You are here : Home Renungan

Kamis, 20 Oktober 2011

“Aku datang untuk melemparkan api ke bumi”

(Rm 6:19-23; Luk 12:49-53)

Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala! Aku harus menerima baptisan, dan bebetapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung! Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di  bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya." (Luk 12:49-53), demikian kutipan Warta Gembira hari  ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

  • Fungsi api adalah membakar, dan aneka jenis benda yang dapat terbakar dengan mudah akan segera ludes menjadi abu, sedangkan benda keras seperti besi, batu atau beton dapat meleleh, sedangkan logam mulia seperti emas terbakar akan semakin kelihatan keaslian atau kemurniannya. Maka jika Yesus “datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapa Aku harapkan, api itu menyala” berarti ia menghendaki pemurnian atau penjernihan iman kita. Iman mendasari hidup sejati dan mengatasi relasi darah atau daging, maka baiklah kita mawas diri perihal keimanan atau panggilan kita masing-masing, apakah kita setia pada iman atau panggilan. Sebagai orang yang telah dibaptis hendaknya kita setia pada janji baptis, sedangkan yang terpanggil secara khusus entah menjadi suami-isteri, pastror, bruder atau suster hendaknya setia pada janji atau kaul yang telah diikrarkan. Jauhkan semangat KKN (Kolusi, Korupsi dan Neptisme). Sekiranya terpaksa harus kolusi atau neoptisme tidak apa-apa asal tidak korupsi, karena dengan saling kenal lebih mendalam karena ikatan darah atau teman akan mendukung kerjasama yang baik asal tidak korupsi. Dengan kata lain kami harapkan kita semua serentak dan bekerjasama memberantas korupsi dalam bentuk apapun, karena korupsi merupakan bentuk pembusukan hidup bersama, sehingga hidup bersama tidak sedap dan nikmat lagi. Kami harap anak-anak sedini mungkin dibiasakan hidup jujur dan disiplin serta tidak melakukan tindakan amoral sahabatnya korupsi seperti menipu, berbohong, manipulasi dan seterusnya.
  • Sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal” (Rm 6:22), demikian peringatan Paulus kepada umat di Roma, kepada kita semua umat beriman. Sebagai umat beriman atau beragama kita semua diharapkan menjadi ‘hamba-hamba Allah’, yang berarti senantiasa taat dan setia pada kehendak atau perintah Allah, tidak hidup dan bertindak mengikuti selera pribadi atau keinginan/kemauan sendiri. Maka marilah kita semua setia dalam menjalankan aneka macam tata tertib atau kewajiban sebagai umat beragama atau beriman. Memang kesetiaan atau ketaatan pada perintah atau kehendak Tuhan antara lain menjadi nyata dalam kesetiaan atau ketaatan pada aneka tata tertib dalam hidup dan kerja bersama dimanapun dan kapanpun. Sekali lagi saya angkat apa itu setia: “setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat. Ini diwujudkan dalam perilaku tetap memilih dan mempertahankan perjanjian yang telah dibuat dari godaan-godaan lain yang lebih menguntungkan” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24-25). Pada masa yang diwarnai semangat materialistis dan hedonis saat ini memang banyak godaan-godaan yang dapat merongrong atau menghancurkan kesetiaan kita pada perjanjian yang telah kita buat. Godaan utama kiranya uang, karena ketika orang kaya akan uang atau dikuasai oleh uang, maka yang bersangkutan dengan mudah mengikuti godaan lainnya seperti kenikmatan seksual dengan berhubungan seksual dengan orang yang bukan pasangan hidupnya atau yang merayu muda-mudi untuk bergaul bebas sampai hubungan seksual. Orang dengan mudah menjadikan tubuhnya sebagai hamba dosa, dan ada kecenderungan  mengkormersielkan anggota tubuh atau memandang tubuh manusia sebagai kesatuan daging belaka. Marilah kita lawan atau atasi aneka godaan bersama-sama, saling membantu dan mendukung.

“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” (Mzm 1:1-3)

Rabu, 19 Oktober 2011

“Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan."

(Rm 6:12-18; Luk 12:39-48)

Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri akan datang, ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan." Kata Petrus: "Tuhaern, kamikah yang Engkau maksudkan dengan perumpamaan itu atau juga semua orang?" Jawab Tuhan: "Jadi, siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan kepada mereka pada waktunya? Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. Akan tetapi, jikalau hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba laki-laki dan hamba-hamba perempuan, dan makan minum dan mabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang yang tidak setia. Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut” (Luk 12:39-48), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Masing-masing dari kita memiliki tugas pengutusan atau kewajiban yang berbeda satu sama lain, tergantung dari fungsi atau jabatan atau pekerjaan kita masing-masing. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita bahwa apapun yang menjadi tugas pengutusan atau kewajiban kita hendaknya dilaksanakan atau dikerjakan dengan sungguh-sungguh, bekerja keras agar selesai pada waktunya. Ada runmor “Jika orang merasa memiliki banyak uang maka yang bersangkutan akan boros uang, jika orang merasa memiliki banyak waktu, maka yang bersangkutan akan boros waktu alias bekerja seenaknya sambil bermalas-malasan”. Marilah kita renungkan sabda Yesus ini, yaitu “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak diituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut”. Berapa banyak kita diberi atau dipercayakan marilah kita kerjakan dengan sungguh-sungguh, selesai pada waktunya atau sebagaimana diharapkan. Ingatlah dan hayatilah bahwa pertanggungjawaban dari apa yang kita lakukan akan dilakukan sewaktu-waktu, dan kita tahu tahu persis kapan waktunya, sebagaimana kita juga tidak tahu kapan akan meninggal dunia atau dipanggil Tuhan. Baiklah kita usahakan jika sewaktu-waktu kita dipanggil Tuhan atau meninggal dunia tidak meninggalkan beban atau masalah kepada mereka yang kita tinggalkan, karena semuanya sudah kita laksanakan atau kerjakan dengan baik, tuntas dan selesai.


· Janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.” (Rm 6:13), demikian peringatan Paulus kepada umat di Roma, kepada kita semua segenap umat beriman atau beragama. Kita dipanggil untuk memfungsikan anggota-anggota tubuh kita sebagai senjata kebenaran untuk melakukan apa yang benar, baik dan mulia, sesuai dengan kehendak Tuhan. Hendaknya jangan memfungsikan anggota tubuh kita untuk berdosa, entah itu berarti menyakiti orang lain atau menjual diri sebagai pemuas nafsu seks kepada orang lain. Ingatlah dan hayati bahwa tubuh kita adalah ‘bait Allah’, Allah hidup dan berkarya dalam tubuh kita yang lemah dan rapuh ini. Maka dengan ini kami berharap kepada mereka yang dengan mudah mencemarkan anggota-anggota tubuh, entah secara aktif maupun pasif, untuk bertobat. Secara khusus saya mengajak dan mengingatkan rekan-rekan muda-mudi untuk senantiasa menjadi semua anggota tubuh tetap suci, tidak tercemar sedikitpun. Kepada mereka yang dianugerahi kecantikan atau ketampanan, kami harapkan hidup dan bertindak dengan penuh syukur dan terima kasih, tidak menghadirkan atau menampilkan sedemikian rupa sehingga merangsang orang lain melakukan dosa. Dengan kata lain hendaknya kecantikan atau ketampanan tidak untuk dijual-belikan atau dikomersielkan. Entah laki-laki atau perempuan ketika melihat lawan jenisnya yang cantik atau tampan, hendaknya langsung memuji dan bersyukur kepada Tuhan, bukan untuk menguasainya melainkan melayaninya, artinya tidak pernah melukai sedikitpun.

“ Jikalau bukan TUHAN yang memihak kepada kita, -- biarlah Israel berkata demikian --jikalau bukan TUHAN yang memihak kepada kita, ketika manusia bangkit melawan kita, maka mereka telah menelan kita hidup-hidup, ketika amarah mereka menyala-nyala terhadap kita; maka air telah menghanyutkan kita, dan sungai telah mengalir melingkupi diri kita, maka telah mengalir melingkupi diri kita air yang meluap-luap itu. Terpujilah TUHAN yang tidak menyerahkan kita menjadi mangsa bagi gigi mereka!” (Mzm 124:1-6)

Selasa, 18 Oktober 2011

“Kerajaan Allah sudah dekat padamu”

(2Tim 4:10-17b; Luk 10:1-9)

“Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu.” (Luk 10:1-9), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Lukas, Pengarang Injil, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Lukas, pengarang Injil, merupakan salah satu teman seperjalanan Paulus dalam rangka berkeliling dunia untuk mewartakan Kerajaan Allah. Kutipan Warta Gembira di atas ini kiranya menggambarkan secara singkat pengalaman perjalanannya dalam menemani Paulus berkeliling dunia. Maka baiklah dalam rangka mengenangkan St.Lukas hari ini marilah kita mawas diri perihal penghayatan atau pelaksanaan tugas kita sebagai pewarta Kerajaan Allah, artinya mewartakan Allah yang meraja. “Katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu”, demikian perintah Yesus kepada para muridNya. Allah yang meraja hidup dan berkarya di mana saja dan kapan saja, maka panggilan untuk mewartakan Kerajaan Allah berarti dengan rendah hati melihat dan mengimani Allah yang hidup dan berkarya di dalam seluruh ciptaanNya. Dalam rangka melaksanakan tugas pengutusan ini kita diharapkan lebih mengandalkan diri pada Penyelenggaraan Ilahi daripada pada aneka sarana-prasarana duniawi, karena kita harus menghadapi aneka macam tantangan, hambatan dan masalah, “Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala”, demikan peringatan Yesus. Melaksanakan tugas pengutusan bersama dan bersatu dengan Tuhan kita pasti dapat mengatasi aneka tantangan, hambatan dan masalah serta dapat menyembuhkan orang sakit apapun. Bersama dan bersatu dengan Allah juga berarti senantiasa bersama-sama dengan rekan-rekan seperutusan. Maka marilah melaksanakan tugas pengutusan bersama-sama dengan semangat gotong-royong.


· Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya dan semua orang bukan Yahudi mendengarkannya” (2Tim 4:17), demikian kesaksian iman Paulus. Kesaksian iman Paulus ini kiranya dapat menjadi kesaksian kita juga dalam rangka melaksanakan tugas pengutusan untuk mewartakan Kerajaan Allah. Marilah kita hayati pendampingan Tuhan dengan mengimani kehendak baik saudara-saudari kita dimanapun dan kapanpun atau apa-apa yang baik, indah, mulia dan luhur di lingkungan hidup kita. Marilah kita imani bahwa orang yang berkehendak baik lebih banyak dari pada orang yang berkehendak jahat. Injil atau Warta Gembira diperuntukkan bagi seluruh bangsa di dunia, maka hendaknya kita tidak takut jika diutus kemanapun juga dalam rangka melaksanakan tugas pengutusan; hendaknya kita tidak takut berkata-kata perihal apa yang benar, baik, mulia, luhur dan indah kepada siapapun dan dimanapun. Tentu saja daari diri kita pribadi diharapkan baik adanya alias senantiasa berniat, berkehendak dan bersikap serta bertindak baik. Kita imani bahwa kebaikan pasti dapat mengalahkan kejahatan. Kita dapat belajar dari para pawang binatang buas yang dengan cintkasih mendekati dan bergaul dengan binatang buas dan akhirnya binatang yang menakutkan banyak orang dapat menjadi sahabat. Maka dekati dan sikapi orang, suasana atau tempat yang kelihatannya menakutkan dalam dan dengan cintakasih; siapapun atau apapun ketika didekati dan disikapi dengan dan dalam cintakasih pasti akan menjadi sahabat dan tidak menakutkan. Biasakan mendekati dan menyikapi segala sesuatu dalam dan oleh cintakasih, sebagai bukti bahwa Tuhan sungguh mendampingi hidup, perjalanan dan kesibukan kita.

“Segala yang Kaujadikan itu akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, dan orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau. Mereka akan mengumumkan kemuliaan kerajaan-Mu, dan akan membicarakan keperkasaan-Mu, untuk memberitahukan keperkasaan-Mu kepada anak-anak manusia, dan kemuliaan semarak kerajaan-Mu. Kerajaan-Mu ialah kerajaan segala abad, dan pemerintahan-Mu tetap melalui segala keturunan. TUHAN setia dalam segala perkataan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya” (Mzm 145:10-13)

Senin, 17 Oktober 2011

“Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri”

(Rm 4:20-25; Luk 12:13-21)

Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: "Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku." Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?" Kata-Nya lagi kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: "Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.” (Luk 12:13-21), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St Ignasius dari Antiokhia, uskup dan martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Anak-anak yang bersika mental materilistis ketika kedua orangtuanya telah meninggal dunia pada umumnya akan segera minta berbagi warisan, dan ada kemungkinan pembagian warisan tidak adil, sehingga ada yang protres serta minta bantuan orang lain atau mengeluh kepada Tuhan dalam doa-doanya, sebagaimana kata salah seorang dari orang banyak yang mendengarkan pengajaranNya berseru kepada Yesus “Guru, katakan kepada saudaraku supaya ia membagi warisan dengan aku”. Sikap mental anak-anak yang demikian itu kiranya merupakan warisan dari orangtuanya yang bersikap mental materilistis, maka kami berharap kepada para orangtua untuk tidak bersikap mental materialistis. Ingatlah dan sadari ketika meninggal dunia atau dipanggil Tuhan aneka harta benda atau uang anda tidak akan dibawa serta, dan tentu akan menimbulkan masalah di antara anak-anak anda jika anda sendiri bersikap mental materialistis. Maka kami berharap anda sebagai orangtua sungguh “kaya di hadapan Tuhan” artinya sungguh berbudi pekerti luhur, membaktikan diri sepenuhnya kepada Tuhan, bersikap social, dst.. Wariskan nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup yang membahagiakan dan menyelamatkan jiwa kepada anak-anak anda, bukan warisan berupa harta benda atau uang. Kebahagiaan sejati orangtua terjadi ketika anak-anaknya tumbuh berkembang menjadi ‘orang’, artinya hidup berbahagia dan damai sejahtera serta berbudi pekerti luhur karena didikan atau cintakasih dari orangtua. Marilah meneladan kemartiran St.Ignasius dari Antiokhia dengan sungguh hidup dan bertindak berdasarkan iman kita kepada Tuhan.


· Terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran” (Rm 4:20-22), demikian kata Paulus mengenangkan iman bapa Abraham. Kiranya dengan ini pula Paulus mengingatkan kita semua sebagai orang-orang beriman untuk tetap percaya dan setia pada janji Tuhan, meskipun untuk itu harus menghadapi aneka masalah, tantangan dan hambatan. Hendaknya kita tidak pernah bimbang menghadapi aneka tantangan, hambatan atau masalah yang muncul karena kesetiaan pada iman, panggilan atau tugas pengutusan, melainkan tetaplah gembira dan bergairah atau bersemangat, karena dengan demikian anda akan memiliki kemampuan yang diteguhkan oleh Tuhan untuk mengatasi masalah, tantangan atau hambatan tersebut. Jika kita tetap gembira dan bergairah, maka kinerja syaraf dan metabolism darah kita berjalan secara baik dan optimal, sehingga kita memiliki ketabahan dan ketahanan dalam menghadapi tantangan, hambatan atau masalah. Sebagai orang beriman tidak alasan untuk tidak gembira atau bergairah, karena Tuhan senantiasa menyertai dan mendampingi atau menjiwai diri kita yang lemah dan rapuh ini. Wujudkan iman anda kepada Tuhan dengan hidup dan bertindak dalam Tuhan, sehingga bersama dan bersatu dengan Tuhan segala sesuatu menjadi mungkin, dapat kita kerjakan atau atasi.

“Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu, -- seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus -- untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita, untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan mengingat akan perjanjian-Nya yang kudus, yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapa leluhur kita, bahwa Ia mengaruniai kita, supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut, dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita” (Luk 1:69-75)

Minggu Biasa XXIX, 16 Oktober 2011

Bacaan 1: Yes 45:1.4-6;

Bacaan 2: 1Tes 1:1-5b;

Bacaan Injil: Mat 22:15-21

"Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."

Orang Farisi memang sungguh licik seperti ular namun tidak tulus seperti burung merpati, dengan kata lain mereka pandai tetapi jahat. Dengan kelicikan dan kejahatannya mereka mencoba menjebak Yesus untuk menjatuhkanNya dengan bertanya perihal kewajiban membayar pajak. “Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” (Mat 22:1-17), demikian pertanyaan jebakan orang-orang Farisi terhadap Yesus. Jika Yesus menjawab ‘jangan membayar pajak’, maka berarti Yesus tidak taat pada tata tertib hidup bermasyarakat, sedangkan jika Yesus menjawab “bayarlah pajak” bersama Ia sama dengan mereka, yaitu orang-orang yang taat kepada penjajah atau perampas. Maka dengan cerdas Yesus menanggapi jebakan jahat mereka "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah." (Mat 22:21). Marilah kita renungkan jawaban cerdas dan cemerlang dari Yesus ini.

”Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah." (Mat 22:21)

Kaisar atau pemimpin Negara memiliki tugas dan kewajiban hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, dan mendatangi atau mengujungi warganya kiranya jarang sekali atau tak pernah mengunjunginya. Wewenang atau kuasanya terbatas pada daerah atau wilayah tertentu atau suku atau bangsa tertentu. Sedangkan Allah wilayah kerjaNya tidak terbatas oleh ruang dan waktu, melainkan kapan saja dan dimana saja alias terus menerus bekerja dalam dan melalui seluruh ciptaanNya. Sebagai warganegara atau manusia kita berurusan dengan kaisar serta para pembantunya kadang-kadang saja, sedangkan sebagai manusia kita berurusan terus menerua dengan Allah. Dengan kata lain sebenarnya waktu dan tenaga kita lebih banyak berurusan dengan Allah dari pada dengan kaisar atau pemimpin Negara beserta para pembantunya. Maka marilah pertama-tama waktu dan tenaga kita lebih terarahkan kepada Allah dari pada kaisar atau pemimpin Negara beserta para pembantunya.Secara khusus saya mengajak siapapun yang langsung bergaul atau melayani sesama manusia, misalnya para guru atau pendidik serta para pejabat di akar rumput.

Para guru/pendidik hendaknya lebih memperhatikan anak-anak atau para peserta didik daripada atasan mereka seperti kepala sekolah, pengurus yayasan, pejabat pemerintah dalam aneka tingkatan di bidang pendidikan dst.. Serahkan waktu dan tenaga anda sepenuhnya kepada anak-anak atau para peserta didik ketika anda sedang bertugas di sekolah; takutlah jika anak-anak atau para peserta didik tidak tumbuh berkembang menjadi cerdas beriman dan jangan takut kepada para pimpinan anda di tingkat apapun. Hal yang senada kami harapkan dari para orangtua terhadap anak-anak yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka: hendaknya orangtua sungguh berani boros waktu dan tenaga bagi anak-anaknya, lebih-lebih dan terutama selama masa balita anak-anak. Memang meninggalkan anak-anak balita kemudian diseerahkan kepada pembantu atau perawat terasa lebih mudah, karena mereka tak akan protes, namun anda akan dirugikan di kemudian hari karena anak-anak merasa kurang dikasihi oleh orangtuanya.

Yang kami maksudkan para pejabat di akar rumput tidak lain adalah lurah beserta para pembantunya, yang pada umumnya dipilih oleh rakyatnya serta dekat dengan rakyat yang telah memilihnya dan kemudian harus dipimpinnya. Dan tentu saja kami juga berharap kepada para pejabat di atasnya sampai pada presiden. Hendaknya sebagai pejabat sungguh setia dalam mengabdi atau melayani rakyat. Ingatlah dan sadari bahwa anda digaji dan karya anda dibeayai oleh dana yang terkumpul dari pajak, yang notabene dana yang berasal dari rakyat. Para pejabat harus berpihak dan bersama dengan rakyat jika mendambakan masyarakatnya damai, sejahtera dan makmur. Para pejabat hendaknya jangan bersikap mental Farisi, yaitu hanya mencari keuntungan atau kenikmatan pribadi, untuk memperkaya diri sendiri, keluarga maupun kerabatnya. Kesuksesan kinerja dan pelayanan para pejabat berupa kesejahteraan rakyat. Rakyat tidak sejahtera berarti para pejabat bejat moralnya,.

Kami selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu semua dan menyebut kamu dalam doa kami”(1Tes 1:2)

Apa yang dikatakan oleh Paulus kepada umat di Tesalonika di atas ini hendaknya menjadi pedoman cara hidup dan cara bertindak para pemimpin, pengajar atau pembina di tingkat atau di bidang apapun. Pertama-tama hendaknya sungguh bersyukur dan berterima kasih karena telah terpilih dalam fungsi pelayanan tersebut. Wujudkan syukur dan terima kasih anda dengan menjalankan fungsi pelayanan tersebut sebaik dan seoptimal mungkin dalam semangat pelayanan. Selain melayani secara langsung hendaknya setiap hari dalam doa-doa anda juga mendoakan mereka yang anda ajar atau bina atau pimpin. Mendoakan orang lain berarti juga mengasihi atau memperhatikan mereka.

Tentu saja kami juga berharap kepada segenap orangtua untuk berpedoman pada kata-kata Paulus di atas. Pertama-tama hendaknya suami-isteri saling bersyukur dan berterima kasih karena Tuhan telah mempertemukan anda berdua untuk hidup bersama sebagai suami-isteri, saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tenaga atau tubuh. Kemudian hendaknya bersyukur dan berterima kasih karena telah dianugerahi anak-anak oleh Tuhan. Syukur dan terima kasih orangtua diwujudkan dalam mendidik anak-anaknya agar menjadi orang yang sungguh beriman atau cerdas spiritual. Anak-anak selama masa balita hendaknya diberi gizi yang baik dan memadai, entah secara material maupun spiritual. Secara material berarti anak-anak diberi makanan dan minuman yang bergizi dan variatif sesuai dengan pedoman ‘empat sehat lima sempurna’; bayi hendaknya diberi ASI secara memadai dalam jangka waktu yang cukup. Sedangkan secara spiritual antara lain berani memboroskan waktu dan tenaga bagi anak-anak, dan ketika berjauhan dari anak-anak karena tugas atau pekerjaan hendaknya mendoakannya.

Saling bersyukur, berterima kasih serta mendoakan hendaknya juga kita hayati sebagai umat beragama atau beriman. Pertama-tama antar kakak-adik dalam satu keluarga hendaknya saling bersyukur, berterima kasih dan mendoakan. Sebagai umat beriman atau beragama kami harapkan kita saling bersyukur, berterima kasih dan mendoakan tanpa membedakan agama, suku atau ras, sehingga terjadilah kerukunan umat beriman atau beragama yang menarik, mempesona dan memikat. Sebagai umat beriman atau beragama marilah kita renungkan dan hayati seruan Yesaya ini: “Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah. Aku telah mempersenjatai engkau, sekalipun engkau tidak mengenal Aku, supaya orang tahu dari terbitnya matahari sampai terbenamnya, bahwa tidak ada yang lain di luar Aku. Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain” (Yes 45:5-6).

Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi! Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa. Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat dari pada segala allah. Sebab segala allah bangsa-bangsa adalah hampa, tetapi TUHANlah yang menjadikan langit” (Mzm 96:1.3-5)

Page 10 of 25