You are here : Home Iman 7 Sakramen dalam Gereja Katolik

7 Sakramen dalam Gereja Katolik

Mengapa dalam Gereja Katolik ada 7 Sakramen?  Angka 7 lambang apa?  Adakah dalam Kitab Suci yang menyatakan 7 Sakramen?  Apakah ketujuh Sakramen wajib diterima oleh orang Katolik? (Inez, Yogyakarta)

Jawaban dari Romo B.A. Rukiyanto, SJ, Redaktur Pelaksana Majalah Rohani:

Sebelumnya, baik kalau kita pahami dahulu apa itu Sakramen.  Sakramen adalah tanda dan sarana yang ditetapkan Kristus (entah secara langsung atau tidak langsung, yaitu tersirat dalam peletakan dasar Gereja oleh Kristus) untuk mendatangkan rahmat yang dikhususkan bagi tiap-tiap situasi kehidupan manusia, dan dengan demikian melanjutkan karya penyelamatan Alalh melalui Kristus dalam Roh Kudus di dalam diri setiap orang.  Singkatnya, Sakramen adalah tanda keselamatan (rahmat) dan kehadiran Tuhan dalam hidup kita.

Sakramen Asal adalah Yesus sendiri sebagai Pengantara antara Allah dan manusia.  Di dalam diri Yesus Kristus, dalam kepenuhan Roh Kudus, kita dapat melihat Allah sendiri.  Dari Yesus semua Sakramen berasal.  Sedangkan Gereja adalah Sakramen Dasar, dijiwai Roh Kudus menjadi Sakramen Kesatuan (Sacroosanctum Concilium 26) dan Sakramen Keselamatan Allah (Lumen Gentium 1, 9).  Gereja melakukan apa yang diperintahkan Kristus, menjadi Sakramen Dasar dalam Kristus.  Sakramen-Sakramen merupakan perayaan kehadiran Kristus dalam GerejaNya.  Sakramen-Sakramen sekaligus menjadi pengungkapan dan pelaksanaan diri Gereja.  Setiap perayaan Sakramen membangun dan membentuk Gereja. 

Di dalam Gereja Katolik ada 7 Sakramen: Sakramen Baptis, Sakramen Ekaristi, Sakramen Penguatan, Sakramen Tobat, Sakramen Perkawinan, Sakramen Imamat, dan Sakramen Pengurapan Orang Sakit.  Setiap Sakramen memmberikan rahmat sakramental.

Sejak semula 7 Sakramen itu sudah menjadi tradisi di dalam Gereja, meskipun belum disadari sebagai satu kelompok tersendiri.  Baru pada abad ke-12 para teolog mulai mengadakan refleksi tentang praktik pastoral Gereja ini dan menyadari bahwa ke-7 Sakramen ini membentuk kelompok khusus, yang semakin dibedakan dari sakramentali (tanda-tanda suci yang menandakan kurnia-kurnia, bersifat rohani dan diperoleh berkat doa permohonan Gereja, jumlahnya banyak sekali), karena ditetapkan Kristus sendiri.  Jumlah 7 ditetapkan secara resmi dalam Konsili Lyon (1274), Konsili Firenze 91439), dan Konsili Trente (1547).  Konsili Trente menegaskan bahwa Sakramen memberi rahmat yang ditandai berkat upacara itu sendiri, sejauh si penerima tidak berada dalam halangan atau dosa berat.  Artinya, diperlukan persiapan hati untuk menerima Sakramen, dan orang perlu menerima Sakramen Tobat terlebih dahulu ketika dia berdosa berat.

Angka 7 dalam Kitab Suci melambangkan kesempurnaan.  Namun dalam Kitab Suci tidak pernah disebutkan istilah 7 Sakramen.  Meskupun demikian, semua Sakramen itu dapat dikembalikan kepada Yesus sendiri, secara langsung, yaitu ketika Yesus mengadakan Sakramen Ekaristi dalam perjamuan akhir (Mat 26:26-28) dan Sakramen Baptis sebelum naik ke surga (Mat 28:19); Sakramen Tobat (Yoh 20:21-23), Sakramen Imamat (Mrk 3:13-19), dan Sakramen Perkawinan (Mat 19:3-6); atau tidak langsung dalam Sakramen Penguatan (KIS *:14-17) dan Pengurapan Orang Sakit (Yak 5:14-16).

Ketujuh Sakramen itu tidak wajib diterimakan semua oleh orang Katolik.  Pada dasarnya tidak mungkin 7 Sakramen diterima oleh satu orang, karena orang harus memilih untuk hidup berkeluarga (Perkawinan) atau menjadi imam (Imamat).  Sakramen Baptis, Sakramen Penguatan, dan Sakramen Imamat diterimakan satu kali, sedangkan Sakramen Ekaristi, Tobat, Pengurapan Orang Sakit, dan Perkawinan dapat diterimakan lebih dari satu kali (Sakramen Perkawinan dapat diterimakan lagi ketika suami atau istri meninggal).

(Sumber: Majalah Rohani No. 06, Tahun ke-59, Juni 2012)


blog comments powered by Disqus