You are here : Home Kitab Suci Wajibkah membayar persepuluhan?

Wajibkah membayar persepuluhan?

a.  Persoalannya


Salah satu masalah yang selalu up to date dan membingungkan banyak orang  Katolik, dan juga para katekumen adalah soal membayar persepuluhan, yakni penyerahan 10% dari penghasilan seseorang kepada Gereja. Persepuluhan tersebut dipakai untuk macam-macam keperluan Gereja, seperti pembangunan dan pemeliharaan gedung gereja, penghidupan para petugasnya, dsb. Membayar persepuluhan itu baik-baik saja. Akan tetapi masalah terletak pada soal wajib atau tidaknya hal itu. Hampir semua Gereja Kristen mewajibkannya. Mengapa Gereja Katolik tidak?

Mereka yang menganggap persepuluhan itu wajib biasanya mengajukan dua pendasaran berikut ini:
     
Yang pertama, Kej 14:17-24 dalam hubungannya dengan Ibr 7:1-28 dan Gal 3:7.
 
Menurut Kej 14:17-24 sepulang Abraham dari perang, ia disambut dan diberkati oleh Melkisedek, raja Salem yang juga seorang Imam. Lalu Abraham membayar kepadanya persepuluhan dari semuanya. Kejadian yang sama diceriterakan dalam Ibr 7:4.   Menurut Ibr 7:16 Kristus adalah imam menurut peraturan Melkisedek sedangkan menurut Gal 3:7 kita adalah anak-anak Abraham. Oleh karena itu, sebagaimana Abraham mambayar persepuluhan kepada imam Melkisedek, demikian juga kita wajib membayar persepuluhan kepada Imam Agung Kristus. Untuk jelasnya, kami ringkas jalan pemikiran diatas sebagai berikut:

Abraham
 - 
membayar persepuluhan kepada
 - 
Melkisedek (Kej 14)

Kita sebagai anak-anak Abraham (Gal 3:7)

 -membayar persepuluhan kepada
 -
Kristus sebagai Imam menurut cara Melkisedek (Ibr 7)


 

Bagaimana caranya? Melalui Gereja-Nya dan dalam hal ini melalui dan kepada para pemimpin jemaat.
Selanjutnya dikatakan bahwa kisah Abraham dan Melkisedek yang menjadi dasar hukum untuk persepuluhan itu terjadi pada masa sebelum Musa.  Maka persepuluhan itu termasuk “Hukum Abraham”. Sebagai konsekuensinya, biarpun hukum Taurat tidak berlaku lagi bagi umat Kristen karena sudah disempurnakan oleh hukum Kristus, hukum persepuluhan itu tetap berlaku.  Mengapa? Sebab hukum itu diturunkan jauh sebelum hukum Taurat sendiri diturunkan lewat Musa di Gunung Sinai.
     
Yang kedua, Kristus berkata kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, atas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dari hukum Taurat kamu abaikan, yaitu keadilan, belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.”(Mat 23:23)

 

b. Tanggapan kita

Terhadap pendasaran yang pertama di atas, kita dapat mengajukan beberapa sanggahan. Pertama-tama, sulit bagi kita untuk menerima pembedaan antara Taurat Musa (yang sudah digantikan oleh hukum Kristus) dan hukum Abraham (yang masih berlaku untuk umat Perjanjian Baru). Kalau Perjanjian Baru mengatakan bahwa hukum Taurat sudah berakhir dengan Yohanes (Luk 16:16 dll), yang dimaksud adalah kelima kitab pertama Perjanjian Lama, yakni Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan.

Jadi, apabila dalam Luk 16:16 Yesus bersabda: “Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes,” yang dimaksudkan di situ adalah penyempurnaan dan penggantian hukum Taurat dalam arti luas, yakni (a) kelima kitab pertama Perjanjian Lama dan (b) kitab para nabi.  Maka dari itu juga kisah Abraham dan Melkisedek yang terdapat dalam kitab Kejadian sudah digantikan oleh hukum Perjanjian Baru.

Selanjutnya, andaikan benar bahwa membayar persepuluhan itu berasal dari “hukum Abraham” dan bukan dari hukum Musa seperti yang dikemukakan banyak orang, kita masih bisa memberikan keberatan sebagai berikut.

Menurut pendapat yang kami paparkan di atas, membayar persepuluhan itu wajib bagi setiap orang Kristen karena kita adalah anak-anak Abraham. Tetapi dapatkah tafsiran tersebut dibenarkan?

Ada dua hal yang menjadi keberatan kita:

a.  Seandainya cara menafsir Kej 14:17-24 dengan dihubungkan dengan Ibr 7:1-28 dan Gal 3:7 itu dapat kita terima, kita bisa berkesimpulan bahwa sebagian besar dari orang Kristen tidak perlu membayar persepuluhan. Mengapa? Sebab yang diberikan Abraham kepada imam Melkisedek hanyalah 10% dari semua rampasan perang yang diperolehnya (Ibr 7:4), dan bukan 10% dari seluruh penghasilannya. Apa yang dilakukan Abraham hanyalah hukum internasional yang berlaku pada waktu itu: raja pemenang harus membagi hasil rampasan perang dengan raja-raja sekutunya. Jadi, kalau orang tidak berperang dan tidak memperoleh rampasan perang, ya tidak ada juga kewajiban membayar persepuluhan, bukan? Jelas, kisah Abraham bukanlah dasar untuk persepuluhan.

b.  Tafsiran di atas menggabungkan dua atau tiga teks Alkitab begitu saja tanpa memperhatikan konteks masing-masing. Dan hal ini tidak jarang menyesatkan. Mengapa orang lari ke Gal 3:7 yang berbicara tentang orang-orang Kristen sebagai anak-anak Abraham? Seandainya kita bebas mencari hubungan antar ayat tanpa pendasaran yang kuat, mengapa tidak mencari ayat lain yang membuktikan bahwa persepuluhan itu tidak wajib? Bagaimana? Dengan jalan mencari ayat yang menempatkan kita pada pihak Kristus (di lajur sebelah kanan) dan bukan pada pihak Abraham (di lajur sebelah kiri)? Sebagai contoh: bukankah 1 Kor 3:23 mengatakan bahwa kita adalah milik Kristus? Atau bukankah menurut 1 Ptr 2:4.9 kita adalah bangsa Imami sebab kita ambil bagian dalam imamat Kristus? Jika demikian bukankah kita yang seharusnya menerima persepuluhan dari Abraham dan orang-orang Yahudi keturunannya? Jelas logika semacam itu tidak bisa diterima. Begitu juga logika yang dipakai oleh banyak orang mengenai kewajiban membayar persepuluhan seperti diuraikan di atas.

 

Lebih sulit rasanya memberikan tanggapan terhadap pendasaran yang kedua. Teks Mat 23:23 memberi kesan seakan-akan Yesus menyatakan bahwa pembayaran persepuluhan itu “harus dilakukan” oleh para pengikut-Nya tanpa mengabaikan hal-hal lain yang lebih penting, yakni menjalankan keadilan, belaskasihan dan kesetiaan. Namun bila kita pelajari secara lebih mendalam, kita dapat mengajukan keberatan-keberatan berikut ini.

Pertama, di sini Yesus tidak berbicara tentang kewajiban orang-orang Kristen, tetapi tentang kewajiban dan praktek hidup orang-orang Farisi.  Jadi ketika Yesus berkata “yang satu [=membayar persepuluhan] harus dilakukan, yang lain jangan diabaikan” (Mat 23:23), Ia sebenarnya cuma berkata kepada para lawan-Nya: “yang satu harus kamu lakukan, yang lain jangan kamu abaikan.”

Kedua, Yesus sedang mengecam kemunafikan dan kesesatan orang-orang Farisi. Untuk itu Ia hanya masuk ke dalam cara berpikir mereka sambil mengoreksi kekeliruan mereka tanpa menarik kesimpulan apa-apa untuk tata tertib orang-orang Kristen. Coba kita bandingkan dengan ucapan Yesus pada ayat-ayat sebelumnya, yakni ay. 16-22. Di situ Yesus hanya mengikuti cara berpikir orang-orang Farisi tentang sumpah, dan mengoreksi kekeliruannya. Ia berkata: “Karena itu barangsiapa bersumpah demi mezbah, ia bersumpah demi mezbah dan juga demi segala sesuatu yang terletak diatasnya” (ay 20). Dengan ucapan itu Yesus tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa para pengikut-Nya mesti bersumpah demi mezbah dan segala sesuatu yang terletak di atasnya!

Ketiga, ada petunjuk lain yang dapat mendukung pendapat di atas. Persepuluhan yang dibicarakan Yesus adalah persepuluhan dalam arti khusus, artinya, persepuluhan yang dipraktekkan oleh kaum Farisi dan ahli Taurat saja. Mereka itu membayar persepuluhan atas selasih, adas manis dan jintan. Praktek ini menurut beberapa penafsir merupakan penerapan hukum persepuluhan (Im 27:30) secara berlebih-lebihan. Sebenarnya yang dikenai hukum persepuluhan hanyalah tanam-tanaman yang besar saja dan tidak termasuk tumbuh-tumbuhan yang begitu kecil dan tak berharga. Jika tafsiran mereka itu benar, maka menjadi semakin jelas bahwa pada Mat 23:23 Yesus hanya memasuki dunia keagamaan orang Farisi (yang kadang-kadang terlalu mendetil secara kekanak-kanakan). Yesus sebenarnya tidak mengecam praktek semacam itu. Bukankah praktek itu menunjukkan juga semangat keagamaan yang besar? Akan tetapi, sebaliknya Yesus tidak juga menganjurkan praktek yang serupa untuk orang-orang Kristen.

Keempat, dalam Perjanjian Baru atau Gereja Rasuli tidak ada berita tentang wajibnya membayar persepuluhan. Seandainya hal itu sangat penting dan wajib, mengapa tidak ada bekasnya sama sekali dalam tulisan Perjanjian Baru? Cukup menarik untuk dicatat di sini bahwa Origenes dan Ireneus, dua penulis besar yang hidup pada  zaman yang masih cukup dekat dengan zaman para rasul, berbicara dengan nada agak meremehkan persepuluhan, seakan-akan kewajiban membayar persepuluhan itu bertentangan dengan semangat memberi dengan sukarela yang seharusnya dimiliki orang-orang Kristen. Akhirnya, bukankah Yesus sendiri dalam Mat 23:23 menyatakan bahwa ada banyak hal yang lebih penting daripada pembayaran persepuluhan?

Memang harus diakui, Konsili Trente pernah mewajibkan pembayaran persepuluhan itu bagi umat Katolik. Namun tidak pernah Gereja Katolik menganggap kewajiban itu sebagai hukum Alkitab dalam arti tegas. Kini praktek Gereja Katolik lebih menekankan sumbangan suka rela seperti yang ditekankan dalam 2 Kor 9:7, “Hendaknya masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” Dengan macam-macam cara (sumbangan/pengumpulan dana sukarela di dalam maupun di luar ibadat) umat Katolik ambil bagian dalam pembangunan gereja, pemeliharaan gedung gereja, pemeliharaan hidup para petugas Gereja, dll.

c. Makna Ibr 7 menurut konteksnya

Arti Ibr 7 dalam konteksnya perlu disinggung di sini supaya lebih jelas mengapa kita tidak bisa memakainya sebagai dasar untuk persepuluhan. Surat kepada orang-orang Ibrani bermaksud mewartakan keagungan Kristus di atas semua tokoh Perjanjian Lama. Yesus Kristus itu lebih tinggi/agung daripada:

-    Segala nabi Perjanjian Lama (1:1)

-    Para malaikat (1:4-14), sehingga pewartaan-Nya patut mendapat perhatian yang lebih serius daripada pewartaan Perjanjian Lama, (2:1-15) maupun Musa (3:1-6)

-    Para Imam (agung) Perjanjian Lama.

Namun sebagian besar surat Ibrani ingin menerangkan butir yang disebut terakhir, yakni keagungan Kristus di atas para imam (agung) Perjanjian Lama. Apa buktinya? Banyak. Salah satunya ialah karena imamat Kristus itu imamat yang baru, imamat menurut cara Melkisedek, bukan imamat menurut cara Harun/Lewi. Dari fakta bahwa ada imamat baru, kita bisa menyimpulkan bahwa imamat yang lama tidak berhasil menjalankan tugasnya, seperti ada tertulis: “Karena itu, andaikata oleh imamat Lewi telah tercapai kesempurnaan – sebab karena imamat itu umat Israel telah menerima Taurat – apakah sebabnya masih perlu seorang lain yang ditetapkan menjadi imam besar menurut peraturan Melkisedek dan yang tentang Dia tidak dikatakan menurut peraturan Harun?” (7:11). Setelah itu, diterangkan mengapa imamat Melkisedek lebih agung daripada imamat Harun/Lewi? Jawabannya ditemukan dalam fakta bahwa Melkisedek itu memberkati Abraham dan menerima persepuluhan dari Abraham, padahal menurut penulis Ibrani,  hanya orang yang lebih besar yang dapat memberkati orang yang lebih kecil (7:7) dan hanya orang yang lebih besar yang menerima persepuluhan dari orang yang lebih kecil (7:4). Oleh karena itu, para imam Perjanjian Lama yang sudah terkandung dalam tubuh Abraham adalah lebih rendah daripada Melkisedek, seperti ada tertulis dalam Ibr 7:9, “ Maka dapatlah dikatakan bahwa dengan perantaraan Abraham dipungut juga persepuluhan dari Lewi, yang berhak menerima persepuluhan, sebab ia masih berada dalam tubuh bapa leluhurnya, ketika Melkisedek menyongsong bapa leluhurnya.” Karena para imam dan imamat Perjanjian Lama itu lebih rendah daripada Melkisedek dan imamatnya, maka para imam Perjanjian Lama dan imamat mereka pun lebih rendah daripada imamat Kristus. Mengapa? Sebab Kristus adalah Imam Agung menurut peraturan Melkisedek. Begitulah cara berpikir Surat kepada orang-orang Ibrani. Tidak lebih dari itu. Dengan kata lain, bukan maksud penulis Ibrani untuk membuktikan wajibnya orang-orang Kristen membayar persepuluhan kepada Kristus atau kepada Gereja-Nya. Perhatikan bahwa logika penulis surat itu berhenti pada pembuktian bahwa imamat Kristus itu lebih besar daripada imamat Perjanjian Lama.

 

Sumber: Buku Tanya Jawab Pengetahuan (minimum) Hidup Menggereja, disusun oleh Johanes K. Handoko, Ketua Panitia Perayaan 30 Tahun Gereja Katolik Trinitas, Paroki Cengkareng, 2008


blog comments powered by Disqus