You are here : Home Artikel Keluarga Meluangkan Waktu Untuk Anak-Anak

Meluangkan Waktu Untuk Anak-Anak

Beberapa waktu yang lalu, kita sebagai umat Paroki dikejutkan dengan kabar adanya seorang remaja yang membunuh ayah dari sahabatnya hanya karena sang ayah mencoba melerai perkelahian antara si remaja dengan sahabatnya itu.  Juga kita mendengar ada seorang remaja - umat Paroki kita  juga - yang bunuh diri lantaran satu dan lain masalah yang dirasakannya sudah tak dapat lagi ia pecahkan.  Dalam 2 kasus ini, kita tentu bertanya-tanya: “Mengapa bisa terjadi demikian?”

Kesibukan orangtua di luar rumah memang sering meninggalkan masalah tersendiri: anak-anak menjadi lebih banyak ditinggalkan di rumah.  Memang ada orang-orang yang kita percayai untuk menjaga dan mengasuh anak-anak, tetapi bukankah anak-anak akan lebih merasa aman dan nyaman bersama orangtua mereka?

Bentuk kebersamaan keluarga bisa bermacam-macam.  Tidak harus semuanya dilakukan di luar rumah dan menelan biaya ekstra.  Kita bisa menciptakan suasana akrab kekeluargaan justru di dalam rumah kita sendiri, misalnya: Makan bersama di satu meja makan dengan sajian masakan ibu, ayah atau bahkan anak-anak yang sudah mulai beranjak besar; Nonton tivi bersama; Mengerjakan tugas-tugas rumah tangga bersama; Bermain bersama dengan permainan yang disesuaikan dengan usia anak-anak; Baca buku bersama; Menelusuri internet bersama; Membantu anak memecahkan soal-soal pekerjaan rumahnya, dan lain sebagainya.

Kebersamaan bukan saja menciptakan rasa saling mengasihi di antara anggota keluarga, tetapi juga rasa saling memiliki, saling memperhatikan, dan saling merindukan.  Kebersamaan pada akhirnya mampu merekatkan hati anggota keluarga satu dengan yang lainnya, bahkan dapat menjadi ajang pembelajaran toleransi, saling berbagi, beriman, bersaudara dan berbelarasa.

Persoalan zaman moderen memang seringkali menjadi penghalang keluarga dapat berkumpul bersama. Kedua orangtua sibuk bekerja, atau jika biasanya ada ibu yang tidak bekerja, para ibu pun terkadang meleburkan diri dalam kegiatan-kegiatan pribadi atau sosial kemasyrakatan hingga terkadang malah pulang paling akhir dibanding anggota keluarga lainnya.  Anak-anak juga sekarang cenderung memiliki jam belajar yang panjang karena sepulang dari sekolah mereka harus ikut berbagai les tambahan akademik maupun ketrampilan.

Seyogyanya orangtua perlu memikirkan untuk terus mengusahakan terjadinya kebersamaan keluarga secara khusus, meski itu berarti mengorbankan kepentingan-kepentingan pribadi.  Ayah dan Ibu harus berani berkata ‘tidak’ untuk sejumlah kegiatan yang tak terlalu penting yang menyita waktunya jika dibandingkan dengan berkumpul bersama keluarga.  Banyak yang sering mengatakan bahwa kebersamaan keluarga bukan dilihat dari banyaknya waktu keluarga dapat berkumpul bersama, tetapi dari kualitas pertemuan keluarga.  Mungkin pernyataan itu tidak seluruhnya salah, tetapi jika kita mampu membuat keluarga sesering mungkin untuk berkumpul dan bercengkrama bersama, tentu keluarga pun akan bertumbuh ke arah yang lebih baik  dan bahagia lagi.  Pada dasarnya, perkembangan rasa simpati, empati, berbagai emosi dan jiwa anak-anak pertama-tama terjadi di dalam keluarganya masing-masing, bukan?!

Mari bersama kita terus mencoba untuk dapat menyisihkan lebih banyak lagi waktu bagi kebersamaan keluarga.  Jangan bosan untuk terus berkreasi dalam mengisi setiap waktu kebersamaan.  Keluarga yang bahagia, rukun dan selalu sukacita, tentu menjadi idaman kita semua.  Bisa?  Pasti bisa jika kita mau terus mengusahakannya. (ts)

Sumber: Majalah Sabitah Edisi 59, Maret-April 2013


blog comments powered by Disqus