| Seksi-Seksi Paroki |
| Profile - Dewan Paroki |
| Friday, 09 January 2009 23:46 |
|
PERKEMBANGAN KEBERADAAN SEKSI-SEKSI DALAM GEREJA KATOLIK TRINITAS Untuk melaksanakan dan memperlancar tugas Dewan Paroki di bidang reksa pastoral, dibentuklah Seksi-Seksi dalam tubuh Dewan Paroki. Seksi-Seksi yang kini ada merupakan wadah dari kebutuhan-kebutuhan yang timbul dalam Gereja. Semua Seksi bertitiktolak pada 4 bidang pelayanan pastoral yang diemban oleh Gereja, yaitu:
a. Bidang Pewartaan/Kerugma b. Bidang Ibadat/Liturgia c. Bidang Pelayanan/Diakonia d. Bidang Persekutuan/Koinonia Inilah Seksi-Seksi yang ada di Dewan Paroki yang telah mengalami pengembangan sesuai dengan kebutuhan Gereja: BIDANG PEWARTAAN
Setiap umat, berkat Sakramen Inisiasi diutus untuk menjadi pewarta. Pewartaan dapat dengan pandangan hidup, sikap, pikiran, kata, perbuatan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. "Jika iman tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati" (Yak 2:17).Menjelang berdirinya Dewan Paroki, sejak tahun 1977 telah dimulai pengajaran agama (katekese) oleh Bapak V.A. Adiwahyanto, seorang awam yang tidak berlatar belakang kateketik. Sejak Agustus 1980, Seksi ini ditangani oleh Suster Florentia, ADM. Mulai saat itu, semakin banyak umat yang mau mengajar, berkatekese dan menjadi pewarta/guru agama, masuk dalam jajaran Tim Katekese, walau kebanyakan dari mereka tidak berijasah kateketik. Sr. Flor kemudian ditugaskan ke luar Jakarta, Beliau diganti oleh Sr. Agatha, kemudian Sr. Yuliana M., rekan sebiaranya. Kembali ditugaskan di Jakarta, Sr. Flor terus berkarya di Seksi Pewartaan (sekarang disebut Seksi Katekese) hingga kepindahannya ke Kroya, Jawa Tengah, di tahun 2006. Kini Ketua Seksi Katekese diemban oleh seorang awam. Seksi ini berperan penting dalam pengembangan agama Katolik dan pembinaan iman Kristiani pada murid-murid Kristus sekarang ini. Tugas Seksi ini adalah mengajar, mempersiapkan dan membina para calon baptis, calon penerima Komuni Pertama, calon penerima Krisma, serta pembinaan iman umat - khususnya dalam bidang pewartaan - disamping juga memperhatikan pelajaran agama di sekolah-sekolah yang berada di wilayah Paroki. Hingga sekarang Bapak/Ibu Wali Baptis belum berperan seperti yang diharapkan oleh Seksi Katekese maupun Gereja. Bapak/Ibu Wali Baptis seharusnya terus mendampingi putra-putri baptisnya selama hidupnya. Mereka adalah Bapak/Ibu Rohani bagi baptisan yang bertanggungjawb atas kehidupan dan perkembangan iman putra-putri baptisnya. Kelompok Kategorial "Komunitas Evangelista" dibentuk sebagai wadah para alumni Kursus Evangelisasi Pribadi mengembangkan diri dan terus terhimpun dalam semagat evangelisasi baik ke dalam diri pribadi maupun ke luar kepada sesamanya. Tugas Seksi Katekese menurut Peraturan Rumah Tangga Dewan Paroki (Juli 2006): Mengajar, mempersiapkan dan membina para calon baptis, calon penerima komuni pertama, calon penerima Krisma serta pembinaan iman umat khususnya dalam bidang Katekese. Seksi ini juga memperhatikan pelajaran agama di sekolah-sekolah yang berada di wilayah paroki (Pedoman Dasar pasal 8 ayat 1). Sub-Seksi Baptis Dewasa bertugas mempersiapkan dan membina para calon baptis, mempersiapkan dan menyelenggarakan acara penerimaan Sakramen Baptis dan membina para penerima baptis muda. Sub-Seksi Batipsan Bayi bertugas mempersiapkan dan membina para orangtua bayi. Sub-Seksi Komuni Pertama mempersiapkan dan membina para calon komuni pertama serta mempersiapkan dan menyelenggarakan acara penerimaan komuni pertama. Sub-Seksi Sakramen Krisma mempersiapkan dan membina para calon penerima Sakramen Krisma serta mempersiapkan dan menyelenggarakan acara penerimaan Krisma. Sub-Seksi Bina Iman menyelenggarakan pengenalan/pengajaran iman Katolik pada anak-anak. Sub-Seksi Sekolah menyelenggarakan pengajaran agama Katolik untuk anak-anak yang ada di sekolah-sekolah di Paroki.
1.2. SEKSI KERASULAN KITAB SUCI Kegiatan rutinSeksi ini adalah pendalaman Kitab Suci di tingkat Paroki yang diadakan setiap Rabu terakhir dari bulan. Untuk mengajak agar umat semakin mencintai Kitab Suci, Seksi ini juga pernah mengadakan Seminar Mencintai Kitab Suci dengan mengundang Bapak Stefan Leks sebagai narasumbernya. Tugas Seksi Kerasulan Kitab Suci menurut Peraturan Rumah Tangga Dewan Paroki (Juli 2006): Membimbing dan mendidik umat untuk lebih mengenal dan mendalami Kitab Suci (Pedoman Dasar pasal 8 ayat 2).
1.3. SEKSI KOMUNIKASI SOSIAL (KOMSOS)
Sejak tahun 2006, Majalah Dinding yang dikelola orang muda Paroki hadir mengisi pelataran gereja. Majalah dinding dengan tema khas orang muda ini disajikan dalam bentuk tampilan seni sehingga tidak membosankan orang yang membacanya.
Seksi ini juga membawahi Bidang Dokumentasi Foto dengan tugas membuat dokumen kegiatan-kegiatan yang dilakukan di Paroki, serta menyimpannya dengan baik. Sayangnya, terdapat kesulitan dalam penyimpanan ribuan foto-foto dokumentasi yang ada karena tidak ditunjang dengan pengadaan sarana maupun tempat yang layak. Tugas Seksi Komsos menurut Peraturan Rumah Tangga Dewan Paroki (Juli 2006): Menyiarkan warta keselamatan kepada seluruh umat dengan memanfaatkan media komunikasi sosial seperti media cetak, sinema, radio, televisi, dan sebagainya (Pedoman Dasar pasal 8 ayat 3). Sub-Seksi Dokumentasi Foto meliput acara dan peristiwa penting di paroki dan menyimpan serta memelihara hasilnya. Sub-Seksi Media Cetak/Wapita menerbitkan buletin paroki sebagai sarana informasi mengenai kegiatan paroki dan menambah pengetahuan serta wawasan umat. Sub-Seksi Perpustakaan menyelenggarakan dan mengelola perpustakaan paroki. Sub-Seksi Radio dan TV menyiarkan warta keselamatan melalui media komunikasi radio dan TV. Sub-Seksi Media Elektronik: membuat dan mengelola website paroki sebagai sarana untuk menyebarluaskan warta keselamatan dan berbagai informasi kegiatan paroki.
BIDANG IBADAT
Liturgi merupakan poros kegiatan iman umat yang nyata dalam kehidupan menggereja. Dalam setiap ibadat, Allah hadir di tengah umatNya secara dekat. "Dalam liturgi Allah berbicara" dan "dalam liturgi umat memberikan tanggapan kepada sapaan Allah." (Dokumen Konstitusi Liturgi Art. 33) Maka, peribadatan perlu selalu sungguh-sungguh diupayakan agar dapat membantu umat bersatu dengan Allah.Liturgi Ekaristi merupakan puncak liturgi Gereja. Saat Paroki lahir, liturgi masih terkesan asal jalan, tetapi secara perlahan namun pasti liturgi mulai ditata dan dibenahi. Hal ini bertujuan agar umat semakin menikmati dan menghayati makna Perayaan Ekaristi, apalagi saat itu tempat Misa selalu berpindah, seadanya dan belum mendukung kekhidmatan beribadat karena suasana yang menyedihkan. Dengan Liturgi yang ditata rapi umat dibantu untuk dapat mendengarkan Sabda, bersatu dalam Ekaristi Kudus, dan bergaul dengan Yesus Kristus. Perayaan-perayaan Sakramen diupayakan berlangsung semestinya dengan suasana standar. Seksi Liturgi untuk pertama kalinya hadir di tengah umat pada 20 Februari 1977 dengan Ketuanya Bapak R.Y. Prabowo.
Seksi ini segera melahirkan Sub-Seksi Putra Altar/Misdinar. Para Putra Altar bekerja keras, terutama sekitar Tri Hari Suci dan Paskah. Pembinaan bagi Putra Altar memang pasang surut, padahal panggilan imamat dan biarawan kebanyakan berasal dari mereka. Misdinar adalah petugas/pelayan Ekaristi yang paling dekat dengan imam dan panti imam, tempat khusus dan pusat perhatian semua umat, karena di situ Yesus hadir serta mengorbankan DiriNya. Karena kedekatannya dengan Yesus di altar, seringkali Misdinar mempunyai pengalaman iman yang khusus dengan Tuhan dan tak jarang benih-benih panggilan tampil dari putra-putra yang paling dekat dengan altar Tuhan ini.
Sub-Seksi Musik membawahi tiga hal yang tak terpisahkan: koor, dirigen dan organis. Sub-Seksi ini sangat menentukan meriah tidaknya sebuah perayaan gerejawi, karena nyanyian menjadi sarana pengungkapan iman untuk menyatakan rasa syukur lebih nyata, semakin bersemangat dan indah nyanyian kita, semakin nyata ungkapan iman kita kepada Allah, hingga sering dikatakan 'bernyanyi merupakan dua kali berdoa'. Organis memegang peranan penting dalam mengiringi koor dan umat dalam menaikkan pujian. Akan terasa hambar jika Misa dilaksanakan tanpa iringan musik. Penataan dan pembekalan organis gereja sungguh diperlukan. Di Paroki ini diyakini terdapat banyak pemain organ yang baik di luar personil yang sering tampil selama ini. Sedikit himbauan bagi umat yang memiliki talenta ini untuk dengan suka hati menyumbangkannya untuk Gereja.Sub-Seksi Lektor/Komentator hingga sekarang umumnya beranggotakan angkatan muda. Adalah lebih baik jika beberapa orang tua pun tetap dilibatkan dan diberi kesempatan tampil untuk menghindarkan preseden negatif bagi umat generasi muda.
Sub-Seksi Dekorasi Altar lahir karena kepeduliaan akan harmonisasi dekorasi Altar yang sebetulnya sebagai wujud nyata rasa syukur dan terima kasih kita kepada Tuhan yang senantiasa hadir dalam hidup kita. Merangkai bunga Altar bukanlah pekerjaan mudah, karena si perangkai bunga harus senantiasa mengetahui warna liturgi dan masa liturgi yang sedang berjalan. Misalnya, pada masa Prapaskah dan Adven - masa pertobatan - Altar sebaiknya tidak dihias dengan bunga, tetapi hanya dengan dedaunan saja, karena bunga melambangkan kemeriahan. Maka sejak Oktober 2004, telah dibentuk 8 kelompok merangkai bunga Altar yang pada akhirnya dikecilkan menjadi 5 kelompok hingga sekarang. Sub-Seksi Prodiakon yang merupakan bagian dari Seksi Liturgi bermula di awal 1979 dengan ditunjuknya Bapak R.Y. Prabowo, Bapak J.B. Agus Supaat, Bapak Robertus A. Tjuk, dan Bapak V.A. Adiwahyanto sebagai Pelayan Ekaristi (PE). Pastor Kepala Paroki menugasi mereka karena melihat kebutuhan pelayanan umat yang tak tertangani oleh imam yang terkadang harus ke luar kota. Dalam kevakuman itu, para Pelayan Ekaristi akan memimpin Ibadat Sabda dan membagikan Komuni kepada umat. Sejak 1995 dikenal istilah Prodiakon, anggota PE ditingkatkan peran dan tugasnya menjadi anggota Prodiakon. Prodiakon adalah seorang umat/awam yang ditugaskan dan diangkat oleh Bapa Uskup guna membantu Pastur Paroki untuk menerimakan Komuni Suci dalam Perayaan Ekaristi serta membawa dan menerimakan Tubuh Kristus kepada orang sakit dan jompo baik di tempat tinggalnya maupun di rumah sakit. Prodiakon juga bertugas memimpin ibadat-ibadat non-sakramental umat Lingkungan seperti ibadat sabda, pemberkatan rumah, upacara kematian (penutupan peti jenazah, pelepasan jenazah dan ibadat di pemakaman/ krematorium) serta tugas-tugas lain yang diberikan oleh Pastur Kepala Paroki.
Membantu penyelenggaraan perayaan liturgi dengan tertib dan rapi, menyadarkan dan mendidik umat agar bersama-sama merayakan liturgi dengan sadar dan aktif sesuai dengan peranan masing-masing serta mengembangkan bentuk-bentuk ibadat lainnya dengan tetap menjaga kemurnian iman (Pedoman Dasar pasal 8 ayat 4) Sub-Seksi Koor, Dirigen, dan Organis membina koor, dirigen, dan organis, membagi tugas dan mengatur jadwal tugas masing-masing. Sub-Seksi Lektor & Komentator membina para lektor dan komentator agar dapat bertugas dengan baik, membagi tugas dan mengatur jadwal tugas masing-masing. Sub-Seksi Putera Altar membina para putera altar agar dapat bertugas dengan baik, membagi tugas dan mengatur jadwal tugsa masing-masing. Sub-Seksi Penata Umat & Kolektan mengatur tata tertib Perayaan Ekaristi dan ibadat lainnya, mengatur pembagian dan jadwal tugas para kolektan.
BIDANG PELAYANAN
Dalam pertemuan para pastor dengan Bapa Uskup di Sukabumi di bulan Mei 1993, telah diputuskan dibentuk Seksi Kerasulan Keluarga (SKK) di tingkat Paroki yang berinduk dengan Komisi Kerasulan Keluarga KAJ (Komkaka KAJ), serta membentuk Kursus Persiapan Perkawinan (KPP) di tingkat Dekanat guna melayani calon-calon pasangan keluarga baru dengan lebih sungguh-sungguh. Koordinator pertama SKK adalah pasutri Bapak J.B. Agus Supaat dan Ibu M.A. Hadiyanti. Mereka bertugas memberikan kursus persiapan perkawinan di tingkat Dekanat disamping juga mendampingi keluarga, membantu mengatasi keluarga yang bermasalah, dan sudah beberapa tahun menyelenggarakan Konseling Keluarga. Anggota tim selama ini adalah pasutri Marriage Encounter (ME). SKK juga memberikan pembekalan kepada calon pengantin yang meliputi Hukum Kanonik Gereja, Komunikasi Keluarga, Ekonomi Rumah Tangga, Seksualitas dan Keluarga Berencana Alamiah (KBA), Pendidilan Anak dan Panggilan. Selain itu SKK juga bertujuan menyiapkan dan mendampingi keluarga Kristiani agar menjadi 'sakramen kasih Allah' dalam seluruh hidup, baik dalam keterlibatan mereka di tengah umat maupun di masyarakat luas.Tugas Seksi Kerasulan Keluarga menurut Pedoman Rumah Tangga Dewan Paroki (Juli 2006):
Mempersiapkan dan membina kehidupan berkeluarga secara Katolik, mencegah semakin banyaknya perkawinan campur agama, memberikan penjelasan ajaran Gereja tentang Keluarga Berencana dan hormat terhadap kehidupan (Pedoman Dasar pasal 8 ayat 5)
Maret 1975 Mudika dibentuk karena kebutuhan. Daerah Cengkareng yang telah bertumbuh menjadi daerah industri baru telah membuat banyak pemuda perantau bekerja di wilayah Paroki ini. Mereka berasal dari berbagai daerah dan kebanyakan dari mereka tidak saling mengenal. Ketua Mudika pertama, Bapak Felix Wiratmo, ternyata berhasil menghimpun mereka. Para aktivis Mudika berupaya terus mencari, menghimpun, dan memberdayakan muda-mudi. Maka, kegiatan koor pun dibentuk, olahraga bersama diadakan, dan pertemuan berkala dilakukan. Mereka umumnya karyawan muda, tetapi beberapa dari mereka tidak senantiasa dapat berhimpun. Maklumlah, sebagian dari mereka bekerja paruh waktu.
Kaum muda adalah harapan dan masa dengan Gereja serta masyarakat. Arah dan pembinaan kaum muda adalah membantu perkembangan diri mereka sebagai manusia dan sebagai orang Katolik Indonesia yang tanggap, tangguh, serta terlibat dalam menggereja dan bernegara. Untuk itulah pembinaan kaum muda sangat diperlukan supaya mereka mampu menemukan dan mengembangkan nilai-nilai Kristiani, cinta tanah air, memiliki suara hati yang jernih, kebebasan dan tanggungjawab pribadi, berdaya cipta serta memiliki semangat membangun. Maka menjadi tugas Seksi inilah untuk selalu mendampingi dan melayani kaum muda dalam kegiatan-kegiatan kelompok maupun perorangan yang menyangkut bidang kehidupan iman dan kegerejaan, kemandirian dan kehidupan bersama, serta kemanusiaan dan kemasyarakatan. Nantinya, diharapkan kaum muda mampu berkembang sesuai dengan harapan Gereja. Mudika dalam pasang surut perjalanannya telah banyak terlibat dalam berbagai kegiatan dan pelayanan Paroki, juga kegiatan untuk pengembangan jiwa dan kepribadian anggota Mudika sendiri. Kegiatan Mudika di Paroki dilaksanakan oleh Kelompok Kegiatan yang ada, yakni: Mutripala (Mudika Trinitas Pencinta Alam) terbentuk pada bulan Oktober 1996, diawali oleh para kaum muda yang terlibat dalam kemping mudika saat itu. berpegangan pada motto "Non Verbo Sed Exemplo", Mutripala ingin melakukan sesuatu tidak/bukan hanya dengan kata-kata melainkan melalui suatu tindakan yang nyata dan berguna. dengan kata lain, Mutripala tidak ingin "NATO" - No Action, Talk Onlu - istilah populer gaulnya. Sebagai wadah kegiatan kepemudaan yang mengarah pada aktivitas di alam bebas (mendaki gunung, penjelajahan hutan, berkemah), Mutripala juga tidak meluapkan kegiatan sosial dengan selalu siap membantu kegiatan-kegiatan Paroki seperti pemeliharan taman, kebersihan gereja, parkir, dan lainnya. Dalam perjalanannya, Mutripala telah banyak melakukan kegiatan outdoor seperti pendakian perdana di tahun 1996 ke Gunung Gede, napak tilas 100 tahun Gereja Katolik Betawi di tahun 1996, ekspedisi ke Taman Nasional Ujung Kulon di tahun 1997, latihan rapelling yang mulai diadakan tahun 1997, latihan wall climbing dan latihan kano/dayung dan SAR yang bekerjasama dengan pihak-pihak lain (keduanya sejak tahun 2001), ekspedisi pendakian ke berbagai gunung, dan kemping rekreasi. Antiokhia merupakan wadah kegiatan Mudika yang dibentuk sejak tahun 1985 dalam suatu 'weekend' yang dipandu oleh Romo Peter K. Subagyo, OMI. Antiokhia menjadi suatu wahana kaum muda untuk mengajak kaum muda lainnya mendalami iman mereka lewat suatu persekutuan, persaudaraan, persahabatan, untuk kemudian mulai mengambil bagian dalam hidup menggereja bersama kaum muda yang lain. Dengan demikian, lewat Antiokhia, kaum muda menjadi sadar atas panggilan mereka untuk saling menjaga - dari banyaknya pengaruh negatif pergaulan di era globalisasi ini - saling menguatkan, dan merasul bersama. Kegiatan pokok Antiokhia adalah 'weekend' yakni program kegiatan penerimaan anggota baru semacam retret yang diselenggarakan di suatu tempat (rumah/sekolah/wisma) dari, oleh dan untuk kaum muda. Bimbingan diberikanoleh anggota tim yang pernah mengikuti 'weekend' serupa sebelumnya serta para 'alumnus' Antiokhia yang disebut 'Antiokher' senior dan pengurus. Setelah weekend, kegiatan yang penting adalah 'follow up' yakni kegiatan lanjutan dari weekend yang merupakan penyegaran materi yang pernah diperoleh dalma weekend. Pembimbing sekaligus sebagai pendamping para kaum muda Antiokhia disapa sebagai 'Papi-Mami'. Beberapa nama Papi-Mami tercatat dalam perjalanan sejarah Antiokhia adalah Papi Joan Taroreh & Mami Melania Halim (WE 1, 1985); Papi Pius Effendy & Mami Catharina Djie Djie (WE 2, 1986); Papi Nurtjahyo & Mami Inggar (WE 4, 1988); Papi Johanes D. Polim & Mami Vera Maria Kasimo (WE 14, 1998); Papi Darius Rio Welly & Mami Christina (WE 19, 2003). Mudika berusia 15-21 tahun dapat mendaftarkan diri untuk mengikuti weekend Antiokhia. Setelah mengikuti weekend, para peserta telah menjadi Antiokher seumur hidupnya. Antiokhia memang memiliki andil besar dalam pembinaan iman kaum muda di Paroki Cengkareng semenjak kelompok ini dibentuk hingga sekarang. Tercatat beberapa nama yang menerima panggilan khusus seperti Sr. Priska Linda Maria Josephine Sudarta, ADM (WE 1); Rm. Theodorus Treka Permonosidi, Pr (WE 12). Beberapa aktivis Gereja juga merupakan 'jebolan' Antiokhia seperti V. Khoe Yu Chai (WE 1) saat ini menjabat sebagai Ketua Seksi P & P Gereja; Sudjono Naliman (WE 1) Ketua Mudika 1980 dan juga pernah menjadi Ketua Lingkungan dan Ketua Wilayah; B. Max Rizal P. (WE 5) yang menjadi Ketua Mudika 1994-1996 dan sekarang sebagai Wakil Ketua Seksi Komsos Paroki; Michael Martubongs (WE 1) yang menjadi Prodiakon, pernah pula menjadi Ketua Lingkungan dan Ketua Wilayah; Fransisca Natalia K. H.B. (WE 1) yang menjadi Ketua Lingkungan, dll. Romo Peter K. Subagyo, OMI yang membawa masuk program Antiokhia ke Paroki Cengkareng pernah berkata kepada para pengurus WE: "Saya percaya bahwa kaum muda akan menjaga kegiatan ini dan mereka akan mewariskannya kepada adik-adik mereka. Saya juga percaya bahwa Mami Papi serta Pastor Paroki (di mana ada program Antiokhia) akan bangga dan berusaha supaya sebanyak mungkin kaum muda bisa mengalami weekend Antiokhia dan menjadi lebih bersatu sebagai kaum muda, dan lebih bersatu dengan Yesus dan Gereja." Persekutuan Doa Muda-Mudi Katolik (PDMK) Thomas Aquinas yang dibentuk pada 12 Juli 1997 adalah salah satu wadah para Mudika untuk berkumpul memuji dan menyembah Tuhan secara khusus dalam doa bersama serta mengadakan sharing, doa syafaat, dan mengunjungi orang sakit. Kelompok pendoa seperti ini akan sangat berperan besar dalam pertumbuhan dan perkembangan Gereja. Kelompok ini bagaikan pelita yang senantiasa bersinar menerangi kegelapan. Ruang dunia yang kadang redup oleh ketidakadilan, penindasan, kekerasan, dna tindakan kotor sangat memerlukan 'terang' Allah Bapa lewat peranserta para muda pendoa. Pada periode Dewan Paroki ke-10 (2005-2008), Seksi Kepemudaan mulai disebut sebagai Seksi Mudika dengan mendapat pendampingan penuh dari sepasang suami-istri. Tugas Seksi Mudika menurut Pedoman Rumah Tangga Dewan Paroki (Juli 2006): Membina dan mendampingi kaum muda, melibatkan mereka dalam menunaikan dan mempertanggungjawabkan tugas-tugas supaya berkembang menjadi orang-orang dewasa yang mampu mengambil bagian dalam pengabdian kepada Gereja dan masyarakat (Pedoman Dasar pasal 8 ayat 6) Mutripala: mengkoordinir, menggerakkan, melaksanakan dan bertanggungjawab atas seluruh kegiatan pencinta alam sesuai dengan rencana kerja organisasi Mudika. Antiokhia: mengkoordinir kepengurusan Antiokhia dalam membina anggota Antiokhia sebagai salah satu wadah kaderisasi Mudika. Roses Mudika PDKK
3.3. SEKSI KERASULAN AWAM "Mengubah wajah kita di cermin menjadi seperti wajah Kristus" memang tidak mudah, tetapi beberapa tokoh awam Katolik sejauh ini telah menunjukkan perannya untuk berusaha ke arah itu, seperti Bapak Adi Kurdi, tokoh "Abah" dalam sinetron 'Keluarga Cemara' yang pernah secara khusus diundang ke Paroki Cengkareng untuk berbagi pengalamannya dalam Seminar Kerasulan Awam. Tugas Seksi Kerawam dan HAK menurut Pedoman Rumah Tangga Dewan Paroki (Juli 2006): Menggiatkan kaum awam untuk meningkatkan kerasulannya di dalam kehidupan Gereja dan tata dunia sesuai dengan tugas yang diterimanya dalma permandian da penguatan (Pedoman Dasar pasal 8 ayat 8) dengan cara menyebar luaskan pengertian yang benar dan utuh mengenai "kerasulan awam" kepada seluruh umat paroki, dan membina dialog serta kerja sama antar agama.
3.4. SEKSI PENGEMBANGAN SOSIAL EKONOMI (dahulu disebut Seksi Sosial Paroki) Sejak tahun 2000 PSE juga menyelenggarakan Program APS - Aksi Peduli Sesama, sebuah program kepedulian kepada sesama yang miskin dan menderita di sekitar wilayah Paroki kita. Program APS ini hanya ditujukan kepada sesama yang berbeda agama (non-Katolik) dan biasanya dilaksanakan menjelang hari raya Idul Fitri. Dalam menjalankan misinya, PSE selalu membuka pintu bagi umat yang ingin memberikan bantuan seperti dana (dapat langsung diserahkan ke kantor PSE), menjadi orangtua asuh, memberikan baju layak pakai, atau memberikan bahan-bahan natura (beras, susu, gula, mie instant, dan sebagainya). PSE pun menggalang kerjasama dengan Wilayah dan Lingkungan di Paroki guna bersama-sama bertanggungjawab menangani sendiri bantuan pelayanan karya sosial ekonomi bagi warganya. Perkumpulan Kematian Katolik St. Yusup (PKK St. Yusup) dibentuk tahun 1975 dengan tujuan melayani dan meringankan - secara jasmani dan rohani - beban keluarga Katolik yang anggotanya meninggal dunia. Pada awalnya, anggota St. Yusup hanya terdiri dari beberapa keluarga saja, sesuai dengan jumlah umat Katolik di Cengkareng saat itu. Dengan jumlah yang sedikit, mereka dapat saling mengenal dekat dan melayani di antara mereka. Jumlah ini terus bertambah sejalan dengan perkembangan jumlah umat di Paroki. Patut disayangkan, masih banyak keluarga Katolik di Paroki Cengkareng ini yang belum menjadi anggota St. Yusup, padahal - belajar dari pengalaman - keluarga biasanya tidak siap dan bingung (baik di dalam pelayanan rohani maupun jasmani) apabila terjadi kematian salah satu anggota keluarganya. Tugas Seksi Pengembangan Sosial Ekonomi menurut Pedoman Rumah Tangga Dewan Paroki (Juli 2006): Mengajak umat untuk memberikan waktu, perhatian, dan bantuan khusus kepada kaum miskin, yang sakit/yang mengalami penderitaan, ketidak-adilan, diskriminasi, dan cacat-cacat sosial lain (Pedoman Dasar pasal 8 ayat 9) Sub-Seksi Orang Tua Asuh dan Beasiswa: mengajak dan menghimpun umat untuk memberikan perhatian dan bantuan pada anak sekolah yang kurang mampu dengan cara menjadi orang tua asuh dan memberikan beasiswa; mengadakan seleksi pada siswa-siswa yang memerlukan bantuan sesuai dengan kriteria yang sudah ditentukan; menyalurkan bantuan beasiswa kepada para siswa yang telah diterima dan terdaftar sebagai anak asuh; membukukan dengan baik dana yang terhimpun dan secara berkala melaporkannya kepada Ketua Seksi. Sub-Seksi Karitatif dan Pinjaman: memberikan bantuan pada mereka yang mengalami kesulitan keuangan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya seperti untuk modal usaha, perumahan, kesehatan, dan sebagainya, dengan memberikan bantuan uang baik secara rutin (misalnya untuk lansia) atau hanya sekali saja; memberikan pinjaman uang yang pengembaliannya dapat diangsur kepada umat yang membutuhkan untuk suatu keperluan yang mendesak. Sub-Seksi Tenaga Kerja: mendata mereka yang memerlukan pekerjaan, mengusahakan memberikan/meningkatkan ketrampilan, mencarikan lowongan pekerjaan dengan berbagai cara dan menyalurkan para pencari kerja tersebut. Sub-Seksi Kesehatan: mengusahakan bantuan/keringanan biaya pengobatan dengan berbagai cara, termasuk menyelenggarakan klinik gratis/murah, merekrut dokter dan paramedis sukarelawan dan sebagainya. Sub-Seksi Kematian: mengusahakan bantuan bagi umat yang meninggal baik anggota/bukan anggota Santo Yusup.
3.5. SEKSI PANGGILAN Tugas utama Seksi Panggilan adalah menyadarkan seluruh umat, khususnya keluarga dan lembaga pendidikan Katolik, dalam tanggungjawab bersama atas tumbuh dan lestarinya panggilan imam, biarawan/biarawati, dan 'lembaga hidup bakti' lainnya. Dalam kegiatan rutinnya, Seksi Panggilan menyelenggarakan Doa Panggilan bersama keluarga yang anggotanya menerima panggilan khusus, juga bersama umat umumnya. Di tahun 2003, Seksi Panggilan membidani lahirnya kelompok puteri pelayan Altar yang disebut "Puteri Legio Ekaristi", sebuah kelompok remaja puteri kelas 5 SD s/d 1 SMU yagn terlibat dalam membantu/melayani Misa Kudus. Guna memperkenalkan kehidupan seorang yang mengalami panggilan khusus, Seksi Panggilan mengundang kelompok orkestra dari Seminari Wacana Bakti dan trio musisi nasional Katolik (Ireng Maulana, Didi SSS, dan Tony Suwandi) untuk memeriahkan Minggu Panggilan. Komunitas basis terkecil adalah keluarga. Keluarga adalah seminari kecil karena dari keluarga-lah datang panggilan menjadi biarawan/biarawati. Cukup banyak keluarga yang tidak menyetujui permintaan anaknya untuk masuk seminari atau biara, tapi tak sedikit pula yang merestuinya. Keluarga yang menumbuhsuburkan panggilan merupakan dambaan Gereja. Umat perlu selalu menyadari bahwa anak (hanyalah) "titipan Allah" dan dirinya diutus untuk merawat, mendidik, dan mengembangkan mereka menjadi warga yang mandiri dan unggul, dan selanjutnya berserah pada Tuhan - terjadilah apa yang Tuhan kehendaki atas anaknya itu. Tugas Seksi Panggilan menurut Pedoman Rumah Tangga Dewan Paroki (Juli 2006): Menyadarkan seluruh umat, khususnya keluarga dan lembaga-lembaga pendidikan Katolik, dalam tanggungjawab bersamanya atas tumbuh dan lestarinya panggilan imam, biarawan/biarawati, dan lembaga hidup bakti lainnya. (Pedoman Dasar pasal 8 ayat 7) Sub-Seksi Legio Ekaristi 3.6. SEKSI PENDIDIKAN Seksi Pendidikan baru dibentuk pada Kepengurusan Dewan Paroki XII periode 2011-2014. Bermula dari keprihatinan Gereja akan adanya umat yang tidak mampu memenuhi biaya pendidikan anaknya, maka sejak ulang tahun Paroki Trinitas ke-33, Dewan Paroki memperkenalkan sebuah program dengan nama "Ayo Sekolah" (AyoS). Program AyoS inilah yang kemudian menjadi cikal-bakal dibentuknya Seksi Pendidikan di Paroki Trinitas, Cengkareng. Tugas utama Seksi Pendidikan adalah menjalankan program AyoS dengan menjadi jembatan bagi umat yang mau berbagi berkat dengan menjadi orangtua asuh dengan umat yang meminta bantuan sebagai anak asuh. BIDANG PERSEKUTUAN
Seksi HAK baru terbentuk di Kepengurusan Dewan Paroki ke-8 (masa bakti 1999-2002), tetapi kegiatannya justru dimunculkan oleh Panitia Yubilium Agung 2000 dengan membuat Perayaan Natal Eukumenis di bulan Januari 1999 dan dilanjutkan dengan pertemuan serta hubungan periodik antara Pimpinan Gereja serta Majelis sebagai forum komunikasi yang lebih terasa dibutuhkan kehadirannya.
Sejak tahun 1997 di Jakarta Barat telah dibentuk Forum Komunikasi Umat Beragama Jakarta Barat (FKUB) dengan anggota para pemimpin agama setempat - termasuk di dalamnya Pastor Paroki Cengkareng. Kegiatan FKUB antara lain adalah pembagian sembako oleh umat beragam agama yang menjadi anggota Forum guna mengatasi dampak krisis sosial ekonomi yang melanda Indonesia. Adapun tempat pelaksanaan kegiatan ini berpindah-pindah, baik di lingkungan Mesjid dan Gereja di wilayah Jakarta Barat. Beberapa tokoh Paroki yang aktif dalam berbagai kegiatan FKKUB ini antara lain Bpk. S. Dirgono Mastu, Bpk. F.X. Budiman, dan Bpk. Suryo Sutanto.
Paroki Cengkareng dengan WP/WKRI serta PSE-nya mengambil peran aktif dalam setiap kegiatan HAK tanpa menimbulkan friksi dari golongan lain. Dengan adanya FKUB, maka komunikasi antar agama di tingkat Jakarta Barat berkembang positif, bahkan FKUB menjadi kebanggaan pembinaan sosial-agama di DKI Jakarta. Bapak Walikota Jakarta Barat pun turut bangga dengan pencapaian ini dan menunjukkan penghargaannya dengan hadir dalam Perayaan Natal dan Tahun Baru 2000 yang diselenggarakan oleh Wilayah VIII. Dalam acara itu, gamelan milik Paroki Cengkareng dimainkan oleh para pemuda Mesjid yang menyenandungkan lagu-lagu Natal. Alangkah indahnya hidup dalam kebersamaan dan rasa persaudaraan! Tugas Seksi HAK menurut Pedoman Rumah Tangga Dewan Paroki (Juli 2006): Menggiatkan kaum awam untuk meningkatkan kerasulannya di dalam kehidupan Gereja dan tata dunia sesuai dengan tugas yang diterimanya dalma permandian da penguatan (Pedoman Dasar pasal 8 ayat 8) dengan cara menyebar luaskan pengertian yang benar dan utuh mengenai "kerasulan awam" kepada seluruh umat paroki, dan membina dialog serta kerja sama antar agama.
Selain Seksi-Seksi di atas, dalam Bidang Pelayanan dibentuk juga Bagian-Bagian untuk melaksanakan dan memperlancar tugas Dewan Paroki di bidang pemeliharaan sarana fisik Gereja. Adapun Bagian-Bagian yang ada di Paroki Cengkareng adalah sebagai berikut: Tugas Bagian P& P menurut Pedoman Rumah Tangga Dewan Paroki (Juli 2006): Melaksanakan pemeliharaan dan perbaikan gedung-gedung, halaman dan tanaman di kompleks paroki. (Pedoman Dasar pasal 9 ayat 7) Sub-Bagian Gedung: melaksanakan pemeliharan dan perbaikan gedung-gedung di paroki. Sub-Bagian Taman: melaksanakan pemeliharan taman di sekitar gedung gereja, gedung paroki, dan pastoran agar tetap hidup, indah, dan rapi. Sub-Bagian Dekorasi dan Kebersihan Gereja: mengatur dan menyediakan bahan keperluan dekorasi di dalam gedung gereja khususnya untuk Perayaan Ekaristi atau perayaan lainnya seperti bunga, penutup altar, gorden, dan sebagainya, serta memelihara kebersihan dalam gereja dan ruang sakristi. Sub-Bagian Inventaris: memelihara dan menyimpan dengan rapi seluruh inventaris milik paroki serta membuat daftar inventaris untuk secara berkala dilaporkan kepada PGDP.
BAGIAN UMUM DAN PERSONALIA Bagian ini dibentuk pada bulan Agustus 1999 dengan maksud meningkatkan pelayanan dan sumber daya para karyawan yang bekerja di Gereja sehingga mereka dapat bekerja lebih baik dan disiplin sesuai dengan tugas yang diberikan. Para karyawan Gereja yang dimaksud meliputi Sekretariat, Koster, Pemeliharaan Gedung, Kebersihan dan Pertamanan, dan Satpam. Diharapkan Bagian ini dapat meringankan tugas Pastor Paroki dalam berurusan dengan para karyawan sehingga para Pastor dapat berkonsentrasi penuh pada tugas pastoral yang diembannya. Tugas Bagian Umum dan Personalia menurut Pedoman Rumah Tangga Dewan Paroki (Juli 2006): Mengawasi dan membina para karyawan purna waktu dan paroh waktu yang bekerja di paroki agar bekerja dengan baik dan disiplin sesuai dengan tugas yang diberikan, serta melaksanakan tugas-tugas lain yang belum dilakukan oleh Bagian lain. Sub-Bagian Parkir: mengatur dan memelihara keamanan sehari-hari di kompleks gereja, mengatur dan menjaga parkir kendaraan pengunjung gereja, gedung paroki, dan pastoran khususnya sewaktu ada perayaan atau kegiatan lainnya.
BAGIAN RUMAH TANGGA PASTORAN Tugas Bagian Rumah Tangga Pastoran menurut Pedoman Rumah Tangga Dewan Paroki (Juli 2006): Mengurus segala keperluan rumah tangga pastoran sesuai dengan kebutuhan dan permintaan Pastor Kepala Paroki. (Pedoman Dasar pasal 9 ayat 8)
BAGIAN PENDATAAN UMAT Bagian Pendataan Umat dibentuk pada Kepengurusan Dewan Paroki XII dikarenakan adanya kebutuhan mendesak untuk dengan cermat dan teliti untuk sungguh-sungguh menaruh perhatian pada pendataan umat di Paroki Trinitas, Cengkareng, sehingga angka-angka yang dihadirkan adalah akurat yang dapat menjadi dasar pengambilan keputusan dan kebijaksanaan Gereja dalam banyak hal.
|
Trinitas Facebook Fan Page
Join us so and get updates from our official fan page.
Gereja Trinitas on Twitter
Follow us on twitter so you will get updates from us!
Wapita
Download selebaran wapita dalam format PDF.
Setiap umat, berkat Sakramen Inisiasi diutus untuk menjadi pewarta. Pewartaan dapat dengan pandangan hidup, sikap, pikiran, kata, perbuatan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. "Jika iman tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati" (Yak 2:17).
Sub-Seksi Katakese Lansia mulai berkarya sejak 2002. Katekese bagi para orang lanjut usia ini berlangsung sekitar 3 bulan yang dilanjutkan dengan pembaptisan tanpa masa mistagogi.
Sub-Seksi Sakramen Krisma pada umumnya menjadi tanggungjawab para katekis. Sampai sekarang, penerimaan Sakramen Krisma diadakan 2 tahun sekali di Gereja Katolik Trinitas.
Kegiatan ber-Kitab Suci sebenarnya sudah dimulai sejak Juni 1975. Kegiatan ini lahir lebih karena kebutuhan umat di Lingkungan atau Wilayah. Tercatat pernah lahir Kelompok Kitab Suci (KKS) Santo Yohanes, yang bergerak untuk seluruh Paroki. Bapak Johanes K. Handoko sebagai Ketuanya dengan tekun membina Kelompok ini. Kegiatan kemudian berkeliling di rumah-rumah anggotanya, tetapi sekitar 2 tahun kemudian kehadiran anggota Kelompok ini menurun dan akhirnya kegiatan ini terhenti.
Seksi Komsos bertugas mengkomunikasikan ajaran-ajaran iman Gereja (warta keselamatan) dengan baik kepada seluruh umat manusia tanpa kecuali, sempurna dan tepat sasaran, dengan memanfaatkan seluruh sarana yang sudah tersedia atau yang akan dibentuk.
Majalah Sabitah terbit sejak awal tahun 2003. Majalah dwi-bulanan ini terus berupaya mengembangkan dirinya hingga sekarang. Kesulitan sumber daya manusia yang mau mengabdikan dirinya sebagai 'wartawan pewartaan Kerajaan Allah' memang menjadi suatu kesulitan tersendiri. Demi untuk kemajuan umat yang terhimpun dalam redaksi Majalah Sabitah, maka Seksi Komsos telah 3 kali mengadakan Pelatihan Jurnalistik berupa Sarasehan Jurnalistik bersama Bpk. Eka Budianta, Bpk. Ign. Haryanto, dengan menampilkan sesi Bagi Pengalaman oleh Sdri. Angelina Sondakh. Sarasehan kedua diadakan dengan narasumber Bpk. Sasra Wijaya, seorang jurnalis dari BBC London. Dengan bekerja bersama Tabloid Genie, Sarasehan ke-3 dilaksanakan dengan fokus lebih kepada siswa-siswi sekolah-sekolah Katolik yang ada di lingkup Paroki.
Perpustakaan Trinitas diresmikan pada 30 September 2006. Dengan menempati ruang sendiri, perpustakaan ini mencoba menghadirkan bacaan-bacaan rohani maupun non-rohani untuk menyemarakkan khazanah literatur umat Paroki.
Liturgi merupakan poros kegiatan iman umat yang nyata dalam kehidupan menggereja. Dalam setiap ibadat, Allah hadir di tengah umatNya secara dekat. "Dalam liturgi Allah berbicara" dan "dalam liturgi umat memberikan tanggapan kepada sapaan Allah." (Dokumen Konstitusi Liturgi Art. 33) Maka, peribadatan perlu selalu sungguh-sungguh diupayakan agar dapat membantu umat bersatu dengan Allah.
Sub-Seksi Musik membawahi tiga hal yang tak terpisahkan: koor, dirigen dan organis. Sub-Seksi ini sangat menentukan meriah tidaknya sebuah perayaan gerejawi, karena nyanyian menjadi sarana pengungkapan iman untuk menyatakan rasa syukur lebih nyata, semakin bersemangat dan indah nyanyian kita, semakin nyata ungkapan iman kita kepada Allah, hingga sering dikatakan 'bernyanyi merupakan dua kali berdoa'. Organis memegang peranan penting dalam mengiringi koor dan umat dalam menaikkan pujian. Akan terasa hambar jika Misa dilaksanakan tanpa iringan musik. Penataan dan pembekalan organis gereja sungguh diperlukan. Di Paroki ini diyakini terdapat banyak pemain organ yang baik di luar personil yang sering tampil selama ini. Sedikit himbauan bagi umat yang memiliki talenta ini untuk dengan suka hati menyumbangkannya untuk Gereja.
Tugas Seksi Liturgi menurut Pedoman Rumah Tangga Dewan Paroki (Juli 2006):
Dalam pertemuan para pastor dengan Bapa Uskup di Sukabumi di bulan Mei 1993, telah diputuskan dibentuk Seksi Kerasulan Keluarga (SKK) di tingkat Paroki yang berinduk dengan Komisi Kerasulan Keluarga KAJ (Komkaka KAJ), serta membentuk Kursus Persiapan Perkawinan (KPP) di tingkat Dekanat guna melayani calon-calon pasangan keluarga baru dengan lebih sungguh-sungguh. Koordinator pertama SKK adalah pasutri Bapak J.B. Agus Supaat dan Ibu M.A. Hadiyanti. Mereka bertugas memberikan kursus persiapan perkawinan di tingkat Dekanat disamping juga mendampingi keluarga, membantu mengatasi keluarga yang bermasalah, dan sudah beberapa tahun menyelenggarakan Konseling Keluarga. Anggota tim selama ini adalah pasutri Marriage Encounter (ME). SKK juga memberikan pembekalan kepada calon pengantin yang meliputi Hukum Kanonik Gereja, Komunikasi Keluarga, Ekonomi Rumah Tangga, Seksualitas dan Keluarga Berencana Alamiah (KBA), Pendidilan Anak dan Panggilan. Selain itu SKK juga bertujuan menyiapkan dan mendampingi keluarga Kristiani agar menjadi 'sakramen kasih Allah' dalam seluruh hidup, baik dalam keterlibatan mereka di tengah umat maupun di masyarakat luas.








