You are here : Home Renungan Romo F.X. Rudi Rahkito Jati, OMI Minggu Adven C2 / 2015

Minggu Adven C2 / 2015

Dahulu kala...

Seorang raja ingin mengetahui seberapa besar kualitas rakyatnya dalam hal memperhatikan kepentingan bersama. Maka pada suatu malam ia meletakkan sebongkah batu besar di sebuah jalan raya. Kemudian dia bersembunyi di balik pakaian samaran untuk melihat apakah ada orang yang mau menyingkirkan batu itu.

Beberapa saudagar kaya dan bangsawan kerajaan yang lewat di jalan itu sengaja membelokkan keretanya agar bisa melintasi tempat itu.  Beberapa orang bahkan mulai mengkritik pihak kerajaan yang tidak berbuat sesuatu untuk menyingkirkan batu itu.

Suatu saat lewatlah seorang petani yang hendak menjual sayur dan buah hasil kebunnya ke pasar. Dia turun dari gerobak kudanya dan memindahkan batu itu ke tepi jalan. Setelah bersusah payah, akhirnya ia berhasil. Ia juga menemukan sebuah kantong di bawah batu itu.  Kantong itu ternyata berisi beberapa keping uang emas dan sepucuk surat. Dalam surat itu tertulis demikian : “Karena anda telah  menyingkirkan batu ini, sebagai ungkapan terima kasihku, sudilah menerima beberapa keping uang ini. Sekian. Tertanda : Raja.”

Dari suatu tempat raja melihat kejadian tersebut. Dia melihat apa yang dilakukan oleh petani itu setelah membaca sepucuk suratnya. Petani itu segera berlutut, matanya memandang ke langit, dan beberapa saat kemudian tampak tangan kanannya menyeka air mata haru yang menetes di pipinya. Raja merasa gembira karena melihat bahwa hadiah itu jatuh ke tangan orang yang paling tepat untuk mendapatkannya.

Pesan menarik apa yang bisa kita petik dari cerita itu? Cerita tsb mau bercerita tentang HALANGAN yang bila kita mau menyingkirkannya, kita justru akan mengalami kebahagiaan yang lebih besar daripada yang kita bayangkan. Apakah halangan sesungguhnya yang hendak diperlihatkan dalam cerita itu? Bukan pertama-tama sebongkah batu di tengah jalan tadi, tetapi juga beberapa hal yang terdapat di dalam diri kebanyakan manusia. Yaitu, sekurang-kurangnya apa yang disebut sebagai

  1. kemalasan (orang malas menggeser batu itu, merasa batunya terlalu berat, bikin berkeringat saja)
  2. egois (mau mendahulukan kepentingannya sendiri dulu dan tidak sempatkan peduli kepada orang lain)

Pesan yang sama juga menjadi salah satu pesan yang hendak dikatakan oleh Yohanes Pembaptis dalam Injil hari ini. Dengan berseru : “Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan baginya ...”, Yohanes juga hendak mengajak orang-orang yang mendengarkannya untuk menyingkirkan halangan-halangan supaya bisa bertemu dengan Tuhan.

Apa sih halangan yang sering menghambat kita untuk bertemu dengan Tuhan? Untuk menjadi suci? Untuk mempersiapkan perayaan Natal yang lebih indah daripada Natal di tahun-tahun yang lampau?

Kurang lebih juga sama dengan halangan yang mau diperlihatkan dalam cerita ttg Raja yang meletakkan sebongkah batu itu. Yaitu 1) kemalasan (malas bekerja -minimalis-, malas melayani, malas berdoa, malas berangkat ke gereja, malas ngaku dosa, malas sejenak merenung, malas ikut pertemuan di lingkungan, dll; 2) egois (mau menangnya sendiri, kurang sabar, tidak mau mendengarkan orang tapi menuntut didengarkan, kurang rela berbagi, sukanya ngatur Tuhan, berdoa untuk minta intensi -atau istilah paling trendy sekarang "saham" bagi diri sendiri, dll). Kita perlu bertobat dari 2 sikap yang tanpa kita sadari sebenarnya telah menghalangi kemajuan hidup rohani maupun kedewasaan iman kita selama ini.

So apa yang perlu dilakukan terkait 2 macam halangan itu?

Tidak ada teknik lain untuk mengatasi halangan itu selain kita mempunyai niat dan sikap disiplin yang kuat dari dalam diri! Kadang perlu katakan kepada diri sendiri : "Dasar pemalas! Dasar egois! Dorong saja, Bro!"

Amin.

Sumber Foto : id.techinasia.com


blog comments powered by Disqus