai anggota tarekatnya. Kedekatan dengan Allah membuat orang menjadi lebih peka juga pada sesamanya. Kedekatan ini membuat orang lebih mudah mengenali peristiwa hidupnya, sehingga kalau pun ia jatuh, mudah untuk kembali atau memperbaiki.

Kita mungkin sering menjumpai anggota komunitas yang menjadi “trouble maker” atau pembuat masalah. Orang seperti ini biasanya ditandai juga dengan hidup rohani yang tidak seimbang. Kalau pun ia hadir dalam setiap acara rohani komunitas, kehadirannya sekedar ikut, sedangkan ia sendiri secara pribadi mempunyai persoalan dengan keheningan, ketekunan, atau mungkin malah dengan panggilannya sendiri.

Orang awam di luar biara sering menduga bahwa hidup di dalam biara adalah sesuatu yang mustahil dan penuh konflik. Sangat sulit membayangkan hidup dalam satu keterikatan satu sama lain tanpa konflik, tanpa masalah. Akan tetapi, sungguh bisa terjadi apa yang dibayangkan oleh orang awam bahwa kehidupan kita mustahil diwujudkan, kalau kita tidak mengusahakannya bersama-sama. Kita lah yang bertugas membuktikan bahwa hidup religius dalam suatu komunitas itu masih relevan di dunia yang penuh kompetisi dan individualitas ini. Kita tidak mengatakan sesuatu yang lain dari yang kita hayati, atau kita cuma akan ditertawakan orang karena mewartakan sesuatu yang sesungguhnya bagi kita sendiri adalah lelucon atau kemustahilan.

Harus ada suatu system yang terencana dan terstruktur untuk menciptakan HB yang sehat dan selalu mau memperbaharui diri. Kita selalu sedang berubah dan bertobat bersama-sama. Kita mesti menciptakan suasana yang kondusif untuk perkembangan diri kita sebagai pribadi yang terpanggil dan sebagai komunitas yang menjadi saksi kehadiran Allah di dunia sekarang ini. Keengganan salah satu saja untuk membaharui hidupnya, sudah cukup membuat seluruh komunitas mempunyai masalah.

Sr. Corrina beberapa hari tidak mau berbicara dan dalam rekreasi bersama menunjukkan sikap tidak bersahabat. Rekan sekomunitas tidak tahu masalah sebenarnya. Hanya Sr.Hermina yang tahu masalah sebenarnya. Sr.Corrina ingin memperoleh sepatu sandal yang baru, karena sepatu lamanya sudah kusam dan dua kali dijahit. Ia ingin Sr.Hermina sebagai Piko mengetahui hal ini. Mestinya ia ingin tidak usah mengatakan, tetapi Piko yang mengerti. Latar belakang keluarga yang tidak mampu membuatnya malu meminta. Ia tidak ingin di cap peminta atau penuntut. Akan tetapi, ia kesal ketika tahu bahwa tak kunjung muncul tawaran untuk sepatu baru itu. Maka ia memilih diam.

Tentu ini cara seorang yang belum dewasa. Cara yang kekanak-kanakan ini bermula dari persoalan kecil, tetapi akan menjadi besar kalau tidak ditangani. Bukan peristiwa atau kasusnya, melainkan sikap dasar suster itu. Ketidakdewasa-an seperti ini bukan hanya merongrong HB, tetapi sebetulnya merongrong kesetiaan orang dalam panggilannya sendiri.

Maka perlulah system pengolahan bersama itu dilakukan secara kontiniu. Masalah seorang mesti menjadi pemikiran bersama, tanpa prasangka, tanpa keinginan menjatuhkan atau menyingkirkan, sentimen pribadi. Ingatlah bahwa dalam satu komunitas, satu tarekat, nama kita dibangun bersama-sama. Kebaikan kita adalah kebaikan setiap anggota masing-masing yang menciptakannya. Nama baik tidak dibangun sendiri melainkan tanggung jawab bersama. Kalau kita membicarakan kejelekkan saudari serumah, kita seperti sedang mengoyak diri kita sendiri. Sebagai anggota tarekat, kita tidak bisa merasa baik sendiri. Kejelekan satu orang bukanlah bahan omongan yang baik untuk mempertahankan nama baik diri sendiri, karena nama kita juga sudah termasuk dalam bagian komunitas yang lebih besar yaitu tarekat kita.

Pupuklah tanggung jawab itu di dalam diri kita bersama-sama. Berusaha-lah menciptakan komunikasi yang sehat di antara kita. Komunikasi seperti ini hanya mungkin kalau orang saling percaya, menghormati, dan mencintai satu sama lain. Jangan putus asa, percaya lah bahwa kita mampu melakukannya bersama-sama, atau sekali lagi hidup membiara kita tingga ideal yang tak pernah relevan dengan hidup sekarang ini.

Di akhir bagian ini, mungkin baik juga kita sejenak mengingat keberadaan kita sebagai laki laki. Kita mempunyai karakteristik yang unik dalam bergaul dan bekerjasama. Kita hidup dalam kerinduan akan kehangatan, kemesraan relasi, perhatian, perasaan diterima dan didengarkan. Kebutuhan ini meskipun besar tetap menjadi sesuatu yang tidak mudah kita ekspresikan. Meskipun demikian, segala sesuatu menjadi lebih menyenangkan kalau kita mendapati komunitas kita mencukupi kita dengan kebutuhan-kebutuhan ini.

Akan tetapi juga harus diingat kebutuhan kita untuk menjadi diri sendiri. Ke-manusia-an kita menuntut untuk hidup dalam keserasian dengan semua orang. Kita ingin agar relasi kita beres-beres saja. Akan tetapi keinginan ini kurang realistis. Salah satu kebutuhan yang harus kita perhatikan juga adalah menjadi diri sendiri dan menyumbangkan kekayaan kita yang sejati. Kita tidak perlu bermimpi semua orang menyukai kita. Cukuplah kalau kita dapat bergaul dan bekerja sama dengan kebanyakan anggota komunitas kita. Jika terjadi kebalikannya, barulah kita coba melihat apa yang perlu kita benahi.

Refleksi:

1. Apa masalah dalam komunitas kita berkaitan dengan komunikasi di antara kita?

2. Bagaimana usaha yang sudah kita buat bersama untuk menciptakan pembaharuan yang baik bersama-sama?


Catatan : artikel ini disampaikan oleh Romo Alexander Erwin Santoso, MSF saat pertemuan Bruder muda FIC di Semarang 17 November 2007.

(Sumber: Situs Bruder FIC - www.bruderfic.or.id)


blog comments powered by Disqus