You are here : Home Renungan Renungan Oleh Rm. Ign. Sumarya, SJ Jumat, 27 April 2013

Jumat, 27 April 2013

"Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” (Kis 13:26-33; Yoh 14:1-6)


 "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ." Kata Tomas kepada-Nya: "Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?" Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yoh 14:1-6), demikian kutipan Warta Gembira hari ini Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

•       Pada masa kini kiranya cukup banyak orang gelisah, misalnya sulit untuk tidur di waktu malam karena masih memikirkan sesuatu atau khawatir akan sesuatu. Orang yang demikian hemat saya hidup dan bertindak hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri, dan kurang atau tidak menjadikan Allah sebagai “jalan, kebenaran dan hidup”. Jika kita senantiasa hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri dan kurang atau tidak percaya kepada Allah maupun orang lain atau saudara-saudari kita, maka dengan mudah kita akan gelisah. Beriman berarti menjadikan cara berpikir Allah ‘jalan, kebenaran dan hidup’ kita, dan dengan demikian kita senantiasa berpikir sebagaimana dipikirkan oleh Allah. Allah senantiasa hanya memikirkan keselamatan dan kebahagiaan umat manusia dan untuk itu Ia hidup dan berkarya dalam diri orang yang beriman kepadaNya. Bukankah kita semua beriman kepadaNya, meskipun ada yang beriman dangkal atau mendalam. Berpikir sesuai dengan pikiran Allah berarti kita senantiasa berpikir bahwa Allah hidup dan berkarya dalam diri saudara-saudari kita dan lingkungan hidup kita. Maka dalam dalam keadaan dan kondisi apapun, kapan pun dan dimana pun kita tak akan merasa sendirian, sehingga tak akan mudah gelisah meskpun kita memiliki masalah atau beban tugas/ pekerjaan berat. Kami berharap kepada kita semua umat beriman untuk senantiasa berpikir sebagaimana dipikirkan oleh Allah, dan hendaknya ingat serta sadar bahwa apa yang sedang kita pikirkan itulah yang akan kita lakukan. Percaya kepada Allah berarti percaya kepada saudara-saudari kita, maka ketika kita pergi atau tidur hendaknya tidak gelisah akan apa yang kita tinggalkan, karena semuanya akan dikerjakan oleh saudara-saudari kita yang sungguh beriman. Nikmatilah apa yang sedang anda lakukan pada saat ini.

•       “Dan kami sekarang memberitakan kabar kesukaan kepada kamu, yaitu bahwa janji yang diberikan kepada nenek moyang kita,telah digenapi Allah kepada kita, keturunan mereka, dengan membangkitkan Yesus, seperti yang ada tertulis dalam mazmur kedua: Anak-Ku Engkau! Aku telah memperanakkan Engkau pada hari ini” (Kis 13:32-33). Apa yang dikatakan oleh rasul Yesus atau utusan Allah ini kiranya dapat menjadi teladan atau inspirasi bagi kita semua umat beriman, khususnya yang
beriman kepada Yesus Kristus. Marilah kita senantiasa ‘memberitakan kabar kesukaan’ kepada saudara-saudari kita, tanpa pandang bulu. Apa yang kita lakukan dan katakan diharapkan senantiasa membuat orang lain suka kepada kita, dan tentu saja juga suka kepada kehendak dan perintah Allah, artinya akhirnya suka berbuat baik kepada orang lain dimana pun dan kapan pun. Semua orang mendambakan hidup baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur, maka marilah kita bekerjasama dan saling membantu dalam usaha menjadi orang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur. Masing-masing dari kita kami harapkan tumbuh-berkembang menjadi pribadi yang semakin disukai oleh Allah dan semua orang, sebagaimana terjadi dalam diri Yesus,  ketika kanak-kanak tumbuh berkembang semakin bijaksana, semakin disukai oleh Allah dan  sesama manusia. Semoga kita disukai orang bukan karena penampilan fisik atau diluar yang kelihatan cantik, ganteng/tampan, pandai/cerdas, tetapi terutama karena baik hati dan berperilaku baik juga. Marilah kita sadari dan hayati bahwa kita semua telah menerima kebaikan luar biasa dari Allah melalui sekian banyak saudara-saudari kita yang telah berbuat baik kepada kita, maka selayaknya kita senantiasa bersyukur dan berterima kasih, serta mewujudkan syukur dan terima kasih itu dengan senantiasa berbuat baik kepada orang lain, tanpa pandang bulu.

"Akulah yang telah melantik raja-Ku di Sion, gunung-Ku yang kudus!"Aku mau menceritakan tentang ketetapan TUHAN; Ia berkata kepadaku: "Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini. Mintalah kepada-Ku, maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu.Engkau akan meremukkan mereka dengan gada besi, memecahkan mereka seperti tembikar tukang periuk.” (Mzm 2:6-9)


blog comments powered by Disqus