You are here : Home Renungan

Rabu, 24 April 2013

“Aku datang bukan untuk menghakimi dunia melainkan untuk menyelamatkannya.”

(Kis 12:24-13:5a; Yoh 12:44-50)

Tetapi Yesus berseru kata-Nya: "Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia bukan percaya kepada-Ku, tetapi kepada Dia, yang telah mengutus Aku; dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku. Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan. Dan jikalau seorang mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, Aku tidak menjadi hakimnya, sebab Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya. Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataan-Ku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman. Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan. Dan Aku tahu, bahwa perintah-Nya itu adalah hidup yang kekal. Jadi apa yang Aku katakan, Aku menyampaikannya sebagaimana yang difirmankan oleh Bapa kepada-Ku.” (Yoh 12:44-50), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Yesus adalah Penyelamat Dunia, maka Ia datang ke dunia untuk menyelamatkan dunia seisinya, seluruh  ciptaan yang ada di permukaan bumi atau di alam raya ini. Maka kita semua yang beriman kepadaNya memiliki panggilan yang sama, yaitu untuk hidup mendunia atau membumi guna menyelamatkan apa yang ada di permukaan bumi ini yang tidak selamat. Memang untuk itu pertama-tama dan terutama diri kita sendiri harus dalam keadaan selamat, agar dapat menyelamatkan yang lain.  Maka marilah jika ada sesuatu yang tidak selamat di lingkungan hidup kita segera kita selamatkan: tempat yang kotor kita bersihkan, yang tidak teratur segera kita atur, yang tidak disipilin kita disiplinkan, dst.. Namun kiranya yang perlu kita utamakan adalah manusia, misalnya yang bodoh kita ajar dengan tekun dan rendah hati agar pandai atau cerdas, yang malas kita ingatkan untuk rajin, yang korup kita tegor dan ingatkan untuk jujur dst.. Yang mendesak pada masa kini hemat saya adalah para koruptor, dan untuk itu perlu ditertibkan para peserta didik agar tidak menyontek baik dalam ulangan atau ujian, karena menyontek hemat saya merupakan pelatihan untuk korupsi. Membiarkan tindakan para peserta didik untuk menyontek berarti mendidik calon koruptor. Tindakan korupsi merupakan tindakan pembusukan hidup bersama, sehingga hidup bersama tidak enak dan tidak nikmat lagi. Marilah kita berantas tindakan korupsi  di bidang kehidupan atau pelayanan apapun. Kami sungguh prihatin bahwa dua departemen, yaitu departemen agama dan pendidikan, yang harus mendidik warganegara agar hidup baik, justru di dalamnya sarat dengan tindakan-tindakan korupsi.

·   Oleh karena disuruh Roh Kudus, Barnabas dan Saulus berangkat ke Seleukia, dan dari situ mereka berlayar ke Siprus. Setiba di Salamis mereka memberitakan firman Allah di dalam rumah-rumah ibadat orang Yahudi.” (Kis 13:4-5a). Apa yang dilakukan oleh Barnabas dan Saulus kiranya dapat menjadi teladan atau inspirasi bagi kita semua, yaitu hidup dan bertindak sesuai dengan dorongan Roh Kudus guna mewartakan atau memberitakan firman Allah. Kami berharap kita tidak hidup dan bertindak hanya mengikuti selera atau keinginan pribadi, melainkan senantiasa hidup dan bertindak sesuai dengan dorongan/suruhan Roh Kudus, yang berarti senantiasa hidup baik dan berbudi pekerti luhur sesuai dengan firman Allah sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci. Maka dalam Tahun Iman ini kami harapkan kita semua giat memperbaharui dan memperdalam iman kita dengan bantuan firman Allah sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci. Hendaknya pembacaan dan permenungan firman Allah sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci digiatkan dan didukung di lingkungan-lingkungan umat maupun dalam keluarga-keluarga. Tentu saja para pengkotbah di rumah-rumah atau tempat-tempat ibadat kami harapkan menyampaikan kotbah bersumber dari Kitab Suci, maka hendaknya apa yang tertulis didalam Kitab Suci direfleksikan secara mendalam, agar isi kotbah mengena dan sesuai dengan kebutuhan umat Allah. Dengan kata lain kebiasaan refleksi atas Kitab Suci kami harapkan menjadi kebiasaan para pengkotbah maupun pewarta Kabar Baik atau para katekis di lingkungan Gereja Katolik atau guru agama di masing-masing agamanya. Tanpa  refleksi mendalam apa yang tertulis di dalam Kitab Suci akan kurang mengena bagi umat Allah.

“Kiranya Allah mengasihani kita dan memberkati kita, kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya,  supaya jalan-Mu dikenal di bumi, dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa.Kiranya suku-suku bangsa bersukacita dan bersorak-sorai, sebab Engkau memerintah bangsa-bangsa dengan adil, dan menuntun suku-suku bangsa di atas bumi. “ (Mzm 67:2-3.5)

Selasa, 23 April 2013

"Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan?”

(Kis 11:19-26; Yoh 10:22-30)

“Tidak lama kemudian tibalah hari raya Pentahbisan Bait Allah di Yerusalem; ketika itu musim dingin. Dan Yesus berjalan-jalan di Bait Allah, di serambi Salomo. Maka orang-orang Yahudi mengelilingi Dia dan berkata kepada-Nya: "Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami." Yesus menjawab mereka: "Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku, tetapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku. Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. Aku dan Bapa adalah satu.” (Yoh 10:22-30), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Semakin diragukan dan dipertanyakan oleh orang-orang Yahudi yang kurang percaya kepadaNya, Yesus semakin menyatakan Jati DiriNya, yang berarti bagi mereka yang tidak percaya akan semakin bimbang dan ragu-ragu, sedangkan yang percaya semakin mendalam dan handal kepercayaan mereka kepada Yesus, dan dengan demikian semakin bersatu dengan Yesus, semakin dikasihi oleh Allah dan sesama manusia. “Domba-dombaKu mendengarkan suaraKu dan Aku mengenal mereka dan mereka megikuti Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya”, demikian penyataan atau pewahyuan Diri Yesus. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan anda semua yang beriman kepada Yesus Kristus untuk senantiasa mengusahakan kesatuan denganNya dan secara konkret menghayati kesatuan atau persaudaraan sejati dengan rekan-rekan seiman. Hidup dalam persaudaraan sejati pada masa kini hemat saya sungguh mendesak dan up to date untuk dihayati dan disebarluaskan, mengingat dan memperhatikan aneka macam bentuk permusuhan masih marak di sana-sini. Marilah kita hilangkan aneka kebimbangan dan keraguan terhadap rekan-rekan seiman, karena bimbang dan ragu dengan rekan-rekan seiman hemat saya berarti juga bimbang dan ragu terhadap Tuhan Allah. Kami berharap persaudaraan sejati pertama-tama dan terutama dihayati dalam keluarga kita masing-masing, yang dibangun dan diperkembangkan dalam dan dengan cintakasih. Kita dekati dengan rendah hati rekan-rekan kita yang mau menjauhkan atau memisahkan diri, untuk diajak bersaudara dan bersahabat lagi.

·   “Setelah Barnabas datang dan melihat kasih karunia Allah, bersukacitalah ia. Ia menasihati mereka, supaya mereka semua tetap setia kepada Tuhan, karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Sejumlah orang dibawa kepada Tuhan” (Kis 11:23-24). Pengalaman Barnabas ini kiranya dapat menjadi inspirasi atau teladan bagi kita semua umat beriman. Marilah kita saling melihat kasih karunia Allah yang dianugerahkan kepada saudara-saudari kita, dengan kata lain melihat kesetiaan saudara-saudari kita terhadap kehendak Allah. Kami percaya lebih banyak saudara-saudari kita yang setia kepada kehendak Allah daripada yang tidak atau kurang setia kepada kehendak Allah. Memang untuk itu kita senantiasa diharapkan berpikir positif terhadap orang lain alias lebih melihat dan mengakui kebaikan-kebaikan yang ada dalam diri saudara-saudari kita daripada kekurangan-kekurangan atau kejahatan-kejahatannya. Marilah kita saling membawa satu sama lain kepada Allah, Tuhan, agar kita semua semakin mendengarkan dan melaksanakan kehendak dan perintah Tuhan. Ingatlah dan sadari bahwa Yesus yang telah bangkit dari mati senantiasa berkarya dan hadir dalam diri saudara-saudari kita yang berkehendak baik. Lebih banyak saudara-saudari kita yang baik daripada yang jahat. Bukti kesetiaan orang kepada Tuhan antara lain menjadi nyata atau dapat kita saksikan dalam kesetiaannya pada panggilan dan tugas pengutusan. Sebagai contoh imam, bruder, suster atau suami-isteri yang lansia, bertahun-tahun lamanya menghayati panggilan dengan baik meskipun harus menghadapi aneka tantangan dan hambatan. Masing-masing dari kita kiranya dapat belajar dari orangtua kita masing-masing yang setia sebagai suami-isteri sampai mati. Kepada generasi tua kami harapkan dengan besar hati dan kerelaan tinggi bersedia membagikan pengalaman kesetiaannya kepada generasi muda, dan kepada generasi muda kami harapkan dengan rendah hati meneladan kesetiaan generasi tua.

“Di gunung-gunung yang kudus ada kota yang dibangunkan-Nya:TUHAN lebih mencintai pintu-pintu gerbang Sion dari pada segala tempat kediaman Yakub.Hal-hal yang mulia dikatakan tentang engkau, ya kota Allah.” (Mzm 87:1-3)

Renovasi Trinitas

Renovasi gereja Trinitas sudah dimulai.  Selama renovasi berlangsung, Perayaan Misa Kudus pada Sabtu dan Minggu maupun pelayanan pemberkatan/Sakramen Perkawinan di Gereja Trinitas tetap berjalan seperti biasa.  Demikian harap umat menjadi maklum adanya.

Senin, 15 April 2013

“Bekerjalah untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal”

(Kis 6:8-15; Yoh 6: 22-29)

“ Pada keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain dari pada yang satu tadi dan bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat. Tetapi sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya. Ketika orang banyak melihat, bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus. Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: "Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?" Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya." Lalu kata mereka kepada-Nya: "Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?" Jawab Yesus kepada mereka: "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah." (Yoh 22-29), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   “P4” = Pergi Pagi Pulang Petang, demikian sindirian bagi sementara orang yang harus bekerja keras, sejak bangun pagi sampai istirahat malam sibuk terus, entah termasuk dalam perjalanan atau tidak. Memang ada orang-orang yang tidak pernah melihat matahari di sekitar rumahnya atau tempat tinggalnya karena harus berangkat kerja pagi-pagi benar dan baru pulang kembali ke rumah larut malam. Ada orang yang memang harus berbuat demikian karena tempat tinggal dan tempat kerjanya jauh, dan ada orang yang memang sejak pagi-pagi benar sudah bekerja tanpa istirahat sampai larut malam. Apa yang mereka cari? Uang atau harta benda guna memenuhi kebutuhan hidup berkeluarga, itulah jawaban umum atas pertanyaan tersebut. Kiranya tidak salah jika orang bekerja keras guna memenuhi kebutuhan hidup keluarga, akan menjadi salah jika dengan demikian orang bersikap mental materialistis. Karena kita semua setiap hari pada umumnya sibuk, entah bekerja atau belajar, maka hendaknya dengan bekerja atau belajar kita juga semakin suci, semakin membaktikan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Maka hayatilah, entah belajar atau bekerja, bagaikan sedang beribadat, merupakan panggilan Tuhan. Dengan kata lain marilah kita temukan dan hayati Tuhan yang senantiasa hidup dan bekerja dalam kesibukan kita belajar atau bekerja. Ketika sedang beristirahat, entah rekreasi atau tidur, hendaknya dihayati dalam Tuhan. Segala sesuatu hendaknya dihayati dan dilaksanakan dalam Tuhan, karena dengan demikian kita sungguh bekerja untuk hidup mulia dan bahagia bersama Tuhan selamanya.

·    "Orang ini terus-menerus mengucapkan perkataan yang menghina tempat kudus ini dan hukum Taurat, sebab kami telah mendengar dia mengatakan, bahwa Yesus, orang Nazaret itu, akan merubuhkan tempat ini dan mengubah adat istiadat yang diwariskan oleh Musa kepada kita." (Kis 6:13-14), demikian kesaksian palsu yang dituduhkan kepada para rasul. Berjuang dan bekerja untuk kehidupan kekal atau nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan yang menyelamatkan jiwa manusia memang akan menghadapi tuduhan-tuduhan palsu dari orang-orang yang bersikap mental materialistis, yang merasa diserang atau dipojokkan oleh perjuangan dan kerja kita. Jika anda harus menghadapi tuduhan atau kesaksian palsu yang demikian itu hendaknya tetap tenang dan tegar. Berjuang demi kebenaran dan keselamatan jiwa memang tak akan pernah terlepas dari aneka tantangan, hambatan dan masalah. Mengimani Yesus yang telah wafat di kayu salib serta dibangkitkan dari mati memang berarti mati bagi dosa dan kemudian hidup bagi Tuhan, dalam situasi dan kondisi apapun senantiasa mengabdi dan membaktikan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Percayalah bahwa jika kita hidup dan berjuang dalam dan demi Tuhan kita pasti akan mampu mengalahkan aneka kebohongan dan kepalsuan yang dilakukan oleh orang-orang yang bersikap mental materialistis di lingkungan hidup dan kerja kita. Kita semua juga dipanggil untuk menjernihkan dan membersihkan adat-istiadat atau kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik, dan tentu saja yang baik tetap kita abadikan. Adat-istiadat yang bertentangan dengan kehendak Tuhan, yang tidak mengusahakan keselamatan jiwa manusia hendaknya ditinggalkan.

“Sekalipun pemuka-pemuka duduk bersepakat melawan aku, hamba-Mu ini merenungkan ketetapan-ketetapan-Mu. Ya, peringatan-peringatan-Mu menjadi kegemaranku, menjadi penasihat-penasihatku. Jalan-jalan hidupku telah aku ceritakan dan Engkau menjawab aku -- ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku. Buatlah aku mengerti petunjuk titah-titah-Mu, supaya aku merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib “ (Mzm 119:23-24.26-27)

Minggu Paskah III, 14 April 2013

Mg Paskah III: Kis 5:27b-32.40b-41; Why 5:11-14; Yoh 21:1-19

"Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh."

Kerasulan semua religius pertama-tama terletak dalam kesaksian hidup mereka yang sudah dibaktikan, yang harus mereka pelihara dengan doa dan tobat” (KHK kan 673). Sebagai imam dan biarawan saya pribadi sungguh terkesan dengan kutipan dari KHK di atas. Kurang lebih dua puluh lima tahun lalu untuk pertama kali kutipan di atas ini sungguh saya refleksikan dan kemudian saya sampaikan dalam kesempatan memberi rekoleksi biarawan-biarawati. Kesan atas teks di atas sungguh mendalam bagi saya pribadi, lebih-lebih karena dampak dari rekoleksi tersebut ada beberapa biarawati/suster senior marah terhadap saya (mereka merasa diserang, maklum memang dalam kehidupan dan karya pelayanan sehari-hari mereka merasa sombong karena bergelar sarjana, dengan kata lain dalam pelayanan lebih mengedepankan gelar sarjana daripada kebiarawanan atau kesaksian hidup yang telah dibaktikan). Isi utama dari Warta Gembira hari ini kiranya merupakan ajakan dan peringatan bagi kita semua: hendaknya dalam dan dengan semangat iman kita hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

"Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh." (Yoh 21:6)

Para rasul sebelum menggabungkan diri pada Yesus adalah nelayan-nelayan yang handal dan kompeten dalam proffesinya.Setelah Yesus meninggalkan mereka dengan wafat di kayu salib, maka mereka merasa sungguh kehilangan pegangan hidup dan frustrasi, kesepian. Untuk mengobati frustrasi atau mengisi kesepian, mereka tergerak untuk kembali mencari ikan, ke proffesi sebagai nelayan. Kebijakan yang muncul dalam frustrasi atau putus-asa pada umumnya tidak atau kurang bijak dan buah kebijakan yang telah diambil tidak lain adalah semakin bertambah frustrasi atau putus-asa. Dalam frustrasi dan kebersamaan itulah tiba-tiba Yesus yang telah bangkit dari mati menampakkan Diri kepada mereka.

Ketika anda sedang mengalami frustrasi atau kesepian  hendaknya tidak menyendiri, melainkan tetap menyatukan diri dengan saudara-saudari yang setiap hari hidup dan bekerja bersama. Siapa tahu dalam kebersamaan dengan saudara-saudari kita menerima pencerahan atas frustrasi dan kesepian kita. Atau jika tak mungkin menyatukan diri dengan saudara-saudari karena situasi atau kondisi, baiklah berusaha ‘back to basic’, kembali ke semangat awal. Kami percaya kita semua ketika mengawali proffesi, panggilan maupun tugas baru pasti dengan semangat yang begitu luhur, mulia, baik dan benar. Namun dalam perjalanan waktu karena pengaruh lingkungan semangat tersebut mengalami erosi atau kemunduran atau bahkan telah ditinggalkan.  

"Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh.", demikian sabda atau perintah Yesus yang telah bangkit dari mati kepada para rasul yang sedang frustrasi karena samalaman bekerja keras untuk menangkap ikan tak seekor ikan pun dapat ditangkap. Atas perintah Yesus mereka menebarkan jala dan akhirnya diperoleh ikan banyak sekali alias dalam waktu singkat berhasil baik dan sukses besar. Pengalaman ini kiranya merupakan ajakan atau peringatan bagi kita semua agar kita senantiasa hidup dan bertindak sesuai dengan iman, charisma atau spiritualitas, atau visi-misi, tidak seenaknya sendiri mengikuti selera pribadi atau kemauan diri sendiri.

Dalam hidup dan bekerja bersama senantiasa ada spiritualitas atau visi-misi yang selanjutnya dijabarkan kedalam pedoman atau tata tertib hidup dan bekerja bersama . Jika kita mendambakan sukses dalam hidup dan kerja sebagaimana kita cita-citakan atau impikan, hendaknya setia dan taat pada pedoman atau tata tertib yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Marilah meneladan Yesus yang datang ke dunia ini untuk ‘menggenapi’ alias melaksanakan apa yang tertulis dalam Hukum Taurat, bukan untuk meniadakannya. Keunggulan pengikut Yesus khususnya atau umat beriman pada umumnya hemat saya dalam penghayatan iman, pelaksanaan sabda atau perintah Tuhan dalam dan melalui cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimana pun dan kapan pun. Maka marilah kita saling membantu dan berlomba dalam penghayatan iman atau pelaksanaan tata tertib dan aturan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing.

"Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia. Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus, yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh. Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa.Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia” (Kis 5:29-32)

Kutipan di atas merupakan jawaban atau tanggapan para rasul terhadap larangan para pemuka Yahudi, agar para rasul berhenti mewartakan Kabar Baik, berita tentang Yesus yang wafat di  kayu salib dan dibangkitkan dari mati. Keberanian dan ketegaran para rasul merupakan wujud iman mereka kepada Yesus yang telah bangkit dari mati. Mereka akan tetap taat kepada Allah daripada kepada manusia, apalagi perintah dari manusia yang gila akan kuasa, kedudukan dan harta benda. Tanda bahwa orang hidup dan bertindak taat kepada Allah antara lain adalah buah tindakan atau dampak hidupnya adalah keselamatan jiwa, entah jiwa orang yang bersangkutan maupun jiwa orang lain. Maka kami berharap kepada mereka yang belum mentaati Allah kami harapkan segera bertobat atau memperbaharui diri.

Hendaknya kita semua sebagai umat beriman meneladan Bapa Abraham yang begitu taat kepada Allah, atau bagi yang percaya kepada Bunda Maria meneladan ketaatan Maria kepada Allah. Bapa Abraham maupun Bunda Maria adalah teladan hidup umat beriman. Gejala permusuhan yang masih terjadi di sana-sini maupun tindakan korupsi yang masih dilakukan banyak orang menunjukkan bahwa orang masih mengikuti selera atau gairah nafsu pribadi dan tidak mentaati Allah. Kami berharap kepada siapapun yang berpengaruh dalam hidup dan kerja bersama dapat menjadi teladan ketaatan kepada Allah, secara khusus kami berharap kepada para tokoh dan pemuka agama dapat menjadi teladan dan penggerak ketaatan kepada Allah.

Sebagai orang beriman kita semua juga dipanggil untuk menjadi saksi-saksi iman dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari, dan dengan demikian siapapun yang berjumpa dengan kita atau melihat kita akan tergerak untuk semakin beriman pula. Marilah kita ikuti dorongan dan bisikan Roh Kudus, yang berarti senantiasa membuka diri terhadap aneka kehendak baik yang berasal dari saudara-saudari kita, tanpa pandang agama atau pandang bulu. Kami ingatkan juga bahwa anda sekalian  segenap kaum awam memiliki tugas kerasulan utama dengan menjadi saksi iman dalam hidup ‘mendunia’, berpartisipasi dalam seluk beluk kehidupan dunia. Maka hendaknya saling mengingatkan dan meneguhkan dalam tugas pengutusan sebagai saksi iman ini.

“Aku akan memuji Engkau, ya TUHAN, sebab Engkau telah menarik aku ke atas, dan tidak memberi musuh-musuhku bersukacita atas aku. TUHAN, Engkau mengangkat aku dari dunia orang mati, Engkau menghidupkan aku di antara mereka yang turun ke liang kubur. Nyanyikanlah mazmur bagi TUHAN, hai orang-orang yang dikasihi-Nya, dan persembahkanlah syukur kepada nama-Nya yang kudus! Sebab sesaat saja Ia murka, tetapi seumur hidup Ia murah hati; sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai

(Mzm 30:2.4-6)

Page 2 of 25