You are here : Home Renungan

Minggu H.R. Tubuh dan Darah Kristus

HR TUBUH DAN DARAH KRISTUS: Kel 24:3-8; Ibr 9:11-15; Mrk 14:12-16.22-26

"Ambillah, inilah tubuh-Ku.”

“Sakramen yang terluhur ialah Ekaristi mahakudus, di dalamnya Kristus Tuhan sendiri dihadirkan, dikurbankan dan disantap dan melaluinya Gereja selalu hidup dan berkembang. Kurban Ekaristi, kenangan akan wafat dan kebangkitan Tuhan, dimana Kurban salib diabadikan sepanjang masa, adalah puncak seluruh ibadat dan kehidupan kristiani dan sumber yang menandakan serta menghasilkan kesatuan umat Allah dan menyempurnakan pembangunan tubuh Kristus. Sedangkan sakramen-sakramen lain dan semua  karya kerasulan gerejawi melekat erat dengan Ekaristi mahakudus dan diarahkan kepadanya” (KHK kan 897). Ekaristi mahakudus merupakan kenangan yang terindah dan terluhur yang diwariskan oleh Yesus Kristus kapada kita semua yang beriman kepadaNya. Di dalam Gereja Katolik Ekaristi Mahakudus sering disebut sebagai ‘perayaan, perjamuan, kurban’, maka Gereja Katolik mengjarkan bahwa dalam Ekaristi Mahakudus, Kristus Tuhan sendii dihadirkan, dikurbankan dan disantap. Perkenankan pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus hari ini saya secara sederhana merefleksikan tiga nama yang dikenakan pada Ekaristi Mahakudus tersebut.

  • Ekaristi Mahakudus adalah perayaan.

Setiap kali ada perayaan pada umumnya banyak orang menghadirinya serta menghadirkan diri selayak mungkin, entah dalam hal pakaian maupun kebersihan diri pribadi. Setiap perayaan juga memiliki maksud atau tujuan tertentu, misalnya mengenangkan suatu peristiwa penting di dalam perjalanan hidup atau sejarah. Perayaan akan semakin meriah dan mengesan ketika dihadiri oleh orang-orang penting dan terkenal dalam kehidupan bersama. Dalam Ekaristi Mahakudus Yesus Kristus, Tuhan, sendiri yang menghadirkan DiriNya, maka menghadiri Perayaan Ekaristi Mahakudus berarti bertemu dengan Tuhan. Sebagaimana ketika mau bertemu dengan pejabat tinggi kita senantiasa berusaha menghadirkan diri sebaik mungkin, demikian pula halnya menghadiri Peryaaan Ekaristi dimana kita bertemu dengan Tuhan. Dalam berpartisipasi di dalam Perayaan Ekaristi diri kita masing-masing diharapkan dalam keadaan bersih, tentu saja pertama-tama dan terutama bersih hati, jiwa dan akal budinya, bukan hanya tubuhnya saja. Maka kepada mereka yang memiliki dosa sebelum hadir dalam Perayaan Ekaristi kami harapkan mengakukan dosanya lebih dahulu.

Kristus telah datang sebagai Imam Besar untuk hal-hal yang baik yang akan datang: Ia telah melintasi kemah yang lebih besar dan yang lebih sempurna, yang bukan dibuat oleh tangan manusia, -- artinya yang tidak termasuk ciptaan ini, -- dan Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal”(ibr 9:11-12). Bagi kita yang dimaksudkan dengan kemah yang lebih besar dan yang lebih sempurna tidak lain adalah kebersamaan kita dalam Perayaan Ekaristi. Masing-masing dari kita merupakan bagian kecil dari kemah yang besar dan sempuna tersebut. Maka selayaknya kita bersaudara atau bersahabat dengan saudara-saudari kita yang sama-sama menghadiri Perayaan Ekaristi.

  • Ekaristi Mahakudus adalah kurban.

Di dalam setiap upacara kurban senantiasa ada sesuatu yang dikurbankan sebagai sarana untuk mohon keselamatan atau kesejahteraan. Dalam suku-suku tertentu kita sering mendengar ‘kambing hitam’ sebagai kurban, yang pada umumnya berupa binatang, entah itu ayam, kambing atau lembu. Disebut ‘kambing hitam’ karena yang dikurbankan telah mengusir dan mengalahkan kejahatan dengan mengorbankan diri. Di dalam Perayaan Ekaristi yang menjadi kurban atau kambing hitam adalah Yesus Kristus sendiri, dan Dia lah Sang Penyelamat Dunia. Kita yang hadir dalam Perayaan Ekaristi diharapkan juga berpartisipasi dalam pengurbanan Yesus Kristus, antara lain dengan mempersembahkan sebagian harta benda atau uang kita sebagai persembahan, yang selanjutnya menjadi harta benda gerejawi dengan maksud dan tujuan untuk memberi kehidupan yang layak para pelayan rohani beserta para pembantunya, pembeayaan pelayanan-pelayanan pastoral serta amal kasih atau sumbangan bagi mereka yang miskin dan berkekurangan.

  • Ekaristi Mahakudus adalah perjamuan

Di dalam setiap perjamuan senantiasa ada jamuan makan bersama, yang disediakan dan disiapkan oleh tuan rumah. Di dalam perjamuan Ekaristi Mahakudus, Yesus Kristus sendiri yang menjadi tuan rumah dan sebagai jamuan makan bersama Ia memberikan DiriNya, Tubuh dan DarahNya, dalam rupa roti dan anggur. Maka setiap kali kita menerima komuni kudus, yang tidak lain adalah Tubuh Kristus sendiri, kita berarti menerima Yesus Kristus dalam diri kita. Apa yang dimakan dan diminum senantiasa mempengaruhi orang yang memakan dan meminumnya. Menerima dan menyantap/makan Tubuh Kristus diharapkan kemudian hidup dan bertindak sesuai dengan perintah dan sabda Yesus Kristus, dan dengan demikian menjadi sahabat-sahabat Yesus Kristus.

Kemudian disuruhnyalah orang-orang muda dari bangsa Israel, maka mereka mempersembahkan korban bakaran dan menyembelih lembu-lembu jantan sebagai korban keselamatan kepada TUHAN. Sesudah itu Musa mengambil sebagian dari darah itu, lalu ditaruhnya ke dalam pasu, sebagian lagi dari darah itu disiramkannya pada mezbah itu. Diambilnyalah kitab perjanjian itu, lalu dibacakannya dengan didengar oleh bangsa itu dan mereka berkata: "Segala firman TUHAN akan kami lakukan dan akan kami dengarkan." Kemudian Musa mengambil darah itu dan menyiramkannya pada bangsa itu serta berkata: "Inilah darah perjanjian yang diadakan TUHAN dengan kamu, berdasarkan segala firman ini." (Kel 24:5-8)

Segala firman Tuhan akan kami lakukan dan akan kami dengarkan”, inilah yang kiranya baik untuk kita renungkan dan hayati, sebagai orang yang telah menerima Tubuh dan Darah Yesus Kristus. Di dalam Perayaan atau Perjamuan Ekaristi Makakudus kepada kita juga dibacakan firman-firman Tuhan serta dikotbahkan oleh pengkotbah. Maka dengan ini kami berharap kita sungguh mendengarkan ketika dibacakan firman-firman Tuhan di dalam Perayaan Ekaristi. Alangkah baiknya jika kita mempersiapkan diri sebelumnya, dan untuk itu dapat dilihat dalam buku Kalendarium Liturgi perihal firman-firman Tuhan yang akan dibacakan dan direnungkan dalam Perayaan Ekaristi.

Kepada mereka yang bertugas untuk berkotbah di dalam Perayaan Ekaristi, kami harapkan sungguh mempersiapkan diri, sehingga apa yang dikotbahkan sungguh menyentuh, mempesona dan menarik bagi umat yang hadir dalam Perayaan Ekaristi, dan mereka semakin tergerak untuk semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan melalui aneka pelayanan bagi sesamanya. Sebaliknya kepada segenap umat yang hadir kami harapkan dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan tenaga/tubuh mendengarkan apa yang disampaikan oleh pengkotbah. Dan sekiranya apa yang disampaikan oleh pengkotbah kurang atau tidak mengena pada dirinya, baiklah jika secara pribadi merenungkannya.

Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku? Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama TUHAN, Berharga di mata TUHAN kematian semua orang yang dikasihi-Nya.Ya TUHAN, aku hamba-Mu! Aku hamba-Mu, anak dari hamba-Mu perempuan! Engkau telah membuka ikatan-ikatanku! Aku akan mempersembahkan korban syukur kepada-Mu, dan akan menyerukan nama TUHAN,akan membayar nazarku kepada TUHAN di depan seluruh umat-Nya

(Mzm 116: 12-13.15-18)

Jumat, 08 Juni 2012

"Bagaimana ahli Taurat dapat mengatakan bahwa Mesias adalah anak Daud?”

(2Tim 3:10-17; Mrk 12:35-37)

Pada suatu kali ketika Yesus mengajar di Bait Allah, Ia berkata: "Bagaimana ahli-ahli Taurat dapat mengatakan, bahwa Mesias adalah anak Daud? Daud sendiri oleh pimpinan Roh Kudus berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kutaruh di bawah kaki-Mu. Daud sendiri menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?" Orang banyak yang besar jumlahnya mendengarkan Dia dengan penuh minat.” (Mrk 12:35-37), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

  • Yesus adalah Tuhan dan sekaligus manusia; Ia adalah Tuhan yang menjadi manusia seperti kita kecuali dalam hal dosa, untuk menyelamatkan dunia sebagaimana telah dijanjikanNya. Janji Tuhan tersebut telah lama disabdakan melalui para nabi. Ia datang ke dunia belerjasama dengan manusia, yaitu Maria, gadis sederhana dan suci, yang dengan rendah hati dan total menanggapi panggilan Tuhan untuk mengandung ‘anak’, yang tidak lain adalah Penyelamat Dunia, karena Roh Kudus dan bukan karena relasi cintakasih dengan laki-laki alias hubungan seksual dengan laki-laki. Dengan kata lain secara fisik Ia bukan anak Yusuf, yang menjadi keturunan Daud. Orang-orang Farisi tidak percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Allah yang menjadi manusia, tetapi mereka hanya percaya secara yuridis bahwa Yesus adalah keturunan Daud karena Yusuf adalah keturunan Daud. Sabda atau warta gembira hari ini kiranya mengingatkan dan mengajak kita semua, umat beriman, untuk hidup dan bertindak lebih dijiwai oleh Roh Kudus daripada aturan atau hukum, dengan kata lain kita diajak untuk dengan sungguh-sungguh menghayati visi atau spiritualitas kita masing-masing. Sebagai manusia baiklah kita sadari dan hayati bahwa sebelum kita dilahirkan dari rahim ibu kiranya pada diri kita telah diidam-idamkan sesuatu, yaitu agar kelak menjadi manusia yang baik, suci dan berbudi pekerti luhur, maka marilah dimana pun dan dalam kondisi serta situasi apapun kita senantiasa berusaha untuk hidup baik, suci dan berbudi pekerti luhur.
  • Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2Tim 3:15-16), demikian nasihat atau peringatan Paulus kepada Timoteus, kepada kita semua umat beriman. Dalam perjalanan hidup kita, sejak kita dapat melihat dan membaca kiranya dapat kita lihat berbagai macam tulisan, entah berupa buku, surat, pengumuman, aturan dst…, yang kiranya memiliki tujuan baik, suci dan luhur, yang “bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran”. Tentu pertama-tama dan terutama yang selayaknya kita perhatikan adalah tulisaan yang diilhamkan Allah, yaitu Kitab Suci. Maka dengan ini kami mengajak anda sekalian untuk setia membaca dan merenungkan apa yang tertulis didalam Kitab Suci, dan kepada segenap umat Kristen dan Katolik kiranya apa yang saya coba tuliskan kembali yang tertulis didalam Kitab Suci serta dengan sederhana kami refleksikan, kami berharap dapat membantu kita semua untuk tahu perihal ajaran Kristiani guna memperbaiki kelakuan dan mendidik kita dalam kebenaran, sehingga kita dapat hidup baik, benar dan berbudi pekerti luhur. Silahkan memilih sendiri ayat-ayat dari perikop Kitab Suci yang kami kutipkan, dan kemudian refleksikan dan renungkan. Marilah kita sadari dan hayati bahwa kita dididik dan dibina dengan dan melalui kata-kata atau tulisan. Secara khusus kami ingatkan kepada siapapun yang tergabung di dalam hidup dan kerja bersama, misalnya di dalam asrama atau tempat kerja atau lembaga hidup bakti dst.., hendaknya aturan hidup bersama, pedoman kerja, konstitusi atau pedoman hidup sungguh dibaca, dipelajari, dipahami dan akhirnya dilaksanakan. Aneka aturan atau tata tertib hemat saya menjelaskan fungsi tempat atau harta benda terkait agar orang memanfaatkan sesuai dengan fungsinya. Misalnya klas adalah tempat untuk belajar, maka selain belajar berarti melanggar aturan, tempat ibadat untuk beribadat atau berdoa, tempat kerja untuk bekerja dst.. Jika kita tidak setia mentaati aturan yang sederhana dalam hidup sehari-hari, maka kita akan dengan mudah melakukan tindak korupsi sebagaimana dilakukan oleh para tokoh atau pemuka negeri kita ini.

“Besarlah ketenteraman pada orang-orang yang mencintai Taurat-Mu, tidak ada batu sandungan bagi mereka. Aku menantikan keselamatan dari pada-Mu, ya TUHAN, dan aku melakukan perintah-perintah-Mu. Aku berpegang pada titah-titah-Mu dan peringatan-peringatan-Mu, sebab seluruh hidupku terbuka di hadapan-Mu.” (Mzm 119:165.166.168)

Minggu, 03 Juni 2012

HR TRITUNGGAL MAHAKUDUS: Ul 4:32-34.39-40; Rm 8:14-17; Mat 28:16-20

“Jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”

“Kebenaran wahyu mengenai Tritunggal Mahakudus, sejak awal mula adalah dasar pokok iman Gereja yang hidup, terutama karena Pembaptisan. Ia terungkap dalam syahadat Pembaptisan yang dirumuskan dalam kotbah, katekese dan doa Gereja. Rumusan-rumusan yang demikian itu sudah ada dalam tulisan-tulisan para Rasul, seperti salam yang diambil alih ke dalam perayaan Ekaristi:’Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus dan kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian(2Kor 13:13)’” (Katekismus Gereja Katolik no 249). Tritunggal Mahakudus merupakan misteri dan sebagai misteri memang tak mungkin dapat difahami secara rational sepenuhnya, melainkan hanya dapat diimani. Beriman berarti mempercayakan diri sepenuhnya kepada ‘sesuatu’ yang tak dapat kita fahami atau mengerti secara rational, tetapi dihayati dalam cara hidup dan cara bertindak. Maka para Hari Raya Tritunggal Mahakudus hari ini kami mengajak anda sekalian untuk mawas diri perihal penghayatan iman kita masing-masing didalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari, dan sebagai orang Katolik perkenankan saya membagikan pengalaman secara Katolik juga.

“Jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Mat 28:19-20)

Setiap kali kita berdoa senantiasa diawali dan diakhiri dengan membuat tanda salib sambil berkata “Dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus”, demikian juga mengawali dan mengakhiri tugas atau pekerjaan. Membuat tanda salib berarti menepuk dahi, dada dan bahu, yang melambangkan pikiran, semangat/jiwa dan kekuatan atau tenaga. Maka mengawali dan mengakhiri suatu kegiatan, entah doa atau kerja, dengan membuat tanda salib berarti akan melaksanakan kegiatan tersebut dalam nama Allah, sesuai dengan kehendak dan perintah Allah. Dengan kata lain, entah dengan berdoa atau bekerja kita semakin berbakti kepada Allah, semakin suci. Segala sesuatu yang kita kerjakan atau yang menyertai kita juga kita baktikan sepenuhnya kepada Allah, sehingga lingkungan hidup dan kerja bagaikan lingkungan beribadat.

Tritunggal Mahakudus adalah Misteri Cintakasih, maka beriman kepadaNya berarti senantiasa hidup dan bertindak saling mengasihi, sebagaimana diajarkan oleh Yesus dalam ajaranNya yang utama dan pertama-tama, antara lain: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat 5:44). Beriman kepada Tritunggal Mahakudus ada kemungkian dibenci atau dimusuhi orang lain, namun tidak membenci dan memusuhinya melainkan mengasihi mereka yang membenci dan memusuhi tersebut. Orang tidak mungkin membenci kita jika mereka tidak memboroskan waktu dan tenaganya bagi kita, dan hemat saya pemborosan waktu dan tenaga merupakan wujud utama dari cintakasih, yang tak dapat digantikan oleh cara lain apapun. Maka hayatilah kebencian dan permusuhan orang lain sebagai cintakasih mereka terhadap kita dan sikapilah dengan syukur dan terima kasih. Demikian juga setia pada iman akan Tritunggal ada kemungkinan akan teraniaya, yang secara konkret berarti tak terfahami, maka baiklah kita doakan mereka yang tidak mampu memahami tersebut dengan rendah hati dan lemah lembut. Apapun yang kita lakukan maupun katakan hendaknya senantiasa dalam Allah, bersama dan bersatu dengan Allah.

Hendaknya kita juga tidak takut dan gentar dalam menghadapi aneka macam ancaman, tekanan atau intimidasi karena kesetiaan pada iman, karena Allah senantiasa menyertai dan mendampingi kita terus menerus. Hadapi dan sikapi segala macam dan bentuk ancaman, tekanan dan intimidasi dalam dan bersama Allah, karena dengan demikian kita akan mampu mengatasinya, dan mereka yang mengancam, menekan serta mengintimidasi pasti akan berbalik mengasihi kita dan dengan demikian bersahabat dan bersaudara dengan kita kapan pun dan dimana pun. Sikapi dan hadapi mereka yang mengancam, menekan dan mengintimidasi sebagai salah satu bentuk penyertaan dan kasih Allah kepada kita.

Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!" Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia” (Rm 8:14-17)


Beriman kepada Tritunggal Mahakudus berarti hidup dipimpin oleh Roh Kudus dan dengan demikian hidup dan bertindak menghayati nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan sebagai buah Roh Kudus, yaitu “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23). Nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan ini hemat saya masa kini sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan melalui cara hidup dan cara bertindak kita dimana pun dan kapan pun. Menjadi saksi atas nilai-nilai atau keutamaan-keutaman tersebut itulah yang menjadi panggilan dan tugas pengutusan sebagai orang-orang yang beriman kepada Tritunggal Mahakudus.

Menjadi saksi sebagaimana saya katakan diatas berarti juga menjadi suci atau kudus, karena yang kita imani adalah Mahakudus. Dari nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan sebagai buah Roh Kudus di atas, manakah nilai atau keutamaan yang sungguh mendesak dan up to date di lingkungan hidup dan kerja kita masing-masing?. Hemat saya yang penting adalah masalah kesetiaan, mengingat dan memperhatikan cukup banyak orang tidak dan kurang setia dalam cara hidup maupun cara kerja. ”Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat. Ini diwujudkan dalam perilaku tetap memilih dan mempertahankan perjanjian yang telah dibuat dari godaan-godaan lain yang lebih menguntungkan” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24-25).


Pertama-tama dan terutama kami mengajak dan mengingatkan mereka yang berkeluarga, para suami-isteri untuk setia pada janji perkawinan yang telah dibuatnya, tidak selingkuh, bercerai atau berpisah. Kesetiaan anda sebagai suami-isteri akan menjadi teladan atau panutan bagi anak-anak anda, dan ketika anak-anak tumbuh berkembang menjadi dewasa, terpanggil untuk jalan hidup atau panggilan apapun pasti akan setia menghayatinya. Para imam, bruder maupun suster hendaknya juga setia pada panggilan dan tugas pengutusan masing-masing, sehingga juga menjadi teladan kesetiaan bagi umat yang harus dilayaninya. Sedangkan para pelajar maupun mahasiswa kami harapkan setia dalam belajar sehingga sukses dan berhasil dalam belajar. Para pekerja atau pegawai setia pada tugas dan kewajibannya, tidak bermalas-malas di tempat kerja.


Sebab itu ketahuilah pada hari ini dan camkanlah, bahwa TUHANlah Allah yang di langit di atas dan di bumi di bawah, tidak ada yang lain. Berpeganglah pada ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya baik keadaanmu dan keadaan anak-anakmu yang kemudian, dan supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk selamanya." (Ul 4:39-40). Kutipan dari kitab Ulangan ini kiranya menjadi peneguh dan peringatan bagi kita semua untuk senantiasa ‘berpegang pada ketetapan dan perintah Allah’ kapan pun dan dimana pun. Perintah dan ketetapan Allah antara lain dapat kita temukan dalam Kitab Suci kita masing-masing.


“Sebab firman TUHAN itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan. Ia senang kepada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia TUHAN.Oleh firman TUHAN langit telah dijadikan, oleh nafas dari mulut-Nya segala tentaranya. Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada” (Mzm 33:4-6.9)

Sabtu, 02 Juni 2012

“Baptisan Yohanes itu dari sorga atau dari manusia?”

(Yud 17.20b-25; Mrk 11:27-33)

“ Lalu Yesus dan murid-murid-Nya tiba pula di Yerusalem. Ketika Yesus berjalan di halaman Bait Allah, datanglah kepada-Nya imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua, dan bertanya kepada-Nya: "Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu?" Jawab Yesus kepada mereka: "Aku akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu. Berikanlah Aku jawabnya, maka Aku akan mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. Baptisan Yohanes itu, dari sorga atau dari manusia? Berikanlah Aku jawabnya!" Mereka memperbincangkannya di antara mereka, dan berkata: "Jikalau kita katakan: Dari sorga, Ia akan berkata: Kalau begitu, mengapakah kamu tidak percaya kepadanya? Tetapi, masakan kita katakan: Dari manusia!" Sebab mereka takut kepada orang banyak, karena semua orang menganggap bahwa Yohanes betul-betul seorang nabi. Lalu mereka menjawab Yesus: "Kami tidak tahu." Maka kata Yesus kepada mereka: "Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.” (Mrk 11:27-33), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Karena merasa tersingkir dan pamornya di kalangan rakyat semakin berkurang gara-gara kehadiran Yesus, maka imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua Yahudi berusaha menyingkirkan Yesus dengan pertanyaan-pertanyaan jebakan. Mereka mempertanyakan perihal kuasa yang Ia terima, dan Yesus tahu maksud jahat mereka, maka Ia pun ganti bertanya perihal baptisan Yohanes, dari sorga atau dari manusia. Baptisan Yohanes telah dipercaya oleh rakyat banyak sebagai yang berasal dari sorga, maka mereka pun tak berani menanggapinya serta mengaku tidak tahu, karena takut kalah berdebat, dan dengan demikian pamor mereka semakin merosot. Begitulah orang-orang yang gila kuasa dan kehormatan duniawi serta hanya mengutamakan kepentingan pribadi: mereka semakin terpojok dan tersingkir. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk tidak mengutamakan kepentingan pribadi, melainkan kepentingan dan kesejahteraan umum atau rakyat dalam cara hidup dan cara bertindak kita dimana pun dan kapan pun. Ingatlah dan hayati bahwa masing-masing dari kita berasal dari Allah, ciptaan Allah, dan Allah menghendaki agar kita semua selamat dan berbahagia, seluruh umat manusia di dunia ini selamat, bahagia dan sejahtera, baik lahir maupun batin, fisik maupun spiritual. Hari ini kami di Seminari Menengah Mertoyudan sedang mengenangkan satu abad berdirinya Seminari Menengah, mengenangkan proses pembinaan dan pembelajaran pribadi-pribadi yang tergerak untuk kesejahteraan dan kebahagiaan umum, dan ribuan alumni telah tersebar ke seluruh dunia, maka kami berharap kepada para alumni Seminari Menengah Mertoyudan untuk senantiasa dapat menjadi orang bagi dan bersama orang lain (to man with/for others).

· Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal. Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu, selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api. Tetapi tunjukkanlah belas kasihan yang disertai ketakutan kepada orang-orang lain juga, dan bencilah pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa.” (Yud 21-23). Kutipan ini kiranya cukup jelas bagi kita semua: suatu ajakan untuk senantiasa hidup dalam kasih Allah dengan berbelas kasih kepada mereka yang hidup dalam keraguan atau berkeinginan jahat. Kepada mereka ini hendaknya kita sampaikan pencerahan-pencerahan, entah berupa kata-kata atau tindakan, sebagaimana dilakukan oleh Yesus kepada orang-imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua Yahudi, yang berpikiran dan berkeinginan jahat. Pikiran dan keinginan jahat mereka memang muncul dari keraguan, yang terus-menerus ditutup-tutupi atau disembunyikan. Maka kepada mereka yang berada dalam keraguan kami harapkan dengan jujur mengakuinya dan kemudian dengan rendah hati minta bantuan orang lain guna mengatasi keraguannya. Ingatlah akan motto ‘malu bertanya sesat di jalan’!. Sebaliknya kepada siapapun yang membantu mereka yang berada dalam keraguan hendaknya sungguh dijiwai oleh belas kasih Allah, yang berarti dengan lemah lembut, rendah hati dan sopan memberi penerangan atau penjelasan, sehingga penerangan atau penjelasan yang disampaikan kepada orang lain dapat diterima dengan senang hati. Belas kasih Allah kami harapkan juga menjiwai cara hidup dan cara bertindak para orangtua maupun para guru/pendidik dalam rangka mendampingi dan mendidik anak-anaknya/para peserta didiknya.

Bagi-Mulah puji-pujdian di Sion, ya Allah; dan kepada-Mulah orang membayar nazar. Engkau yang mendengarkan doa. Kepada-Mulah datang semua yang hidup karena bersalah. Bilamana pelanggaran-pelanggaran kami melebihi kekuatan kami, Engkaulah yang menghapuskannya. Berbahagialah orang yang Engkau pilih dan yang Engkau suruh mendekat untuk diam di pelataran-Mu! Kiranya kami menjadi kenyang dengan segala yang baik di rumah-Mu, di bait-Mu yang kudus” (Mzm 65:2-5)

Jumat, 01 Juni 2012

“Kamu adalah garam dunia”

(1Kor 1:18-25; Mat 5:13-19)

"Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.” (Mat 5:13-19), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Yustinus, martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Garam sedikit sebagai kelengkapan bumbu makanan membuat makanan yang bersangkutan enak dan nikmat, demikian juga api yang kecil dapat menjadi besar ketika digunakan untuk membakar sampah atau bangunan. “Saya sendiri tak ingin tergolek begittu saja seperti dalam museum. Saya ingin hidup di tengah pergolakan kehidupan”, demikin kutipan dalam Majalah Tempo, dalam rangka mengenangkan almarhum Yustinus Kardinal Darmojuwono pr, setelah Yang Mulia dipanggil Tuhan pada tanggal 3 Februari 1994. Bapak Kardinal Darmojuwono pr ketika dibaptis menjadi katolik diberi nama pelindung St.Yustinus, dan kiranya kita semua tahu bahwa Yang Mulia sungguh menjadi ‘garam dan terang dunia’ dalam rangka menghayati panggilan maupun melaksanakan tugas pengutusannya. Maka dalam rangka mengenangkan pesta St.Yustinus hari ini kami mengajak segenap umat beriman, khususnya yang beriman kepada Yesus Kristus untuk dapat menjadi ‘garam dan terang dunia’ dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari dimana pun dan kapan pun. Menjadi ‘garam dan terang dunia’ berarti cara hidup dan cara bertindaknya senantiasa membuat lingkungan hidupnya enak dan nikmat untuk didiami serta dapat membantu orang lain semakin menemukan jati diri dan panggilannya alias menerangi mereka yang berada di dalam kegelapan atau kebingungan. Maka marilah kita mawas diri apakah derap langkah dan kinerja kita senantiasa membuat lingkungan hidup semakin enak dan nikmat didiami maupun membantu orang lain untuk semakin menemukan jati diri dan panggilan hidupnya. Kita semua juga dipanggil untuk mentaati dan melaksanakan aneka tata tertib atau aturan dengan sepenuh hati, betapapun sederhana atau kecil tata tertib atau aturan tersebut.


· Pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah” (1Kor 1:18). Taat dan setia dalam melaksanakan aneka tata tertib atau aturan tak akan pernah terlepas dari perjuangan dan pengorbanan maupun penderitaan. Orang yang taat dan setia memang menunjukkan bahwa kekuatan atau rahmat Allah hidup dan bekerja dalam dirinya yang lemah dan rapuh alias yang bersangkutan dengan sepenuh hati, jiwa, pikiran dan tenaga melaksanakan tata tertib atau aturan maupun menghayati panggilan. Kita yang beriman kepada Yesus Kristus dipanggil untuk setia meneladan Dia, yang telah rela menderita, wafat di kayu salib dan dibangkitkan dari mati demi keselamatan seluruh dunia. Kami percaya bahwa para ibu yang telah mengandung dan melahirkan anaknya memiliki pengalaman akan pendeitaan sebagai konsekwensi pada jati diri dan panggilannya, dan penderitaan yang telah dialaminya merupakan jalan menuju kesejahteraan atau kebahagiaan sejati. Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, kiranya setiap hari kita membuat tanda salib, dengan harapan hidup dan bertindak meneladan Yang Tersalib, dengan kata lain mempersembahkan diri seutuhnya pada panggilan maupun tugas pengutusan. Setia pada tugas dan panggilan tak akan pernah terlepas dari penderitaan dan pengorbanan, maka hendaknya ketika harus menderita dan berkorban demi tugas dan panggilan, kami harapkan untuk terus gembira dan ceria menghadapinya, karena dengan demikian penderitaan dan pengorbanan tersebut tidak akan sia-sia. Kami berharap anak-anak di dalam keluarga sedini mungkin dilatih dan dibiasakan dalam hal kesetiaan, yang mungkin harus disertai dengan penderitaan dan pengorbanan.

“Bersyukurlah kepada TUHAN dengan kecapi, bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus sepuluh tali! Nyanyikanlah bagi-Nya nyanyian baru; petiklah kecapi baik-baik dengan sorak-sorai! Sebab firman TUHAN itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan.Ia senang kepada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia TUHAN. Oleh firman TUHAN langit telah dijadikan, oleh nafas dari mulut-Nya segala tentaranya.Ia mengumpulkan air laut seperti dalam bendungan,” (Mzm 33:2-7)

Page 8 of 25