You are here : Home Renungan

Sabtu, 12 November 2011

“Adakah Ia mendapati iman di bumi?"

(Keb 18:14-16; 19:6-9; Luk 18:1-8)

Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Kata-Nya: "Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku." Kata Tuhan: "Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?" (Luk 18:1-8), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Yosafat, uskup dan martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Berdoa merupakan bagian hidup kita sebagai umat beriman atau beragama. Saudara-saudari kita, umat Muslim, memiliki kebiasaan berdoa lima kali sehari, sementara itu kita semua kiranya memiliki kebiasaan berdoa harian, entah itu doa pagi atau doa malam dst.. Berdoa merupakan ungkapan iman kita bahwa Tuhan senantiasa menyertai dan mendampingi perjalanan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita. St Yosafat yang kita kenangkan hari ini dikenal sebagai gembala umat yang berusaha keras mempersatukan umat Allah, sehingga menghadapi perlawanan dari mereka yang tidak senang dan kemudian membunuhnya. Ia adalah korban dan martir pemersatu umat Allah. Hemat saya doa juga mempersatukan kita semua sebagai umat Allah, karena kita sama-sama berdoa kepada Allah Yang Maha Esa. Persaudaraan atau persatuan sejati antara umat beragama juga merupakan wujud iman kita kepada Allah Yang Maha Esa. Ingatlah, sadari dan hayati bahwa masing-masing dari kita adalah korban persaudaraan atau persatuan sejati, yaitu persatuan antara bapak dan ibu kita masing-masing, yang saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tubuh, sehingga bersetubuh dan ada kemungkinan menghasilkan buah kesatuan, antara lain kita ini. Sebagai ‘buah kesatuan’ marilah kita tunjukkan dalam hidup sehari-hari dengan mengusahakan, memperdalam dan memperteguh persatuan dan persaudaraan antar umat beriman atau beragama, antara seluruh bangsa di dunia.

Sebab sementara sunyi senyap meliputi segala sesuatu dan malam dalam peredarannya yang cepat sudah mencapai separuhnya, maka firman-Mu yang mahakuasa laksana pejuang yang garang melompat dari dalam sorga, dari atas takhta kerajaan ke tengah tanah yang celaka. Bagaikan pedang yang tajam dibawanya perintah-Mu yang lurus, dan berdiri tegak diisinya semuanya dengan maut; ia sungguh menjamah langit sambil berdiri di bumi” (Keb 18:14-16). Firman Tuhan “laksana pejuang yang garang melompat dari dalam sorga…Bagaikan pedang yang tajam dibawanya perintahMu yang lurus”, inilah yang kiranya baik kita renungkan atau refleksikan bersama. Sebagai orang beriman dan beragama sungguh-sungguh kiranya percaya kepada semua firman Tuhan. Percaya berarti suka membacakan dan mendengarkan, dan karena Tuhan maha segalanya jika kita sungguh mendengarkan firmanNya maka kita akan dibentuk dan dibina. Dengan kata lain marilah kita sadari dan hayati bahwa firman Tuhan sungguh mendidik dan membina diri kita untuk semakin beriman. Apa yang saya kutipkan dan refleksikan setiap hari adalah firman Tuhan dan saya kirimkan kepada anda semua dengan harapan kita semua semakin beriman, maka semoga apa yang saya sharingkan berguna bagi anda semua untuk semakin beriman. Para imam dan anggota lembaga hidup bakti kiranya setiap hari juga mendengarkan firman Tuhan, entah dalam Perayaan Ekaristi maupun Ibadat Harian. Bacaan singkat dalam Ibadat Harian merupakan ayat-ayat terpilih, maka hendaknya sungguh direnungkan dan kemudian dihayati dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari dimana pun dan kapan pun. Pada minggu-minggu atau hari-hari terakhir dalam Kalendarium Liturgi ini kita diajak mawas diri: sejauh mana iman kita telah tumbuh-berkembang, makin kuat, makin handal, atau kita semakin dikasihi oleh Tuhan dan sesama manusia dimana pun dan kapan pun, apakah kita semakin menjadi pendoa yang benar.

“TUHAN, dengarkanlah doaku, dan biarlah teriakku minta tolong sampai kepada-Mu. Janganlah sembunyikan wajah-Mu terhadap aku pada hari aku tersesak. Sendengkanlah telinga-Mu kepadaku; pada hari aku berseru, segeralah menjawab aku” (Mzm 102:2-3)

Rabu, 09 November 2011

“Jangan kamu membuat rumah BapaKu menjadi tempat berjualan."

(1Kor 3:9c-11.16-17; Yoh 2:13-22)

“ Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem. Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ. Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: "Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan." Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: "Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku." Orang-orang Yahudi menantang Yesus, katanya: "Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?" Jawab Yesus kepada mereka: "Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali." Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: "Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?" Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri. Kemudian, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, barulah teringat oleh murid-murid-Nya bahwa hal itu telah dikatakan-Nya, dan mereka pun percayalah akan Kitab Suci dan akan perkataan yang telah diucapkan Yesus” (Yoh 2:13-22), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran hari ini saya sampaikan catatan sederhana sebagai berikut:

· Jiwa atau sikap mental materialistis telah merasuki hidup orang beriman atau beragama, termasuk hidup Gereja Katolik. Di dalam lingkungan Gereja Katolik jika dicermati kiranya dapat dikatakan bahwa ada sementara imam, bruder, suster atau tokoh paroki maupun karya pastoral Gereja Katolik, yang sungguh bersikap mental materialistis. Kebanggaan keberhasilan pelayanan atau karyanya ada pada harta benda atau uang: orang bangga jika dapat menumpuk dana dalam jumlah besar, bangga dengan bangunan gedung serta sarana prasarana modern sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan kata lain ada orang berbisnis atau berdagang dalam karya pelayanan pastoral. "Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.", demikian sabda Yesus yang sungguh keras terhadap orang-orang yang menjadi tempat ibadah untuk berdagang. Maka dengan ini kami mengajak semua umat beragama untuk menegakkan fungsi tempat ibadatnya masing-masing; berantas semua sikap mental dan tindakan bisnis atau berdagang di lingkungan hidup umat beragama maupun tempat ibadat. Marilah kita fungsikan aneka macam harta benda dan uang sebagai sarana yang mendukung kita agar semakin beribadah atau berbakti kepada Tuhan. Kami berharap para pemimpin umat beragama maupun para pembantunya dapat menjadi teladan hidup sederhana, jauh dari sikap mental materialistis.


· Kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah. Sesuai dengan kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya” (1Kor 3:9c-10).

Paulus memang telah menjadi ‘ahli bangunan manusia’, yang meletakkan dasar-dasar hidup baik dan bermoral pada sekian banyak orang yang telah mendengarkan pewartaannya. Sebagai umat Katolik, orang yang telah dibaptis, pada diri kita masing-masing juga telah diletakkan dasar, yaitu rahmat pembaptisan, dan kita diharapkan terus membangun di atas dasar tersebut, artinya mengisi dan mewujudkan rahmat baptisan dalam hidup sehari-hari dengan setia menghayati janji baptis, yaitu hanya mau mengabdi Tuhan saja serta menolak semua godaan setan. Marilah kita jadikan diri kita ‘bangunan Allah’ yang indah, menarik, mempesona dan memikat, sehingga banyak orang tergerak untuk mendekat dan bersahabat. Semoga tidak hanya kecantikan atau ketampanan tubuh/phisik saja yang menarik, mempesona dan memikat, melainkan lebih-lebih dan terutama adalah kecantikan atau ketampanan hati, jiwa dan akal budi . Marilah bekerjasama dan bekerja keras mempercantik hati dan jiwa kita, antara lain dengan senantiasa melakukan apa yang baik dan benar , menyelamatkan dan membahagiakan. Marilah kita saling mendoakan agar kita semua tetap dalam keadaan baik, benar dan suci, layak disebut ‘bangunan Allah’ dimana orang yang melihat saya akan tergerak untuk berbakti kepada Allah serta berbuat baik kepada saudara-saudarinya. Dengan rendah hati pada hari Pesta Pemberkatan Basilik Lateran, Gereja pribadi Paus, ini doakanlah saya, orang yang lemah, rapuh dan berdosa ini boleh menjadi imam yang layak dan setia untuk melayani umat Allah dimanapun dan kapanpun.

Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut;.. Kota Allah, kediaman Yang Mahatinggi, disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai. Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang; Allah akan menolongnya menjelang pagi.”

(Mzm 46:2-3.5-6)

Selasa, 08 November 2011

(Keb 2:23-3:9; Luk 17:7-10)

"Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan." (Luk 17:7-10), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Ketaatan dan kesetiaan itulah dua keutamaan yang hendaknya kita refleksikan sesuai dengan Warta Gembira hari ini. “Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan”, inilah kata-kata yang hendaknya menjadi pegangan hidup dan cara bertindak kita kapan pun dan dimana pun. “Aku sendiri pun berkeinginan agar kalian lengkap sempurna dalam setiap keutamaan dan anugerah rohani. Namun, pertama-tama agar kalian menjadi unggul dalam keutamaan ketaatan”, demikian kutipan surat Ignatius Loyola kepada para pengikutnya. Taat satu sama lain akan menghasilkan atau berbuahkan kehidupan bersama yang membahagiakan, menarik dan mempesona bagi orang lain; kehidupan bersama dijiwai oleh kesatuan hati dan budi, sehingga segar dan sehat. Kita dapat belajar dari anggota-anggota tubuh kita yang taat satu sama lain, dan masing-masing anggota setia di tempatnya masing-masing. Atau kita juga dapat bercermin pada para hamba, pelayan atau pembantu rumah tangga/komunitas yang baik, yang senantiasa setia dan taat melaksanakan tugas pengutusan apapun yang diberikan kepadanya. Jika mencermati apa yang terjadi di jalanan, yang dilakukan oleh para pengendara sepeda motor maupun mobil atau pejalan kaki, rasanya penghayatan keutamaan ketaatan dan kesetiaan masih memprihatinkan, hal itu nampak dalam pelanggaran rambu-rambu lalu lintas. Bukankah apa yang terjadi di jalanan merupakan cermin kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara? Kami harap ketaatan dan kesetiaan ini sedini mungkin dibiasakan dan dididikkan pada anak-anak dan kemudian diperdalam dan diperkembangkan di sekolah-sekolah.


· “Allah telah menciptakan manusia untuk kebakaan, dan dijadikan-Nya gambar hakekat-Nya sendiri. Tetapi karena dengki setan maka maut masuk ke dunia, dan yang menjadi milik setan mencari maut itu” (Keb 2:23-24). Kita semua dipanggil untuk setia pada jati diri kita sebagai manusia, yaitu sebagai ‘gambar Allah’. Dengan kata lain cara hidup dan cara bertindak kita mencerminkan Allah yang telah menciptakan kita. Sebagai gambar Allah kita diharapkan memiliki dan menghayati ‘budaya kehidupan’ bukan ‘budaya kematian’, kehadiran, sepak terjang dan kesibukan kita senantiasa menggairahkan dan memberdayakan atau menghidupkan saudara-saudari kita maupun lingkungan hidup dimana kita hadir atau berada. Kebalikan dari ‘budaya kehidupan’ adalah ‘budaya kematian’ dimana orang hidup dan bertindak sesuai dengan dorongan setan, dan dengan demikian cara hidup dan cara bertindaknya merusak dirinya sendiri, saudara-saudarinya maupun lingkungan hidupnya; yang bersangkutan menuju ke kebinasaan atau kehancuran. Sebagai umat beriman atau beragama kita semua dipanggil untuk ‘berbudaya kehidupan’ yang menuju ke kebakaan hidup mulia selamanya di sorga. Kami berharap ‘budaya kehidupan’ ini sedini mungkin dibiasakan pada anak-anak di dalam keluarga dengan teladan konkret para orangtua. Berbudaya kehidupan berarti hidup dan bertindak sesuai dengan Roh Kudus dan berbuahkan keutamaan-keutamaan seperti “sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23). Maka para orangtua diharapkan menjadi teladan dalam penghayatan keutamaan-keutamaan di atas ini, antara lain yang mungkin baik kita hayati dan sebarluaskan pada masa ini adalah kebaikan, artinya kapanpun dan dimanapun kita baik adanya serta senantiasa berbuat baik kepada orang lain. Apa yang disebut ‘baik’ senantiasa berlaku secara universal, kapan saja dan dimana saja.

Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong; wajah TUHAN menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan kepada mereka dari muka bumi. Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya.TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.”

(Mzm 34:16-19)

H.R. Semua Orang Kudus, 01 Novembe 2011

Bacaan 1: Why 7:2-4.9-14;

Bacaan 2: 1Yoh 3:1-3;

Bacaan Injil: Mat 5:1-12a

 

“Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah”

Kiranya kita semua tahu atau kenal dengan Ibu Teresa dari Calcuta, entah melalui bacaan buku atau media cetak atau media elektronik. Ia adalah seorang biarawati yang tersentuh dan tergerak hatinya atas penderitaan jutaan manusia yang miskin dan berkekurangan serta kurang menerima perhatian; ia meninggalkan kemegahan biara dan sekolah yang diasuhnya dan kemudian ‘menggelandang’ di jalanan untuk menemani orang yang hampir mati atau sakit, bayi yang dibuang oleh yang melahirkannya, memberi makan apa adanya kepada mereka yang kelaparan dst.. Pribadi dan karyanya begitu memikat, mempesona dan menarik banyak orang, dan pada suatu saat diwawancari oleh seorang wartawan TIME. “Ibu menurut kata banyak orang ibu adalah orang suci atau santa yang masih hidup. Sebenarnya orang suci itu semacam apa ibu?”, demikian kurang lebih pertanyaan sang wartawan kepada Ibu Teresa. Dan dengan rendah hati dan mantap Ibu Teresa menjawab:”Orang suci itu bagaikan lobang kecil dimana orang dapat mengintip siapa itu Tuhan, siapa itu manusia dan apa itu harta benda”. Memang dari cara hidup dan cara bertindak ibu Teresa kita dapat mendalami kebenaran perihal ‘siapa Tuhan, siapa manusia dan apa harta benda’.  Maka marilah pada Hari Raya Semua Orang Kudus hari ini kita mawas diri, entah dengan cermin ibu Teresa dari Calcuta, santo-santa pelindung kita masing-masing atau bacaan-bacaan hari ini. Perkenankan saya merefleksikan secara sederhana apa yang tertulis dalam Injil hari ini.

"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” (Mat 5:3)

Miskin di hadapan Allah” berarti menggantungkan atau mengandalkan diri sepenuhnya kepada Allah, menyadari dan menghayati bahwa hidup dan segala sesuatu yang kita miliki, kuasai dan nikmati sampai saat ini adalah anugerah Allah, cara hidup dan cara bertindaknya dikuasai atau dirajai oleh Allah sehingga hidup dan bertindak menurut kehendak Allah. Dalam keadaan atau kondisi dan situasi apapun orang yang ‘miskin di hadapan Allah’ senantiasa bergembira dan berbahagia, karena bersama dan bersatu dengan Allah, dan tidak takut menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan dalam penghayatan iman. Ia dapat menemukan Allah dalam segala sesuatu atau menghayati segala sesuatu dalam Allah.

Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.” (Mat 5:4)

Menemukan Allah dalam segala sesuatu atau menghayati segala sesuatu dalam Allah” memang butuh perjuangan dan pengorbanan alias siap sedia untuk berdukacita. Berdukacita berarti ada yang meninggal atau ditinggalkan, dan tentu saja dalam hal ini bukan orang, melainkan keinginan, nafsu, harapan atau dambaan pribadi yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita.

Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia.” (Yoh 16:20-21), demikian sabda Yesus. Marilah sabda Yesus ini kita renungkan, refleksikan dan hayati dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari.

Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.” (Mat 5:5)

Buah atau dampak ketahanan dan ketabahan dalam berdukacita atau penderitaan adalah lemah lembut, sabar dan tekun, tidak kasar dan tidak terburu-buru dalam menghadapi segala sesuatu. Yang bersangkutan juga hidup membumi, memperhatikan hal-hal sederhana dengan penuh cintakasih, ia mengerjakan hal-hal sederhana dan kecil dengan kasih yang besar. Kami percaya bahwa pada umumnya rekan-rekan perempuan atau para ibu lebih lemah lembut dari pada rekan-rekan laki-laki atau para bapak, maka kami berharap rekan-rekan perempuan atau para ibu dapat menjadi teladan dalam kelemah lembutan dalam hidup sehari-hari di dalam lingkungan hidup maupun lingkungan kerjanya, dan kepada rekan-rekan laki-laki atau para bapak hendaknya tidak malu-malu belajar lemah lembut juga dari rekan-rekan perempuan atau para ibu.

Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan” (Mat 5:6).

Perkembangan dari lemah lembut adalah ‘lapar dan haus akan kebenaran’, yang bersangkutan sungguh membuka diri sepenuhnya terhadap aneka macam nasihat, saran, ajaran , informasi dst.. dalam rangka menemukan kebenaran. Kebenaran sejati antara lain adalah bahwa kita adalah orang-orang lemah, rapuh dan berdosa yang dikasihi dan dipanggil oleh Allah untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatanNya. Maka yang bersangkutan sungguh menghayati diri sebagai yang diperhatikan, banyak orang memperhatikannya, dan dengan demikian ia sungguh dipuaskan dengan berbagai bentuk perhatian.

Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.” (Mat 5:7)

Orang yang menghayati diri sebagai yang diperhatikan banyak orang berarti kaya akan kemurahan hati, maka yang bersangkutan akan bermurah hati juga kepada orang lain atau siapapun juga. Murah hati berarti hatinya dijual murah alias siapapun boleh minta diperhatikan atau ia memperhatikan siapapun tanpa pandang bulu. Masing-masing dari kita kiranya telah menerima kemurahan hati Allah, terutama dan pertama-tama melalui orangtua kita masing-masing, khususnya ibu kita yang telah mengandung dan melahirkan serta membesarkan dan  mengasuh kita dengan sepenuh hati. Maka selayaknya sebagai umat beriman kita saling bermurah hati atau memperhatikan.

Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” (Mat 5:8)

Buah bermurah hati adalah suci atau  “sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci” (1Yoh 3:2-3). Orang suci adalah “orang yang menaruh pengharapan kepadaNya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci”. Orang suci mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah, sehingga semakin dikasihi oleh Allah dan sesamanya. Ia sungguh menjadi ‘kekasih Allah’

Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” (Mat 5:9)

“Menjadi kekasih Allah” secara otomatis akan “membawa damai” dimana pun ia berada atau kemana pun ia pergi, terutama damai di hati. Bersama dan bergaul dengan ‘kekasih Allah’ akan terasa sejuk, damai dan tenteram serta aman. Perdamaian menjadi dambaan atau kerinduan semua orang, maka marilah kita sebagai orang beriman atau kekasih Allah senantiasa menjadi saksi atau teladan perdamaian serta menyebarluaskan perdamaian kepada siapapun dan dimanapun . “There is no peace without justice, there is no justice without forgiveness” (= Tiada perdamaian tanpa keadilan, tiada keadilan tanpa kasih pengampunan), demikian pesan Paus Paulus II memasuki millennium ketiga yang sedang kita jalani ini. Pembawa damai berarti senantiasa mengampuni siapapun yang telah menyalahi atau menyakitinya.

Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” (Mat 5:10)

Memang ketika kita disalahi atau disakiti segera mengampuninya dan tidak balas dendam , kita akan merasa ‘teraniaya’. Baiklah jika demikian adanya marilah kita memandang dan menatap Dia yang tergantung di kayu salib. Untuk mewujudkan Kerajaan Allah/Sorga atau Allah yang meraja di dunia ini memang harus melalui penderitaan bahkan sampai wafat di kayu salib. Teraniaya atau menderita karena kebenaran adalah jalan keselamatan atau kebahagiaan sejati, maka nikmati saja apa adanya.

Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat” (Mat 5:11)

Tibo kebrukan ondho” = Jatuh tertimpa tangga, demikian kata pepatah Jawa. Ada kemungkinan dalam keadaan teraniaya dan menderita karena kebenaran kita masih dicela dan difitnah. Sekali lagi nikmati dan hayati aneka celaan dan fitnahan dalam dan bersama Tuhan, meneladan Yesus, Penyelamat Dunia, yang telah mengalaminya.

TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai. "Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?" "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan” (Mzm 24:1-4b)

Minggu Biasa XXXI, 30 Oktober 2011

Bacaan 1: Mal 1:14b-2:2b.8-10;

Bacaan 2: 1Tes 2:7b-9.13;

Bacaan Injil: Mat 23:12

“ Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.”

Kerajaan Allah berbeda atau bertolak bertolak belakang dengan Kerajaan Dunia. Para raja, presiden, perdana menteri atau kepala Negara di dunia ini pada umumnya gila harta benda, kedudukan/jabatan dan kehormatan duniawi dan jika perlu melakukan KKN (Kolusi, Korupsi dan Nepotisme). Mungkin yang melakukan korupsi bukan pemimpin yang bersangkutan, melainkan isterinya/suaminya, anak-anaknya atau kerabat dekatnya. Ketika mereka ketahuan melakukan korupsi maka pemimpin yang bersangkutan berusaha melindungi dan menutup-nutupi dengan berbagai cara dan usaha. Mereka juga tak segan-segan menyingirkan orang-orang yang menghalangi cita-cita atau dambaannya, yang hanya mencari keuntungan pribadi, keluarga atau kerabat/kelompoknya. Berbeda dengan pemimpin agama yang sejati dan baik, dimana dalam menghayati fungsi kepemimpinannya dengan semangat melayani atau mengabdi, sebagaimana diusahakan oleh para pemimpin Gereja Katolik (Paus dan para Uskup), yang menyatakan diri sebagai hamba yang hina dina, tidak gila harta benda, kedudukan/jabatan dan kehormatan duniawi. Sabda Yesus hari ini mengajak dan mengingatkan kita semua umat beriman atau  beragama, terutama para pemimpinnya di tingkat dan bidang kehidupan bersama macam apapun, untuk hidup dan bertindak dengan semangat melayani atau mengabdi.

Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.” (Mat 23:11).

Berrefleksi perihal melayani kiranya kita dapat bercermin pada pelayan yang baik entah di dalam keluarga/komunitas biara atau pastoran atau tempat kerja. Cirikhas pelayan yang baik antara lain datang/bangun lebih lebih awal dan pulang/istirahat lebih kemudian daripada anggota keluarga/komunitas atau para pekerja di tempat kerja, imbal jasa kecil, senantiasa ceria, tanggap dan cekatan, berusaha membahagiakan yang dilayani dst.. Jika pelayan tidak memiliki cirikhas tersebut diatas pada umumnya langsung dipecat tanpa pesangon, karena yang bersangkutan tidak layak menjadi pelayan.

Berusaha membahagiakan yang dilayani itulah yang kiranya baik kita refleksikan atau renungkan serta hayati.  Maka pertama-tama kami mengajak dan mengingatkan siapapun yang merasa ‘terbesar’ dalam kehidupan dan kerja bersama untuk senantiasa berusaha membahagiakan orang lain yang harus dilayani atau yang membantu tugas dan fungsinya. Cirikhas pemimpin yang baik dan sukses dalam melaksanakan fungsinya ialah semua yang dipimpinnya atau menjadi bawahannya hidup dalam damai sejahtera baik lahir maupun batin, phisik maupun spiritual. Tugas membahagiakan orang lain juga menjadi tugas semua umat beriman atau beragama, maka marilah kita hidup dan bertindak saling membahagiakan dan menyelamatkan terutama kebahagiaan atau keselamatan jiwa.

Megingat dan memperhatikan bahwa mayoritas dari kita adalah hidup berkeluarga alias menjadi orangtua dari anak-anak yang dianugerahkan oleh Tuhan, maka dengan ini kami mengingatkan dan mengajak semua orangtua untuk senantiasa berusaha membahagiakan anak-anaknya. Kebahagiaan sejati orangtua terkait dengan anak-anaknya hemat saya adalah ketika anak-anak tumbuh berkembang menjadi orang yang sehat dan cerdas beriman. Pelayan senantiasa mengasihi yang dilayani dengan memboroskan waktu dan tenaga mereka bagi yang dilayani. Maka kami berharap kepada orangtua untuk dengan rela dan besar hati memboroskan tenaga dan waktu bagi anak-anaknya, terutama bagi anak-anak selama masa balita.

Pemborosan waktu dan tenaga sebagai wujud kasih pelayanan kiranya juga baik untuk dihayati oleh para pemimpin di dalam kehidupan atau kerja dimanapun dan kapanpun. Sekali lagi kami ajak dan ingatkan hendaknya para pemimpin karya atau hidup bersama ‘turba’/turun ke bawah untuk menyapa dan memberi perhatian kepada anggota  atau bawahannya, tidak duduk manis di kamar ambil minum-minum atau melamun. Marilah meneladan Yesus “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Fil 2:6-7).  Kami juga mengingatkan para guru atau pendidik di sekolah-sekolah untuk mendidik dan mendampingi para peserta didik dalam hal semangat melayani, misalnya sering mengajak peserta didik untuk hidup dan bekerja sama dengan para pemulung, ‘live in’, mengunjungi panti asuhan dst..

Sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya. Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi” (1 Tes 2:7b-8)

Apa yang dikatakan oleh Paulus kepada umat di Tesalonika di atas ini hendaknya juga menjadi kata-kata yang menjadi tindakan bagi para pemimpin atau atasan dalam hidup dan kerja bersama dimanapun dan kapanpun, serta dalam bentuk apapun. Para ibu yang pernah atau sedang ‘mengasuh dan merawati anaknya” kiranya dapat mensharingkan pengalamannya kepada siapapun yang berfungsi sebagai pemimpin atau atasan. Ada lagu yang menggambarkan kasih ibu kepada anak-anaknya, yaitu “Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagaikan sang surya menyinari dunia”.

Bagai sang surya menyinari dunia”, itulah yang kiranya baik kita renungkan, refleksikan dan hayati. Surya atau matahari yang menyinari dunia selain memberi terang juga menghidupi dan menggairahkan apa yang disinari. Kedatangan atau kehadiran kita dimanapun dan kapanpun sebagai umat beriman atau beragama hendaknya ‘menerangi, menghidupi dan menggairahkan, maka marilah kita saling menerangi, menghidupi dan menggairahkan satu sama lain. Untuk itu kiranya masing-masing dari kita hendaknya bagaikan ‘orang gila/sinting’ yang senyum-senyum terus dan tidak pernah menyakiti sesamanya; siapapun kiranya akan terhibur dengan kedatangannya.

Bukankah kita sekalian mempunyai satu bapa? Bukankah satu Allah menciptakan kita? Lalu mengapa kita berkhianat satu sama lain dan dengan demikian menajiskan perjanjian nenek moyang kita” (Mal 2:10). Apa yang dikatakan oleh nabi Maleaki ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita. Kita semua tanpa pandang bulu ‘mempunyai satu bapa, satu Allah menciptakan kita’, maka selayaknya kita semua bersaudara atau bersahabat dengan siapapun. Persaudaraan atau persahabatan sejati masa kini sedang mengalami erosi karena dirongrong oleh sekelompok orang yang radikal dan vocal. Marilah kita hadapi mereka dengan persaudaraan atau persahabatan sejati. Ingat dan sadari bahwa kita baru saja mengenangkan hari Sumpah Pemuda: satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa. Semoga apa yang telah diikrarkan oleh sekelompok pemuda sekian tahun yang lalu itu terus merasuk hati sanubari kita serta menggema dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimanapun dan kapanpun.

TUHAN, aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku. Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku. Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya!” (Mzm 131)

Page 9 of 25