You are here : Home OMK Renungan & Inspirasi Cukupkah Dengan Chatting?

Cukupkah Dengan Chatting?

"Sungguh menyedihkan apabila hasrat untuk mempertahankan dan mengembangkan persahabatan online mengorbankan kesempatan untuk keluarga, tetangga, serta mereka yang kita jumpai dalam keseharian." (Paus Benediktus XIV)

"Ngapain sih kamu? Ayo, ikutan diskusi, jangan asyik main BB sendiri!" Begitulah Candra memarahi Dina yagn tidak fokus dengan rapat koordinasi akhir untuk acara pementasan drama.  Dina lebih sibuk chatting lewat aplikasi Blackberry Messenger (BBM) sampai-sampai rapat yang dihadirinya tidak lebih penting dari chatting yang dilakukannya.

Tidak jarang kita menemui teman-teman kita yang sering kali sibuk dengan gadget yang dibawanya, sibuk dengan orang lain yang ada di luar sana atau jauh di sana, dan kurang menghargai orang yang read ada di depannya.  Aneh!  Orang sampai bisa tega berbuat demikian.  Tubuh read di suatu tempat, tapi hati dan jiwa ada di lain tempat.

Dina masih lumayan lebih baik.  Kakaknya, Rina, lebih parah lagi.  Setiap bangun pagi yang pertama dia buat bukannya bersyukur atas hari yang baru, tetapi duduk termenung memandangi BB dan mulai sibuk dengan "rosario" nya, menyapa teman-temannya lewat Twitter.  Bak burung berkicau di pagi hari, Rina sudah mulai meng-tweet siapa saja yang bisa disapa.

Begitulah situasi komunikasi kita saat ini.  Kesadaran real kita kadang terlampaui sedemikian rupa, sehingga kita jadi lupa dengan situasi dan keadaan sekitar kita yang lebih konkret.  Ada semacam lompatan komunikasi yang tidak tanggung-tanggung, tetapi mengancam relasi personal dalam kehidupan sehari-hari yang mau tidak mau harus kita jumpai setiap hari.

 

Eileen Rachman dalam tulisannya tentang "generasi chatting" mengatakan kalau di masa yang akan datang terhambatnya kegiatan sosial tatap muka, isolasi sosial, juga buruknya kegiatan mendengar dan rendahnya perhatian pada orang lain saat tatap muka, akan menjadi problem utama.

Ada pula yang mengatakan bahwa komunikasi itu yang penting kualitasnya, bukan kuantitasnya.  Tetapi yang masih selalu menjadi pertanyaan adalah sarana apa yang tepat untuk membuat komunikasi itu berkualitas?  Walau bagaimanapun juga, kuantitas tetaplah perlu.  Komunikasi selalu membutuhkan ketersalingan dan keterhubungan yang stabil dan ajeg.  Lalu, bagaimana mungkin kualitas komunikasi tercipta dengan baik, jika kuantitas komunikasi tidak pernah direncanakan apalagi dibuat secara kontinyu?

Chatting lewat gadget memang akan menciptakan kualitas komunikasi yang baik jika kita menempatkannya secara tepat.  kita bisa berkomunikasi dengan mudah dengan pacar atau dengan keluarga kita lewat bantuan gadget.

Syukurlah kita lahir pada zaman sekarang.  Dulu, papa-mama kita mengalami situasi di mana untuk berkomunikasi dengan orang yang jauh tempatnya, susahnya minta ampun.  Mereka masih menggunakan surat atau telepon sambungan langsung jarak jauh (SLJJ) yang pulsanya relatif mahal.  Jadi, sebenarnya chatting tidak selalu negatif, ada manfaat positifnya juga.

Namun hal itu kembali kepada kita.  Kalau mau mencoba menciptakan komunikasi dan relasi yang positif, kita harus bisa menempatkan diri secara tepat.  Dalam sebuah pertemuan, entah formal maupun tidak formal, berusahalah menghormati orang yang berbicara di depan kita.  Karena dengan menghormati orang yang berbicara, kita pasti juga akan dihormati ketika berbicara.

Ada sebuah cerita tentang hal ini.  Seorang dosen di kampus terkenal pernah hampir marah ketika melihat mahasiswanya bermain HP ketika kuliah sedang berlangsung.  Tapi, dia punya akal untuk mengatasi kemarahan tersebut.  Tiba-tiba dia menghentikan perkuliahan dan membuat semacam simulasi agreement.

Dia mengusulkan adanya kesamaan hak soal penggunaan HP di dalam kelas dan selama pelajaran berlangsung.  Dia akan berbuat sama seperti mahasiswa dalam hal menerima SMS dan panggilan telepon, yakni langsung membalasnya.

Sembari mengeluarkan HP-nya, odsen itu mengirim berita pada istrinya.  Isi pesannya begini, "Ma, tolong setiap 5 menit sekali aku dikirimi SMS atau sesekali aku ditelepon juga."  Setelah agreement ini disepakati, kuliah dilanjutkan kembali.

Apa yang terjadi kemudian?  Tidak sampai 5 menit, HP pak dosen ini sudah berbunyi.  Ada pesan masuk.  Dia cepat-cepat menghentikan kuliah karena harus membalas pesan tersebut.  Mahasiswa yagn lain pun sibuk melakukan hal demikian, saling sibuk kirim SMS.

Setelah pak dosen selesai membalas SMS, dia melanjutkan kuliahnya lagi.  Tapi, tidak sampai 5 menit, HP nya berdering lagi, ada telepon masuk.  Serta merta dia menjawab telepon itu.  Begitulah, sampai berulang kali terjadi.  Telepon dan SMS masuk itu memang hanya berasal dari satu orang saja, yakni istrinya.

Ketika jam kuliah hampir selesai, ada seorang mahasiswa mengacungkan tangannya dan protes, dia merasa terganggu dengan agreement itu.  Dia ke kampus untuk kuliah, bukan untuk mendengar dan memperhatikan pak dosen yang sibuk dengan HP-nya di ruang kuliah.  Beberapa temannya juga mengamini pernyataan mahasiswa tersebut.  Akhirnya, semua orang di kelas sepakat bahwa selama kuliah, semua HP harus di-silent dan disimpan di dalam tas.

Kisah lain tentang Alfred Riedl, pelatih timnas sepakbola kita, yang marah kepada seorang wartawan.  Saat wawancara, tiba-tiba si wartawan mengangkat HP-nya yang sedang berdering.  Sementara tangan satunya memegang recorder untuk merekam kata-kata Riedl, si wartawan ini menggunakan tangan satunya untuk memegang HP untuk menjawab telepon.

Sehabis wawancara, Riedl mengatakan, "Sangat tidak sopan bila Anda berbicara dengan orang lain saat saya memberikan penjelasan mengenai pertanyaan Anda.  Jika Anda pemain saya, maka Anda akan mendapatkan masalah."

Nah, sekarang pertanyaannya diarahkan pada diri kita sendiri.  Kita mau jadi generasi yang terisolasi dan bodoh dalam bersosialisasi atau generasi yang memang semakin baik dalam berelasi dan berkomunikasi?

Marta dan Maria, saudaranya, adalah kakak-beradik yang dikasihi Yesus.  Ketika Yesus berkunjung ke rumah mereka, Marta dan Maria menyambutNya dengan penuh sukacita.

Sukacita ini mereka wujudkan dengan cara masing-masing.  Marta sebagai tuan rumah merasa inilah kesempatan untuk memberikan sajian terbaik buat Sang Guru.  Dia sibuk mempersiapkan segala macam, entah makan malam, tempat istirahat, atau pernak-pernik yang menurutnya bisa membuat Yesus nyaman tinggal di rumah mereka.

Sementara Maria, memilih duduk bersimpuh di dekat kaki Yesus sambil mendengarkan perkataan-perkataan Yesus.  Maria menyimak sabda-sabda Tuhan yang bakal memberi kesejukan dan menghangatkan hatinya.

Apa yang terjadi kemudian?  Marta kesal dan protes.  Dia meminta Yesus menegur Maria untuk sadar diri, agar tidak membiarkan Marta kerja sendiri dan Maria mau membantunya.

Yesus mendengar permintaan itu, namun Dia menunjukkan kepada Marta bahwa yang apa yang dipilih Maria adalah bagian yang terbaik.  Mendengarkan penuh perhatian, apalagi mendengarkan kata-kata Tuhan adalah cara yang tepat untuk menghormati Yesus.  Demikianlah seharusnya Marta berbuat juga seperti itu.  Tetapi itu tidak terjadi.  Marta lebih memilih sibuk dengan dirinya sendiri, memilih apa yang dianggapnya baik, bukan yang Tuhan anggap baik. (Dominico S. Octariano, SJ)

Sumber:  Majalah Utusan No. 08 tahun ke-61, Agustus 2011