You are here : Home Renungan

Senin, 08 April 2013

HR Kabar Sukacita : Yes 7:10-14; 8:10; Ibr 10:4-10; Luk 1:26-38

"Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu”.

Pasangan suami-isteri baru yang mendengar bahwa sang isteri mulai mengandung, maka pasangan suami-isteri tersebut sungguh bersukacita, dan kiranya mareka pun juga tergerak untuk mewartakan sukacita atau kegembiraannya kepada saudara-saudarinya. Namun jika seorang perawan mengandung pasti akan menjadi bahan cemoohan atau pembicaraan jelek. Maria, perawan suci dari Nazaret tiba-tiba menerima kabar dari Allah melalui malaikatNya bahwa ia akan mengandung seorang anak laki-laki karena Roh Kudus. Secara manusiawi hal ini kiranya sungguh menakutkan, jangan-jangan ada tuduhan orang lain ia berzinah atau kena tulah. Namun begitulah kehendak atau janji Allah harus segera terlaksana, dengan mengutus Pribadi kedua menjadi manusia melalui rahim Maria. Dengan kata lain Maria terpilih sebagai wakil umat manusia untuk bekerjasama dalam perwujudan janji Allah, maka kesanggupan Maria untuk mengandung karena Roh Kudus sungguh merupakan kabar sukacita atau gembira. Maria adalah bunda kita dan teladan umat beriman, maka marilah kita meneladan imannya.

"Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk 1:38)

Kutipan di atas ini merupakan tanggapan Maria dengan rendah hati mentaati kehendak atau perintah Allah. Hemat saya orang yang rendah hati dan taat sungguh menggembirakan banyak orang atau membuat sukacita bagi banyak orang. Sebagai orang beriman marilah kita senantiasa hidup dan bertindak dengan taat dan rendah hati. Ketaatan kita terutama adalah taat kepada kehendak dan perintah Allah dalam rangka berpartisipasi mewujudkan karya penyelamatan dunia. Dunia seisinya ketika diciptakan oleh Allah semuanya baik adanya, namun karena dosa dan keserakahan manusia apa yang semula baik telah rusak: ciptaan-ciptaan lain selain manusia seharusnya membantu manusia dalam mengusahakan keselamatan jiwanya alias menjadi sarana atau wahana sudah terbalik menjadi tujuan.

Berpartisipasi dalam karya penyelamatan dunia memang harus berjuang dan berkorban, sebagaimana dialami oleh Maria, sebagai perawan yang harus mengandung, mempersembahkan keperawanannya kepada Allah, bukan untuk kenikmatan seksual sebagaimana didambakan banyak orang. Apa yang paling berharga dipersembahkan kepada Allah demi keselamatan atau kesejahteraan umum, seluruh umat manusia. Memberi persembahan kepada Allah seharusnya memang yang paling baik, paling berharga atau paling bernilai, yang berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah. Marilah kita ingat dan sadari bahwa diri kita serta segala sesuatu yang kita miliki dan kuasai sampai kini merupakan anugerah Allah yang kita terima melalui saudara-saudari kita, maka selayaknya jika kemudian semuanya dipersembahkan kembali kepada Allah.

Sekali lagi kami ingatkan bahwa kita berada dalam Tahun Iman, dimana kita diajak untuk kembali ke sumber-sumber iman sebagai pedoman atau acuan hidup dan bekerja. Salah satu sumber iman kita adalah sabda Allah sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci, maka marilah kita bacakan dan dengarkan serta cccap dalam-dalam sabda Allah. Semoga kehendak dan perintah Allah sungguh meresap dalam-dalam atau tertanam dalam hati kita, sehingga mempengaruhi cara hidup dan cara bertindak kita. Keunggulan hidup beriman terletak dalam penghayatan atau tindakan bukan wacana atau omongan, maka marilah kita bekerjasama atau saling membantu dalam menghayati sabda atau perintah Allah dalam hidup sehari-hari, agar diri kita maupun kebersamaan hidup kita semakin dikasihi oleh Allah dan umat manusia. Dengan kata lain semoga cara hidup dan cara bertindak kita senantiasa menjadi kabar sukacita atau kabar gembira bagi siapa saja. Marilah kita senantiasa melakukan apa yang baik dan membahagiakan orang lain, karena kita semua mendambakan hidup bahagia, damai sejahtera, aman sentosa kapan pun dan dimana pun.

“Sungguh, Aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku." Di atas Ia berkata: "Korban dan persembahan, korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau kehendaki dan Engkau tidak berkenan kepadanya" -- meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat --.” (Ibr 10:7-8)

Kehendak Allah bagi kita semua adalah agar kita semua setia dan giat melakukan kehendakNya dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari. Bukan ‘korban persembahan, korban bakaran dan korban penghapus dosa’, sebagaimana sering dilakukan oleh sementara orang dengan berjaga bakti sepanjang malam dalam adorasi kepada Sakramen Maha Kudus, yang berkenan pada kehendak Allah. Derap langkah para pendahulu kita, misalnya di wilayah Keuskupan Agung Semarang, senantiasa terarah secara konkret pada suka-duka umat manusia, warga masyarakat, misalnya dengan social-ekonomi demi kesejahteraan rakyat atau kesejahteraan masyarakat.

Kami berharap kepada kita semua umat beriman untuk berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sesuai dengan kesempatan dan kemungkinan masing-masing. Dengan kata lain hendaknya kita sungguh hidup membumi, berpartisipasi dalam aneka macam seluk beluk hidup sehari-hari umat manusia masa kini. Tentu saja kita kemudian tidak jatuh ke semangat materialistis atau duniawi, melainkan tetap dalam dan dengan terang iman berpartisipasi dalam aneka seluk-beluk hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sebagai orang yang beriman kepada Yesus, Penyelamat Dunia, Allah yang telah mendunia dengan menjadi manusia, kami harapkan kita sungguh hidup mendunia atau membumi.

Salah satu keprihatinan kita masa kini antara lain adalah kerusakan atau kehancuran lingkungan hidup, sehingga tidak sesuai lagi dengan kehendak Allah. Maka marilah kita tingkatkan perawatan lingkungan hidup, kita buat lingkungan hidup semakin enak dan nikmat untuk ditempati atau ditinggali. Aneka jenis tanaman hendaknya diusahakan, demikian juga aneka jenis binatang biarlah hidup bebas, dan jangan dipenjara di dalam sangkar. Dimana mungkin hendaknya dibuat sumur-sumur resapan air hujan.

“Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan dan korban sajian, tetapi Engkau telah membuka telingaku; korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau tuntut. Lalu aku berkata: "Sungguh, aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku; aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku." Aku mengabarkan keadilan dalam jemaah yang besar; bahkan tidak kutahan bibirku, Engkau juga yang tahu, ya TUHAN” (Mzm 40:7-10)


Minggu Paskah II, 07 April 2013

Mg Paskah II: Kis 5:12-16; Why 1:9-11a.12-13.17-19; Yoh 20:19-31

“Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

Jika kita jajan atau makan di rumah makan kiranya kita tidak tahu/melihat bagaimana makanan dimasak, dan kita meskipun tidak melihat bumbu atau ramuan apa yang dimasukkan ke dalam makanan yang akan disajikan kita percaya bahwa tidak akan diracuni atau dicelakakan. Dalam banyak hal kita tidak melihat proses pembuatan atau  produksinya, namun kita percaya. Dalam hal-hal duniawi kita sungguh mudah dapat percaya, namun secara jujur kita akui bahwa dalam hal spiritual atau rohani kita sulit percaya. Dalam warta gembira hari ini dikisahkan Tomas yang tidak percaya bahwa Yesus telah bangkit dari mati, sebagaimana diceriterakan oleh rekan-rekannya, sebelum ia melihatnya sendiri. Mungkin Tomas lebih cenderung menekankan logika atau pikiran serta kurang dalam hal hati. Kata ‘melihat’ dan ‘percaya’ dalam Injil Yohanes menjadi tema utama, maka marilah kita renungkan apa yang menjadi isi utama dari Warta Gembira hari ini.

"Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.” (Yoh 20:29-31)

Beriman memang antara lain mempercayakan atau mempersembahkan diri kepada sesuatu yang tak dapat dilihat oleh mata fisik ini, namun mata rohani atau spiritual melihat sangat jelas dan terang-benderang. Maka kutipan di atas ini kiranya mengajak dan mengingatkan kita semua akan pentingnya pembinaan dan pendalaman mata rohani  atau spiritual, yang berarti mencerdaskan hati kita. Salah satu cara untuk mencerdaskan hati antara lain adalah rajin dan setia mengadakan pemeriksaan batin/hati setiap hari. Sepanjang hari tanpa kenal waktu dan tempat Allah terus berkarya dalam lingkungan hidup kita, melalui ciptaan-ciptaanNya, tentu saja juga melalui diri kita masing-masing. Teks kitab suci juga merupakan bantuan bagi kita agar dapat mawas diri atau mengadakan pemeriksaan batin/hati dengan baik dan benar.

Mengimani Yesus sebagai Mesias atau Penyelamat Dunia dan Anak Allah memang merupakan tantangan tersendiri. Mungkin secara verbal dan formal atau liturgis kita percaya, tetapi secara konkret melalui cara hidup dan cara bertindak atau perilaku kiranya tidak semuanya menghayatinya. Iman tanpa tindakan atau perilaku memang tak ada apa-apanya, bagaikan tong kosong berbunyi nyaring. Cara pembinaan iman yang lain adalah rajin dan teratur berjumpa dan bercurhat dengan rekan-rekan seiman. Ketidak-hadiran Tomas dalam perjumpaan para rasul, sebagaimana dikisahkan dalam Warta Gembira hari ini memperlihatkan bahwa ketidak-hadirannya menimbulkan keraguan sekaligus memperlihatkan kepribadian Tomas yang jujur dan polos. Jujur dan polos kiranya keutamaan yang sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan pada masa kini, sebagai wujud konkret penghayatan iman kita.

Dalam Tahun Iman ini marilah kita tekun dan rajin membaca dan merenungkan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci agar iman kita semakin mendalam dan handal, sehingga kita tabah menghadapi aneka tantangan dan masalah kehidupan yang dapat merongrong kehidupan umat beriman atau membuat iman kita mengalami erosi. Dalam membaca dan merenungkan Kitab Suci hendaknya lebih mengutamakan atau  menekankan pencecapan yang mendalam akan isi Kitab Suci, bukan banyaknya pengetahuan. Kita dapat bercermin pada para gembala kita yang memiliki motto penggembalaannya satu dua kata dari Kitab Suci. Kita semua dipanggil untuk menjadi pribadi yang dapat dipercaya, sehingga di antara kita dapat saling percaya satu sama lain, tiada kecurigaan sedikitpun. Memang menjadi orang yang dapat dipercaya tidak mudah, namun demikian jika kita mau berusaha pasti akan berhasil dengan baik. Dapat dipercaya memang ada kaitannya bertanggungjawab, maka baiknya kita juga mengembangkan dan memperdalam keutamaan bertanggungjawab.

Orang-orang lain tidak ada yang berani menggabungkan diri kepada mereka. Namun mereka sangat dihormati orang banyak.Dan makin lama makin bertambahlah jumlah orang yang percaya kepada Tuhan, baik laki-laki maupun perempuan, bahkan mereka membawa orang-orang sakit ke luar, ke jalan raya, dan membaringkannya di atas balai-balai dan tilam, supaya, apabila Petrus lewat, setidak-tidaknya bayangannya mengenai salah seorang dari mereka. Dan juga orang banyak dari kota-kota di sekitar Yerusalem datang berduyun-duyun serta membawa orang-orang yang sakit dan orang-orang yang diganggu roh jahat. Dan mereka semua disembuhkan.” (Kis 5:13-16)

Kutipan di atas ini menggambarkan kesuksesan pelayanan para rasul, sebagai saksi-saksi iman. Mereka adalah orang-orang sederhana (para nelayan), dan dengan berani memberi kesaksian perihal kebangkitan Yesus dari mati, Pribadi Yesus yang penuh kuasa. Mereka yang semula kurang diperhatikan sekarang dihormati banyak orang, hal yang demikian kiranya juga terjadi dalam diri mayoritas pastor, yang pada umumnya berasal dari daerah desa dan miskin serta kurang diperhatikan dan ketika menjadi pastor dihormati banyak orang. Penghormatan yang terjadi bukan karena materi atau harta benda, melainkan ada kepercayaan orang yang bersangkutan merupakan wakil dan utusan Allah, orang-orang yang sungguh beriman.

Orang yang sungguh beriman memang menarik, mempesona dan memikat, sehingga banyak orang tergerak untuk mendekat. Iman juga dapat menyembuhkan aneka penyakit. Sebagaimana dialami oleh para rasul dimana banyak orang sakit dan yang diganggu roh jahat dibawa kepada mereka untuk disembuhkan. Pada masa kini kiranya banyak orang yang diganggu roh jahat sehingga cara hidup dan cara bertindaknya kacau-balau, hanya mengikuti selera pribadi, kurang peka terhadap orang lain dst.. Orang-orang yang demikian hendaknya segera disembuhkan. Orang menderita sakit pada umumnya karena kurang atau tidak teratur hidupnya, maka jika mau sembuh bertobatlah alias hidupnya dengan teratur (makan, minum, istirahat, olahraga dst..).

"Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir,  dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut. Karena itu tuliskanlah apa yang telah kaulihat, baik yang terjadi sekarang maupun yang akan terjadi sesudah ini.” (Why 1:17-19). Kutipan ini kiranya menjadi kekuatan atau pedoman kita untuk menjadi saksi iman yang handal. Yesus yang telah bangkit dari mati hidup dan bekerja terus menerus tidak terikat oleh ruang dan waktu, maka beriman kepadaNya berarti tanpa takut dan tanpa gentar menjadi saksi iman kapan pun dan dimana pun. Kita juga dipanggil untuk menulis aneka kebenaran yang terjadi sehingga kelak dapat menjadi pegangan bagi orang banyak, sebagaimana terjadi dengan Kitab Suci atau buku-buku rohani/doa. Tulis doa atau pengalaman iman anda yang baik, dan percayalah bahwa tulisan tersebut kelak akan sangat berarti dan berguna bagi banyak orang.

“Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi dari pihak TUHAN, suatu perbuatan ajaib di mata kita.Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya! Ya TUHAN, berilah kiranya keselamatan! Ya TUHAN, berilah kiranya kemujuran!” (Mzm 118:22-25)

Sabtu, 06 April 2013

"Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk”

(Kis 4:13-21; Mrk 16:9-15)

“Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Dari padanya Yesus pernah mengusir tujuh setan. Lalu perempuan itu pergi memberitahukannya kepada mereka yang  selalu mengiringi Yesus, dan yang pada waktu itu sedang berkabung dan menangis. Tetapi ketika mereka mendengar, bahwa Yesus hidup dan telah dilihat olehnya, mereka tidak percaya. Sesudah itu Ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dari mereka, ketika keduanya dalam perjalanan ke luar kota. Lalu kembalilah mereka dan memberitahukannya kepada teman-teman yang lain, tetapi kepada mereka pun teman-teman itu tidak percaya. Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya.Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mrk 16:9-15), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

  • Kiranya kita semua setiap hari senantiasa bepergian, entah dekat atau jauh, dalam kota atau luar kota, dalam negeri atau luar negeri. Sebagai orang yang beriman kepada Yesus yang telah bangkit dari mati kita semua dipanggil kemana pun kita pergi maupun dimana pun kita berada untuk senantiasa ‘memberitakan Injil kepada segala makhluk’. Dengan kata lain hendaknya cara hidup, cara bertindak maupun sepak terjang kita senantiasa menggembirakan dan menggairahkan orang lain untuk semakin beriman, semakin membaktikan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Yesus yang telah bangkit dari mati hidup dan bertindak melalui RohNya, maka marilah kita lihat dan imani karya Roh Kudus dalam ciptaan-ciptaanNya dan tentu saja terutama dalam diri manusia yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citra Allah. Kita berharap siapapun yang bertemu kita atau melihat kita akan melihat dan bertemu dengan Allah yang hidup dan berkarya dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini. Yesus adalah Penyelamat Dunia, maka kita yang masih hidup di dunia ini dan beriman kepadaNya dipanggil untuk menjadi pewarta-pewarta Kabar Gembira kepada dunia. Pada masa kini lingkungan hidup sungguh memprihatinkan, maka semoga kehadiran dan sepak terjang kita dimana pun senantiasa membuat lingkungan hidup semakin bergairah, mempesona dan menarik. Marilah lingkungan hidup dimana kita hidup maupun bekerja kita usahakan semenarik dan semempesona mungkin: berilah tanaman yang memadai, jaga kebersihan lingkungan dst.. Usaha penghijauan dengan penanaman pohon-pohon hendaknya menjadi gerakan masal dimana-mana, dan kita hentikan pembabatan hutan yang tak tahu aturan demi kepentingan komersial.
  • "Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar.”(Kis 4:19-20), demikian kata Petrus dan Yohanes terhadap  para tokoh bangsa Yahudi yang ingin mengadili dan menghukum mereka. Apa yang dikatakan oleh Petrus dan Yohanes ini kiranya dapat menjadi teladan bagi siapapun yang dipanggil menjadi saksi. Secara khusus kami berharap kepada mereka yang dipanggil menjadi saksi di pengadilan untuk “berkata-kata tentang apa yang dilihat dan didengar” alias memberi informasi yang benar dan akurat. Jangan coba-coba menjadi saksi palsu atau melakukan kebohongan dalam memberikan kesaksian, karena dengan demikian anda akan berbalik menjadi tersangka serta kemudian harus diadili dan dihukum. Kejujuran merupakan keutamaan yang sungguh mendesak dan up to date untuk dihayati dan disebarluaskan dalam kehidupan bersama. Maka kami berharap anak-anak di dalam keluarga sedini mungkin dididik dan dibina dalam hal kejujuran, dan tentu saja teladan orangtua atau generasi tua sungguh penting dalam hal hidup jujur. Sekali lagi saya angkar rumor bahwa ‘jujur akan hancur’, memang hidup jujur akan hancur untuk sementara, tetapi akan mulia dan bahagia serta damai sejahtera untuk selamanya. Semoga mereka yang berkarya di dua departemen yang sangat erat dengan pembinaan manusia, yaitu Departemen Agama dan Departemen Pendidikan, dapat menjadi teladan dalam hal kejujuran, tidak melakukan korupsi sebagaimana masih marak sampai kini. Jika mereka yang bekerja di dua departemen ini tidak jujur lagi dan selalu berkorupsi apa yang dapat diharapkan dari negeri tercinta ini. Para tokoh atau pemuka agama yang pada umumnya menjadi panutan hidup umatnya kami harapkan juga dapat menjadi teladan atau saksi kejujuran.

“TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku; Ia telah menjadi keselamatanku. Suara sorak-sorai dan kemenangan di kemah orang-orang benar: "Tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan,”

(Mzm 118:14-15)

Jumat, 05 April 2013

"Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu maka akan kamu peroleh."

(Kis 4:1-12; Yoh 21:1-14)

“Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut. Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain. Kata Simon Petrus kepada mereka: "Aku pergi menangkap ikan." Kata mereka kepadanya: "Kami pergi juga dengan engkau." Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepada mereka: "Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?" Jawab mereka: "Tidak ada." Maka kata Yesus kepada mereka: "Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh." Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan. Maka murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus: "Itu Tuhan." Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau. Murid-murid yang lain datang dengan perahu karena mereka tidak jauh dari darat, hanya kira-kira dua ratus hasta saja dan mereka menghela jala yang penuh ikan itu. Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti. Kata Yesus kepada mereka: "Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu." Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak. Kata Yesus kepada mereka: "Marilah dan sarapanlah." Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya: "Siapakah Engkau?" Sebab mereka tahu, bahwa Ia adalah Tuhan. Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu. Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia bangkit dari antara orang mati.” (Yoh 21:1-14), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya  sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

  • Hidup dan bertindak hanya mengikuti selera atau keinginan sendiri atau mengandalkan kekuatan diri sendiri pada suatu saat akan frustrasi atau gagal dalam mencapai cita-cita. Itulah yang terjadi dalam diri para rasul, yang memiliki keterampilan sebagai nelayan karena ditinggalkan oleh Yesus merasa frustrasi dan kesepian, mereka beramai-ramai melaut untuk menangkap ikan. Sepanjang malam mereka bekerja keras tak seekor ikan pun dapat ditangkap, namun atas perintah Yesus, yang telah bangkit yang menampakkan Diri kepada mereka, untuk menebarkan jalanya, maka mereka menangkap ikan dalam jumlah sangat besar. Kisah ini kiranya merupakan peringatan bagi kita semua agar dalam cara hidup dan cara bertindak kita tidak mengikuti selera atau keinginan pribadi melainkan sesuai dengan kehendak dan perintah Tuhan. Dengan kata lain secara konkret kita diharapkan hidup dan bertindak secara konstitusional, sesuai dengan aturan dan tata tertib yang terkait dengan cara hidup dan cara bertindak kita masing-masing. Hendaknya iman kita sungguh menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita, dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kita semua diharapkan disiplin dan jujur dalam hidup dan bertindak. Dalam bekerja maupun belajar marilah kita lihat dan imani Tuhan yang hidup dan bekerja melalui pekerjaan atau pelajaran
  • “Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus. Tetapi karena mereka melihat orang yang disembuhkan itu berdiri di samping kedua rasul itu, mereka tidak dapat mengatakan apa-apa untuk membantahnya” (Kis 4:13-14). Tidak terpelajar namu cerdas serta mampu mengalahkan orang-orang pandai, itulah yang terjadi dalam diri Petrus dan Yohanes. Petrus dan Yohanes memiliki kecerdasan spiritual, dan memang kecerdasan spiritual lebih unggul daripada kecerdasan intelektual. Kesakian iman Petrus dan Yohanes kiranya dapat menjadi teladan bagi kita semua, maka marilah kita berusaha dengan rendah hati dan keras untuk menjadi cerdas secara spiritual. Salah satu cara untuk itu tidak lain adalah pemeriksaan batin atau refleksi, maka hendaknya setiap hari kita mengadakan pemeriksaan batin dan refleksi diri, sehingga kita cerdas secara spiritual serta terampil dalam pembedaan roh atau spiritual discernment. Negara kita ketinggalan dengan Negara tetangga karena kurang memberi perhatian terhadap refleksi atau evaluasi diri yang benar. Lebih memprihatinkan lagi bahwa pemberian nilai alias nilai ujian di sekolah-sekolah tidak jujur lagi serta terjadi manipulasi dengan ‘mark up’., maka tidak heran kita senantiasa ketinggalan dan tumbuh berkembang menjadi bangsa konsumen bukan produsen. Kami berharap aneka bentuk evaluasi atau refleksi dikerjakan dengan baik dan benar, tidak asal-asalan atau bahkan manipulasi, yang pada gilirannya mencelakakan diri sendiri.

“Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi dari pihak TUHAN, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!” (Mzm 118:22-24)

Kamis, 04 April 2013

Dalam namaNya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa”

(Kis 3:11-26; Luk 24;35-48)

“Lalu kedua orang itu pun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti. Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: "Damai sejahtera bagi kamu!" Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu. Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku." Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka. Dan ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka: "Adakah padamu makanan di sini?" Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng. Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka. Ia berkata kepada mereka: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur." Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. Kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini” (Luk 24:35-48), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

  • Pertobatan dan pengampunan dosa bagaikan mata uang bermuka dua serta merupakan kabar gembira kebangkitan Yesus dari mati. Bertobat berarti memperbaharui diri menuju ke pemenuhan jati diri yang benar sebagaimana dikehendaki oleh Tuhan. Dalam rangka Tahun Iman ini kami harapkan kita sungguh semakin mendalam dalam penghayatan iman, dan memang untuk itu sesuai dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Sebagai yang telah dibaptis berarti semakin membaktikan diri sepenuhnya kepada Tuhan serta tidak melakukan dosa lagi sekecil apapun. Sebagai suami-isteri berarti semakin saling mengasihi sehingga sebagai laki-laki dan perempuan yang berbeda satu sama lain semakin sehati, sejiwa, sepikiran dan dengan demikian akan kelihatan wajah mereka berdua bagaikan manusia kembar. Sebagai anggota Lembaga Hidup Bakti berarti semakin menghayati charisma atau spiritualitas pendiri. Sebagai pekerja berarti semakin terampil semakin bekerja, dan sebagai pelajar semakin terampil dalam belajar. Kita semua dipanggil menjadi saksi iman melalui cara hidup dan cara bertindak kita yang sesuai dengan panggilan dan tugas pengutusan. Memperbaharui diri memang tak akan terlepas dari perjuangan dan pengorbanan, maka hendaknya kita rela berkorban diri dan berjuang. Semoga cara hidup dan cara bertindak kita dimana pun dan kapan pun memotivasi orang lain untuk bertobat atau memperbaharui diri.
  • “Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan, agar Tuhan mendatangkan waktu kelegaan, dan mengutus Yesus, yang dari semula diuntukkan bagimu sebagai Kristus” (Kis 3:19-20). Kita semua kiranya mendambakan kelegaan terus menerus dalam hidup kita sehari-hari alias dalam keadaan damai sejahtera dan aman tenteram. Daerah-daerah wisata pada umumnya dalam keadaan damai dan aman tenteram, dan warga masyarakat setempat berusaha hidup sebaik dan seramah mungkin sehingga semakin banyak orang berwisata di daerahnya dan sepulang dari wisata pun para wisatawan semakin menjadi lega juga. Marilah kita berusaha entah diri kita, keluarga atau desa atau daerah kita bagaikan ‘tempat wisata’, tempat orang mencari kelegaan dan kesegaran hidup. Memang ajakan kami di atas untuk senantiasa menghayati pertobatan atau memperbaharui diri merupakan cara hidup dan cara bertindak. Kita mungkin bagaikan ‘pengusaha’ yang senantiasa mendengarkan dan melayani para konsumen sebaik mungkin, sehingga semua kerinduan dan dambaan konsumen dapat dilayani dengan baik. Untuk itu pengusaha senantiasa memperbaharui diri terus menerus sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman. Marilah kita ingat dan sadari bahwa apa yang abadi di dunia ini adalah perubahan, segala sesuatu yang ada di muka bumi berubah terus-menerus, sebagai tanda bahwa Sang Pencipta bekerja terus-menerus dalam dan melalui ciptaan-ciptaanNya. Semoga kita semua semakin lama dan semakin tua juga semakin lebih dikasihi oleh Allah maupun saudara-saudari atau sesama kita.

“Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya:kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang;burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan” (Mzm 8:5-9)

Page 3 of 25