You are here : Home Renungan Semenit Bermakna Seandainya

Seandainya

Sudah enam hari ibu saya dirawat di ICU. Tiap malam saya atau kakak bergantian menginap di rumah sakit. Karena kondisinya terus membaik, pada malam keenam kami pulang ke rumah untuk beristirahat. Tidak menjagainya. Siapa sangka, malam itu kondisinya merosot! Esok paginya ibu saya tidak sadarkan diri dan meninggal sore harinya. Ada rasa sesal di hati. Mengapa pada saat kritis itu kami tidak ada bersamanya? Seandainya malam itu kami mendampinginya, mungkin kami bisa berbuat sesuatu!

Kita kerap menyesali diri atau situasi ketika tragedi terjadi. "Seandainya aku berbuat ini atau itu, kondisinya pasti tidak separah apa yang terjadi." Waktu Lazarus meninggal, Maria dan Marta menyesal Yesus datang terlambat. Pikirnya, andaikata Yesus datang lebih cepat, Lazarus masih sempat disembuhkan. Faktanya, Yesus sengaja menginap dua hari lagi di tempat lain setelah dikabari bahwa Lazarus sakit. Dalam penyesalan, Maria dan Marta sulit menerima bahwa peristiwa kematian Lazarus ada dalam rancangan Tuhan. Baru setelah Lazarus dibangkitkan, mereka paham bahwa bersama Yesus tidak ada kata terlambat atau di luar kendali. Semua hal terjadi seturut rencana-Nya.

Apakah kita suka menyesali apa yang telah terjadi? "Hidupku pasti lebih baik ... seandainya dulu aku tidak memilih pekerjaan ini. Seandainya aku tidak menikah dengannya. Seandainya aku lebih cermat menanam investasi."
 
Berhentilah berandai-andai! Hadapilah realitas dengan keyakinan bahwa setiap langkah dalam hidup kita telah diatur oleh Tuhan. Bersama-Nya tidak ada yang di luar kendali --JTI

KITA HARUS BELAJAR DARI KESALAHAN TETAPI TIDAK BOLEH TERUS HIDUP DALAM PENYESALAN.
 
(Sumber: Our Daily Bread - dikirim oleh E. Elly, umat Lingkungan Sta. Clara, Wilayah 21)

blog comments powered by Disqus