You are here : Home Renungan

Jarak dan Hati

Suatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya, "Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?"

Seorang murid setelah berpikir cukup lama menangkat tangan dan menjawab, "Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak."

"Tapi...", sang guru balik bertanya, "Lawan bicaranya justru berada di sampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?"

Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawaban yang memuaskan. Sang guru lalu berkata, "Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak. Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi."

Readmore

Humility

"Takut akan Tuhan adalah didikan yang mendatangkan hikmat dan kerendahan hati mendahului kehormatan." Amsal 15:33

Buku klasik yang berjudul "Humility" karya Andrew Murray memberi definisi rendah hati sebagai berikut. "Humility is the sense of entire nothingness, which comes when we see how truly God is all, and in which we make way for God to be all." Manusia itu pada dasarnya "nothing", lalu dalam kondisi "nothing" tersebut, manusia diubah dari "nothing" menjadi "something" oleh Tuhan yang adalah "everything". Saat manusia mulai berani mencoba sendiri untuk menjadi "something", Tuhan tidak lagi dapat bekerja melaluinya. Karena Tuhan tidak mungkin mengubahnya dari "something" menjadi "everything".

Readmore

Tetap Bersemangat

Waktu orang itu mendengar orang banyak lewat, dia bertanya : "Apa itu?" Lukas 18:36

Bacaan : Lukas 18:35-43

Suatu kali, saya mengunjungi seorang ibu yang terkena stroke. Dalam percakapan yang berlangsung saat itu, terlihat dengan sangat jelas, tidak ada lagi semangat hidup. Mintanya mau mati saja. Tapi, aneh bin ajaib, kematian tidak segera menghampirinya. Walau sudah ingin mati, namun Tuhan belum memperkenankannya meninggalkan dunia ini. Meski tubuhnya masih hidup, tapi semangatnya sudah mati. Sangat berbeda dengan Proklamator negeri ini, Ir. Soekarno. Pada saat penjajahan, dia pernah berujar, "engkau boleh memenjarakan aku namun semangatku tidak bisa engkau penjarakan". Tampak dengan jelas, semangat yang tinggi membuatnya tidak cepat berputus asa.

Dalam renungan kita hari ini, dikisahkan tentang seorang yang bernama Bartimeus. Orang ini buta dan profesi hariannya adalah pengemis. Bermodalkan cacat fisik yang dia miliki, dia selalu duduk di pinggir jalan untuk menantikan belas kasihan orang lewat (ayat 35). Suatu kali Yesus bersama para murid berkunjung ke Yerikho. Apa yang diperbuat di sana, Alkitab tidak menjelaskannya secara detail. Selesai kunjungan, merekapun meninggalkan Yerikho. Rupanya, Yesus dan para murid diikuti oleh orang banyak (Mat 10:46). Bartimeus tahu kalau banyak orang yang lewat di depannya. Namun sayang, dia tidak tahu siapa sajakah yang lewat itu. Maklum dia buta. Karena itu, dia memutuskan untuk menanyakan siapakah yang lewat itu (ayat 36). Lagi-lagi, Alkitab tidak memberitahukan siapakah orang yang ditanyai itu. Yang dikisahkan hanyalah reaksinya tatkala mengetahui siapa yang lewat. Responnya sungguh luar biasa. Ia berseru, "Yesus Anak Daud, kasihanilah aku!" (Mark 10:48). Seruannya itu rupanya mengganggu mereka yang "normal" yang sedang bersama Yesus. Bagaimana respon mereka? Membantu pun tidak, justru menegur dan memintanya diam (ayat 39). Bahkan dalam terjemahan lain mengatakan dia dimarahi. Gawat! Bukannya ditolong tetapi justru dihambat.

Menarik dicermati, rupanya dia tidak patah arang. Ia berusaha sekuat tenaga memohon pertolongan Yesus. Walau buta, tapi imannya menembus hati Yesus. Yesus berkata, "Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau." Dia melihat! Pertolongan itu diawali tatkala semangat hidupnya berkobar. Bagaimana dengan anda? Teruslah bersemangat! Walau usia lanjut, sukacita Tuhan memampukan kita untuk bersemangat.

Dalam Yesus selalu tersedia pertolongan.

Sumber : Cakrawala Inner Healing - September 2008

Manajemen Sakit Hati

Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan. Mazmur 37:8

Bacaan : 1 Samuel 1:1-28

Hampir setiap orang tentu pernah mengalami sakit hati dalam hidupnya. Baik dalam keluarga, berteman, maupun bermasyarakat. Sebagaimana sifat sedih dan gembira, rasa yang satu ini adalah suatu kewajaran dalam hidup manusia. Apalagi, mengingat manusia adalah makhluk sosial, yang dalam setiap interaksinya tidak lepas dari kekhilafan.

Sebab-sebab datangnya perasaan ini pun bermacam-macam. Dari masalah sepele hingga masalah besar, dapat menjadi pemicunya. Misalnya berawal dari perbedaan pendapat, adanya konflik atau ketidakcocoka, hingga iri dan dengki. Bila perasaan ini dibiarkan terlalu lama bercokol dalam hati, maka tidak sehatlah hati itu. Pemiliknya pun akan stress dan jauh dari keceriaan. Lebih jauh lagi, hal itu bisa menjauhkan manusia dari Allah. Karl Marx, Adolf Hitler, Mao Tse Tung adalah contoh produk dari orang yang sakit hati. Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berpotensi luar biasa. Namun karena membiarkan "sakit hati" menguasai diri mereka, akhirnya mengantar kepada jurang kehancuran dan membinasakan banyak orang.

Berkaitan dengan sakit hati, dalam alkitab ada satu contoh yang positif. Hana yang mandul selalu direndahkan oleh Penina sehingga ia menjadi sakit hati. Namun dalam kepedihan hatinya, Hana berdoa dan terus berdoa, karena demikian susah hatinya sehingga hampir-hampir ia tak bersuara dan hanya bibirnya yang bergerak-gerak. Sampai-sampai Imam Eli menyangka ia mabuk. Hana menumpahkan seluruh isi hatinya kepada Tuhan, sehingga akhirnya ia dapat terlepas dari sakit hati itu dan mukanya tidak lagi muram. Bahkan Tuhan mengabulkan doanya, sehingga setahun kemudian mengandunglah ia dan melahirkan seorang anak laki-laki. Hana telah mengubah sakit hatinya menjadi motivasi untuk memperoleh kemenangan. Kita pun  turut senang, kisah itu berakhir dengan indah.

Bagaimana kita "me-manage" sakit hati? Sebagai orang percaya, hal pertama adalah menyerahkan masalah itu kepada Tuhan dalam doa. Selanjutnya kita harus selalu koreksi diri, menjauhkan diri dari sifat iri, dengki, dan ambisi. Hindari sifat pemarah dan keras hati, namun tumbuhkan sifat pemaaf, berprasangka baik, dan selalu ikhlas. Setiap orang bisa sakit hati, namun itu bukan alasan untuk menjadi kalah.

Sakit hati dapat menimpa semua orang, namun kita berkuasa untuk mengubahnya menjadi kebaikan.

Mengambil Resiko

Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tangan-Ku kepada suku bangsa yang memberontak, yang menempuh jalan yang tidak baik dan mengikuti rancangannya sendiri. Yesaya 65:2

Bacaan : Yesaya 53:2-8

Seekor anak lumba-lumba terdampar di pantai dan ditemukan oleh seorang nelayan. Saat nelayan itu mencoba menggendong tubuh lumba-lumba itu, ia menggeser tubuhnya seolah-olah menolak "maksud baik" bapak nelayan. Nelayan itu kembali ke pondoknya mengambil selembar handuk basah dan ditutupkan di tubuh lumba-lumba malang tadi. Sambil diawasi untuk memastikan handuk tetap lembab. Menjelang malam ketika air laut pasang mulai menyapu pantai, membelai tubuh si lumba-lumba malang. Mata si lumba-lumba bersinar indah menyiratkan satu harapan hidup. Dan ketika gelombang yang selanjutnya datang, lumba-lumba itu melompat ke udara sambil berteriak kegirangan seolah mengucapkan "terima kasih" dan kembali ke habitatnya.

Sering kita menjumpai orang-orang yang bersikap seperti lumba-lumba tadi. Tidak semua tindakan dan perbuatan kasih kita diterima dengan baik oleh orang lain. Sebagai orang tua, kita harus menghadapi sikap anak kita yang memberontak dan membangkang terhadap nasehat dan teguran, padahal tujuan nasehat itu baik. Penolakan ini kadang membuat kita putus asa. Lantas apakah kita membiarkan penolakan menguasai perbuatan baik kita?

Tuhan Yesus mengalami semua itu ketika Dia datang ke dunia. Umat manusia menolak keselamatan yang Dia tawarkan untuk mendamaikan hubungan dengan Bapa. Ia tidak bereaksi keras dengan penolakan itu, sebaliknya dengan penuh kasih. Dia menunjukkan kepeduliannya pada orang-orang yang tertolak dan membutuhkan pertolongan. Dia melenyapkan sakit penyakit, membebaskan orang-orang yang dikuasai roh jahat, bahkan seorang pelacur yang dianggap sampah pun tidak Dia hakimi. Dia tidak naik pitam ketika dua orang muridNya berebut posisi, Petrus menyangkali, Yudas mengkhianati, Thomas tidak mempercayai kebangkitanNya. Tidak ada ucapan terima kasih yang ditujukan kepadaNya. Tapi Tuhan Yesus tetap menunjukkan kasihNya setelah kenaikanNya ke surga, para murid menyebar untuk memberitakan Injil. Dan mereka menjadi pengikut yang luar biasa yang berani hidup dan mati bagi injil. Semua yang mereka lakukan seolah-olah menyiratkan satu ucapan terima kasih kepada Gurunya. Sikap inilah yang harus kita kembangkan.

Sangat sulit memperlihatkan satu perbuatan kasih tanpa menuntut balas atau mencampuri hidup orang lain.

Page 25 of 25