PENGUMUMAN
Memilih Cerdas dengan Hati Nurani
Artikel - 100% Katolik-Indonesia
Wednesday, 02 April 2014 17:56

Pemilihan Umum merupakan peristiwa politik yang perlu dipahami oleh umat Katolik sebagai bagian dari tanggungjawab untuk terlibat secara aktif dalam pembentukan tata dunia berdasarkan semangat Injili. Konsili Vatikan II menegaskan bahwa “Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan , duka dan kecemasan para murid Kristus juga”(GS 1)

Agar keterlibatan umat dalam membangun tatanan dunia berdasarkan semangat Injili menjadi efektif, Konsili Vatikan II menegaskan peran dan tanggungjawab hirarki dan awam dalam rangka pengudusan dunia. Hirarki meneguhkan umat melalui ajaran-ajarannya, dan umat melaksanakan tugas perutusan itu dalam terang ajaran moral dan sosial Gereja.

Dua Kata Kunci : Cerdas dan Hati Nurani

Agar umat Katolik menjadi pemilih cerdas dan mendasarkan diri pada nurani, Gereja memberikan panduan agar para pemilih memilih calon legislatif (Caleg)/Presiden (Capres) secara baik sehingga umat dapat menjadi pemilih cerdas dan bebas mempergunakan hati nurani dalam menentukan pilihan. Cerdas berarti umat Katolik memilih para caleg dan partai yang memiliki rekam jejak baik dan memperjuangkan prinsip-prinsip Kristiani. Sedangkan memilih berdasarkan hati nurani berarti umat Katolik diajak untuk mempergunakan hak pilihnya sebagai tanggungjawab moral yang mendasarkan diri pada pilihan bebas bukan berdasarkan paksaan, baik itu secara ideologis (keterpaksaan politik), ataupun ekonomis (politik uang).

Read more...
 
JAM BUMI - EARTH HOUR 2014
Artikel - Lingkungan Hidup
Friday, 28 March 2014 16:49

Demi untuk menyelamatkan bumi dari dampak pemanasan global, berbagai organisasi dunia tak henti-hentinya menghimbau seluruh penduduk bumi untuk lebih aktif lagi ikut ambil bagian dalam usaha mengurangi gas emisi karbon.  Sejak beberapa tahun yang lalu, organisasi nirlaba World Wildlife Fund (WWF) mengajak seluruh masyarakat dunia untuk berpartisipasi dalam “Jam Bumi”, yaitu gerakan 1 jam tanpa aliran listrik.  Kegiatan Jam Bumi tahun 2014 akan dilaksanakan pada Sabtu, 20 Maret 2014, pkl. 20.30-21.30.   Apa yang dapat kita perbuat pada Jam Bumi 2014 ini?

Tentu, kita dapat melakukan “sesuatu” yang tidak terlalu sulit pada Jam Bumi tahun ini.  Anjuran utama pada Jam Bumi tersebut adalah dengan memadamkan aliran listrik selama 1 jam penuh.  Dalam kegelapan selama 1 jam, kita dapat mengisinya dengan mengikuti program Jam Bumi yang diadakan di lingkungan sekitar kita, berkumpul dan berbagi cerita dengan para tetangga sambil melihat kerlap-kerlip bintang di langit, berkumpul dengan keluarga sambil menyantap makan malam dengan penerangan lilin, berbagi cerita hingga bermain “Mencari Harta Karun”.  Kesempatan gelap  adalah kesempatan untuk hening yang dapat pula kita isi dengan  merenungkan penebusan kita oleh Tuhan Yesus Kristus, mendaraskan Rosario, berdoa bersama sekeluarga atau bersama umat Lingkungan lainnya, berefleksi atau merenungkan keajaiban kasih dan pertolongan Tuhan dalam hidup kita masing-masing, dan masih banyak cara lainnya lagi seperti mematikan semua perangkat elektronik yang selama ini mengelilingi kita – laptop, radio atau televisi portabel, telepon genggam, dll perangkat yang masih dapat difungsikan tanpa aliran listrik.

Read more...
 
Pembekalan Kaderisasi Paroki Trinitas Cengkareng, Dari EGP Menuju AGAPE
Artikel - Kabar Terkini
Thursday, 13 March 2014 23:23

Bertempat di Sekolah Kristoforus 2 Taman Palem Lestari Jakarta, pada hari Minggu tanggal 9 Maret 2014, DPH Paroki  Trinitas Cengkareng mengadakan  acara pembekalan kaderisasi dengan mengangkat  thema “Dipilih untuk melayani”. Romo Andang Binawan SJ, Vikep KAJ untuk kelompok kategorial menjadi narasumber pembekalan tersebut.

Read more...
 
Surat Gembala Prapaskah 2014 - Dipilih Untuk Melayani
Artikel - Romo Menyapa
Monday, 03 March 2014 17:21

(Dibacakan sebagai pengganti homili pada Misa Minggu Biasa VIII, 1 /2 Maret 2014)

Para Ibu/Bapak,

Suster/Bruder/Frater,

Kaum muda, remaja dan anak-anak yang yang terkasih dalam Kristus,

1.       Bersama dengan seluruh Gereja, kita akan memasuki masa Prapaskah pada Hari Rabu Abu, tanggal 5 Maret yang akan datang. Menjelang masa Prapaskah ini, kita terhenyak oleh rentetan bencana alam yang datang bertubi-tubi :  banjir yang melanda banyak tempat, letusan gunung-gunung, tanah longsor dan gempa bumi membuat kita semua prihatin dan berduka. Semua bencana itu menyisakan kesengsaraan ratusan ribu orang  yang kehilangan sanak-saudara, rumah, harta-benda, dan mata pencaharian. Hati kita sesak melihat saudari-saudara kita itu harus hidup di tempat-tempat pengungsian sambil menatap dengan khawatir masa depan mereka. Bencana alam ini seringkali terkait erat dengan bencana moral seperti keserakahan, korupsi, kebohongan publik, rekayasa politik kekuasaan yang pasti tak kalah mengkhawatirkan dan membahayakan negara dan bangsa.

2.       Sabda Tuhan pada hari ini berbicara mengenai kekhawatiran. “Janganlah khawatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah khawatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai.” (Mat 6:25) Bagaimanakah sabda Tuhan ini kita mengerti? Bukankah hidup kita senantiasa diwarnai dengan kekhawatiran? Bukankah kekhawatiran itu merupakan tanda kepedulian kita terhadap persoalan hidup? Para pengungsi mengkhawatirkan masa depan hidup mereka. Kita pun mengkhawatirkan mereka dan juga masa depan kita sendiri dan anak-anak kita. Kita khawatir akan kemiskinan yang semakin meningkat, kejahatan yang merajalela, moralitas yang semakin rendah. Kita khawatir akan krisis kemanusiaan, krisis kepemimpinan, dan krisis-krisis yang lain, termasuk krisis ekologi yang mengancam lingkungan hidup kita. Kekhawatiran semacam ini merupakan akibat dari sikap peduli yang berasal dari Tuhan yang menyentuh hati kita, menggugah keprihatinan, dan mendorong kita untuk melakukan sesuatu.

3.       Lalu apa yang dimaksud dengan “khawatir”dalam sabda Tuhan hari ini? Pada bagian awal kutipan dinyatakan bahwa kesetiaan kepada Allah tidak mungkin dipegang bersamaan dengan kesetiaan kepada Mamon. “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Mat. 6:24). Dengan latar belakang ini kita sampai pada kesimpulan bahwa kekhawatiran yang dimaksud di dalam sabda Tuhan adalah kekhawatiran yang menggeser kepercayaan kita kepada Allah dan menggantikannya dengan Mamon, yaitu harta milik, uang. Banyak orang begitu khawatir akan masa depan mereka sehingga bersikap serakah dengan mengambil keuntungan setinggi-tingginya dalam usaha, mengumpulkan sebanyak-banyaknya harta dengan cara apapun, termasuk cara yang tidak terpuji. Kekhawatiran yang membawa kepada keserakahan mencerminkan ketidakpercayaan kita kepada Allah. Hidup tidak lagi diabdikan untuk kesejahteraan bersama, tetapi untuk menimbun harta; orang bekerja bukan untuk hidup, tetapi untuk mengumbar keserakahan yang adalah berhala (Bdk. Ef 5:5). Kepada orang-orang yang khawatir dan bersikap serakah semacam ini, Yesus bersabda: “Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga.” Kekhawatiran yang memicu keserakahan tidak akan memunculkan kepedulian, tetapi justru akan menumpulkan kepekaan sosial, membunuh hati nurani dan menjauhkan siapa pun dari Tuhan dan sesama.

Read more...
 
Misa Harian di Stasi Sta. Maria Imakulata
Pengumuman - Pengumuman
Wednesday, 12 February 2014 12:28

Mulai Senin, 17 Februari 2014, jadwal Misa Harian di Kapel Sta. Maria Bunda Penolong Abadi, menjadi: Senin-Kamis: pkl. 05.45; Jumat: pkl. 19.00; Sabtu Pertama: pkl. 05.45.

Demikian agar segenaph umat Stasi Imakulata dapat memanfaatkan kesempatan yang penuh rahmat ini.

(Romo Peter K. Subagyo, OMI, Kepala Paroki Trinitas, Cengkareng)

 
Surat Gembala Bapa Uskup Agung Jakarta, Januari 2014
Artikel - Kabar Terkini
Sunday, 12 January 2014 19:21

SURAT GEMBALA PEMBUKAAN TAHUN PELAYANAN DAN PEMBERLAKUAN PEDOMAN DASAR DEWAN PAROKI 2014

Para Ibu/Bapak/Suster/Bruder/Frater/Kaum Muda/Remaja dan Anak-Anak yang terkasih dalam Tuhan,

Meskipun sudah agak terlambat, saya masih ingin mengucapkan Selamat Hari Raya Natal 2013 dan Selamat Tahun Baru 2014. Yesus adalah Imanuel – Tuhan yang menyertai kita. Semoga penyertaanNya bagi kita masing-masing, keluarga-keluarga dan komunitas kita membantu dan menguatkan kita untuk semakin tekun dan setia menapaki peziarahan hidup kita di tengah-tengah tantangan-tantangan hidup yang semakin kompleks.

Pada hari ini bersama seluruh Gereja kita merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan. Ketika saya menyiapkan renungan ini, saya ingat lagi akan seorang pribadi istimewa yang bernama Edith Stein. Ia lahir pada tahun 1891 dalam keluarga Yahudi yang amat saleh. Namun pada usia 14 tahun ia sampai pada kesimpulan bahwa Allah tidak ada. Ia menulis, “Dengan sadar saya memutuskan, atas kemauan saya sendiri, untuk berhenti berdoa.” Sesudah beberapa lama menjadi perawat dalam Perang Dunia I, ia memutuskan untuk belajar filsafat, suatu disiplin ilmu yang selalu mengajukan pertanyaan mengenai hakekat realitas dan hidup manusia. Meskipun keputusan eksistensial untuk berhenti berdoa sudah diambil, tetapi pencarian mengenai arti hidup tidak pernah berhenti mengusik hatinya.

Read more...