You are here : Home Kitab Suci Mengapa diperlukan Magisterium?

Mengapa diperlukan Magisterium?

Bukan suatu rahasia bahwa Kitab Suci itu bukanlah suatu buku yang mudah. Sebaliknyalah, harus kita akui bahwa seringkali kita frustasi karena tidak mampu memahami perikop atau ayat-ayat tertentu. Banyak sekali ayat yang ditulis ribuan tahun yang lalu yang tidak dapat kita pahami lagi. Jarak yang memisahkan kita dari dunia Kitab Suci terlalu jauh. Tetapi bahkan pada zaman para rasul sendiri pun ada kesukaran semacam itu. Misalnya, dianggap sukar, seperti tertulis dalam 2 Ptr 3:16: “Dalam suratnya- suratnya (Paulus) itu ada hal-hal yang sukar dipahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain.”
    
Justru karena kesukaran inilah maka dalam surat yang sama kita temukan nasihat ini: “Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.” (2 Ptr 1:20-21)
    
Jadi menafsir Kitab Suci itu tidak boleh seenaknya. Hal itu bisa mendatangkan kebinasaan bagi diri sendiri (2 Ptr 3:16). Pada kenyataannya, satu bab yang sama bahkan satu ayat yang sama dapat ditafsirkan secara berbeda-beda, bahkan kadang-kadang bertentangan. Orang yang satu bisa merasa terdorong oleh Roh Kudus untuk menafsirkan ayat tertentu secara demikian. Sedangkan orang lain yang sama-sama merasa terdorong oleh Roh Kudus, mempunyai tafsiran yang bertentangan atas ayat yang sama itu. Contoh lain, orang yang satu menganggap Sabda Yesus, “Ambilah, makanlah, inilah tubuh-KU” (Mat 26:26), sebagai lambang belaka, sedang yang lain berpendapat bahwa ucapan itu mesti diartikan apa adanya, artinya bahwa Yesus menjanjikan kehadiran-Nya secara nyata dalam roti dan anggur. Contoh lain lagi, sesudah kebangkitan-Nya Yesus bersabda kepada para rasul, ‘Terimalah Roh Kudus, jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” (Yoh 20:23). Ada orang yang menafsirkan ucapan itu sebagai mandat kepada para rasul saja, sedang orang lain menganggap bahwa mandat itu diberikan kepada para rasul dan kepada semua pengganti mereka di sepanjang zaman.
    
Kalau begitu siapa yang benar? Terpecah-pecahkah Roh Kudus yang mengilhami para penafsir tersebut? Ataukah semua tafsiran tersebut benar? Tentunya tidak demikian. Kalau begitu, bagaimana kita bisa mengetahui tafsiran yang benar? Bagaimana kita bisa mengatakan bahwa ayat tertentu itu mengandung arti simbolis atau kiasan belaka dan bukan arti harafiahnya? Kapan kita bisa mengatakan bahwa suatu perintah Yesus hanya berlaku untuk para rasul-Nya saja dua ribu tahun yang lalu dan kapan perintah-Nya itu berlaku untuk semua pengikut-Nya di segala tempat dan zaman.? Disinilah letak masalahnya. Gereja Katolik percaya bahwa kuasa menafsir Kitab Suci secara resmi dan benar ada di tangan Magisterium dengan pendasaran sebagai berikut:  Sabda Allah itu perlu diteruskan dengan setia kepada umat manusia di segala tempat dan di segala zaman. Oleh karena itu diperlukan Gereja Kristus untuk menjaga harta iman. Untuk tujuan inilah maka ada pimpinan suci dalam Gereja. Pimpinan Gereja inilah yang  mempunyai Kuasa Mengajar yang disebut Magisterium. Mereka itulah yang mendapat bimbingan khusus dari Roh Kudus untuk memelihara dan menafsir Sabda Allah secara benar.
 
 
Sumber: Buku Tanya Jawab Pengetahuan (minimum) Hidup Menggereja, disusun oleh Johanes K. Handoko, Ketua Panitia Perayaan 30 Tahun Gereja Katolik Trinitas, Paroki Cengkareng, 2008
 

blog comments powered by Disqus