You are here : Home Renungan

Rabu, 20 Maret 2013

"Jikalau kamu tetap dalam firmanKu”

(Dan 3:14-20.24-25.28; Yoh 8:31-42)

“ Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." Jawab mereka: "Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapa pun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?" Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka." "Aku tahu, bahwa kamu adalah keturunan Abraham, tetapi kamu berusaha untuk membunuh Aku karena firman-Ku tidak beroleh tempat di dalam kamu. Apa yang Kulihat pada Bapa, itulah yang Kukatakan, dan demikian juga kamu perbuat tentang apa yang kamu dengar dari bapamu." Jawab mereka kepada-Nya: "Bapa kami ialah Abraham." Kata Yesus kepada mereka: "Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham. Tetapi yang kamu kerjakan ialah berusaha membunuh Aku; Aku, seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang Kudengar dari Allah; pekerjaan yang demikian tidak dikerjakan oleh Abraham. Kamu mengerjakan pekerjaan bapamu sendiri." Jawab mereka: "Kami tidak dilahirkan dari zinah. Bapa kami satu, yaitu Allah." Kata Yesus kepada mereka: "Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku” (Yoh 8:31-42), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

  • Sebagai orang beriman kita adalah ‘keturunan bapa Abraham’, bapa dan teladan umat beriman, maka selayaknya kita mewarisi cara hidup dan cara bertindaknya. Abraham adalah orang yang begitu patuh setia kepada perintah atau sabda Tuhan, melaksanakan perintah atau sabdaNya tanpa syarat. Maka marilah, entah agama atau keyakinannya apapun, kita bersama-sama bekerja keras dengan sungguh-sungguh melaksanakan kehendak dan perintah Tuhan, yang antara lain  dapat kita temukan dalam Kitab Suci. Sebagai anggota Gereja Katolik kami ingatkan bahwa kita berada dalam ‘Tahun Iman’, dimana kita diajak untuk memperdalam dan memperkembangkan iman kita berdasarkan Kitab Suci maupun aneka dokumen resmi Gereja Katolik yang berisi ajaran atau pesan atau himbauan pastoral untuk kita pelajari, fahami dan hayati. Sebagai anggota Lembaga Hidup Bakti kami ajak untuk membaca, memahami dan merenungkan serta kemudian menghayati apa yang tertulis di dalam Konstitusi kita masing-masing. Warga atau anggota Gereja Katolik kiranya juga dapat membaca dan menghayati apa yang tertulis di dalam Kitab Hukum Kanonik: pilihlah sesuai dengan panggilan dan tugas pengutusan masing-masing. Di dalam Kitab Hukum Kanonik ada ajaran dan cara penghayatan sakramen-sakramen, dan bagi mereka yang berkarya dalam bidang pelayanan pendidikan juga ada arahan dan pedoman pengelolaan sekolah. Bagi kita semua umat beriman marilah kita bangun dan perdalam hidup persaudaraan atau persahabatan sejati, karena kita sama-sama ‘anak-anak Abraham’, dengan kata lain hendaknya jangan ada ketegangan dan permusuhan antar umat beragama dan berkeyakinan.
  • “Kemudian terkejutlah raja Nebukadnezar lalu bangun dengan segera; berkatalah ia kepada para menterinya: "Bukankah tiga orang yang telah kita campakkan dengan terikat ke dalam api itu?" Jawab mereka kepada raja: "Benar, ya raja!" Katanya: "Tetapi ada empat orang kulihat berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu; mereka tidak terluka, dan yang keempat itu rupanya seperti anak dewa!” (Dan 3:24-25). Daniel dan teman-temannya dihukum mati dengan dibakar oleh  raja Nebukadnezar, namun karena kesetiaan imannya mereka tidak terbakar dan ada malaikat Allah yang membebaskannya sehingga mereka tidak terbakar. Iman memang mampu mengatasi dan mengalahkan aneka bentuk panas api kehidupan, entah itu berupa kemarahan, kebencian atau balas dendam. Hadapi orang marah dalam dan dengan iman, karena dengan demikian anda pasti akan menemukan cara-cara atau langkah-langkah bijak dalam mengatasi kemarahan; jangan melawan kemarahan dengan kekerasan, karena dengan demikian kemarahan akan semakin besar membara, sebaliknya dihadapi dengan dan dalam iman alias bersama dan bersatu dengan Tuhan, kemarahan dan kebencian dapat berubah menjadi persaudaraan dan kasih sayang. Orang marah pada umumnya karena takut atau was-was, maka jangan ditakut-takuti lagi, melainkan bukalah hati dan jiwanya sehingga memiliki wawasan luas dan dengan demikian mereka tak akan takut dan was-was lagi. Marilah dalam dan dengan semangat iman kita hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

"Terpujilah Engkau, Tuhan, Allah nenek moyang kami, yang patut dihormati dan ditinggikan selama-lamanya. terpujilah nama-Mu yang mulia dan kudus, yang patut dihormat dan ditinggikan selama-lamanya.Terpujilah Engkau dalam Bait-Mu yang mulia dan kudus, Engkau patut dinyanyikan dan dimuliakan selama-lamanya.Terpujilah Engkau di atas takhta kerajaan-Mu, Engkau patut dinyanyikan dan ditinggikan selama-lamanya.” (Dan 3:52-54)

Selasa, 19 Maret 2013

HR ST YUSUF, suami SP Maria: 2Sam 74-5a.12-14a.16; Rm 4:13.16-18.22; Mat 1:16.18-21.24a

“Seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum”

Pada masa kini orang yang sungguh tulus hati kiranya jarang sekali, apalagi kebanyakan orang pada umumnya suka ngrumpi atau ngrasani, yang berarti senantiasa melihat dan menceriterakan kekurangan dan kelemahan orang lain. Dalam dunia atau pelayanan pendidikan pun, entah itu dalam pendidikan formal di sekolah-sekolah maupun informal dalam keluarga dan masyarakat ada kecenderungan juga para pendidik atau pendamping lebih melihat kekurangan dan kelemahan peserta didik daripada kelebihan dan kebaikannya. Tak ketinggalan juga ada pamong atau pendamping seminaris di Seminari-Seminari yang juga lebih cenderung melihat kelemahan dan kekurangan para seminaris daripada kelebihan atau kebaikannya. Ada kecenderungan banyak orang untuk lebih berpikir nagatif daripada positif terhadap orang lain. Santo Yusuf, suami SP Maria yang kita kenangkan hari ini adalah ‘seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum’, dan kiranya dapat menjadi teladan bagi kita semua yang rangka hidup beragama atau beriman.

Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.” (Mat 1:19)

Tulus hati berarti hatinya bersih alias suci, tidak pernah melakukan perbuatan dosa sekecil apapun, dan senantiasa melaksanakan kehendak dan perintah Allah, semakin tambah usia dan pengalaman berarti juga semakin dikasihi oleh Allah dan sesama manusia. Mereka yang sungguh masih tulus hati pada umumnya ialah anak-anak balita, anak-anak berusia lima tahun kebawah. Maka jika kita berusaha untuk tetap tulus hati marilah kita hidup dan bertindak meneladan anak-anak balita.

Pertama-tama dan terutama kami mengajak dan mengingatkan para suami-isteri untuk tidak saling mencemarkan nama baik pasangan hidupnya di muka umum sedikitpun, apalagi menceriterakan kekurangan dan kelemahan pasangan hidupnya kepada rekan kerja di kantor yang lain jenis, seperti sering terjadi seorang boss laki-laki ceritera kepada sekretaris pribadinya yang cantik perihal kelemahan dan kekurangan isterinya yang pada umumnya berlanjut dengan perselingkuhan. Hal senada juga dapat terjadi seorang isteri mengeluh perihal pasangannya kepada boss-nya di kantor, yang lain jenis. Jika antar suami-isteri dapat menjaga nama baik masing-masing di muka umum, maka anak-anaknya akan melakukan yang demikian juga.

Para pendidik atau guru kami harapkan berpartisipasi dalam karya Penciptaan Allah dalam melaksanakan tugas pengutusannya, yang berarti senantiasa berpikir positif terhadap para peserta didik atau murid-muridnya, memperkembangkan bakat, keterampilan alias apa-apa yang baik yang telah dimiliki oleh para peserta didik atau murid. Ketika apa yang baik atau kekuatan yang ada dalam diri para peserta didik/murid diperkembangkan dan diperdalam, maka segala kelemahan dan kekurangan yang ada pada diri peserta didik/murid akan terhapus pelan-pelan dan akhirnya hilang sama sekali. Guru berarti ‘digugu lan ditiru’ (=ditaati dan diikuti), maka dengan ini kami berharap kepada para guru untuk memiliki hati yang  tulus, bersih dan suci, sehingga para murid atau peserta dididik tergerak untuk mengikutinya. Para guru atau pendidik kami harapkan menghayati motto bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantoro “ing arso asung tulodho, ing madyo ambangun karso, tut wuri handayani” ( = keteladanan, pemberdayaan dan motivasi).

Kepada rekan muda-mudi atau remaja kami harapkan juga menjaga diri untuk tetap memiliki ketulusan hati, hidup suci, lebih-lebih tidak tergoda dengan rayuan kenikmatan seksual yang merebak pada masa kini. Gara-gara HP atau Facebook di internet cukup banyak orang, entah dewasa, muda-mudi atau remaja jatuh ke pergaulan seks bebas, bahkan ada juga seorang pastor yang terjebak juga, sehingga harus mengundurkan diri dari imamatnya. Rekan-rekan putri atau perempuan kami harapkan juga menghadirkan diri sedemikian rupa sehingga tidak merangsang laki-laki hidung belang berpikiran jahat terhadap anda, dan ada kemungkinan anda terancam untuk diperkosanya. Dan tentu saja rekan-rekan laki-laki atau putra kami harapkan meneladan St.Yusuf, yang sungguh tulus hatinya, dengan kata lain tidak salah anda terpesona kepada gadis cantik, tetapi hendaknya tidak ada hasrat untuk memiliki atau menguasai, melainkan anda sendiri memang sungguh diteguhkan sebagai laki-laki wajar, dan dalam kewajaran juga memperlakukan lain jenis, yaitu memberi kebebasan kepada mereka.

Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya merupakan kasih karunia, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham. Sebab Abraham adalah bapa kita semua, -- seperti ada tertulis: "Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa" -- di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada. Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” (Rm 4:16-18)

Dalam ketulusan hati dan sesuai dengan kata malaikat, utusan Allah, akhirnya Yusuf menjadikan Maria sebagai isterinya, meskipun Maria telah mengandung (karena Roh Kudus). Ikatan keluarga, suami-isteri, Yusuf dan Maria karena dan oleh Roh Kudus. Hidup terpanggil, entah menjadi imam, bruder, suster maupun suami-isteri hemat saya juga karena Roh Kudus, maka orang akan setia pada panggilannya sampai mati jika yang bersangkutan setia pada dorongan dan kehendak Roh Kudus, bukan menurut keinginan atau selera pribadi.

Kehendak Roh Kudus antara lain menggejala dalam kehendak dan perbuatan baik, dan ada kemungkinan menjadi nyata dalam tata tertib atau aturan, visi dan misi lembaga, misalnya berupa Konstitusi, Pedoman Hidup, Anggaran Dasar dst.. Marilah kita hadapi dan sikapi aneka tata tertib dan aturan yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita dalam dan oleh iman. Kami percaya bahwa aneka tata tertib dan aturan bertujuan baik, dan siapapun yang melaksanakan dengan jujur, disiplin, setia dan tekun pasti akan memiliki ketulusan hati. Maka kami harap kita semua sungguh membaktikan diri sepenuhnya pada tata tertib atau aturan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing.

Sebagai orang beriman kita diharapkan untuk meneladan bapa Abraham, bapa umat beriman, yang dikatakan oleh dalam kutipan surat di atas bahwa “sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap dan percaya”. Berharap dan beriman memang mengandalkan diri pada sesuatu yang belum atau tidak jelas alias tak mungkin difahami oleh akal sehat sepenuhnya, namun sesuatu tersebut sungguh menggairahkan hidup, penghayatan panggilan dan pelaksanaan tugas pengutusan. Semoga kita semua memiliki harapan dan iman kuat, handal dan tangguh sehingga tabah dalam menghadapi aneka tantangan, godaan dan rayuan untuk berbuat jahat. Kepada para orangtua kami harapkan membina  dan mendidik anak-anaknya agar memiliki harapan dan iman yang kuat, handal dan mendalam.

“Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya, hendak memperkenalkan kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun.Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit. Engkau telah berkata: "Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku, Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku:Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun takhtamu turun-temurun.” (Mzm 89:2-5)

Senin, 18 Maret 2013

Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."

(Dan  13:41c-62; Yoh 8:1-11)

“Yesus pergi ke bukit Zaitun. Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka.Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?" Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."(Yoh 8:1-11), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

  • Kasih pengampunan merupakan anugerah yang telah kita terima secara melimpah ruah dari Allah melalui sekian banyak orang yang telah mengasihi dan memperhatikan kita, sejak kita dilahirkan. Dalam Warta Gembira ini dikisahkan bahwa pagi-pagi benar di depan Bait Allah alias didepan tempat ibadat (kapel, gereja, masjid, kuil dst..) tokoh-tokoh atau pemuka bangsa Yahudi membawa seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah untuk mohon kebijakan dari Yesus apa yang harus dilakukan terhadap perempuan tersebut. Menurut tradisi Yahudi pendosa yang demikian harus dilempari batu sampai mati sebagai hukumannya. Yesus sungguh cerdas dalam menanggapi jebakan para pemuka Yahudi: jika Ia menjawab silahkan perempuan tersebut dilempari batu sampai mati berarti Yesus sama dengan mereka, tetapi jika Ia mengatakan ampunilah dia maka Yesus dituduh tidak setia pada tata tertib atau aturan Yahudi, dan dengan demikian ada alasan bagi pemuka Yahudi untuk mengadili dan menghukumNya. Orang suci memang memiliki kecerdasan khusus, sehingga senantiasa siap sedia menanggapi aneka jebakan maupun tantangan. Karena kecerdasan dan kebijakan Yesus akhirnya tak seorangpun berani menghukum perempuan pezinah tersebut, bahwa mereka pergi meninggalkan Yesus dan perempuan tersebut. Yesus setelah mengampuni si perempuan pun akhirnya meminta ia pergi dan jangan melakukan dosa lagi. Marilah kita meneladanYesus yang mengampuni atau menghayati pesanNya agar mulai dari sekarang kita tidak melakukan dosa apapun. Biarlah kita sungguh siap sedia mengikuti Yesus dan mungkin juga harus menderita dan disalibkan artinya membaktikan diri sepenuhnya kepada Penyelenggaraan Ilahi dengan melayani saudara-saudari kita, terutama mereka yang berdosa, miskin dan berkekurangan.
  • "Baguslah engkau mendustai kepalamu sendiri. Sebab malaikat Allah sudah menunggu-nunggu dengan pedang terhunus untuk membahan engkau, supaya membinasakan kamu!" (Dan 13:59). Demikian kata Daniel, orang muda dan suci, yang mengusahakan kebenaran serta mendobrak kebohongan. Pembohong memang untuk sementara selamat, namun pada suatu saat akan ketahuan juga. Pada umumnya pembohong jika tidak segera bertobat dengan hidup jujur akan melakukan kebohongan yang lebih besar lagi untuk menutupi kebohongan yang ada. Hari-hari ini kasus Bank Century maupun pembangunan komplek olahraga Hambalang semakin hangat menjadi pembicaraan, mengingat dan memperhatikan ada dugaan kebohongan luar biasa dalam kasus ini dengan melakukan korupsi. Semoga mereka yang dipanggil KPK berani mendobrak kebohongan yang ada, demikian juga jajaran KPK semoga cerdas seperti Daniel atau Yesus. Jangan takut mendobrak dan memberantas kebohongan yang ada, karena aneka bentuk kebohongan telah merusak hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kebohongan yang dilakukan oleh para petinggi negara sangat mempengaruhi sikap mental rakyat kita maupun generasi muda khususnya, yaitu berbohong merasa tak bersalah. Memang “kesadaran diri sebagai pendosa, yang lemah dan rapuh” tidak ada lagi di lingkungan masyarakat, sehingga orang berbuat salah enak saja, menyakiti orang lain merasa puas dan nikmat.

“Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.”

(Mzm 23:3b-6)

Minggu Prapaskah V, 17 Maret 2013

Mg Prapaskah V : Yes 43:16-21; Flp 3:8-14; Yoh 8:1-11

“Setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua”

Sebut saja namanya Bapak Artomoro, yang boleh diartikan bapak yang senantiasa mendambakan uang atau harta benda mengalir deras mendatangi, dengan kata lain orang yang bersikap mental materialistis. Pada suatu hari dengan geram ia memarahi anak-anaknya, karena anak-anak kurang taat kepada bapak-ibunya dan melakukan apapun sesuai dengan selera atau keinginannya sendiri. “Kamu ini anak-anaknya siapa, sungguh memalukan dan memprihatinkan cara hidup dan cara bertindakmu”, demikian kata sang bapak dalam kemarahannya. “Lho, kami ini khan anak-anak bapak-ibu”, jawab anak-anak dengan sedikit takut. Kemarahan orangtua terhadap anak-anaknya, pemimpin terhadap anggota-anggotanya, atasan terhadap bawahan-bawahannya sering terjadi dalam kehidupan bersama kita, dan sering hal itu untuk menunjukkan kewibawaan orangtua, atasan atau pemimpin. Begitulah yang sering terjadi bahwa semakin tua dan semakin tinggi fungsi atau jabatannya orang merasa diri lebih baik daripada yang lain alias sombong. Bukanlah semakin tambah usia dan pengalaman berarti juga bertambah dosanya, sebagaimana terjadi dalam kisah dalam Warta Gembira hari ini ketika Yesus bersabda bahwa yang tidak berdosa silahkan melempar batu pertama kali kepada pelacur yang tertangkap basah dan akhirnya yang paling tua lebih dahulu mengundurkan diri. Maka marilah kita renungkan apa isi Warta Gembira hari ini.

Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya.” (Yoh 8:7-9)

Siapakah Yesuit itu? Yesuit ialah orang yang mengakui dirinya pendosa, tetapi tahu bahwa dipanggil menjadi sahabat Yesus seperti Ignatius dahulu, Ignatius minta kepada Santa Perawan, ‘agar menempatkan dia disamping Puteranya’, dan kemudian Ignatius melihat Bapa sendiri minta kepada Yesus yang memanggul salib, agar menerima si musafir ini dalam kalangan sahabatnya” (Konjen SJ ke 32, dekrit 2.1). Dalam Konggregasi Jendral ini adalah tokoh-tokoh atau pemuka-pemuka penting Serikat Yesus. Memang pernyataan iman tersebut sedikit banyak terpengaruh oleh sapaan Paus Yohanes Paulus II kepada para peserta Konggregasi Jendral yang mengadap Yang Mulia :”Dari mana asalmu? Dimana saat ini anda berada? Kemana anda mau pergi?”.

Sapaan Paus kepada para Yesuit tersebut di atas kiranya dapat menjadi bahan permenungan atau refleksi kita juga. Kita semua berasal dari Allah dan kiranya di awal hidup kita di dunia ini dalam keadaan suci, bersih dan tak berdosa sedikitpun, namun karena kelemahan dan kerapuhan kita sebagai manusia yang berasal dari ‘tanah’ dengan mudah kita mencemari kesucian kita dalam perjalanan waktu. Semakin tambah pengalaman dan tambah usia semakin banyak dosa yang kita lakukan, itulah kebenaran iman sejati. Pada saat ini di dunia, dalam hidup bersama kita menghadapi aneka rayuan dan godaan untuk berbuat dosa, dan dengan mudah kita tergerak mengikuti rayuan dan godaan tersebut, karena egois dan semangat materialistis kita. Maka selayaknya jika kita menyadari dan menghayati diri sebagai orang berdosa, dan jika kita dapat melakukan apa yang baik, menyelamatkan dan membahagiakan sungguh merupakan karya atau penyelenggaraan Ilahi dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini. Dengan kata lain kita juga telah menerima kasih pengampunan dari Allah secara melimpah ruah melalui saudara-saudari kita, maka apa yang hendaknya kita lakukan selanjutnya atau “kemana kita mau pergi melangkah?”

Kita semua diharapkan untuk pergi melangkah menuju ke ‘tinggal bersama Yesus’ alias menjadi sahabat-sahabat Yesus. Menjadi sahabat-sahabat Yesus antara lain senantiasa siap sedia meneladanNya dalam ‘memanggul atau memikul salib’. APP tahun ini mengajak kita untuk mendalami dan menghayati tema “Bekerja Keras dan berpartisipasi Menghayati  Salib Yesus”. Maka marilah kita mawas diri sejauh mana kita telah bekerja keras dalam hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita, yang memang tak akan terlepas dari aneka penderitaan dan pengorbanan maupun perjuangan. “Bekerja keras adalah sikap dan perilaku yang suka berbuat hal-hal yang positif dan tidak berpangku tangan serta selalu gigih dan sungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 10).

Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya(Fil 3:8).

Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus kita dipanggil untuk semakin mengenalNya serta menjadi sahabat-sahabatNya yang handal, tangguh dan berkompeten, sehingga cara hidup dan cara bertindak kita meneladan cara hidup dan cara bertindakNya maupun senantiasa melaksanakan sabda-sabdaNya dimana pun dan kapan pun. Maka hendaknya segala sesuatu yang kita miliki dan kuasai pada saat ini sungguh difungsikan untuk semakin mengenal dan menjadi sahabatNya, dengan kata lain memfungsikan segala sesuatu sebagai jalan atau wahana agar kita semakin memuji, memuliakan, menghormati dan mengabdi Tuhan, entah dalam atau melalui ibadat maupun kerja atau pelayanan kita setiap hari.

Kemuliaan, kesejahteraan dan kebahagiaan sejati ada dalam kesatuan dan kebersaman dengan Tuhan, dan memang untuk mengusahakan atau mencapainya kita perlu ‘menghayati salib Yesus Kristus’ alias membaktikan hidup sepenuhnya kepada panggilan, tugas pengutusan maupun kewajiban. Dengan kata lain kami ajak anda sekalian untuk meninggalkan aneka bentuk kemalasan dan hidup seenaknya hanya mengikuti selera atau keinginan pribadi. Dalam hidup dan kerja dimana pun dan kapan pun pasti ada tata tertib atau aturan yang harus kita lakukan atau hayati, maka pertama-tama dalam mengusahakan kemuliaan, kesejahteraan dan kebahagiaan hendaknya setia menghayati atau melaksanakan tata tertib atau aturan yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing.

Kami mengajak anda sekalian untuk menyikapi dan menghayati aneka tata tertib dan aturan bukan sebagai beban atau perintah, melainkan sebagai kebutuhan atau sarana dan jalan mengusahakan kemuliaan, kesejahteraan dan kebahagiaan sejati. Hendaknya anak-anak sedini mungkin dididik dan dibina untuk setia melaksanakan tata tertib dan aturan, misalnya tata tertib dan aturan di dalam keluarga, yang kemudian diperdalam dan diperkembangkan di tempat pendidikan formal, mulai dari Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar dst… Ketika anak-anak di dalam keluarga biasa hidup tertib dan teratur, maka percayalah di kemudian hari mereka akan hidup tertib dan teratur dimana pun dan kapan pun. Sekali lagi kami berharap kepada para orangtua untuk dapat menjadi teladan dalam penghayatan atau pelaksanaan tata tertib dan aturan, dan tentu saja anda berdua setia saling mengasihi sebagai suami-isteri sampai mati.

“Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi. Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: "TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!" TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita. Pulihkanlah keadaan kami, ya TUHAN, seperti memulihkan batang air kering di Tanah Negeb! Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.” (Mzm 126)

Sabtu, 16 Maret 2013

“Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!"

(Yer 11:18-20; Yoh 7:40-53)

“Beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan perkataan-perkataan itu, berkata: "Dia ini benar-benar nabi yang akan datang." Yang lain berkata: "Ia ini Mesias." Tetapi yang lain lagi berkata: "Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal." Maka timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Dia. Beberapa orang di antara mereka mau menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang berani menyentuh-Nya. Maka penjaga-penjaga itu pergi kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, yang berkata kepada mereka: "Mengapa kamu tidak membawa-Nya?" Jawab penjaga-penjaga itu: "Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!" Jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka: "Adakah kamu juga disesatkan? Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang-orang Farisi? Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!" Nikodemus, seorang dari mereka, yang dahulu telah datang kepada-Nya, berkata kepada mereka: "Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuat-Nya?" Jawab mereka: "Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea." Lalu mereka pulang, masing-masing ke rumahnya” (Yoh 7:40-53), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

  • Semakin Yesus membuka DiriNya semakin menimbulkan pertentangan, dan ternyata di antara orang-orang Farisi dan ahli Taurat juga muncul perselisihan, dimana muncul “Nikodemus, seorang dari mereka, yang dahulu telah datang kepadaNya”. Para penjaga, utusan orang-orang Farisi dan ahli Taurat, yang diberi tugas untuk mengamat-amati dan menangkap Yesus pun akhirnya terkesan kepadaNya dengan berkata :”Belum pernah seorang manusia berkata seperti itu”. Nikodemus sendiri mengingatkanb bahwa untuk mengadili dan menghukum orang menurut Taurat orang yang bersangkutan harus didengarkan lebih dahulu, dengan kata lain perlu penelitian atau ‘diagnose’ yang memadai. Sikap orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang tergesa-gesa mengadili dan menghukum orang tanpa penelitian yang memadai ini kiranya sering terjadi juga di antara para dokter dalam mengambil keputusan untuk mengoperasi pasien atau menentukan penyakit seseorang, demikian juga secara sandiwara terjadi di proses pengadilan kita. Dengan kata lain sabda hari ini mengingatkan kita semua pentingnya penelitian atau diagnose yang memadai sebelum menentukan kebijakan atau langkah strategis. Memang bangsa kita kurang menghargai pentingnya penelitian atau diagnose, sehingga senantiasa boleh dikatakan ketinggalan zaman, sebagaimana terjadi dalam pendidikan. Sejak dahulu ganti Menteri Pendidikan senantiasa ganti kebijakan atau kurikulum, yang konon merupakan pembaharuan yang dibutuhkan, padahal kebijakan yang dimaksud hanya berdasarkan kasus tertentu saja. Hal itu kiranya merupakan buah pendidikan kita yang kurang memperhatikan eksplorasi dalam proses pembelajaran, dan lebih cenderung menghafal. Sebagai orang beriman marilah kita setia dan rajin mengadakan refleksi atau pemeriksaan batin setiap hari, menjelang istirahat malam.
  • TUHAN semesta alam, yang menghakimi dengan adil, yang menguji batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku” (Yer 11:20). Kutipan ini mengingatkan dan mengajak kita semua bahwa ketika kita menghadapi masalah, perkara atau persoalan atau tantangan dan hambatan, hendaknya dengan rendah hati mohon pencerahan atau penerangan dari Allah, agar dalam terang Allah kita mengambil langkah dan kebijakan, sebagaimana juga dihayati dalam Konkraf oleh para Kardinal yang berdoa mohon pencerahan dan penerangan guna memilih Paus, Gembala Gereja Katolik, Penerus Tahta St.Petrus dan karya penyelamatan Yesus Kristus. “Kepada-Mulah kuserahkan perkaraku”, demikian doa yang kiranya menjadi pegangan atau pedoman kita dalam berdoa maupun bertindak. Jika kita maju, tumbuh berkembang dalam hal penghayatan hidup beriman kiranya akan menghadapi banyak perkara, maka persembahkan perkara-perkara yang ada kepada Allah, dan jangan ditangani atau dipecahkan sendiri. Dan kiranya  kita juga perlu minta bantuan atau sumbangan orang lain dalam rangka menangani atau memecahkan perkara. Dalam kebersamaan dan Allah dan saudara-saudari kita, maka kita akan sukses menangani aneka perkara yang kita hadapi. Dengan kata lain hendaknya kita saling membantu dalam menghadapi aneka perkara kehidupan, bergotong-royong dalam mengemban tugas pengutusan dan beban.

“Hakimilah aku, TUHAN, apakah aku benar, dan apakah aku tulus ikhlas. Biarlah berakhir kejahatan orang fasik, tetapi teguhkanlah orang yang benar, Engkau, yang menguji hati dan batin orang, ya Allah yang adil. Perisai bagiku adalah Allah, yang menyelamatkan orang-orang yang tulus hati; Allah adalah Hakim yang adil dan Allah yang murka setiap saat” (Mzm 7:9b-12)

Page 5 of 25