You are here : Home Renungan Mari Merenung Keinginan Yang Sederhana

Keinginan Yang Sederhana

Pada suatu hari, 3 orang Cina yang bersahabat sejak kanak-kanak bertemu.  Salah seorang dari mereka kini menjadi seorang pejabat negara.  Yang seorang lagi menjadi seorang guru besar di sebuah universitas.  Yang seorang lainnya lagi adalah seorang petani sederhana.  Sambil duduk santai, mereka bercakap-cakap tentang apa yang masih mereka inginkan untuk dimiliki di hari esok.

Sang pejabat negara menyatakan bahwa ada 2 hal yang paling ia inginkan, yaitu memiliki sebuah cangkir porselin antik untuk minum teh dan seekor kuda yang tinggi untuk mengantarnya bersafari keliling pelosok negeri.

Sementara itu sang guru besar menyatakan bahwa 2 hal yang paling ia inginkan adalah selalu tersedia baginya secangkir cokelat manis yang hangat dan sepasang mata yang selalu sehat sehingga ia bisa memuaskan hobinya untuk membaca buku.

Sedangkan sang petani hanya menginginkan hal-hal yang biasa terjadi setiap hari, seperti terbitnya matahari, burung-burung yang berkicau di atas pohon di kebun buahnya dan sungai yang tidak pernah kering.

Malam harinya ketika masing-masing orang sudah kembali ke rumahnya, gempa tektonik dengan kekuatan di atas 7 skala richter menggoncang daratan Cina.  Gempa itu menghancurkan impian sang pejabat negara.  Toko porselin yang menurut rencananya hendak ia datangi beso hancur luluh lantak.  Hal serupa juga menimpa sang guru besar.  Perpustakaan pribadinya yang penuh dengan buku-buku kesukaannya ludes terbakar.  Hanya impian sang petani yang tetap terwujud.  Matahari masih terbit.  Burung-burung masih berkicau.  Sungai masih tetap mengalirkan air ke sawahnya.

Kisah di atas membuktikan kebenaran sebuah pepatah kuno Cina yang berkata: "Berbahagialah orang yang tidak mengkhayalkan hal-hal yang besar untuk hari esok tetapi menerima setiap hari sebagai anugerah Tuhan.  Semua pemberianNya baik adanya." (Adaptasi dari cerita Carlos Valles)

Sumber: 65 Cerita tentang Kebahagiaan, Rahkito Jati, OMI, Yayasan Pustaka Nusatama, 2008


blog comments powered by Disqus