You are here : Home Renungan Renungan Oleh Rm. Ign. Sumarya, SJ Sabtu, 27 April 2013

Sabtu, 27 April 2013

“Setiap orang yang mendengar perkataanKu ini dan tidak melakukannya” (2Tim 4:1-8; Mat 7:21-27)

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.” (Mat 7:21-27),demikian kutipan Warta Gembira hari ini.


Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Petrus Canisius hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

•       Semangat atau sikap mental yang menjiwai pelayanan pastoral Petrus Canisius adalah ‘bekerja keras’ (persevere). Ia bekerja keras memulihkan penghayatan iman orang-orang Jerman, dan ia berhasil memperdalam dan memperbaharui iman banyak orang, lebih-lebih di Eropa Tengah. Ia menulis katekismus bagi umat guna mengajak dan memperingatkan umat agar hidup dan bertindak sesuai dengan firman atau sabda Tuhan, sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci. Ia memperbaiki
hidup beriman/menggereja dari dalam meskipun untuk itu harus menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan. Petrus Canisius menjadi pelindung bagi karya pastoral pendidikan, dengan harapan para peserta didik meneladan semangat hidupnya, maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan para guru atau pelaksana karya pendidikan mendidik dan membina para peserta didik untuk meneladan semangat Petrus Canisius: membaktikan diri dengan segala kelebihan dan kekurangan, kekuatan dan kelemahan untuk mencerdaskan diri guna memperbaharui hidup beragama, beriman, menggereja maupun memasyarakat.


Marilah kita memperdalam dan memperkembangkan semangat ‘mendengarkan dan melaksanakan’ firman atau sabda Tuhan, agar hidup iman kita semakin mendalam dan handal, tahan menghadapi aneka rayuan kenikmatan duniawi yang marak pada saat ini.  Kita semua diharapkan tumbuh berkembang sebagai orang/pribadi yang bijak, sehingga apa yang kita lakukan dan katakan sungguh membangun kehidupan beriman atau beragama. Kami berharap para pastor atau guru agama sungguh mengusahakan pembaharuan hidup beriman umat, sehingga kehidupan bersama semakin menarik, mempesona dan memikat.

•       “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.” (2Tim 4:7-8). Petrus Canisius kiranya telah menghayati apa yang dikatakan oleh Paulus ini, yaitu “mengakhiri pertandingan yang baik,  mencapai garis akhir dan memelihara iman”. Hidup dan bekerja ini bagaikan pertandingan dalam olah raga. Olahraga yang kiranya baik menjadi contoh untuk kita jadikan bahan mawas diri mungkin sepakbola. Juara dunia sepakbola terakhir adalah persatuan sepakbola yang dijiwai bekerja keras dengan bermain sportif dan kerjasama. Maka sekiranya kita mendambakan sukses dalam tugas pengutusan dan pekerjaan hendaknya bekerja keras dengan bekerjasama dan sportif, entah apapun yang menjadi pekerjaan atau tugas pengutusan kita. Marilah kita ingat dan sadari bahwa masing-masing dari kita adalah buah atau hasil kerjasama atau gotong-royong, yaitu kerjasama bapak-ibu atau orangtua kita yang saling mengasihi dengan ditandai oleh kerjakeras dan pengorbanan serta perjuangan. Maka selayaknya  dan seharusnya kita juga hidup dan bekerja dalam kerjsama, pengorbanan dan perjuangan. Kita semua juga diingatkan dan diajak untuk saling memelihara iman: memperkembangkan dan memperdalam iman kita, sehingga dalam kebersamaan kita juga dapat menangkal dan melawan aneka godaan dan rayuan yang berusaha merongrong kehidupan iman kita. Marilah apa pun yang kita miliki kita baktikan kepada Tuhan dalam hidup dan bekerja bersama dengan saudara-saudari
kita. Jangan menjadi kecil hati atau takut  jika kita hanya memiliki keterampilan atau kecakapan kecil saja.

“Hai Israel, percayalah kepada TUHAN! -- Dialah pertolongan mereka dan perisai mereka. Hai kaum Harun, percayalah kepada TUHAN! -- Dialah pertolongan mereka dan perisai mereka. Hai orang-orang yang takut akan TUHAN, percayalah kepada TUHAN! -- Dialah pertolongan mereka dan perisai mereka. TUHAN telah mengingat kita; Ia akan memberkati, memberkati kaum Israel, memberkati kaum Harun” (Mzm 115:9-12)


blog comments powered by Disqus