You are here : Home Renungan

Minggu Adven C2 / 2015

Dahulu kala...

Seorang raja ingin mengetahui seberapa besar kualitas rakyatnya dalam hal memperhatikan kepentingan bersama. Maka pada suatu malam ia meletakkan sebongkah batu besar di sebuah jalan raya. Kemudian dia bersembunyi di balik pakaian samaran untuk melihat apakah ada orang yang mau menyingkirkan batu itu.

Readmore

"Jangan Takut, Hari Ini Telah Lahir Bagimu Juruselamat"

Maranatha

“Tuhan datanglah adalah seruan permohonan agar Tuhan berkenan mendatangi umatNya. Tuhan kini sudah datang dalam rupa seorang bayi seperti yang diwartakan oleh malaikat kepada para gembala dan kawanannya:  “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitahukan kepadamu kesukaan yang besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus Tuhan di kota Daud.” (Luk 2:10)  Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah bala tentara surga memuji Allah: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadaNya.” (Luk 2:14) Ia datang untuk menyelamatkan setiap orang, membawa damai sejahtera dan kebahagiaan sejati kepada setiap orang yang percaya dan berharap kepadaNya. Maka kedatanganNya adalah sebuah Kabar Gembira karena Dia adalah Immanuel - Allah beserta kita. Sejalan dengan kehendak dan rencana ilahi ini, kita pun mengharapkan dan merindukan hal yang sama, yaitu keselamatan, damai sejahtera dan kebahagiaan sejati yang datang dari Tuhan.  Kita ingin hidup bahagia, mengalami damai sejahtera dan keselamatan.

 

Untuk Direnungkan

Apakah kita yang mengharapkan keselamatan, damai sejahtera dan kebahagiaan sejati, kini telah mengalamiNya? Kalau ternyata belum - Apakah ada yang salah? Salahnya di mana? Apa yang mesti kita lakukan untuk menjadi bahagia, damai dan sejahtera, sebagaimana yang dirancangkan dan dikehendaki oleh Allah sendiri? Untuk menemukan jawabannya marilah kita menimba inspirasi rohani dari seorang mistikus, yaitu Anthony de Mello, SJ.

 

 

Readmore

Imam dan Persatuannya dengan Bunda Maria

Di masa sekarang ini banyak para novis dan seminaris yang mengabaikan satu atau lebih aspek dari latihan pembentukan mereka untuk menjadi imam. Beberapa dari mereka kurang berusaha dalam studi yang sesungguhnya dapat membantu mereka untuk menjadi seorang imam yang sungguh-sungguh menghayati iman katolik. Mereka mengabaikan hal ini dengan alasan latihan spritualitas lebih penting. Ini merupakan suatu kesalahan yang sering dilakukan oleh para imam, sementara banyak jiwa-jiwa yang membutuhkan pertolongan yang hanya dapat diberikan oleh para imam melalui studi mereka.

Readmore

Mencintai Secara Mendalam

Jangan ragu untuk mencintai dan untuk mencintai secara mendalam. Engkau mungkin takut pada rasa sakit yang dapat disebabkan oleh karena mencintai secara mendalam. Saat mereka yang engkau cintai secara mendalam menolakmu, meninggalkanmu, atau meninggal dunia, hatimu akan patah. Tetapi itu semua tidak perlu membuatmu untuk berhenti dari mencintai secara mendalam. Sakit yang disebabkan oleh cinta yang dalam membuat cintamu lebih lagi berbuah. Sama seperti alat bajak yang menembus tanah untuk membuat benih dapat mengeluarkan akarnya dan bertumbuh menjadi tanaman yang kokoh. Setiap kali engkau mengalami sakit karena ditolak, diabaikan, atau kematian, engkau menghadapi sebuah pilihan. Engkau dapat menjadi pahit dan memutuskan untuk tidak mencintai lagi, atau engkau dapat berdiri tegak dalam sakitmu dan membiarkan tanah tempat engkau berpijak membuatmu lebih kaya dan lebih dapat memberi hidup pada benih-benih yang baru.

Readmore

Pengkhianat

Yudas, yang hendak menyerahkan Dia itu menjawab, katanya: ‘Bukan aku, ya Rabi?’” (Mat 26:25)

Minggu ini kita rayakan sebagai Minggu Palma, saat kita mengenang kembali masuknya Tuhan Yesus ke Yerusalem dengan disambut begitu banyak orang yang sangat besar jumlahnya; yang menghamparkan pakaian mereka untuk menjadi “karpet merah” untuk dilalui Sang Raja;  yang bersorak nyaring: “Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan...”  Tetapi 5 hari kemudian, orang-orang yang dengan gegap gempita menyambut Tuhan Yesus itu berbalik menghujat, mencemooh, dan menyalibkan Dia.  Apakah kita seperti orang-orang tersebut?

Yudas Iskariot, salah satu murid Tuhan Yesus, mengikuti ke mana pun Tuhan pergi.  Ia menyaksikan mukjizat-mukjizat terjadi, ia mendengar Tuhan mengajar murid-muridNya dan orang banyak.  Ia juga melihat penyambutan luar biasa di Yerusalem.  Tetapi karena nafsu duniawi yang merasukinya, hanya beberapa hari kemudian ia mengkhianati  Sang Guru dengan bersepakat bersama imam-imam kepala.  Apakah kita juga semacam Yudas Iskariot?

Readmore
Page 1 of 25