You are here : Home Renungan

Senin, 11 Maret 2013

"Tuhan datanglah sebelum anakku mati."

(Yes 65:17-21; Yoh 4:43-54)

Dan setelah dua hari itu Yesus berangkat dari sana ke Galilea, sebab Yesus sendiri telah bersaksi, bahwa seorang nabi tidak dihormati di negerinya sendiri. Maka setelah Ia tiba di Galilea, orang-orang Galilea pun menyambut Dia, karena mereka telah melihat segala sesuatu yang dikerjakan-Nya di Yerusalem pada pesta itu, sebab mereka sendiri pun turut ke pesta itu. Maka Yesus kembali lagi ke Kana di Galilea, di mana Ia membuat air menjadi anggur. Dan di Kapernaum ada seorang pegawai istana, anaknya sedang sakit. Ketika ia mendengar, bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya lalu meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati. Maka kata Yesus kepadanya: "Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya." Pegawai istana itu berkata kepada-Nya: "Tuhan, datanglah sebelum anakku mati." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, anakmu hidup!" Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi. Ketika ia masih di tengah jalan hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar, bahwa anaknya hidup. Ia bertanya kepada mereka pukul berapa anak itu mulai sembuh. Jawab mereka: "Kemarin siang pukul satu demamnya hilang."Maka teringatlah ayah itu, bahwa pada saat itulah Yesus berkata kepadanya: "Anakmu hidup." Lalu ia pun percaya, ia dan seluruh keluarganya. Dan itulah tanda kedua yang dibuat Yesus ketika Ia pulang dari Yudea ke Galilea.” (Yoh 4:43-54), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

  • Pegawai istana pada umumnya orang-orang yang sungguh tahu sopan santun serta berbudi pekerti luhur, maka boleh dikatakan sungguh beriman. Maka kiranya dapat difahami bahwa ia tergerak dengan rendah hati mohon kepada Yesus untuk kerumahnya guna menyembuhkan anaknya yang sedang menderita sakit keras. Hal ini kiranya dapat menjadi bahan mawas diri bagi kita semua, yaitu bahwa sehat dan sakit erat kaitannya dengan beriman dan tidak/kurang beriman. Sementara itu bagi mereka yang menderita sakit kami harapkan dengan rendah hati membuka diri untuk disembuhkan melalui bantuan atau pertolongan orang-orang yang dapat menyembuhkan. Mungkin kebanyakan dari kita sedang menderita sakit hati atau sakit jiwa, dan memang belum parah. Maka baiklah sebelum penyakit kita parah kita segera berobat. Jika kita masih sakit hati terhadap seseorang hendaknya segera minta maaf, demikian juga jika masih sakit jiwa alias kita belum memiliki spirit atau semangat yang seharusnya kita miliki dan hayati, misalnya spiritualitas atau visi tarekat atau organisasi, dan sebagai orang yang telah dibaptis kurang menghayati janji baptis dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari. Dalam hal spiritualitas atau janji baptis ini kiranya dengan rendah hati kita dapat saling belajar bersama dengan rekan-rekan seiman atau sepanggilan dalam pendalaman iman bersama selama masa Prapaskah ini. Dengan kata lain baiklah jika selama masa Prapaskah ini kita sempatkan untuk membaca dan merenungkan aneka jenis tatanan atau aturan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing, seperti konstitusi, anggaran dasar, pedoman hidup dst…
  • "Sebab sesungguhnya, Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru; hal-hal yang dahulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi dalam hati. Tetapi bergiranglah dan bersorak-sorak untuk selama-lamanya atas apa yang Kuciptakan, sebab sesungguhnya, Aku menciptakan Yerusalem penuh sorak-sorak dan penduduknya penuh kegirangan. Aku akan bersorak-sorak karena Yerusalem, dan bergirang karena umat-Ku; di dalamnya tidak akan kedengaran lagi bunyi tangisan dan bunyi erang pun tidak. Di situ tidak akan ada lagi bayi yang hanya hidup beberapa hari atau orang tua yang tidak mencapai umur suntuk, sebab siapa yang mati pada umur seratus tahun masih akan dianggap muda, dan siapa yang tidak mencapai umur seratus tahun akan dianggap kena kutuk” (Yes 65:17-20).  Kutipan ini menggambarkan sebuah situasi dan kondisi ideal yang harus kita usahakan bersama-sama, bersama dengan saudara-saudari kita serta bersama dengan Allah, yang telah menciptakan langit dan bumi seisinya. Kita semua dipanggil untuk memperbaharui diri alias bertobat, kembali ke jalan yang benar dalam menuju Allah. Dengan kata lain marilah kita membuka diri terhadap bisikan atau dorongan Roh Kudus, yang antara lain menggejala dalam kehendak dan perbuatan baik saudara-saudari kita. Kami percaya bahwa kita semua berkehendak baik dan senantiasa melakukan apa yang baik, namun karena kelemahan dan kerapuhan kita perwujudannya berbeda satu sama lain, dan untuk itu perlulah kita saling mensinerjikan kehendak dan perbuatan baik kita dalam kerendahan hati. Marilah kita saling berbagi keutamaan-keutamaan yang kita imani dan miliki, sehingga kita semakin diperkaya dengan aneka keutamaan-keutamaan. Semoga kita senantiasa bekerjasama melakukan apa yang baik, menyelamatkan dan membahagiakan, terutama keselamatan atau kebahagiaan jiwa.

Aku akan memuji Engkau, ya TUHAN, sebab Engkau telah menarik aku ke atas, dan tidak memberi musuh-musuhku bersukacita atas aku. TUHAN, Engkau mengangkat aku dari dunia orang mati, Engkau menghidupkan aku di antara mereka yang turun ke liang kubur. Nyanyikanlah mazmur bagi TUHAN, hai orang-orang yang dikasihi-Nya, dan persembahkanlah syukur kepada nama-Nya yang kudus” (Mzm 30:2.4-5)

Minggu Prapaskah IV, 10 Maret 2013

Mg Prapaskah IV: Yos 5:9a.10-12; 2Kor 5:17-21; Luk 15:1-3.11-32

“ Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali."

Ketika saya bertugas sebagai Direktur Perkumpulan Strada di Jakarta menyelenggarakan ‘pertemuan kepala sekolah’, ada seorang kepala sekolah, yang telah kurang lebih 25 tahun berkarya di lingkungan Perkumpulan Strada, menyampaikan keluhan atau ‘unek-unek’ sebagai berikut: “Romo, kami ini sudah melayani/bekerja selama kurang lebih 25 tahun di Perkumpulan Strada, namun sampai saat ini belum menerima sumbangan/restitusi kesehatan sedikitpun. Sementara itu salah satu guru kami yang bekerja belum genap 10 tahun telah menerima restitusi kesehatan jutaan rupiah”. Kepala sekolah yang bersangkutan memang dikenal sebagai pribadi yang kritis, dan boleh dikatakan cerdas juga. Saya teringat akan hal tersebut setelah merenungkan bacaan Injil hari ini, yang mengkisahkan perihal ‘anak hilang’. Hemat saya perumpamaan ‘anak hilang’ ini pertama-tama untuk menanggapi orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang bersungut-sungut menyaksikan Yesus menerima orang-orang berdosa. Dalam perumpamaan ditampilkan ‘tiga tokoh’, yang kiranya dapat menjadi bahan refleksi atau mawas diri bagi kita semua, yaitu : bapa yang baik dan penuh belas kasih, anak sulung dan anak bungsu/hilang. Maka marilah kita mawas diri: bagaimana keadaan kita saat ini, apakah seperti bapa yang baik dan penuh belas kasih, anak sulung atau anak bungsu?

“Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa” (Luk 15:18-19)

Anak bungsu dalam ‘keluarga dua anak cukup’, sebagaimana terjadi pada masa kini, pada umumnya akan lebih dimanjakan oleh orangtuanya daripada anak sulung. Dalam Warta Gembira hari ini dikisahkan bahwa anak bungsu minta hak waris dari bapanya dan dikabulkan dengan diberi separoh dari kekayaannya. Si anak bungsu pun akhirnya bersenang-senang, berfoya-foya dengan sepuas-puasnya, termasuk pergi ke pelacuran. Seberapa besar jumlah uang atau harta benda ketika digunakan untuk berfoya-foya akhirnya habis juga, dan itulah yang terjadi dalam diri anak bungsu, sehingga ia sungguh sangat menderita. Dalam puncak penderitaannya ia baru ingat akan bapanya, sebagaimana juga dialami oleh kebanyakan dari kita, yaitu ketika bersenang-senang lupa daratan, melupakan segala-galanya dan baru setelah menderita ingat akan kebenaran yang harus dipeluk dan dihayatinya.

Anak bungsu akhirnya menyadari dan menghayati kedosaan dan kerapuhannya serta kemudian tergerak untuk mohon kasih pengampunan dan kemurahan hati kepada bapanya. Hal ini kiranya juga dapat menjadi bahan permenungan atau refleksi kita. Dalam mawas diri selama masa Prapaskah ini kiranya kita juga menyadari segala kelemahan dan dosa-dosa kita, maka marilah dengan rendah hati kita mohon kasih pengampunan dan kemurahan hati Allah, antara lain dengan mengaku dosa, dan tentu saja juga perlu disertai dengan mohon kasih pengampunan kepada mereka yang telah kita sakiti atau kecewakan karena dosa-dosa dan kelalaian atau kesambalewaan kita. Salah satu kebenaran sejati adalah bahwa kita adalah orang-orang berdosa yang dikasihi oleh Allah dan dipanggilnya untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatanNya, maka marilah kita tak perlu takut menghadap Allah maupun saudara-saudari kita untuk mohon belas kasih, kemurahan dan kasih pengampunannya, karena Allah sungguh maha kasih dan maha pengampun, demikian pula kebanyakan dari saudara-saudari kita.

“Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia” (Luk 15:20).

Ayah atau bapa dalam kisah hari ini menggambarkan Allah yang sungguh berbelas kasih kepada umatNya yang tergerak menghadapNya guna mohon kasih pengampunan. Sebelum kita secara konkret mohon kasih pengampunan melalui imam dalam kamar pengakuan, Allah telah mengetahui apa yang kita rindukan atau dambakan. Ia sungguh akan ‘merangkul dan menciumi kita’. Maka Paulus berani memberi kesaksian iman sebagai berikut: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.” (2Kor 5:17-19)

Sebagai orang yang beriman kepada Allah kita semua dipanggil juga untuk memiliki hati yang tergerak orang belas kasihan terhadap orang-orang berdosa, yang menyadari dosa-dosanya serta mendatangi kita untuk mohon belas kasih dan pengampunan. Kami percaya bahwa diri kita masing-masing telah menerima belas kasih, kemurahan hati dan kasih pengampunan secara melimpah ruah melalui orang-orang yang telah mengasihi dan memperhatikan kita, maka marilah apa yang kita miliki tersebut kita salurkan atau bagikan kepada saudara-saudari kita. Kerajaan Allah adalah kerajaan hati, maka beriman kepada Allah memang diharapkan sungguh memiliki hati yang bebelas kasih. Ketika ada orang salah minta maaf kepada kita marilah yang bersangkutan kita rangkul dan ciumi dengan belas kasih, demikian pula hendaknya memperlakukan anak-anak nakal dengan belas kasih, bukan dengan kekerasan. Percayalah bahwa belas kasih akan memotivasi dan mendorong orang untuk bertobat dan memperbaharui diri.

“Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia” (Luk 29-30).

Kutipan di atas ini kiranya terarah bagi siapapun yang bersikap mental Farisi atau orang-orang sombong, yang merasa dirinya paling baik dan melecehkan orang lain. Memang secara yuridis mereka begitu setia dan taat pada aneka tatanan atau aturan, tetapi mereka hanya lebih mengandalkan diri pada otak atau pikiran, bukan pada hati dan belas kasih. Pembinaan dan pendidikan di Indonesia ini, entah pendidikan informal dalam keluarga maupun formal di sekolah-sekolah pada umumnya juga lebih mengedepankan otak atau pikiran alias kecerdasan intelektual daripada hati atau kecerdasan spiritual, sehingga tidak mengherankan orang berlomba untuk mencapai nilai ulangan maupun ujian setinggi mungkin, meskipun untuk itu harus menyontek, dan dalam kenyataan banyak sekolah membiarkan para peserta didiknya menyontek dalam ulangan maupun ujian. Buah dari semua itu cukup jelas: sikap mental yuridis atau orientasi pada hukum untuk menjatuhkan orang lain dan mengutamakan kepentingan pribadi.

Hati mereka sungguh keras, sebagaimana digambarkan dalam warta gembira sebagai anak sulung, yang didekati ayahnya dengan penuh belas kasih, tak terusik atau tak tergerak sedikitpun hatinya untuk membuka diri atas sentuhan belas kasih tersebut. Anak sulung tak menanggapi undangan ayahnya untuk berpesta bersama dengan anak bungsu yang bertobat, dan hal ini hemat saya juga menggambarkan orang-orang yang tidak ada kepedulian sedikitpun dalam kebersamaan, menghindar dari ajakan untuk bertemu dengan saudara-saudarinya alias senantiasa menyendiri, mengasingkan diri. Hemat saya orang yang demikian ini tidak hanya secara fisik saja memisahkan diri dari sesamanya, melainkan juga secara spiritual. Kepada mereka yang tertutup hatinya, dengan rendah hati kami ajak untuk membuka diri. yang  sombong untuk bertobat menjadi rendah hati.

“Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku.Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita.Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya!Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku” (Mzm 34:2-5)

Sabtu, 09 Maret 2013

“Ya Allah kasihanilah aku orang berdosa ini.”

(Hos 6:1-6; Luk 18:9-14)

“ Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan." (Luk 18:9-14), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

  • Orang-orang Farisi memang dikenal sebagai orang-orang sombong, sehingga ketika sedang berdoa pun menyombongkan diri serta melecehkan orang lain, padahal berdoa berarti berada di ‘hadirat Allah’, dan segala sesuatu yang dimiliki maupun dikuasai dan dinikmati sampai saat ini merupakan anugerah Allah. Maka dengan ini kami mengingatkan dan mengajak segenap umat beriman atau beragama untuk tidak hidup dan bertindak sombong, melainkan rendah hati, menghayati doa pemungut cukai yang berdoa “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini”. Kiranya kita semua semakin tambah usia dan pengalaman berarti juga bertambah dosa-dosanya, mengingat dan memperhatikan kerapuhan dan kelemahan kita. Kita sadari dan hayati bahwa hidup kita serta segala sesuatu yang kita miliki dan kuasai sampai saat ini merupakan anugerah Allah yang kita terima melalui sekian banyak orang yang telah mengasihi dan memperhatikan kita, dan tanpa perhatian dan kasih orang lain terhadap diri kita maka kita tak mungkin berada sebagaimana adanya saat ini. Kebenaran sejati adalah bahwa kita adalah orang-orang berdosa yang diampuni dan dikasihi Allah serta dipanggilNya untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatanNya, yaitu menjadi saksi rendah hati dalam dan melalui cara hidup dan cara bertindak dimana pun dan kapan pun. Memang pertama-tama kami harapkan ketika berdoa sungguh menyadari dan menghayati kedosaan dan kerapuhan diri, yang selanjutnya dihayati juga dalam pergaulan dengan siapapun. Dengan kata lain marilah kita saling rendah hati satu sama lain, dan kita berantas aneka bentuk kesombongan yang mengganggu dan merusak hidup bersama. Jauhkan sikap mental orang Farisi dalam cara hidup dan cara bertindak kita.
  • “Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran” (Hos 6:6). Kutipan ini hendaknya menjadi permenungan atau refleksi kita, dan selanjutnya kita hayati dalam cara hidup dan cara bertindak kita dimana pun dan kapan pun. Sebagai orang beriman atau beragama kita semua dipanggil untuk memperdalam ‘kasih setia’ dan ‘pengenalan akan Allah’. Kita juga sedang berada dalam ‘Tahun Iman’, dimana kita diajak untuk memperdalam dan memperkembangkan iman kita kepada Allah. Kiranya Allah dapat kita indrai dan imani dalam wujud kasih setia yang hidup dalam diri kita maupun saudara-saudari kita. Marilah kita lihat saudara-saudari kita yang hidup dengan kasih setia, yang memang dapat diartikan senantiasa hidup dengan saling mengasihi terus-menerus. Allah adalah kasih maka siapapun yang beriman kepada Allah berarti hidup saling mengasihi, dan sebaliknya kita dapat menemukan Allah dalam diri saudara-saudari kita yang hidup dalam dan oleh kasih. Kutipan di atas juga mengingatkan kita semua bahwa dalam hidup beriman atau beragama hendaknya lebih mengutamakan penghayatan, perilaku atau tindakan, bukan wacana atau omongan . Semoga kita semua unggul dan handal dalam penghayatan iman, harapan dan cintakasih, sehingga kita layak disebut sebagai orang beriman atau anak-anak Allah. Dalam hidup beragama pada masa kini memang ada kecenderungan untuk pamer cara beribadat dan bernyanyi maupun aneka hiasan di tempat ibadat. Kami ingatkan hendaknya dalam berdoa atau beribadat sungguh konsekwen, artinya apa yang kita doakan juga kita hayati menjadi tindakan atau perilaku, dan jika tidak demikian adanya marilah kita mengakui dan menghayati diri sebagai orang berdosa yang dikasihi Allah.

“Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku!” (Mzm 51:3-4)

Jumat, 08 Maret 2013

"Hukum manakah yang paling utama?"

(Hos 14:2-10; Luk 12:28-34)

“Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: "Hukum manakah yang paling utama?" Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini." Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: "Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan." Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!" Dan seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.” (Luk 12:28-34), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

  • Di Indonesia, Negara tercinta ini, begitu banyak aturan dan tata tertib: UUD, UU, PP, Perda, Hukum Pidana maupun Perdata,dst.. Di dalam setiap organisasi atau paguyuban senantiasa juga ada tata tertib atau aturan yang diberlakukan agar kehidupan dan kinerja organisasi atau paguyuban berlangsung sebagaimana diidam-idamkan. Kebersamaan hidup yang paling dasar, yaitu keluarga, dibangun dan diperdalam serta diperkembangkan dengan dan melalui hukum yang paling utama, yaitu cintakasih, dan hemat saya semua tata tertib, aturan, hukum, kebijakan dst.. juga didasari atau dijiwai oleh cintakasih. Namun sungguh memprihatinkan bahwa dalam perjalanan hidup berkeluarga maupun bermasyarakat, berbangsa dan bernegara serta beragama, orang melupakan cintakasih tersebut, padahal masing-masing dari kita ada dan dapat tumbuh berkembang sebagaimana adanya pada saat ini hanya karena  atau oleh cintakasih. Marilah kita senantiasa hidup dalam cintakasih dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi maupun segenap kekuatan. Segenap berarti seutuhnya atau total, dengan kata lain kita dipanggil untuk saling mengasihi tanpa syarat, atau catatan kaki. Cintakasih itu bebas, tanpa batas, sedangkan kebebasan dibatasi oleh cintakasih. Kita dapat hidup dan bertindak dengan bebas asal tidak melecehkan diri kita maupun orang lain, sebagai manusia yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citra Allah. Melecehkan diri kita maupun manusia lain berarti melawan kehendak Allah alias tidak beriman kepada Allah. Hidup dalam cintakasih tiada ketakutan sedikitpun untuk dilecehkan atau direndahkan, meskipun untuk itu harus membuka diri seutuhnya, sebagaimana terjadi dalam relasi antar suami-isteri. Kami berharap kepada kita semua untuk menanggapi dan menyikapi aneka sapaan, sentuhan dan perlakuan orang lain terhadap diri kita sebagai wujud cintakasih mereka kepada kita. dekati dan sikapi segala sesuatu dalam dan oleh cintakasih, maka anak enak dan nikmat adanya.
  • “Siapa yang bijaksana, biarlah ia memahami semuanya ini; siapa yang paham, biarlah ia mengetahuinya; sebab jalan-jalan TUHAN adalah lurus, dan orang benar menempuhnya, tetapi pemberontak tergelincir di situ” (Hos 14:10) . Yang dimaksudkan “semuanya ini” tidak lain adalah aneka aturan dan tata tertib yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing sebagai terjemahan ‘jalan-jalan Tuhan yang lurus’. Maka marilah kita senantiasa pertama-tama dan terutama setia mentaati dan melaksanakan aneka tata tertib dan aturan yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing, sehingga tata tertib dan aturan tidak lagi menjadi beban, melainkan kebutuhan. Ketika kita menghayati  tata tertib dan aturan sebagai kebutuhan, maka kita akan tumbuh berkembang dengan mudah untuk menjadi orang bijaksana. Kami berharap kepada para pemimpin atau atasan dimana pun dapat menjadi teladan atau inspirasi dalam pelaksanaan atau penghayatan tata tertib dan aturan, yang pada umumnya juga mengesahkan tata tertib atau aturan untuk diberlakukan. Kita semua dipanggil untuk berjalan ‘lurus’ alias hidup dan bertindak jujur dalam situasi dan kondisi apapun serta dimana pun. Hidup dan bertindak jujur memang akan hancur untuk sementara, dan mulia serta bahagia selamanya, sedangkan pembohong atau penipu berbahagia sesaat dan akan menderita atau sengsara selamanya. Kami berharap kejujuran dibiasakan atau dididikkan pada anak-anak di dalam keluarga sedini mungkin, antara lain dengan teladan konkret dari orangtua. Hendaknya kejujuran senantiasa juga menjiwai proses mengajar dan belajar di sekolah-sekolah.

"Aku telah mengangkat beban dari bahunya, tangannya telah bebas dari keranjang pikulan; dalam kesesakan engkau berseru, maka Aku meluputkan engkau; Aku menjawab engkau dalam persembunyian guntur, Aku telah menguji engkau dekat air Meriba” (Mzm 81:7-8)

Kamis, 07 Maret 2013

"Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa,”

(Yer 7:23-28; Luk 11:14-23)

“ Pada suatu kali Yesus mengusir dari seorang suatu setan yang membisukan. Ketika setan itu keluar, orang bisu itu dapat berkata-kata. Maka heranlah orang banyak. Tetapi ada di antara mereka yang berkata: "Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan." Ada pula yang meminta suatu tanda dari sorga kepada-Nya, untuk mencobai Dia. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: "Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh. Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata, bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Jadi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Sebab itu merekalah yang akan menjadi hakimmu. Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. Apabila seorang yang kuat dan yang lengkap bersenjata menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah segala miliknya. Tetapi jika seorang yang lebih kuat dari padanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata, yang diandalkannya, dan akan membagi-bagikan rampasannya. Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.” (Luk 11:14-23), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

  • Allah adalah Esa, maka siapapun yang beriman kepada Allah berarti senantiasa hidup dalam persaudaraan sejati, meskipun berbeda satu sama lain dalam hal agama atau kepercayaan. Aneka perbedaan yang ada pada kita hemat saya merupakan buah pemikiran latar belakang dan pengalaman yang berbeda atau tafsir yang berbeda, karena kelemahan dan keterbatasan yang ada dalam diri kita. Maka hemat saya kebersamaan hidup kita di dalam bermasyarakat, berbanga, bernegara maupun beragama bagaikan anggota-anggota tubuh dalam diri kita yang berbeda satu sama lain namun bekerjasama begitu indah dan mempesona. Masing-masing anggota tubuh ada di tempat masing-masing sesuai dikehendaki Allah dan fungsional secara prima demi kesehatan dan kebugaran seluruh anggota tubuh. Marilah kita yang berbeda satu sama lain ini bercermin dan meneladan anggota-anggota tubuh kita, yang saling membantu dan bergotong-royong, dan tidak ada satu anggota tubuhpun yang melecehkan atau merendahkan yang lain serta tidak ada irihati sedikitpun. Memang akar pertenngkaran atau permusuhan sering ada dalam irihati, karena orang lain lebih berhasil dari diri saya, dan kemudian dengan berbagai cara menuduh orang yang berhasil berlaku curang. Dengan ini kami mengajak dan mengingatkan anda sekalian, yang berbeda satu sama lain, untuk senantiasa menggalang, memperdalam dan menyebar-luaskan kebersamaan atau persaudaraan sejati. Cara untuk itu antara lain adalah berusaha menghayati secara mendalam dan handal apa yang sama di antara kita, sehingga apa yang berbeda di antara kita akan fungsional memperdalam dan memperkembangkan kebersamaan atau persaudaraan sejati. Hendaknya kita juga bercermin  pada laki-laki dan perempuan yang berbeda satu sama lain namun saling tertarik untuk mendekat, mengenal, bersatu dan ada kemungkinan kemudian menjadi satu hati, satu jiwa, satu akal budi dan satu tubuh dengan menjadi suami-isteri.
  • Sebab itu, katakanlah kepada mereka: Inilah bangsa yang tidak mau mendengarkan suara TUHAN, Allah mereka, dan yang tidak mau menerima penghajaran! Ketulusan mereka sudah lenyap, sudah hapus dari mulut mereka.” (Yer 7:28). Kutipan ini kiranya menjadi peringatan keras bagi kita semua yang sering kurang mendengarkan suara Tuhan Allah, atau orang yang lebih taat kepada manusia, harta benda daripada kepada Tuhan Allah. Tuhan Allah hadir dan berkarya dimana saja dan kapan saja melalui ciptaan-ciptaanNya: manusia, binatang dan tanaman, maka marilah kita ‘dengarkan’ suara dan kehendakNya. Dalam diri manusia antara lain suara Tuhan Allah menggejala dalam kehendak dan perbuatan baik manusia, maka marilah kita saling mendengarkan kehendak baik serta mengakui perbuatan baik satu sama lain. “Mendengarkan” merupakan keutamaan yang harus diperdalam dan diperkembangkan terus menerus dalam hidup dan kerja kita setiap hari dimana pun dan kapan pun jika kita mendambakan hidup bahagia dan damai sejahtera, selamat lahir dan batin, fisik dan spiritual. Bukankah keutamaan mendengarkan merupakan pengalaman pertama kita, yaitu ketika kita masih bayi mungil dan belum dapat berbicara, namun sungguh menjadi pendengar yang baik, sehingga apa yang kita dengarkan membentuk pribadi kita sebagaimana adanya pada saat ini?.Maka hendaknya pengalaman mendengarkan tersebut terus diperkembangkan dan diperdalam. Marilah kita dengan rendah hati berusaha menjadi pendengar dan pelaksana suara atau kehendak Tuhan Allah yang handal.

“Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita. Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya! Janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba, seperti pada hari di Masa di padang gurun, pada waktu nenek moyangmu mencobai Aku, menguji Aku, padahal mereka melihat perbuatan-Ku” (Mzm 95:6-9)

Page 6 of 25